MAKALAH
PEMEROLEHAN
BAHASA KEDUA
Faktor
Sosial Pemerolehan Bahasa Kedua
Disusun Oleh:
1. Anna
Wijayanti
2. Nuriana
Indah Sari
DINAS PENDIDIKAN PROVINSI KALIMANTAN
TIMUR
UNIVERSITAS MULAWARMAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
TAHUN PEMBELAJARAN 2015/2016
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan
Rahmat, Inayah, Taufik dan Hidayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan
penyusunan makalah dengan judul Faktor
Sosial Pemerolehan Bahasa Kedua (PB2). Penulis mengucapkan terima kasih
kepada pihak-pihak yang terlibat dalam penyelesaian makalah, khusnya kepada
dosen pengajar Pemerolehan Bahasa Kedua (PB2).
Semoga makalah ini dapat
digunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk, maupun pedoman bagi para pembaca
sehungga
mendapatkan informasi mengenai faktor-faktor yang memengaruhi Pemerolean Bahasa
Kedua (PB2) ditinjau dari segi sosial. Selain itu, penulis berharap makalah ini
dapat bermanfaat bagi para peneliti bahasa sebagai acuan untuk penelitian
kebahasaan, khususnya mengenai penelitian Pemerolehan Bahasa Kedua (PB2).
Penulis mengakui masih banyak kekurangan karena pengalaman dan
kemampuan yang masih terbatas. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kepada
para pembaca untuk memberikan kritik maupun saran yang bersifat membangun untuk
perbaikan makalah ini.
Samarinda,
November 2015
Penulis
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR.......................................................................................................... i
DAFTAR ISI ......................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN...................................................................................................... 1
1.1 Latar
Belakang ................................................................................................................. 1
1.2 Rumusan
Masalah ............................................................................................................ 2
1.3 Tujuan
……………………………………………………………………………. ......... 2
1.4 Manfaat
……………………………………………………………………….......
2
BAB II KAJIAN PUSTAKA………………………………………………………..
......... 3
1.1 Pengertian
Pemerolehan Bahasa Kedua ........................................................................... 3
1.2 Faktor-faktor
Pemerolehan Bahasa Kedua ...................................................................... 3
1.3 Faktor
Sosial Pemerolehan Bahasa Kedua
………………………………………. 4
1.3.1
Lingkungan………………………………………………………………........... 4
1.3.2
Latar Belakang Sosial
……………………………………………………. ......... 7
1.3.3
Penyajian Formal ………………………………………………………….
7
1.3.4
Budaya ……………………………………………………………………. 10
1.3.5
Bahasa Pertama …………………………………………………………… 15
BAB III PENUTUP
3.1 Simpulan
........................................................................................................................... 17
3.2 Saran
................................................................................................................................. 17
DAFTAR PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Menurut Kamus
Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bahasa adalah sistem lambang bunyi yang
arbitrer, yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama,
berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri. Dari definisi tersebut dapat
disimpulkan, bahwa fungsi bahasa yang
utama adalah sebagai alat komunikasi. Jika fungsi itu dikaitkan dengan budaya, maka bahasa
berfungsi sebagai sarana perkembangan kebudayaan, jalur penerus kebudayaan, dan
inventaris ciri-ciri kebudayaan. Jika dikaitkan dengan kehidupan
sosial, maka bahasa berfungsi sebagai bahasa
nasional, yaitu lambang kebanggaan bangsa, lambang identitas bangsa, alat
pemersatu, dan sebagai alat penghubung antardaerah dan antarbudaya. Sebagai
bahasa kelompok, bahasa berfungsi sebagai alat
komunikasi
dan interaksi
sehari-hari dalam kelompok itu.
Dengan mengetahui fungsi bahasa yang fundamental, tentu
berkaitan dengan pemerolehan bahasa. Pemerolehan bahasa di kelompokan menjadi
dua, yaitu pemerolehan bahasa pertama (bahasa ibu) dan bahasa kedua.
Pemerolehan bahasa pertama merupakan bahasa yang pertama kali didengar oleh
anak, biasanya dari keluarga. Dalam hal ini, secara tidak sadar anak
mempelajari bahasa pertamanya. Sedangkan bahasa kedua merupakan bahasa yang
dipelajari oleh anak setelah memperoleh bahasa pertamanya. Berbeda dengan
bahasa pertama, bahasa kedua diperoleh anak dengan sadar karena bahasa kedua
diperoleh melalui proses pembelajaran yang disengaja.
Konsep
pemerolehan bahasa kedua menurut Rod Ellis (1997: 3) dapat didefinisikan
sebagai cara seseorang dalam mempelajari bahasa kedua selain bahasa Ibu (bahasa
asli) mereka baik di dalam maupun di luar kelas. Pemerolehan bahasa kedua
merupakan fenomena yang kompleks. Para pembelajarnya akan mengalami
tahapan-tahapan yang berbeda satu sama lain, mereka juga akan memperoleh hasil
yang berbeda-beda pula. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu faktor
interal dan eksternal.
Faktor internal
adalah faktor-faktor yang berasal dari diri individu pembelajarnya, meliputi
kecakapan berbahasa, motivasi yang dimiliki, serta strategi belajar yang mereka
gunakan. Faktor-faktor tersebut merupakan faktor yang sangat memengaruhi
keberagaman hasil belajar bahasa kedua di samping faktor-faktor eksternal. Hal
ini disebabkan karena perbedaan-perbedaan individual yang dimiliki oleh
pembelajar.
Faktor eksternal
meliputi kondisi sosial yang berkaitan pemerolehan bahasa terjadi dan input
yang diterima oleh pembelajar. Kondisi sosial sangat memengaruhi keberhasilan
dalam belajar bahasa kedua. Hal ini dapat dilihat dari kesempatan para
pembelajar untuk menerima dan menggunakan bahasa yang dipelajari tersebut dalam
sebuah lingkungan sosial, pembelajar akan menguasai bahasa kedua dengan singkat
apabila mereka berinteraksi langsung dengan lingkungan sosial yang menggunakan
bahasa tersebut.
Berdasarkan
uraian masalah di atas, bahwa kondisi sosial sangat memengaruhi keberhasilan
dalam belajar bahasa kedua, penulis tertarik untuk menguraikan faktor-faktor sosial dalam pemerolehan
bahasa kedua (PB2)..
1.2
Rumusan
Masalah
Berdasarkan
latar belakang yang telah diuraikan, maka rumusan masalah yang muncul, Apakah faktor-faktor sosial dalam
pemerolehan bahasa kedua (PB2)?
1.3
Tujuan
Berdasarkan
rumusan masalah yang muncul, maka tujuan penulisan makalah ini untuk
menguraikan faktor-faktor sosial dalam
pemerolehan bahasa kedua (PB2).
1.4
Manfaat
Secara
umum tentu penulis berharap makalah ini dapat dijadikan sebagai rujukan bacaan
bagi pembaca untuk mengetahui faktor-faktor sosial dalam pemerolehan
bahasa kedua (PB2) sehingga pembaca meperoleh informasi.
Namun, secara khusus, penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi para
peneliti bahasa sebagai acuan untuk penelitian kebahasaan, khususnya mengenai
penelitian Pemerolehan Bahasa Kedua (PB2).
BAB
II
KAJIAN
PUSTAKA
2.1
Pengertian
Pemerolehan Bahasa Kedua (PB2)
Menurut
Chaer dan Agustina, PB2 adalah rentang bertahap yang dimulai dari menguasai
bahasa pertama (B1) ditambah sedikit mengetahui bahasa kedua (B2), lalu
penguasaan B2 meningkat secara bertahap, sampai akhirnya penguasaan B2 sama
baiknya dengan B1. Menurut Henry Guntur Tarigan, PB2 diartikan dengan mengajar
dan belajar bahasa asing dan atau bahasa kedua lainnya. Menurut Soenjono
Dardjowidjojo, PB2 diperoleh melalui proses orang dewasa yang belajar di kelas adalah pembelajaran secara formal
di perbandingkan dengan bahasa permata secara alamiah. Dari uraian tiga pendapat ahli,
dapat disimpulkan, bahaw PB2 merupakan proses belajar untuk memperoleh bahasa
kedua (B2) di samping bahasa pertama (B1), proses belajar tersebut dilakukan
secara sadar, disengaja, dan melalui tahapan.
Dari
defenisi PB2, maka penguasaan B2 memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
1)
Proses
belajar bahasa secara sengaja.
2)
Lingkungan
sangat menentukan
3)
Motivasi
pembelajar tidak sekuat saat mempelajari B1.
4)
Bahasa
pertama memengaruhi proses belajar bahasa kedua.
5)
Umur
kritis mempelajari bahasa kedua kadang-kadang telah lewat sehingga proses belajar
bahasa kedua berlangsung lama.
Proses untuk mendapatkan kemampuan B2 sama dengan proses untuk
mendapatkan kemampuan PB1. Kesaman tersebut terletak pada kemapuan untuk
menguasai kompetensi: semantik, sintaksis, dan fonologi. Penguasaan tiga kompetensi
tersebut merupakan substansi dari kompetensi linguistik.
2.2
Faktor-faktor Pemerolehan Bahasa
Kedua (PB2)
Ketika
proses pembelajaran bahasa kedua berlangsung terdapat faktor internal dan faktor
eksternal yang berperan besar dalam diri pembelajar. Faktor internal berasal
dari dalam atau diri pembelajar itu sendiri, sedangkan faktor eksternal berasal
dari luar (diri) pembelajar.
Teori
PB2, menurut Ellis (1987: 251-271), diklasifikasikan menjadi tujuh teori. Tujuh
teori tersebut, yaitu: model akulturasi, teori akomodasi, teori wacana, model
monitor, model kompetensi variabel, hipotesis universal, dan teori
neurofungsional. Untuk model alkulturasi lebih menguraikan mengenai faktor
sosial dalam PB2. Dari pendapat yang dikemukakan oleh Ellis, dapat disimpulkan
bahwa, selain dipengaruhi faktor internal dan faktor eksternal, PB2 juga
dipengaruhi oleh faktor sosial. Faktor sosial berkaitan langsung antara pembelajar
dengan interaksi di masyarakat.
Tarigan
(1988: 125-126) mengatakan bahwa terdapat tiga ciri proses pembelajaran bahasa
kedua; 1) pembelajaran bahasa adalah manusia, karenannya pembelajaran bahasa
terjadi dalam interaksi sosial antarindividu (guru, siswa) yang di dalamnya
berlaku hukum-hukum sosial, 2) pembelajaran berlangsung dalam interaksi yang
dinamis, berarti bahwa pembelajar tumbuh dan berkembang menuju kedewasaan,
sehingga dalam proses ini pengajar diharapkan memberikan segala pengalamannya
untuk membantu pembelajar, 3) pembelajaran berlangsung dalam suasana responsif.
Artinya, proses pembelajaran merupakan kesempatan besar bagi pembelajar untuk
melakukan respons.
Mengacu
dari pendapat yang dikemukakan oleh Henry Guntur Tarigan mengenai ciri-ciri
proses PB2 dan pendapat Ellis mengenai teori PB2, dapat disimpulkan bahwa faktor
sosial memiliki pengaruh besar terhadap pembelajar dalam PB2. Hal ini
disebabkan karena pembelajaran bahasa tujuannya untuk interaksi sosial
antarindividu di masyarakat.
2.3
Faktor Sosial Pemerolehan Bahasa
Kedua (PB2)
2.3.1
Lingkungan
Dulay
(1985: 14) menerangkan bahwa kualitas lingkungan bahasa sangat penting bagi
seorang pembelajar untuk dapat berhasil dalam mempelajari bahasa baru (bahasa
kedua). Lingkungan bahasa adalah segala hal yang didengar dan dilihat oleh
pembelajar sehubungan bahasa kedua yang sedang dipelajari (Tjohjono, 1990).
Dari pendapat yang dikemukakan oleh ahli bahasa tersebut, dapat disimpulkan
bahwa lingkungan bahasa merupakan tempat bagi pembelajar untuk mempelajari B2
melalui kegiatan melihat ataupun mendengar hal-hal yang berhubungan dengan B2
yang sedang dipelajari.
a.
Pengaruh Lingkungan Formal
Lingkungan
formal adalah salah satu lingkungan dalam belajar bahasa yang memfokuskan pada
penguasaan keidah-kaidah bahasa yang sedang dipelajari secara sadar (Dulay :
1985:19; Ellis, 1986 : 297). Demikian juga keadaan lingkungan pembelajaran B2
secara formal, di dalam kelas, sangat berbeda dengan lingkungan pembelajaran
bahasa kedua secara naturalistic atau
alami. Steiberg (1979: 166) menyebutkan karakteristik lingkungan pembelajaran
bahasa di kelas atas lima segi berikut.
1.
Lingkungan
pembelajaran bahasa di kelas sangat diwarnai oleh faktor psikolgi sosial kelas
yang meliputi penyesuaian-penyesuaian, disiplin, dan prosedur yang digunakan.
2.
Di
lingkungan kelas dilakukan praseleksi terhadap data linguistik, yang dilakukan
guru berdasarkan kurikulum yang digunakan.
3.
Di
lingkungan kelas disajikan kaidah-kaidah gramatikal secara eksplisit untuk
meningkatkan kualitas berbahasa siswa yang tidak dijumpai di lingkungan
alamiah.
4.
Di
lingkungan kelas sering disajikan data dan situasi bahasa yang artificial
(buatan), tidak seperti dalam lingkungan kebahasaan ilmiah.
5.
Di
lingkungan kelas disediakan alat-alat pengajaran seperti buku, teks, buku
penunjang, papan tulis, tugas-tugas yang harus diselesaikan, dan sebagainya.
Dengan kondisi lingkungan kelas yang khas dalam pembelajaran
B2, maka tentunya ada pengaruh terhadap keberhasilan pembelajaran B2 yang dapat
diperinci dalam hal berikut.
1.
Pengaruh terhadap Kompetensi
Penguasaan
kompetensi ini sangat dipengaruhi oleh peran yang dimainkan pembelajar dalam
lingkungan formal pembelajaran itu. Dalam hal ini Dulay dkk. (1982: 20)
membedakan peran pembelajar ini menjadi tiga macam, yaitu komunikasi satu arah,
komunikasi dua arah, dan komunikasi dua arah penuh. Ketiga model yang
disebutkan Dulay dkk. (1982) itu memberi masukan yang berbeda kepada
pembelajar. Model pertama, komunikasi tau-arah, lebih banyak memberikan
informasi mengenai kaidah-kaidah dan bentuk-bentuk bahasa yang dipelajari
daripada dua model lainnya.
2.
Pengaruh terhadap Kualitas
Performansi
Performansi
merupakan realisasi kompetensi kebahasaan yang dimiliki seseorang (Ellis, 1986:
5-6). Pembelajaran bahasa secara formal di dalam kelas dapat menjamin kualitas
input yang diterima pembelajar (Ellis, 1986: 231). Lalu, apabila input yang
diterima itu berkualitas tinggi, maka menurut satu hipotesis, keluaran
(performansi) yang dihasilkan juga memunyai kualitas tinggi, meskipun diakui
adanya variasi individual. Hal ini sejalan dengan pernyataan Dulay dkk. (1986:
13) bahwa kualitas lingkungan memengaruhi hasil pembelajaran bahasa kedua.
3.
Pengaruh terhadap Kecepatan
Pemerolehan
Kecepatan
pemerolehan adalah kecepatan menangkap masukan (input) dan menjadikan masukan
itu sebagai perbendaharaan kebahasaannya. Kecepatan pemerolehan ini sebenarnya
bersifat relatif, dan banyak tergantung pada faktor lain seperti inteligensi,
sikap, bakat, motivasi, dan faktor internal lainnya (Ellis, 1986: 99-126).
Dalam hal ini Rofi’udin (1988) menyatakan bahwa interaksi
kelas yang merupakan bagian dari pembelajaran bahasa kedua secara formal dapat
memberikan pengaruh terhadap kecepatan pemeroleh bahasa kedua. Interaksi kelas,
selain itu juga dapat mendukung proses penyerapan input menjadi intake.
Penggunaan struktur dan kosakata yang telah dikuasai (sebagai kompetensi) dalam
interaksi belajar di kelas yang berfungsi sebagai pemantapan intake yang telah dimiliki; meskipun
dengan melakukan beberapa modifikasi yang diperlukan.
Pembelajaran
atau penyajian pembelajaran bahasa secara formal tentu memiliki pengaruh
terhadap kecepatan dan keberhasilan dalam memperoleh B2 karena berbagai faktor
dan variabel telah dipersiapkan dan diadakan secara sengaja. Pengaruh
lingkungan formal terhadap kecepatan dan keberhasilan pembelajaran B2, biasanya
para pakar milhatnya dari segi: peranan
perluasaan dan peranan frekuensi dalam pemerolehan bahasa kedua.
Tentang
perluasaan (expansion) menurut Dulay
(1985: 43), perluasan adalah pemberian kaidah bahasa pada pembelajar dengan
menggunakan model yang sistematis, baik terhadap ujaran pembelajar yang benar
maupun yang lebih lengkap, tanpa meminta pembelajar memperhatikan perluasaan
tersebut. Mengenai peranan frekuensi dalam pembelajaran bahasa kedua banyak
guru berasumsi bahwa pengenalan kaidah bahasa yang diberikan dengan frekuensi
tinggi akan dapat meningkatkan keterampilan bahasa pembelajar (Roekhan, 1990).
Penelitian Larsen dan Feeman (1976) juga menunjukkan adanya korelasi positif
antara frekuensi pengenalan struktur dengan penguasaan struktur itu.
Dari
pendapat di atas dapat disimpulkan, pengaruh pembelajaran B2 secara formal di
kelas tampak pada kecepatan dalam menguasai kaidah-kaidah dan bentuk-bentuk
kebahasaan. Meskipun penguasaan seperangkat kaidah kebahasaan tidak menjamin
kualitas performanya, tetapi penguasaan ini dapat berfungsi sebagai penyaring
kebahasaan yang diproduksinya itu.
b.
Pengaruh Lingkungan Informal
Lingkungan
informal bersifat alami atau natural, tidak dibuat-buat. Hal-hal yang berkaitn
dengan lingkungan informal antara lain: bahasa yang digunakan kawan-kawan
sebaya, bahasa pengasuh atau orang tua, bahasa yang digunakan anggota kelompok etnis
pembelajar, bahasa yang digunakan media massa, bahasa para guru baik di kelas
maupun di luar kelas. Secara umum dapat dikatidakan lingkungan ini sangat
berpengaruh terhadap hasil belajar bahasa kedua para pembelajar.
Hasil
penelitian Milon (1977) dan Plann (1977) menunjukkan bahwa bahasa teman sebaya lebih
besar pengaruhnya daripada bahasa guru. Oleh karena itu, menurut Dulay (1986),
yang sangat penting dalam pembelajaran bahasa kedua adalah menyediakan model
teman sebaya dalam bahasa kedua yang sedang dipelajari. Mengenai bahasa guru,
menurut Krashen (1987:5), mirip dengan bahasa pengasuh. Para guru cenderung
menggunakan kalimat yang pendek-pendek atau sederhana pada waktu berkomunikasi
dengan para siswanya. Gaies (1977, 1979) melihat bahwa ujaran guru tampaknya
lebih sederhana; seringkali disesuaikan dengan tingkat kecakapan murid yang diajak
berbicara (Henzl, 1979).
Dari
pendapat yang dikemukakan oleh para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa dari
segi lingkungan bahasa, peran guru di sekolah
dominan menjadi model dalam pembelajaran bahasa kedua. Sedangkan orang
tua tidak terlalu berperan, orang tua lebih berperan dalam PB1 (bahasa ibu),
kecuali kalau orang tua menempatkan diri sebagai pengajar dalam lingkungan
formal.
Dalam
pembelajaran bahasa kedua, bahasa penutur asing, menurut Hatch (1983) dan Ellis
(1986), berperanan sebagai (1) pengembang komunikasi, (2) pembentuk ikatan
batin dengan pembelajar, dan (3) sebagai model pembelajaran. Dalam pembicaraan
mengenai pembelajaran bahasa kedua tersebut belum disinggung adanya perbedan
antara yang berlangsung dalam lingkungan informal. Dalam lingkungan formal
kemampuan yang diharapkan adalah penguasaan ragam bahasa formal atau bahasa
baku, untuk digunakan dalam situasi dan keperluan formal. Sedangkan dalam
lingkungan informal yang diharapkan adalah kemampuan atau penguasaan ragam
bahasa informal untuk digunakan dalam situasi atau keperluan informal. Namun,
kenyatannya kemampuan berbahasa informal lebih disukai dari kemampuan berbahasa
ragam formal karena kesempatan untuk berbahasa ragam informal jauh lebih luas
daripada kesempatan untuk berbahasa formal.
2.3.2
Latar Belakang Sosial
Latar belakang sosial mencakup
struktur keluarga, afiliasi kelompok sosial, dan lingkungan budaya memungkinkan
terjadinya perbedaan serius dalam pemerolehan bahasa anak (Vygotsky, 1978).
Semakin tinggi tingkat interaksi sosial sebuah keluarga, semakin besar peluang
anggota keluarga (anak) memperoleh bahasa. Sebaliknya semakin rendah tingkat
interaksi sosial sebuah keluarga, semakin kecil pula peluang anggota keluarga
(anak) memperoleh bahasa.
Hal lain yang turut berpengaruh
dalam pemerolehan bahasa adalah status sosial. Anak yang berasal dari golongan
status sosial ekonomi rendah rnenunjukkan perkembangan kosakatanya lebih
sedikit sesuai dengan keadaan keluarganya. Misalnya, seorang anak yang berasal
dari keluarga yang sederhana hanya mengenal lepat, ubi, radio, sawah, cangkul,
kapak, atau pisau karena benda-benda tersebut merupakan benda-benda yang biasa
ditemukannya dalam kehidupannya sehari-hari. Sedangkan anak yang berasal dari
keluarga yang memiliki status ekonomi yang lebih tinggi akan memahami kosakata
seperti mobil, televisi, komputer, internet, dvd player, laptop,
game, facebook, ataupun KFC, karena benda-benda
tersebut merupakan benda-benda yang biasa ditemukannya dalam kehidupannya
sehari-hari.
Perbedaan dalam pemerolehan bahasa
menunjukkan bahwa kelompok menengah lebih dapat mengeksplorasi dan menggunakan
bahasa yang eksplisit dibandingkan dengan anak-anak golongan bawah, terutama
pada dialek mereka. Kemampuan anak berinteraksi dengan orang lain dengan cara
yang dapat dipahami penting intinya untuk menjadi anggota kelompok. Anak yang
mampu berkomunikasi dengan baik akan diterima lebih baik oleh kelompok sosial
dan memunyai kesempatan yang lebih baik untuk memerankan kepemimpinannya
ketimbang anak yang kurang mampu berkomunikasi atau tidakut menggunakannya.
2.3.3
Budaya
Belajar bahasa sangat terkait dengan
faktor sosial budaya. Silzer berpendapat
bahwa bahasa dan kebudayaan merupakan dua buah fenomena yang terikat. Bagai
sekeping mata uang, di satu sisi berupa system bahasa dan di system yang lain
berupa system budaya, maka apa yang tampak dalam budaya akan tercermin dalam
bahasa atau sebaliknya.
Menurut Larson dan Smalley, budaya
akan menunjukkan tingkah laku orang-orang dalam suatu masyarakat yang biasanya
telah ditempa dalam kehidupan keluarga. Budaya berpengaruh pada tingkah laku
dalam kelompok-kelompok sosial, membuat peka terhadap keadaan status, dan
membantu mengetahui hal yang diharapkan
orang lain terhadap diri dan yang terjadi jika kita tidak berbuat seperti
harapan. Budaya membantu untuk mengetahui seberapa jauh seseorang bias berdiri
sebagai individu dan tanggapan seseorang terhadap kelompok masyarakat.
Ketika belajar B2, pembelajar juga
harus belajar tentang budaya yang terkait dengan bahasa yang dipelajarinya. Hal
ini bertujuan agar pembelajar dapat menggunakan bahasa tersebut sesuai dengan
kebudayaan yang melatarbelakanginya dan menghindari kesalahpahaman antara pembelajar
dengan penutur asli bahasa.
Dalam pertukaran budaya, kita menyadari bahwa semua aspek
yang ada dalam budaya yang masuk akan bercampur dengan budaya kita, baik budaya
positif maupun negatif. Tentu saja pandangan seseorang tentang budaya yang
masuk itu berbeda-beda. Jika seseorang berpandangan tertutup (close-minded) maka mereka tidak akan
bisa menerima perbedaan-perbedaan dari budaya mereka. Hal-hal seperti itulah
yang menyebabkan sebuah “stereotip“ (stereotip melukiskan tipikal dari
anggota masyarakat) tercipta.
Stereotip-stereotip
tersebut merupakan sudut pandang pada umumnya oleh rata-rata kelompok
masyarakat suatu negara yang pernah mengenalnya. Stereotip bisa dibentuk
melalui pergaulan. Orang bisa mengenal dan mengerti akan perbedaan budaya satu
dengan yang lain. Perbedaan tersebut bisa positif atau pun negatif. Hal yang
positif bisa diambil namun yang negatif bisa dicegah dengan jalan filterisasi.
“The
stereotip may be accurate in depicting the “typical“ member of a culture, but
it is inaccurate for describing a particular individual, because every person
is unique and all of person’s behavioral characteristics cannot be accurately
predicted.”
Sesuai pernyataan tersebut stereotip suatu budaya tidak bisa diidentifikasikan
secara individu, tapi berdasarkan kelompok masyarakat yang memiliki kebiasaan
dalam bertingkah laku atau berbahasa.
Karakteristik yang
dimiliki antarbudaya memiliki stereotip tertentu yang berbeda satu sama
lain. Seperti
yang diungkapkan Brown dalam hasil penelitiannya,”Cross-cultural research has shown that there are indeed
characteristics of culture that make one culture different from another”
(penelitian antarbudaya telah menunjukkan bahwa terdapat karakteristik membuat
suatu budaya benar-benar berbeda dari yang lain). Stereotip mungkin benar
dalam menduga watak ‘umum’ anggota budaya tertentu tapi tidak akurat untuk
menggambarkan satu individu karena setiap orang memiliki keunikannya
masing-masing. Oleh karena itu, stereotip atau pelabelan orang dari budaya
berbeda haruslah dihindari baik oleh pembelajar maupun guru bahasa kedua,
mereka harus memahami perbedaan budaya, menyadari bahwa setiap orang
berbeda-beda dan menghormati perbedaan tersebut.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa
kehadiran stereotip diharapkan tidak menimbulkan dampak buruk atau negatif bagi
pembelajaran bahasa, tetapi dengan perbedaan-perbedaan budaya itu, justru guru
harus peka terhadapnya sehingga dapat memanfaatkan perbedaan-perbedaan budaya
tersebut sebagai penggerak pembelajaran bahasa.
Selain menciptakan stereotip, proses
pembelajaran B2, dilihat dari faktor budaya, akan menciptakan suatu identitas
baru yang merupakan inti pembelajaran budaya atau yang biasa disebut
penyesuaian diri. Penyesuaian diri ini tidaklah mudah. Kadang-kadang siswa
mengalami gangguan dalam penyesuaian diri. Gangguan ini disebut culture shock. Culture shock merupakan fenomena psikologis yang berupa kepanikan
dan krisis psikologis.
Berikut beberapa teori mengenai
faktor sosial, dilihat dari sudut pandang budaya, dalam PB2.
a.
Teori Model Alkulturasi
Berdasarkan teori Model Alkulturasi PB2 yang dikemukakan
oleh Ellis (1987), Brown (1980: 129) membatasi akulturasi sebagai proses
penyesuaian diri terhadap kebudayaan yang baru. Hal tersebut dipandang sebagai
aspek penting PB2 karena bahasa merupakan salah satu ekspresi budaya paling nyata yang dapat diamati. Selain itu, dalam
latar belakang B2, pemerolehan suatu bahasa baru terlihat sebagai yang
berkaitan dengan cara masyarakat pembelajar dan masyarakat bahasa sasaran saling
memandang satu sama lain.
Alkulturasi dan juga PB2 ditentukan
oleh tingkat taraf jarak sosial dan psikologis antara sang pelajar dan
kebudayaan bahasa kedua. Jarak sosial merupakan akibat dari sejumlah faktor
yang memengaruhi sang pelajar sebagai anggota kelompok sosial dalam kotidaknya
dengan kelompok bahasa sasaran. Jarak psikologis merupakan akibat dari berbagai
faktor afektif yang berkaitan dengan sang pelajar sebagai seorang pribadi,
sebagai individu.
John Schumann menggambarkan jarak sosial terdiri atas
parameter-parameter berikut.
1.
Dominasi.
Dalam kaitannya dengan BS (bahasa sasaran), apakah kelompok B2 (pembelajar
B2) secara politik, budaya, teknis, atau ekonomi, dominan, tidak dominan, atau
bawahan?
2.
Integrasi.
Apakah pola integrasi B2 berupa asimilasi, akulturasi, atau preservasi? Seperti
apa derajat penutupan diri kelompok B2 terpisahkan identitasnya dari kelompok
lian di sekitarnya?
3.
Kekohesifan.
Apakah kelompok B2 kohesif? Seberapa besar ukuran kelompok B2?
4.
Keserasian.
Apakah budaya dari dua kelompok itu serasi –sistem nilai dan keyakinan mereka
mirip? Seperti apa sikap timbale balik kedua kelompok?
5.
Kepermanenan.
Berapa lama kelompok B2 berniat tinggal di wilayah bahasa sasaran?
Parameter di atas untuk
menggambarkan secara hipotesis pembelajaran bahasa yang baik dan buruk dan
mengilustrasikan tiap situasi dengan dua konteks lintas budaya yang aktual.
Sedangkan, pada hakikatnya
faktor-faktor psikologis bersifat afektif. Faktor-faktor itu mencakup empat
jenis, yaitu goncangan bahasa (language
shock), goncangan budaya (culture
shock), dorongan motivasi (motivation),
dan batas-batas keakuan (ego boundries).
Faktor goncangan bahasa akan terasa
apabila sang pelajar mengalami keraguan dan kebingugan ketika menggunakan B2. Goncangan budaya ketika pembelajar
mengalami perasaan salah arah, tekanan, katidakutan dan sebagainya sebagai
akibat perbedaan-perbedaan yang terdapat antara budayanya sendiri dengan budaya
masyarakat bahasa sasaran. Kuat atau lemahnya daya dorong atau motivasi sang pelajar turut menentukan
keberhasilan atau kegagalannya belajar B2. Sedangkan batas-batas keakuan atau ego
boundries yang terdapat pada pribadi sang pelajar pun turut menentukan
kesuksesannya dalam belajar B2.
b.
Teori Model Akomodasi
Selain teori Model Alkulturasi, beberapa ahli juga mengemukakan pendapat
mengenai faktor sosial dalam PB2. Pendapat tersebut dilandasi dengan teori Model Akomodasi. Seperti juga halnya
Schumann, maka Giles pun menaruh perhatian pada pemerolehan bahasa yang sukses.
Keduanya ingin mencari jawaban terhadap hubungan antara kelompok sosial
pembelajar (yang diberi istilah “ingroup”)
dan masyarakat bahasa sasaran atau B2 (yang diberi istilah “outgroup”). Akan tetapi, Scuhmann
menjelaskan hubungan-hubungan tersebut
dengan bantuan variabel-variabel yang menciptiakan jarak sosial yang
“aktual”, maka Giles dengan bantuan jarak sosial yang “dirasakan”.
Giles berpendapat bahwa yang penting
bagi PB2, yaitu cara “ingroup” atau
“kelompok dalam” membatasi diri dalam hubungan dengan “outgroup” atau “kelompok luar”. Artinya, hubungan-hubungan
antarkelompok sebagai subjek bagi perundingan yang konstan selama
berlangsungnya setip interaksi. Hubungan antarkelompok tersebut bersifat
dinamis dan berubah-ubah sesuai dengan perubahan pandangan terhadap identitas
yang dibuat oleh setiap kelompok terhadap lainya.
Pendapat lain disampaikan oleh
Gardner (1979) bahwa motivasi merupakan penentu utama kecakapan B2. Gardner
menganggap tingkat motivasi merupakan refleksi cara pembelajar secara
individual membatasi dirinya sendiri dalam hubungan-hubungan etnis. Hubungan tersebut dikendalikan atau dikuasai
oleh sejumlah variabel utama, antara lain sebagai berikut.
1.
Identifikasi
atau pengenalan pembelajar secara individual dengan “kelompok dalam” etinsnya.
2.
Perbandingan
antaretnik
3.
Persepsi
vitalitas etnolinguistik
4.
Persepsi
batas-batas “kelompok dalam”
5.
Identifikasi
dengan kategori-kategori ssosial “kelompok dalam” yang lainnya.
c.
Teori Model Jarak Optimal
Menurut
model jarak optimal (yang dikembangkan oleh Brown) dari perolehan bahasa kedua
ini, seorang dewasa yang gagal menguasai B2 di sebuah budaya kedua mungkin
karena berbagai alasan telah gagal untuk menyelaraskan perkembangan linguitik
dan budaya. Orang dewasa yang sudah mendapatkan cara-cara nonlinguitik untuk
mengatasi masalah di budaya asli akan melewati tahap 3 dan masuk ke tahap 4
dengan terlalu banyak bentuk bahasa yang terformalkan, tidak pernah mencapai
penguasaan. Mereka tidak punya alasan meraih penguasaan sebab
mereka telah belajar mengatasi masalah tanpa pengetahuan bahasa yang canggih.
Mereka mungkin sudah memperoleh fungsi-fungsi B2 dalam jumlah memadai tanpa memperoleh
bentuk yang yang tepat.
Hal
yang disarankan model jarak optimal mungkin bisa dilihat sebagai hipotesis
periode kritis berdasarkan budaya, yakni sebuah periode kritis yang independen
terhadap usia pembelajar. Meskipun model jarak optimal lebih tepat diterapkan
kepada pembelajar dewasa, ia juga bisa punya relevansi untuk anak-anak,
sekalipun tidak sekritis untuk orang dewasa. Karena mereka belum bertahun-tahun
membangun pandangan dunia yang terkait budaya (atau pandangan tentang mereka
sendiri), anak-anak memiliki saingan perspektif lebih sedikit untuk
menyesuaikan diri lagi sehingga bisa melampaui tahap-tahap akulturasi lebih
cepat. Namun kurang lebih mereka bergerak melewati tahap-tahap yang sama, dan masuk
akal membuat hipotesis bahwa tahapan pemulihan mereka juga merupakan periode
kritis pemerolehan.
Sejumlah
bukti penelitian telah dikumpulkan untuk mendukung gagasan tentang jarak
optimal. Day mendapat semacam bukti pengamatan mengenai lompatan kritis dalam
kelancaran bahsa dan anomi budaya yang terjadi secara bersamaan. Svanes
mendapati bahwa mahasiswa asing yang belajar di Norwegia sepertinya meraih
kemahiran yang lebih tinggi jika mereka mempunyai “sikap berimbang dan kritis
kepada orang-orang asli Norwegia“ sebagai lawan dari penghormatan tidak kritis
kepada semua aspek budaya sasaran. Testimoni informal banyaak guru ESL di AS
juga membenarkan kemungkinan terjadinya tegangan motivasional yang dihaasilkan
melalui kebutuhan “bergerak seiring” dalam proses adaptasi yang kadang panjang
dan melelahkan di tanah air baru. Para guru dalam konteks yang serupa bisa
memetik manfaat dari penilaian saksama tahap budaya terkini pembelajar dengan
perhatian yang pas bagi periode optimal yang memungkinkan bagi penguasaan
bahasa.
Dari uraian tiga teori di atas dapat
disimpulkan bahwa jarak sosial dan psikologis memengaruhi PB2 dengan penentuan
jumlah kontak atau hubungan dengan bahasa sasaran yang dilami oleh pembelajar
dan tingkat yang terbuka bagi pembelajar terhadap masukan yang tersedia. Itu
artinya, dalam situasi belajar yang buruk, pembelajar akan menerima masukan B2
sangat sedikit. Selain itu, jika jarak psikologis besar, maka pembelajar akan
gagal mengubah masukan yang tersedia menjadi penerimaan.
2.3.4
Bahasa Pertama
Para
pakar pembelajaran B2, pada umumnya percaya bahwa B1 memunyai pengaruh terhadap
proses penguasaan B2 pembelajar (Ellis, 1986:19). B1 ini telah lama dianggap
menjadi pengganggu di dalam proses pembelajaran B2. Hal ini karena biasa
terjadi, seorang pembelajar secara sadar atau tidak melakukan beralih
unsur-unsur B1-nya ketika menggunakan B2 (Dulay, dkk, 1982:96). Akibatnya,
terjadilah yang disebut interfrensi, alih kode, campur kode, atau juga
kekhilafan (error).
Berikut
teori-teori mengenai pengaruh B1 terhadap PB2.
a.
Teori Stimulus-respons
Menurut
teori stimulus-respons, yang
dikemukakan oleh kaum behaviorisme, bahasa adalah hasil perilaku stimulus-respons. Maka, apabila seorang
pembelajar ingin memperbanyak penggunaan ujaran, pembelajar harus memperbanyak
penerimaan stimulus. Oleh karena itu, peranan lingkungan sebagai sumber
datangnya stimulus menjadi dominan dan sangat penting di dalam membantu proses
pembelajaran B2. Selain itu, kaum behaviorisme juga berpendapat bahwa proses
perolehan bahasa adalah proses pembiasaan. Itulah sebabnya, semakin seorang
pembelajar terbiasa merespons stimulus yang datang, semakin memperbesar
kemungkinan aktivitas perolehan bahasanya (Abdul Hamid, 1987: 14-15).
Selama
pembelajar belum mendapat stimulus, selama itu pula pembelajar belum dapat
melakukan aktivitas respons. Jadi, selama pembelajar belum mendapat stimulus B2,
selama itu pula dia masih memegang kendali aktivitas bahasa yang telah dikuasainya
terlebih dahulu (dalam hal ini B1). Dengan demikian, munculnya unsur B1 pada
waktu berbahasa kedua, jika stimulus B2 yang sama dengan B1 belum pernah
diterima oleh pembelajar.
Jadi,
pengaruh B1 dalam bentuk transfer ketika berbahasa kedua akan besar sekali
apabila pembelajar tidak terus-menerus diberikan stimulus B2. Secara teoritis
pengaruh ini memang tidak bisa dihilangkan karena B1 sudah merupakan intidake
atau sudah “dinuranikan” dalam diri pembelajar. Namun, dengan
pembiasaan-pembiasaan dan pemberian stimulus terus-menerus dalam bahasa kedua,
pengaruh itu bisa dikurangi.
b.
Teori Kontranstif
Teori
kontrastif menyatidakan bahwa keberhasilan belajar B2 sedikit banyaknya ditentukan
oleh keadaan linguistik bahasa yang telah dikuasai sebelumnya oleh pembelajar
(Klein, 1986: 5). Berbahasa kedua merupakan proses transferisasi. Oleh sebab
itu, jika struktur bahasa yang sudah dikuasai (bahasa pertama) banyak memunyai
kesamaan dengan bahasa yang dipelajari, akan terjadil semacam pemudahan dalam
proses transferisasinya. Sebaliknya, jika struktur keduanya memiliki perbedaan,
maka akan terjadi kesulitan bagi pembelajar untuk menguasai B2.
Menurut
teori analisis konstrastif, semakin besar perbedaan antara keadaan linguistik
bahasa yang telah dikuasai dengan linguistik bahasa yang hendak dipelajari akan
semakin besar kesulitan yang dihadapi pembelajar dalam usaha menguasai bahasa
kedua yang dipelajarinya (Banathy, 1969:67). Melalui analisis kontrastif akan
dapat diketahui tingkat kesamaan dan perbedaan antara B1 dan B2. Selanjutnya,
dengan mengetahui tingkat kesamaan dan perbedaan ini, pembelajar dapat
menentukan strategi pembelajaran yang paling tepat untuk digunakan (Dulay,
1982:96). Dari analisis kontrastif dapat diketahui bahwa bahasa pertama
memiliki pengaruh terhadap proses penguasaan bahasa kedua. Mengetahui keadaan linguistik
B1 sangat penting bagi usaha menentukan strategi pembelajaran B2, sebab belajar
B2 tidak lain dari pada mentransfer bahasa baru di atas bahasa yang sudah ada
(Banathy, 1969: 80).
BAB
III
PENUTUP
3.1
Simpulan
Pemerolehan
Bahasa Kedua (PB2) merupakan proses belajar untuk memperoleh bahasa kedua (B2)
di samping bahasa pertama (B1), proses belajar tersebut dilakukan secara sadar,
disengaja, dan melalui tahapan. Dalam proses bejar PB2, tidak hanya dipengaruhi
oleh faktor internal dan ekternal, tetapi juga faktor sosial. Pengaruh ketiga
faktor tersebut, menentukan cepat, lambat, banyak, ataupun sedikit PB2 terhadap
pembelajar.
Faktor
sosial berkaitan dengan interaksi pembelajar dengan masyarakat. Faktor-faktor
sosial dalam PB2, misalnya: lingkungan, latar belakang sosial, penyajian
formal, budaya, dan bahasa pertama. Faktor lingkungan menguraikan kaitan
pembelajar di lingkungan bahasa atau berkaiatan dengan hal-hal yang didengar dan
dilihat oleh pembelajar. Faktor latar belakang sosial menguraikan kaitan latar
belakang sosial pembelajar dengan lingkungan bahasa sasaran atau B2 yang sedang
dipelajari oleh pembelajar. Faktor penyajian formal menguraikan kaitan tempat
belajar PB2 dengan pembelajar B2. Faktor budaya menguraikan kaitan budaya
pembelajar dengan budaya bahasa sasaran pembelajar. Sedangkan faktor bahasa
pertama menguraikan pengaruh B1 terhadap PB2.
3.2 Saran
Penulis menyadari, makalah ini masih
belum sempurna. Referensi penulisan makalah masih terbatas. Gagasan yang
penulis sampaikan pun belum diuaraikan secara jelas. Oleh sebab itu, kritik dan
saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan guna kesempurnaan
makalah. Selain itu, penulis berharap ada studi lanjutan mengenai faktor-faktor
sosial yang memengaruhi PB2.
Daftar
Pustaka
Brown, H Douglas. 2007. Prinsip Pembelajaran dan Pengajaran Bahasa.
Jakarta: Pearson Education, Inc, Kedubes Amerika Serikat.
Brown, H. Douglas. 2000. Principles Language Learning And Teaching.
USA: San Francisco State University.
Harefa, Andrias. 2003. Mengasah Paradigma Pembelajar. (Cetakan
ke-2). Yogyakarta: Gradien.
Nasution. 2009. Berbagai
Pendidikan dalam Proses Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Tarigan, Henry Guntur. 1987. Pengajaran Pembelajaran Bahasa. Bandung:
Angkasa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar