Musik

Minggu, 17 April 2016

Perbedaan Kecepatan Pemerolehan Bahasa Kedua (PB2) pada Anak



Bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan oleh manusia. Sebagai alat komunikasi, bahasa merupakan hal yang arbitrer, unik, bermakna, konvensional, produktif, universal, dan memiliki variasi. Oleh sebab itu, dengan bahasa, manusia dapat menyampaikan pemikirannya.

Berdasarkan pemerolehanya bahasa dibagi menjadi dua jenis, yaitu bahasa pertama dan bahasa kedua. Bahasa pertama merupakan bahasa yang diperoleh oleh manusia secara alamiah. Karena diperoleh secara alamiah, maka bahasa pertama diperoleh secara tidak sadar tanpa melalui proses pembelajaran. Sedangkan bahasa kedua merupakan bahasa yang diperoleh setelah penguasaan bahasa pertama. Oleh sebab itu, pemerolehan bahasa kedua dilakukan secara sadar baik dalam situasi formal maupun informal.
Meskipun menurut Naom Chomsky, ahli bahasa, setiap manusia telah dibekali alat berbahasa atau Language Acquisition Device (LAD). Dengan alat berbahasa inilah manusia memiliki kemampuan untuk berkomunikasi. Akan teapi, meskipun manusia telah dibekali oleh alat bahasa bukan berarti setiap pembelajar memiliki kemampuan yang sama dalam penguasaan bahasa. Hal ini berkaitan dengan yang disampaikan oleh beberapa ahli neurologi yang mengatakan bahwa setiap manusia memiliki perbedaan dalam penguasaan bahasa.
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh ahli neurologi melalui hipotesis neurolinguistiknya menjelaskan bahwa belahan otak kiri dan otak kanan pada anak usia di bawah lima tahun menunjukan bahwa belahan otak masih cair sehingga terjadi kesamaan kecepatan pemerolehan bahasa. Namun, semakin dewasa usia anak, belahan otak semakin kental sehingga mengakibatkan perbedaan kecepatan pemerolehan bahasa. Selain mengenai belahan otak, ahli neurologi juga mengungkapkan ada perbedaan hormon dan DNA antara laki-laki dan perempuan yang mengakibatkan perbedaan penguasaan bahasa.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pada anak di bawah lima tahun belahan otak masih cair sehingga memiliki kesamaan dalam kecepatan pemerolehan bahasa. Selanjutnya, ketika telah berusia di atas lima tahun antara anak laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan kecepatan pemerolehan karena faktor hormon dan DNA.
Dalam pemerolehan bahasa pertama ada dua hal penting, yaitu perkembangan kognisi dan perkembangan sosial. Perkembangan kognisi erat hubungannya dengan kemampuan yang dimiliki oleh seseorang dalam menerima input dan mengubahnya menjadi intake yang nantinya akan menghasikan output. Sedangkan perkembangan sosial erat hubunganya dengan lingkungan pemerolehan bahasa.
Bicara merupakan pengucapan yang menunjukkan keterampilan seseorang mengucapkan suara dalam suatu kata. Bahasa berarti menyatakan dan menerima informasi dalam suatu cara tertentu. Seorang anak yang mengalami gangguan berbahasa mungkin saja dapat mengucapkan suatu kata dengan jelas tetapi ia tidak dapat menyusun dua kata dengan baik. Sebaliknya, ucapan seorang anak mungkin sedikit sulit untuk dimengerti, tetapi ia dapat menyusun kata-kata yang benar untuk menyatakan keinginannya.
Penyebab kelainan berbicara dan bahasa bisa bermacam-macam yang melibatkan berbagai faktor yang dapat saling memengaruhi, antara lain kondisi lingkungan, pendengaran, kognitif, fungsi saraf, emosi psikologis, dan lain sebagainya. Salah satu kelainan berbicara yang paling kompleks adalah kelainan fungsi saraf, kelainan pada susunan saraf pusat.
Kelainan pada susunan saraf pusat akan memengaruhi pemahaman, interpretasi, formulasi, dan perencanaan bahasa, juga aktivitas dan kemampuan intelektual dari anak. Dalam hal ini, terdapat defisit kemampuan otak untuk memproses informasi yang kompleks secara cepat. Kerusakan area Wernicke pada hemisfer dominan girus temporalis superior seseorang akan menyebabkan hilangnya seluruh fungsi intelektual yang berhubungan dengan bahasa atau simbol verbal, yaitu penderita mampu mengerti kata-kata yang dituliskan atau didengar, tetapi tidak mampu menginterpretasikan pikiran yang diekspresikan.
Gangguan komunikasi biasanya merupakan bagian dari retardasi mental, misalnya pada down syndrome. Pada anak dengan retardasi mental, terdapat disfungsi otak akibat adanya ketidaknormalan yang luas dari struktur otak, neurotransmitter atau mielinisasi, sehingga perkembangan mental terhenti atau tidak lengkap, sehingga berpengaruh pada semua kemampuan kognitif, bahasa, motorik dan sosial.
Menurut beberapa ahli komunikasi, bicara adalah kemampuan anak untuk berkomunikasi dengan bahasa oral (mulut) yang membutuhkan kombinasi yang serasi dari sistem neuromuskular untuk mengeluarkan fonasi dan artikulasi suara. Proses bicara melibatkan beberapa sistem dan fungsi tubuh, melibatkan sistem pernapasan, pusat khusus pengatur bicara di otak dalam korteks serebri, pusat respirasi di dalam batang otak dan struktur artikulasi, resonansi dari mulut serta rongga hidung. Karena anak down syndrome mengalami gangguan sistem mental, maka hal tersebut menyebabkan penguasaan bahasa pertamanya lebih lambat.
Jadi, dalam hal kecepatan penguasan bahasa pertama pada anak di bawah lima tahun sebenarnya tidak selalu sama, meskipun melewati fase atau tahap yang sama. Hal ini terjadi karena dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti faktor mental dan faktor fisik. Faktor menatal dan faktor fisik inilah yang mengakibatkan perbedaan kecepatan penguasaan bahasa pertama.

Brown, H Douglas. 2007. Prinsip Pembelajaran dan Pengajaran Bahasa. Jakarta: Pearson Education, Inc, Kedubes Amerika Serikat.
Dardjowidjojo, Soenjono. 2014. Psikolinguistik Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Tarigan, Henry Guntur. 1987. Pengajaran Pembelajaran Bahasa. Bandung: Angkasa.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar