“Apakah
cinta itu?”
“Emmm,
cinta itu ketika merasakan suka dan saling sayang.”
“Cinta
itu, seperti apa, ya?”
“Hahhh, cinta
itu air mata!” (Ambil saputangan, seka air mata)
“Apa
yang kamu ketahui tentang cinta?”
“Hufttt,
saling menjaga karena saling membutuhkan.” (Kedip-kedip)
“Cinta,
apa pendapatmu mengenai cinta?”
“Cinta
itu pengorbanan.”
“Cinta,
bagaimana menurutmu?”
“Cinta
itu kebohongan, cinta itu luka, cinta itu pengkhianatan, (membanting gelas,
lalu masuk kamar), “cinta itu menyayat hati dan jiwa!” (Tak lama, terdengar
aneka bunyi hasil dari berbagai macam barang yang dibanting dengan sadis).
“Menurut
kamu, cinta itu seperti apa?”
“Pertanyaan
mudah, tapi sedikit rumit. Cinta itu rumit untuk dijelaskan!”
“Bisakah
Anda mendekripsikan tentang cinta?”
“No
coment.” (Sok ngartis)
***
Cinta?
Hemmm, saya rasa semua orang tahu tentang cinta. Terlalu banyak cinta di dunia
ini hingga saya pun sulit untuk mendeskripsikannya. Dari pernyataan yang sama
mengenai penegrtan cinta, saya sudah memperoleh bermacam-macam jawaban yang
disampaikan dengan macam-macam ekspresi pula.
Sebagian
orang mengatakan, cinta itu bagian dari kebahagiaan, sebagian lainnya
mengatakan, cinta itu bagian dari air mata (biasanya jawaban ini saya dapatkan
dari orang yang sedang patah hati, baru ditinggal pergi, merasakan dikhianati),
dan sebagian lainnya mengatakan, cinta itu bagian dari semu bahkan sebatas
angan (yang paling sering memberikan jawaban ini adalah manusia yang saya sebut
sebagai pasukan galauers). Namun,
yang sangat saya sayangkan, terkadang cinta hanya diidentikan untuk
mengungkapkan persaan sebagai sepasang kekasih (nah lohhh, yang tidak punya
kekasih berarti tidak memiliki cinta, miris).
Menurut saya, cinta itu jangkauannya terlalu
luas seperti sinyal “X” (maaf, karena tidak mendapat royalty dari jaringan tersebut, saya tidak dapat menyebutkan dengan
jelas) yang mampu menembus hingga ke pelosok daerah. Cinta itu sebenarnya sederhana,
di mana pun Anda berada dengan mudah akan menemukan cinta.
Seorang ibu yang mengasihi anaknya, itu juga
dapat dikatakan sebagai cinta. Bahkan bisa saya katakan itu sebagai cinta
sepanjang masa. Ibu jadi baby siter
tanpa gaji dari kita kecil samapai kita punya anak kecil (sudah merawat kita waktu
kecil, tapi ketika kita sudah punya anak pun masih kita minta untuk merawat
anak kita, ngenesssss).
Ketika memiliki pekerjaan (apa pun jenisnya,
bidang seni, kesahatan, jasa, pendidikan, perdagangan, dll), seseorang dengan
iklas bekerja karena profesionalisme itu juga sebuah cinta. Meskipun itu hanya
bentuk bentuk profesionalisme dalam pekerjaan, namun rasa cinta dengan
pekerjaan itulah yang memunculakan sikap profesinolisme.
Perempuan yang merawat tubuhnya agar tetap
sehat, ideal, dan cantik (maaf, wanita yang menyisipkan plastik-plastikan tidak
termasuk dalam daftar ini), sikap perempuan yang demikian juga dapat dikatakan
sebagai cinta. Karena wanita tersebut mencintai tubuhnya, makanya dia
benar-benar merawat tubuhnya.
Seorang koruptor yang tega mengambil uang
negara (ini menyebabkan jutaan rakyat jelata sengsara, termasuk saya) juga
dapat dikatakan sebagai bentuk cinta. Sang Koruptor terlalu menyayangi
keluarga, karena takut anak dan istrinya kebutuhannya tidak tercukupi dan tidak
dapat mersakan hidup mewah, maka melakukan korupsi. Sederhana, sang Koruptor
menyayangi keluaga, namun mewujudkan cinta yang salah.
Ya, itulah cinta. Kasad mata, tidak dapat
dilihat, tapi dapat dirasakan (orang bilang, seperti kentut). Karena bentuknya
yang kasad mata, itulah sebabnya cinta itu menjadi sederhana.
Saya bukanlah manusia yang paling mengerti
dan berpengalaman mengenai cinta. Oleh sebab itu, bukan bermaksud untuk
menggurui (karena saya memang bukan seorang guru), tapi saya hanya ingin
memberikan gagasan saya mengenai sesuatu hal, kecil, yang sering disebut
sebagai “Cinta.”
“Apakah Anda memiliki cinta?” Saya rasa
semua orang di dunia ini memiliki cinta. Jika ada yang mengatakan tidak
memiliki cinta, saya rasa bukan tidak memiliki, hanya saja belum menyadari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar