“Hari
sudah gelap, lekas kita kembali ke kampung.”
“Kautakut?”
“Aku
tak takut, aku hanya khawatir?”
“Apa
bedanya takut dengan khawtir! Sudahlah, itu hanya mitos. Tak mungkin anak gadismu
tak jadi kawin hanya karena kau bertemu dengan lelembut.”
“Mudah kau berucap seperti itu karena semua
anakmu lelaki!”
“Kaupanggil
lelembut perempuan itu,” Aji Saka mencabut mandaunya, “biar kutebas lehernya
dengan mandauku!”
Ayus
mendengus kesal, “Kau pun tahu, cerita itu bukan sekadar mitos. Jika laki-laki
bertemu lelembut perempuan penjaga hutan, kelak anak gadisnya selalu tak jadi
kawin.”
“Kalau itu maumu, pulanglah dengan berjalan
kaki. Sampan itu milikku!”
Ayus
memandang Aji Saka dengan pandangan jengah. Mandau diselipkan dipinggang, dijinjingnya
ikatan rotan yang sejak pagi dia kumpulkan, tangan yang lain menenteng rebung
rotan dan talas untuk istrinya.
***