Bahasa
merupakan alat komunikasi yang digunakan oleh manusia. Sebagai alat komunikasi,
bahasa merupakan hal yang arbitrer, unik, bermakna, konvensional, produktif,
universal, dan memiliki variasi. Oleh sebab itu, dengan bahasa, manusia dapat
menyampaikan pemikirannya.
Berdasarkan
pemerolehanya bahasa dibagi menjadi dua jenis, yaitu bahasa pertama dan bahasa
kedua. Bahasa pertama merupakan bahasa yang diperoleh oleh manusia secara
alamiah. Karena diperoleh secara alamiah, maka bahasa pertama diperoleh secara
tidak sadar tanpa melalui proses pembelajaran. Sedangkan bahasa kedua merupakan
bahasa yang diperoleh setelah penguasaan bahasa pertama. Oleh sebab itu,
pemerolehan bahasa kedua dilakukan secara sadar baik dalam situasi formal
maupun informal.
Meskipun
menurut Naom Chomsky, ahli bahasa, setiap manusia telah dibekali alat berbahasa
atau Language Acquisition Device (LAD). Dengan alat berbahasa inilah manusia
memiliki kemampuan untuk berkomunikasi. Akan teapi, meskipun manusia telah
dibekali oleh alat bahasa bukan berarti setiap pembelajar memiliki kemampuan
yang sama dalam penguasaan bahasa. Hal ini berkaitan dengan yang disampaikan
oleh beberapa ahli neurologi yang mengatakan bahwa setiap manusia memiliki
perbedaan dalam penguasaan bahasa.
Dari
hasil penelitian yang telah dilakukan oleh ahli neurologi melalui hipotesis
neurolinguistiknya menjelaskan bahwa belahan otak kiri dan otak kanan pada anak
usia di bawah lima tahun menunjukan bahwa belahan otak masih cair sehingga terjadi
kesamaan kecepatan pemerolehan bahasa. Namun, semakin dewasa usia anak, belahan
otak semakin kental sehingga mengakibatkan perbedaan kecepatan pemerolehan
bahasa. Selain mengenai belahan otak, ahli neurologi juga mengungkapkan ada
perbedaan hormon dan DNA antara laki-laki dan perempuan yang mengakibatkan
perbedaan penguasaan bahasa.
Dari
pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pada anak di bawah lima tahun belahan
otak masih cair sehingga memiliki kesamaan dalam kecepatan pemerolehan bahasa. Selanjutnya,
ketika telah berusia di atas lima tahun antara anak laki-laki dan perempuan memiliki
perbedaan kecepatan pemerolehan karena faktor hormon dan DNA.
Dalam pemerolehan
bahasa pertama ada dua hal penting, yaitu perkembangan kognisi dan perkembangan
sosial. Perkembangan kognisi erat hubungannya dengan kemampuan yang dimiliki
oleh seseorang dalam menerima input
dan mengubahnya menjadi intake yang nantinya akan menghasikan output. Sedangkan perkembangan sosial
erat hubunganya dengan lingkungan pemerolehan bahasa.
Bicara merupakan pengucapan yang
menunjukkan keterampilan seseorang mengucapkan suara dalam suatu kata. Bahasa
berarti menyatakan dan menerima informasi dalam suatu cara tertentu. Seorang
anak yang mengalami gangguan berbahasa mungkin saja dapat mengucapkan suatu
kata dengan jelas tetapi ia tidak dapat menyusun dua kata dengan baik. Sebaliknya,
ucapan seorang anak mungkin sedikit sulit untuk dimengerti, tetapi ia dapat
menyusun kata-kata yang benar untuk menyatakan keinginannya.
Penyebab kelainan berbicara dan
bahasa bisa bermacam-macam yang melibatkan berbagai faktor yang dapat saling memengaruhi,
antara lain kondisi lingkungan, pendengaran, kognitif, fungsi saraf, emosi psikologis,
dan lain sebagainya. Salah satu kelainan berbicara yang paling kompleks adalah
kelainan fungsi saraf, kelainan pada susunan saraf pusat.
Kelainan pada susunan saraf pusat
akan memengaruhi pemahaman, interpretasi, formulasi, dan perencanaan bahasa,
juga aktivitas dan kemampuan intelektual dari anak. Dalam hal ini, terdapat
defisit kemampuan otak untuk memproses informasi yang kompleks secara cepat.
Kerusakan area Wernicke pada hemisfer dominan girus temporalis superior
seseorang akan menyebabkan hilangnya seluruh fungsi intelektual yang
berhubungan dengan bahasa atau simbol verbal, yaitu penderita mampu mengerti
kata-kata yang dituliskan atau didengar, tetapi tidak mampu menginterpretasikan
pikiran yang diekspresikan.
Gangguan komunikasi biasanya
merupakan bagian dari retardasi mental, misalnya pada down syndrome. Pada anak dengan retardasi mental, terdapat
disfungsi otak akibat adanya ketidaknormalan yang luas dari struktur otak, neurotransmitter atau mielinisasi, sehingga
perkembangan mental terhenti atau tidak lengkap, sehingga berpengaruh pada
semua kemampuan kognitif, bahasa, motorik dan sosial.
Menurut beberapa ahli komunikasi, bicara adalah kemampuan
anak untuk berkomunikasi dengan bahasa oral (mulut) yang membutuhkan kombinasi
yang serasi dari sistem neuromuskular
untuk mengeluarkan fonasi dan artikulasi suara. Proses bicara melibatkan
beberapa sistem dan fungsi tubuh, melibatkan sistem pernapasan, pusat khusus
pengatur bicara di otak dalam korteks serebri, pusat respirasi di dalam batang
otak dan struktur artikulasi, resonansi dari mulut serta rongga hidung. Karena
anak down syndrome mengalami gangguan sistem mental, maka hal tersebut
menyebabkan penguasaan bahasa pertamanya lebih lambat.
Jadi, dalam hal kecepatan
penguasan bahasa pertama pada anak di bawah lima tahun sebenarnya tidak selalu
sama, meskipun melewati fase atau tahap yang sama. Hal ini terjadi karena dipengaruhi
oleh beberapa faktor, seperti faktor mental dan faktor fisik. Faktor menatal
dan faktor fisik inilah yang mengakibatkan perbedaan kecepatan penguasaan
bahasa pertama.
Brown, H
Douglas. 2007. Prinsip Pembelajaran dan
Pengajaran Bahasa. Jakarta: Pearson Education, Inc, Kedubes Amerika Serikat.
Dardjowidjojo,
Soenjono. 2014. Psikolinguistik Pengantar
Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Tarigan,
Henry Guntur. 1987. Pengajaran
Pembelajaran Bahasa. Bandung: Angkasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar