Musik

Jumat, 20 Juni 2014

Cinta itu Sederhana



“Apakah cinta itu?”
“Emmm, cinta itu ketika merasakan suka dan saling sayang.”
“Cinta itu, seperti apa, ya?”
“Hahhh, cinta itu air mata!” (Ambil saputangan, seka air mata)
“Apa yang kamu ketahui tentang cinta?”
“Hufttt, saling menjaga karena saling membutuhkan.” (Kedip-kedip)
“Cinta, apa pendapatmu mengenai cinta?”
“Cinta itu pengorbanan.”
“Cinta, bagaimana menurutmu?”
“Cinta itu kebohongan, cinta itu luka, cinta itu pengkhianatan, (membanting gelas, lalu masuk kamar), “cinta itu menyayat hati dan jiwa!” (Tak lama, terdengar aneka bunyi hasil dari berbagai macam barang yang dibanting dengan sadis).
“Menurut kamu, cinta itu seperti apa?”
“Pertanyaan mudah, tapi sedikit rumit. Cinta itu rumit untuk dijelaskan!”
“Bisakah Anda mendekripsikan tentang cinta?”
“No coment.” (Sok ngartis)
***


Cinta? Hemmm, saya rasa semua orang tahu tentang cinta. Terlalu banyak cinta di dunia ini hingga saya pun sulit untuk mendeskripsikannya. Dari pernyataan yang sama mengenai penegrtan cinta, saya sudah memperoleh bermacam-macam jawaban yang disampaikan dengan macam-macam ekspresi pula.
Sebagian orang mengatakan, cinta itu bagian dari kebahagiaan, sebagian lainnya mengatakan, cinta itu bagian dari air mata (biasanya jawaban ini saya dapatkan dari orang yang sedang patah hati, baru ditinggal pergi, merasakan dikhianati), dan sebagian lainnya mengatakan, cinta itu bagian dari semu bahkan sebatas angan (yang paling sering memberikan jawaban ini adalah manusia yang saya sebut sebagai pasukan galauers). Namun, yang sangat saya sayangkan, terkadang cinta hanya diidentikan untuk mengungkapkan persaan sebagai sepasang kekasih (nah lohhh, yang tidak punya kekasih berarti tidak memiliki cinta, miris).
Menurut saya, cinta itu jangkauannya terlalu luas seperti sinyal “X” (maaf, karena tidak mendapat royalty dari jaringan tersebut, saya tidak dapat menyebutkan dengan jelas) yang mampu menembus hingga ke pelosok daerah. Cinta itu sebenarnya sederhana, di mana pun Anda berada dengan mudah akan menemukan cinta.
Seorang ibu yang mengasihi anaknya, itu juga dapat dikatakan sebagai cinta. Bahkan bisa saya katakan itu sebagai cinta sepanjang masa. Ibu jadi baby siter tanpa gaji dari kita kecil samapai kita punya anak kecil (sudah merawat kita waktu kecil, tapi ketika kita sudah punya anak pun masih kita minta untuk merawat anak kita, ngenesssss).
Ketika memiliki pekerjaan (apa pun jenisnya, bidang seni, kesahatan, jasa, pendidikan, perdagangan, dll), seseorang dengan iklas bekerja karena profesionalisme itu juga sebuah cinta. Meskipun itu hanya bentuk bentuk profesionalisme dalam pekerjaan, namun rasa cinta dengan pekerjaan itulah yang memunculakan sikap profesinolisme.
Perempuan yang merawat tubuhnya agar tetap sehat, ideal, dan cantik (maaf, wanita yang menyisipkan plastik-plastikan tidak termasuk dalam daftar ini), sikap perempuan yang demikian juga dapat dikatakan sebagai cinta. Karena wanita tersebut mencintai tubuhnya, makanya dia benar-benar merawat tubuhnya.
Seorang koruptor yang tega mengambil uang negara (ini menyebabkan jutaan rakyat jelata sengsara, termasuk saya) juga dapat dikatakan sebagai bentuk cinta. Sang Koruptor terlalu menyayangi keluarga, karena takut anak dan istrinya kebutuhannya tidak tercukupi dan tidak dapat mersakan hidup mewah, maka melakukan korupsi. Sederhana, sang Koruptor menyayangi keluaga, namun mewujudkan cinta yang salah.
Ya, itulah cinta. Kasad mata, tidak dapat dilihat, tapi dapat dirasakan (orang bilang, seperti kentut). Karena bentuknya yang kasad mata, itulah sebabnya cinta itu menjadi sederhana.
Saya bukanlah manusia yang paling mengerti dan berpengalaman mengenai cinta. Oleh sebab itu, bukan bermaksud untuk menggurui (karena saya memang bukan seorang guru), tapi saya hanya ingin memberikan gagasan saya mengenai sesuatu hal, kecil, yang sering disebut sebagai “Cinta.”
“Apakah Anda memiliki cinta?” Saya rasa semua orang di dunia ini memiliki cinta. Jika ada yang mengatakan tidak memiliki cinta, saya rasa bukan tidak memiliki, hanya saja belum menyadari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar