Musik

Selasa, 28 Juni 2016

Lelembut



“Hari sudah gelap, lekas kita kembali ke kampung.”
“Kautakut?”
“Aku tak takut, aku hanya khawatir?”
“Apa bedanya takut dengan khawtir! Sudahlah, itu hanya mitos. Tak mungkin anak gadismu tak jadi kawin hanya karena kau bertemu dengan lelembut.”
 “Mudah kau berucap seperti itu karena semua anakmu lelaki!”
“Kaupanggil lelembut perempuan itu,” Aji Saka mencabut mandaunya, “biar kutebas lehernya dengan mandauku!”
Ayus mendengus kesal, “Kau pun tahu, cerita itu bukan sekadar mitos. Jika laki-laki bertemu lelembut perempuan penjaga hutan, kelak anak gadisnya selalu tak jadi kawin.”
 “Kalau itu maumu, pulanglah dengan berjalan kaki. Sampan itu milikku!”
Ayus memandang Aji Saka dengan pandangan jengah. Mandau diselipkan dipinggang, dijinjingnya ikatan rotan yang sejak pagi dia kumpulkan, tangan yang lain menenteng rebung rotan dan talas untuk istrinya.
***

Tiada guna memiliki paras jelita bila tidak ada seorang pun laki-laki bersahaja yang berani mendekat. Ini akibatnya bila status sosial masih menjadi hal yang diagung-agungkan. Jodoh yang sudah jelas di depan mata pun hanya menjadi sebatas angan. Percuma terus melawan, begitulah suratan takdir yang sudah diberikan Sang Kuasa bagi hamba-Nya yang mengagungkan harkat, derajad, dan martabat. Hal itu pula yang menjadi suratan takdir untuk Kamay.
Jauh di pedalaman Kalimatan – tepatnya di sebelah utara – Kesultanan Bulu Tengon berdiri. Sultan Kuwanyi menjadi pemimpin Bulu Tengon yang begitu disegani, berkat kepemimpinannya rakyat hidup makmur. Tidak heran jika Sultan Kuwanyi dianggap sebagai sultan yang paling hebat selama Kesultanan Bulu Tengon berdiri.
Selain memiliki sultan yang hebat, hal lain yang menarik dari Bulu Tengon, yaitu Letak Bulu Tengon yang strategis. Bulu Tengon sangat dekat dengan Kesultanan Melayu dan Kesultanan Brunei. Karena letak yang strategis inilah, menjadikan Bulu Tengon sebagai wilayah yang paling cocok untuk melakukan perdagangan. Tidak heran jika sebagian besar mata pencaharian rakyat Bulu Tengon sebagai pedagang.
Salah satu pedagang di Bulu Tengon yang paling terkenal adalah Libak. Hampir seluruh rakyat Bulu Tengon mengenal Libak, konglomerat yang juga masih kerabat dari Kesultanan Bulu Tengon. Libak tidak hanya dikenal sebagai konglomerat yang memiliki banyak usaha, tapi juga dikenal sebagai seorang yang angkuh dan congkak.
Libak gemar merendahkan orang lain. Kalau bukan karena harta dan pengaruh yang dimilikinya, mungkin sudah sejak lama lehernya ditebas  orang karena sifat buruknya.
“Bagaimana mungkin pemuda rendah sepertimu berani meminang putriku?” Ucap Libak sambil memukul meja di hadapannya.
“Maaf atas kelancangan saya, Apak…” belum selesai Apoy menjawab sudah dipotong ucapanya.
“Apak? Siapa yang kaupanggil Apak? Aku tak sudi kaupanggil apak!” Libak memandang rendah kepada Apoy, “Kau tahu siapa aku dan kerabatku?”
“Iya, saya tahu. Apak seorang konglomerat dan kerabat Kesultanan.”
“Lalu mengapa kaumasih berani datang kemari? Bukankah sudah  kukatakan, kau tidak pantas memiliki Kamay! Mau kauberi makan apa Kamay? Ubi? Jangankan membelikannya perhiasan dan pakaian indah, makanan pun hanya makanan ternak yang bisa kau berikan.
Ayah Apoy yang dari tadi sudah geram dengan ucapan pedas Libak, akhirnya tidak tahan juga. “Kau memang kerabat Kesultanan, banyak pula harta yang kaupunya, tapi bukan berarti bisa seenaknya menghina anakku!”
“Sudahlah, Pak,” Apoy menenangkan ayahnya, “memang benar yang dikatakannya, aku tidak pantas memiliki Kamay. Kamay adalah batu permata, sedangkan aku hanya petani miskin yang tidak mungkin mampu untuk memilikinya.”
“Kau dengar itu! Sudah bagus anakmu sadar, jadi jangan bermimpi tinggi untuk menjadi keluarga denganku! Orang-orang sepertimu tak pantas menjadi kerabatku.”
Dicabutnya mandau yang terselip di pinggang, sudah habis kesabaran ayah Apoy menghadapi Libak, konglomerat angkuh dan congkak. “Perlu kutebas lehermu, supaya kau berhenti mencaci orang.”
“Pak, sudahlah! Kita datang bukan untuk membuat ribut.” Apoy menahan lengan ayahnya yang telah mengacungkan mandau. “Lebih baik kita kembali ke rumah, mungkin memang sudah suratan takdir, aku dan Kamay tidak bisa bersama.”
“Bagus kalau kausadar. Pulanglah! Aku juga tak sudi rumahku disinggahi orang-orang kotor seperti kalian!”
Apoy tersenyum kecut mendengar ucapan Libak. Tidak disangka. Niat baik yang sungguh-sungguh dia lakukan, justru membuat hatinya semakin teriris. Menginginkan Kamay menjadi pendampingnya bagai pungguk merindukan bulan. Mungkin ada benarnya yang dikatakan orang-orang, sebesar apapun cintanya kepada Kamay, tidak akan mereka menyatu.
Rintik hujan sore itu menjadi saksi betapa pedih luka hati, Kamay mendengar sang pujaan hati dicaci oleh ayahnya. Tidak disangka, rencana pernikahan yang sungguh sejak lama dia dambakan semakin jauh dari kenyataan. Air terus mengalir dari kedua matanya, meski beberapa kali Kamay menyekanya, tapi tetap saja pelapuk matanya terus digenangi air.
“Tega benar Apak ucapkan itu kepada Apoy dan Apaknya,” ucap Kamay kepada ayahnya, “Tidak pantas Apak berbuat seperti itu kepada mereka,” sambungnya dengan linangan air mata, “mereka datang dengan tujuan baik.”
“Apa yang kaumaksud baik? Mereka datang tanpa berpikir! Tidak sudi aku menerima Apoy menjadi menantuku. Kaupantas mendapatkan yang lebih baik.”
“Tapi Apoy yang kuinginkan menjadi suami, Apak.”
Harghhh, mau diletakan di mana wajah Apak kalau kau bersuami dia?” ucap Libak penuh amarah, “tidak perlu kuatir, akan kucarikan kau seorang suami yang sederajat denganmu.”
Sejak kejadian itu Kamay tak pernah lagi mendengar kabar mengenai Apoy. Beberapa kali Kamay mendatangi Apoy di rumahnya, tapi tak pernah bertemu. Rumah milik kekasihnya itu seperti ditinggal begitu saja oleh penghuninya. Di ladang pun Kamay tetap tak menjumpainya. Justru dari penglihatannya, tampak sudah cukup lama ladang milik Apoy tak diurus, rumput tumbuh tinggi, pala wija dibiarkan mengering, sayur-mayur mulai mati.
Dari para tetangga mulai terdengar kabar, bahwa Apoy dan ayahnya meninggalkan desa. Ada yang mengatakan Apoy dan ayahnya pergi untuk mencari peruntungan di negeri orang. Beberapa lainnya mengatakan bahwa Apoy sekarang tinggal bersama istri pilihan ayahnya di hulu sungai. Kabar lain yang Kamay dengar, bahwa Apoy telah meninggal karena sakit parah, tentu kabar ini lebih memilukan jika dibandingkan dengan kabar Apoy yang telah menikah degan perempuan lain.
Hari-hari Kamay semakin mengiris. Dia duduk di serambi rumah mulai fajar hingga senja datang. Seperti menunggu seseorang, tapi tak pernah juga seseorang datang menghampirinya. Penampilannya pun mulai tak terurus, tubuhnya semakin mengurus dan wajahnya semakin kusam. Libak mulai cemas dengan keadaan putrinya itu. Apalagi kabar mengenai Kamay yang tak waras mulai berembus kencang.
Tidak heran jika putri Libak, Kamay, dikenal sebagai perawan tua. Beberapa kali Libak mencoba mengenalkan Kamay kepada para bujang dari keluarga konglomerat, tapi tak satu pun membuahkan hasil. Sepertinya kabar mengenai Kamay yang tak waras telah memengaruhi para bujang. Terakhir kali datang seorang laki-laki untuk meminang, tapi tak diterima juga oleh Libak. Bagaimana tidak, laki-laki tersebut telah memiliki tiga istri.
Malam pertama bulan Syawal, semburat lembayung senja mulai tertutup awan hitam. Seperti hari-hari biasanya, Kamay duduk di serambi rumah dengan tatapan kosong. Entah apa yang merasuki pikirannya, dia mulai melangkah menyusuri jalan berbatu. Dia terus berjalan hingga pada akhirnya sampai di tepi hutan dekat Sungai Long Peso. “Mungkin inilah cerita akhir dari kasihku, tapi aku tak pernah menyesal mengenalnya, aku hanya ingin mengakhiri.”
Beberapa detik sebelum Kamay menghempaskan tubuhnya ke dalam sungai, seorang pria tua muncul. Pria itu mengenakan baju putih lusuh. Rambut dan jenggotnya sama panjang. Dengan suara lembut, dipanggilnya Kamay yang telah berdiri di tepi sungai berarus deras itu.
“Pergilah jauh ke dalam hutan. Kau akan menemukan seseorang yang kaunanti. Kalian terlahir, bertemu, dan saling mengasihi. Namun, pada akhirnya kalian tak bisa melalui masa itu!” Ucap pria itu sebelum pergi menuju hutan meninggalkan Kamay yang bergeming.
Setelah kepergian sang kakek, pergilah Kamay ke hutan. Malam mulai merambat, dingin terasa mencekat, dengan sisa-sisa tenaganya, dia susul sang kakek yang sudah tidak terlihat wujudnya. Semak-semak yang dia lalui semakin tinggi, pohon-pohon yang dia jumpai pun berukuran besar dan berdaun rindang, dan cahaya rembulan hanya terlihat remang-remang saja. Lelah sudah Kamay berjalan, kaki mungilnya terasa pedih tergores ranting-ranting pohon. Dia duduk dibekas tebangan pohon ulin, bola matanya menyisir ke segala arah untuk mencari sang kakek. Namun, tidak juga dia jumpai sang kakek.
Hal lain di luar yang diduga Kamay. Dia, kekasih hati, yang begitu dirindukan berdiri di antara pepohonan berdaun rindang dengan tatapan sayu. Tidak ada satu pun yang berubah darinya, hanya saja tatapan pria itu kini seperti orang yang telah habis harapan.
“Apoyyy,” pekik Kamay tidak percaya, “Apoyyy? Benarkah kau itu?” kini Kamay berlari kecil mendekati sosok yang sedang berdiri menatapnya, meski beberapa kali tersungkur. “Benar kau Apoy. Mengapa kau hanya berdiri di sini dan tak menghampiriku?”
Kamay berlinang air mata menatap sosok yang lama dia rindukan. Diamatinya pria itu, memang benar pandangannya, dia Apoy. Dia sentuh dengan lembut pria itu, tanganya mulai bergerak menjamah wajah Apoy yang ditumbuhi rambut-rambut halus. “Tidakkah kaurindu kepadaku? Sungguh aku benar-benar merindukanmu. Telah lama kunantikan masa-masa ini.”
Apoy masih bergeming, ditatapnya perempuan yang begitu dia kasihi, seperti ada nyeri mengusik hati ketika dia melihat perempuan itu menangis. Apoy menarik Kamay dalam pelukannya, dia biarkan Kamay menangis di dadanya. Dia tahu pasti perasaan perempuan yang dicintainya. Dia merasakan hal yang sama, jika bukan Kamay yang menjadi istrinya, dia pun lebih memilih hidup sendiri dalam kesakitan.
“Begitu banyak berita duka yang kudengar, tapi tak satu pun mampu menggoyahkan hatiku untuk berpaling. Biar alam jadi saksi tulus kasihku,” ucap Kamay dengan air mata yang masih berderai, “izinkan aku terus mengasihimu hingga ragaku menyatu dengan tanah.”
Apoy menuntun Kamay menyusuri jalan setapak, kini keduanya semakin masuk ke jantung hutan. Perjalanan mereka baru berhenti setelah sampai di sebuah pondok kayu di dekat rawa-rawa. Tidak ada penerangan yang cukup, di bagian luar hanya ada satu obor bambu dengan damar sebagai bahan bakarnya, di dalam tergantung satu lampu teplok tepat di tengah ruangan.
Kamay dan Apoy duduk di dipan bambu yang ada di sudut ruangan. Keduanya saling menggenggam seolah takut terpisah. “Jika aku tak bertemu dengan kakek itu, mungkin kini ragaku telah hanyut bersama kasihku,” Kamay menyandarkan kepalanya di dada Apoy sedangkan jemarinya masih mengenggam erat kekasihnya, “aku kehilangan akal karenamu.”
Tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari mulut Apoy. Dia hanya tersenyum menatap Kamay dari dekat, merengkuhya dengan pelukan, dan memberi kecupan hangat. Kabut malam itu menjadi saksi, bahwa cinta mampu mampu mengubah segalanya terutama air mata.
Embun menggelitik kulit, hawa dinggin menjamah ke seluruh raga, tulang-tulang bagai tersiram tumpukan es hingga melumpuhakan jutaan sel. Wewangian khas yang muncul dari kulit-kulit kayu menyucuk indra penciuman. Perempuan ayu menggeliat lemah di sela akar-akar pohon dan tumpukan daun kering, rambut panjangnya bercampur dengan lumpur rawa. Perlahan dia membuka mata melawan nyeri yang mencengkram kuat kepalanya. Dengan kesadaran yang belum terkumpul sempurna, dipaksakan tubuh kurusnya berdiri. Kakinya tertatih menyangga berat tubuh sendiri. Matanya memicing, menyisir, mencari-cari sesuatu.
Tak ada lagi dipan bambu, tak ada lagi gubuk tua, apa lagi pria yang dikasihinya. Sejauh mata memandang yang dia lihat hanya pohon-pohon berukuran besar dengan daun rindang atau batang-batang pohon yang tergeletak rapuh karena ditinggal mati akarnya. Dimana lelaki itu? Kemana lelaki itu? Jelas, tak ada rimbanya. Wajah ayu kini kembali diselimuti kesedihan, raut penuh luka kembali tersibak. Malam itu hanya mimpi, pun kekasihnya hanya ilusi, sungguh tak pernah ada yang dia temui.
Cerita-cerita itu hanya menjadi kumpulan sejarah yang tak pernah ada pembuktiannya. Mungkin Kamay mati menyusul kekasih hatinya, mungkin pula dia hidup terasing di jantung hutan menanti kekasih hatinya. Namun, hanya lelembut perempuan itu yang tahu akhir cerita sesungguhnya.
***
            Ayus terengah-engah, raganya yang sudah tak muda lagi memaksanya beberapa kali berhenti walau sekadar menarik napas. Bayangan istri dan tujuh anak perempuannya membuat kekuatan kakinya kembali melangkah, apalagi batara surya sudah benar-benar menghilang dari pandangan. Andai ada sampan, tak perlu rasanya dia menyusuri hutan dengan lereng dan bukit yang terjal. Namun apa daya, sampan itu memang milik Aji Saka.
            Malam semakin datang, Ayus masih saja berputar-putar dalam hutan. Kepalanya mulai berat, sejak tadi dia seperti menyusuri jalan yang sama. Kemana pun melangkah dia kembali di tempat yang sama. Pikirnya mulai kalut, kakinya kini melangkah ke sembarang arah, yang dipikirkan hanya segera mungkin meninggalkan hutan.
            “Andai lebih sabar menunggu Aji Saka, mungkin tak akan seperti ini” batin Ayus.
            Braghkkk, Ayus tersungkur, rotan, rebung, dan talas yang dijinjingnya bergelimpangan di tanah lembab. Napas semakin menderu, peluh membanjiri tubuh, tubuh bergetar hebat, Ayus nyaris tak mampu berdiri. Meski harus merangkak dikumpulkannya kembali rotan, rebung, dan talas.
Sembari mengumpulkan rebung dan talas, bola matanya menghujam ke segala penjuru, seperti ada yang mengawasinya dari jauh. Sepasang mata sendu dengan kelopok mata yang sangat cekung mengawasi Ayus dari balik semak belukar.
“Le…le…le…lelembut,” pekik Ayus nyaris tak dapat dia dengar sendiri “nasib sial akan menimpa anak-anak gadisku.”
“Kalau anakmu tak kawin, itu karena nasib buruk menimpanya, bukan karena kaumelihatku.” Tubuhnya renta dengan kaki berbalut lendut rawa terseok-seok melewati Ayus yang masih tercekat.
Tangan ringkih menurunkan tempayan berisi air bersih yang baru diambil dari balik bukit. Beberapa kali serabut kelapa diusapkan ke kakinya untuk menghilangkan lendut rawa yang menempel. Dengan tempurung kelapa untuk menyiduk air, Kamay membersihkan kaki kurusnya.




           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar