Musik

Selasa, 28 Juni 2016

Lelembut



“Hari sudah gelap, lekas kita kembali ke kampung.”
“Kautakut?”
“Aku tak takut, aku hanya khawatir?”
“Apa bedanya takut dengan khawtir! Sudahlah, itu hanya mitos. Tak mungkin anak gadismu tak jadi kawin hanya karena kau bertemu dengan lelembut.”
 “Mudah kau berucap seperti itu karena semua anakmu lelaki!”
“Kaupanggil lelembut perempuan itu,” Aji Saka mencabut mandaunya, “biar kutebas lehernya dengan mandauku!”
Ayus mendengus kesal, “Kau pun tahu, cerita itu bukan sekadar mitos. Jika laki-laki bertemu lelembut perempuan penjaga hutan, kelak anak gadisnya selalu tak jadi kawin.”
 “Kalau itu maumu, pulanglah dengan berjalan kaki. Sampan itu milikku!”
Ayus memandang Aji Saka dengan pandangan jengah. Mandau diselipkan dipinggang, dijinjingnya ikatan rotan yang sejak pagi dia kumpulkan, tangan yang lain menenteng rebung rotan dan talas untuk istrinya.
***