“Hari
sudah gelap, lekas kita kembali ke kampung.”
“Kautakut?”
“Aku
tak takut, aku hanya khawatir?”
“Apa
bedanya takut dengan khawtir! Sudahlah, itu hanya mitos. Tak mungkin anak gadismu
tak jadi kawin hanya karena kau bertemu dengan lelembut.”
“Mudah kau berucap seperti itu karena semua
anakmu lelaki!”
“Kaupanggil
lelembut perempuan itu,” Aji Saka mencabut mandaunya, “biar kutebas lehernya
dengan mandauku!”
Ayus
mendengus kesal, “Kau pun tahu, cerita itu bukan sekadar mitos. Jika laki-laki
bertemu lelembut perempuan penjaga hutan, kelak anak gadisnya selalu tak jadi
kawin.”
“Kalau itu maumu, pulanglah dengan berjalan
kaki. Sampan itu milikku!”
Ayus
memandang Aji Saka dengan pandangan jengah. Mandau diselipkan dipinggang, dijinjingnya
ikatan rotan yang sejak pagi dia kumpulkan, tangan yang lain menenteng rebung
rotan dan talas untuk istrinya.
***
Tiada
guna memiliki paras jelita bila tidak ada seorang pun laki-laki bersahaja yang
berani mendekat. Ini akibatnya bila status sosial masih menjadi hal yang diagung-agungkan.
Jodoh yang sudah jelas di depan mata pun hanya menjadi sebatas angan. Percuma terus
melawan, begitulah suratan takdir yang sudah diberikan Sang Kuasa bagi
hamba-Nya yang mengagungkan harkat, derajad, dan martabat. Hal itu pula yang
menjadi suratan takdir untuk Kamay.
Jauh
di pedalaman Kalimatan – tepatnya di sebelah utara – Kesultanan Bulu Tengon
berdiri. Sultan Kuwanyi menjadi pemimpin Bulu Tengon yang begitu disegani, berkat
kepemimpinannya rakyat hidup makmur. Tidak heran jika Sultan Kuwanyi dianggap sebagai
sultan yang paling hebat selama Kesultanan Bulu Tengon berdiri.
Selain
memiliki sultan yang hebat, hal lain yang menarik dari Bulu Tengon, yaitu Letak
Bulu Tengon yang strategis. Bulu Tengon sangat dekat dengan Kesultanan Melayu
dan Kesultanan Brunei. Karena letak yang strategis inilah, menjadikan Bulu
Tengon sebagai wilayah yang paling cocok untuk melakukan perdagangan. Tidak
heran jika sebagian besar mata pencaharian rakyat Bulu Tengon sebagai pedagang.
Salah
satu pedagang di Bulu Tengon yang paling terkenal adalah Libak. Hampir seluruh
rakyat Bulu Tengon mengenal Libak, konglomerat yang juga masih kerabat dari
Kesultanan Bulu Tengon. Libak tidak hanya dikenal sebagai konglomerat yang
memiliki banyak usaha, tapi juga dikenal sebagai seorang yang angkuh dan
congkak.
Libak
gemar merendahkan orang lain. Kalau bukan karena harta dan pengaruh yang
dimilikinya, mungkin sudah sejak lama lehernya ditebas orang karena sifat buruknya.
“Bagaimana
mungkin pemuda rendah sepertimu berani meminang putriku?” Ucap Libak sambil
memukul meja di hadapannya.
“Maaf
atas kelancangan saya, Apak…” belum selesai Apoy menjawab sudah dipotong
ucapanya.
“Apak?
Siapa yang kaupanggil Apak? Aku tak sudi kaupanggil apak!” Libak memandang
rendah kepada Apoy, “Kau tahu siapa aku dan kerabatku?”
“Iya,
saya tahu. Apak seorang konglomerat dan kerabat Kesultanan.”
“Lalu
mengapa kaumasih berani datang kemari? Bukankah sudah kukatakan, kau tidak pantas memiliki Kamay! Mau
kauberi makan apa Kamay? Ubi? Jangankan membelikannya perhiasan dan pakaian
indah, makanan pun hanya makanan ternak yang bisa kau berikan.”
Ayah
Apoy yang dari tadi sudah geram dengan ucapan pedas Libak, akhirnya tidak tahan
juga. “Kau memang kerabat Kesultanan, banyak pula harta yang kaupunya, tapi
bukan berarti bisa seenaknya menghina anakku!”
“Sudahlah,
Pak,” Apoy menenangkan ayahnya, “memang benar yang dikatakannya, aku tidak
pantas memiliki Kamay. Kamay adalah batu permata, sedangkan aku hanya petani
miskin yang tidak mungkin mampu untuk memilikinya.”
“Kau
dengar itu! Sudah bagus anakmu sadar, jadi jangan bermimpi tinggi untuk menjadi
keluarga denganku! Orang-orang sepertimu tak pantas menjadi kerabatku.”
Dicabutnya
mandau yang terselip di pinggang, sudah habis kesabaran ayah Apoy menghadapi
Libak, konglomerat angkuh dan congkak. “Perlu kutebas lehermu, supaya kau
berhenti mencaci orang.”
“Pak,
sudahlah! Kita datang bukan untuk membuat ribut.” Apoy menahan lengan ayahnya
yang telah mengacungkan mandau. “Lebih baik kita kembali ke rumah, mungkin
memang sudah suratan takdir, aku dan Kamay tidak bisa bersama.”
“Bagus
kalau kausadar. Pulanglah! Aku juga tak sudi rumahku disinggahi orang-orang
kotor seperti kalian!”
Apoy
tersenyum kecut mendengar ucapan Libak. Tidak disangka. Niat baik yang
sungguh-sungguh dia lakukan, justru membuat hatinya semakin teriris.
Menginginkan Kamay menjadi pendampingnya bagai pungguk merindukan bulan.
Mungkin ada benarnya yang dikatakan orang-orang, sebesar apapun cintanya kepada
Kamay, tidak akan mereka menyatu.
Rintik
hujan sore itu menjadi saksi betapa pedih luka hati, Kamay mendengar sang
pujaan hati dicaci oleh ayahnya. Tidak disangka, rencana pernikahan yang
sungguh sejak lama dia dambakan semakin jauh dari kenyataan. Air terus mengalir
dari kedua matanya, meski beberapa kali Kamay menyekanya, tapi tetap saja
pelapuk matanya terus digenangi air.
“Tega
benar Apak ucapkan itu kepada Apoy dan Apaknya,” ucap Kamay kepada ayahnya,
“Tidak pantas Apak berbuat seperti itu kepada mereka,” sambungnya dengan
linangan air mata, “mereka datang dengan tujuan baik.”
“Apa
yang kaumaksud baik? Mereka datang tanpa berpikir! Tidak sudi aku menerima Apoy
menjadi menantuku. Kaupantas mendapatkan yang lebih baik.”
“Tapi
Apoy yang kuinginkan menjadi suami, Apak.”
“Harghhh, mau diletakan di mana wajah Apak
kalau kau bersuami dia?” ucap Libak penuh amarah, “tidak perlu kuatir, akan
kucarikan kau seorang suami yang sederajat denganmu.”
Sejak
kejadian itu Kamay tak pernah lagi mendengar kabar mengenai Apoy. Beberapa kali
Kamay mendatangi Apoy di rumahnya, tapi tak pernah bertemu. Rumah milik
kekasihnya itu seperti ditinggal begitu saja oleh penghuninya. Di ladang pun
Kamay tetap tak menjumpainya. Justru dari penglihatannya, tampak sudah cukup
lama ladang milik Apoy tak diurus, rumput tumbuh tinggi, pala wija dibiarkan
mengering, sayur-mayur mulai mati.
Dari
para tetangga mulai terdengar kabar, bahwa Apoy dan ayahnya meninggalkan desa.
Ada yang mengatakan Apoy dan ayahnya pergi untuk mencari peruntungan di negeri
orang. Beberapa lainnya mengatakan bahwa Apoy sekarang tinggal bersama istri
pilihan ayahnya di hulu sungai. Kabar lain yang Kamay dengar, bahwa Apoy telah
meninggal karena sakit parah, tentu kabar ini lebih memilukan jika dibandingkan
dengan kabar Apoy yang telah menikah degan perempuan lain.
Hari-hari
Kamay semakin mengiris. Dia duduk di serambi rumah mulai fajar hingga senja
datang. Seperti menunggu seseorang, tapi tak pernah juga seseorang datang
menghampirinya. Penampilannya pun mulai tak terurus, tubuhnya semakin mengurus
dan wajahnya semakin kusam. Libak mulai cemas dengan keadaan putrinya itu.
Apalagi kabar mengenai Kamay yang tak waras mulai berembus kencang.
Tidak
heran jika putri Libak, Kamay, dikenal sebagai perawan tua. Beberapa kali Libak
mencoba mengenalkan Kamay kepada para bujang dari keluarga konglomerat, tapi
tak satu pun membuahkan hasil. Sepertinya kabar mengenai Kamay yang tak waras
telah memengaruhi para bujang. Terakhir kali datang seorang laki-laki untuk
meminang, tapi tak diterima juga oleh Libak. Bagaimana tidak, laki-laki
tersebut telah memiliki tiga istri.
Malam
pertama bulan Syawal, semburat lembayung senja mulai tertutup awan hitam.
Seperti hari-hari biasanya, Kamay duduk di serambi rumah dengan tatapan kosong.
Entah apa yang merasuki pikirannya, dia mulai melangkah menyusuri jalan
berbatu. Dia terus berjalan hingga pada akhirnya sampai di tepi hutan dekat Sungai
Long Peso. “Mungkin inilah cerita akhir dari kasihku, tapi aku tak pernah
menyesal mengenalnya, aku hanya ingin mengakhiri.”
Beberapa
detik sebelum Kamay menghempaskan tubuhnya ke dalam sungai, seorang pria tua
muncul. Pria itu mengenakan baju putih lusuh. Rambut dan jenggotnya sama
panjang. Dengan suara lembut, dipanggilnya Kamay yang telah berdiri di tepi
sungai berarus deras itu.
“Pergilah
jauh ke dalam hutan. Kau akan menemukan seseorang yang kaunanti. Kalian
terlahir, bertemu, dan saling mengasihi. Namun, pada akhirnya kalian tak bisa
melalui masa itu!” Ucap pria itu sebelum pergi menuju hutan meninggalkan Kamay
yang bergeming.
Setelah
kepergian sang kakek, pergilah Kamay ke hutan. Malam mulai merambat, dingin
terasa mencekat, dengan sisa-sisa tenaganya, dia susul sang kakek yang sudah
tidak terlihat wujudnya. Semak-semak yang dia lalui semakin tinggi, pohon-pohon
yang dia jumpai pun berukuran besar dan berdaun rindang, dan cahaya rembulan
hanya terlihat remang-remang saja. Lelah sudah Kamay berjalan, kaki mungilnya
terasa pedih tergores ranting-ranting pohon. Dia duduk dibekas tebangan pohon
ulin, bola matanya menyisir ke segala arah untuk mencari sang kakek. Namun,
tidak juga dia jumpai sang kakek.
Hal
lain di luar yang diduga Kamay. Dia, kekasih hati, yang begitu dirindukan
berdiri di antara pepohonan berdaun rindang dengan tatapan sayu. Tidak ada satu
pun yang berubah darinya, hanya saja tatapan pria itu kini seperti orang yang
telah habis harapan.
“Apoyyy,”
pekik Kamay tidak percaya, “Apoyyy? Benarkah kau itu?” kini Kamay berlari kecil
mendekati sosok yang sedang berdiri menatapnya, meski beberapa kali tersungkur.
“Benar kau Apoy. Mengapa kau hanya berdiri di sini dan tak menghampiriku?”
Kamay
berlinang air mata menatap sosok yang lama dia rindukan. Diamatinya pria itu,
memang benar pandangannya, dia Apoy. Dia sentuh dengan lembut pria itu,
tanganya mulai bergerak menjamah wajah Apoy yang ditumbuhi rambut-rambut halus.
“Tidakkah kaurindu kepadaku? Sungguh aku benar-benar merindukanmu. Telah lama kunantikan
masa-masa ini.”
Apoy
masih bergeming, ditatapnya perempuan yang begitu dia kasihi, seperti ada nyeri
mengusik hati ketika dia melihat perempuan itu menangis. Apoy menarik Kamay
dalam pelukannya, dia biarkan Kamay menangis di dadanya. Dia tahu pasti
perasaan perempuan yang dicintainya. Dia merasakan hal yang sama, jika bukan
Kamay yang menjadi istrinya, dia pun lebih memilih hidup sendiri dalam kesakitan.
“Begitu
banyak berita duka yang kudengar, tapi tak satu pun mampu menggoyahkan hatiku
untuk berpaling. Biar alam jadi saksi tulus kasihku,” ucap Kamay dengan air
mata yang masih berderai, “izinkan aku terus mengasihimu hingga ragaku menyatu
dengan tanah.”
Apoy
menuntun Kamay menyusuri jalan setapak, kini keduanya semakin masuk ke jantung
hutan. Perjalanan mereka baru berhenti setelah sampai di sebuah pondok kayu di
dekat rawa-rawa. Tidak ada penerangan yang cukup, di bagian luar hanya ada satu
obor bambu dengan damar sebagai bahan bakarnya, di dalam tergantung satu lampu teplok tepat di tengah ruangan.
Kamay
dan Apoy duduk di dipan bambu yang ada di sudut ruangan. Keduanya saling
menggenggam seolah takut terpisah. “Jika aku tak bertemu dengan kakek itu,
mungkin kini ragaku telah hanyut bersama kasihku,” Kamay menyandarkan kepalanya
di dada Apoy sedangkan jemarinya masih mengenggam erat kekasihnya, “aku
kehilangan akal karenamu.”
Tidak
ada sepatah kata pun yang terlontar dari mulut Apoy. Dia hanya tersenyum
menatap Kamay dari dekat, merengkuhya dengan pelukan, dan memberi kecupan hangat.
Kabut malam itu menjadi saksi, bahwa cinta mampu mampu mengubah segalanya
terutama air mata.
Embun
menggelitik kulit, hawa dinggin menjamah ke seluruh raga, tulang-tulang bagai
tersiram tumpukan es hingga melumpuhakan jutaan sel. Wewangian khas yang muncul
dari kulit-kulit kayu menyucuk indra penciuman. Perempuan ayu menggeliat lemah
di sela akar-akar pohon dan tumpukan daun kering, rambut panjangnya bercampur
dengan lumpur rawa. Perlahan dia membuka mata melawan nyeri yang mencengkram
kuat kepalanya. Dengan kesadaran yang belum terkumpul sempurna, dipaksakan
tubuh kurusnya berdiri. Kakinya tertatih menyangga berat tubuh sendiri. Matanya
memicing, menyisir, mencari-cari sesuatu.
Tak
ada lagi dipan bambu, tak ada lagi gubuk tua, apa lagi pria yang dikasihinya.
Sejauh mata memandang yang dia lihat hanya pohon-pohon berukuran besar dengan
daun rindang atau batang-batang pohon yang tergeletak rapuh karena ditinggal
mati akarnya. Dimana lelaki itu? Kemana lelaki itu? Jelas, tak ada rimbanya.
Wajah ayu kini kembali diselimuti kesedihan, raut penuh luka kembali tersibak.
Malam itu hanya mimpi, pun kekasihnya hanya ilusi, sungguh tak pernah ada yang
dia temui.
Cerita-cerita
itu hanya menjadi kumpulan sejarah yang tak pernah ada pembuktiannya. Mungkin
Kamay mati menyusul kekasih hatinya, mungkin pula dia hidup terasing di jantung
hutan menanti kekasih hatinya. Namun, hanya lelembut perempuan itu yang tahu
akhir cerita sesungguhnya.
***
Ayus terengah-engah, raganya yang
sudah tak muda lagi memaksanya beberapa kali berhenti walau sekadar menarik
napas. Bayangan istri dan tujuh anak perempuannya membuat kekuatan kakinya
kembali melangkah, apalagi batara surya sudah benar-benar menghilang dari
pandangan. Andai ada sampan, tak perlu rasanya dia menyusuri hutan dengan
lereng dan bukit yang terjal. Namun apa daya, sampan itu memang milik Aji Saka.
Malam semakin datang, Ayus masih
saja berputar-putar dalam hutan. Kepalanya mulai berat, sejak tadi dia seperti
menyusuri jalan yang sama. Kemana pun melangkah dia kembali di tempat yang
sama. Pikirnya mulai kalut, kakinya kini melangkah ke sembarang arah, yang dipikirkan
hanya segera mungkin meninggalkan hutan.
“Andai lebih sabar menunggu Aji
Saka, mungkin tak akan seperti ini” batin Ayus.
Braghkkk,
Ayus tersungkur, rotan, rebung, dan talas yang dijinjingnya bergelimpangan di
tanah lembab. Napas semakin menderu, peluh membanjiri tubuh, tubuh bergetar
hebat, Ayus nyaris tak mampu berdiri. Meski harus merangkak dikumpulkannya kembali
rotan, rebung, dan talas.
Sembari
mengumpulkan rebung dan talas, bola matanya menghujam ke segala penjuru,
seperti ada yang mengawasinya dari jauh. Sepasang mata sendu dengan kelopok
mata yang sangat cekung mengawasi Ayus dari balik semak belukar.
“Le…le…le…lelembut,”
pekik Ayus nyaris tak dapat dia dengar sendiri “nasib sial akan menimpa
anak-anak gadisku.”
“Kalau
anakmu tak kawin, itu karena nasib buruk menimpanya, bukan karena kaumelihatku.”
Tubuhnya renta dengan kaki berbalut lendut rawa terseok-seok melewati Ayus yang
masih tercekat.
Tangan
ringkih menurunkan tempayan berisi air bersih yang baru diambil dari balik
bukit. Beberapa kali serabut kelapa diusapkan ke kakinya untuk menghilangkan
lendut rawa yang menempel. Dengan tempurung kelapa untuk menyiduk air, Kamay
membersihkan kaki kurusnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar