Musik

Kamis, 24 April 2014

Musuhmu, Sahabatmu




Di dunia ini ada dua jenis sahabat. Pertama, sahabat yang menampakan wujudnya sebagai seorang sahabat. Kedua, sahabat yang menjelma sebagai seorang musuh. Sahabat pertama bersikap baik padamu. Dia mengasihimu, mendukungmu, mengingatkanmu, dan selau ada untukmu. Akan tetapi, dia tidak menjadikanmu seorang yang tangguh. Sedangkan sahabat kedua bersikap sebaliknya. Dia membencimu, mengkritikmu, bahkan mencelakaimu. Meskipun tidak pernah mengasihimu, tapi dia yang menjadikanmu sebagai manusia tangguh dengan mental sekuat baja dan semangat yang terus berkorbar.

Salah satu orang yang berperan dalam kemajuan karier adalah orang yang paling sering memberikan kritikan. Akan tetapi, jangan sampai salah paham, kritikan yang dimaksudkan tidak hanya kritikan yang bersifat membangun, tapi juga kritikan yang bersifat menjatuhkan. Dari kedua jenis kritikan itulah, apabila dikelola dengan baik, maka akan menjadikan seseorang sukses dalam karier.
Kerap kali kita menjadi uring-uringan dengan rekan kerja. Apalagi jika rekan kerja tersebut, suka memberi kritikan pedas. Seolah, kesalahan kecil yang kita lakukan sengaja dibesar-besarkan, lalu menegur kita secara kasar di hadapan umum. Sehingga terkesan bukan menegur, melainkan sedang mempermalukan kita. Belum puas menegur, kadang masih mencela di hadapan bos yang membuat kita semakin tersudut. Inilah yang menjadi pemicu utama, kita menyandangkan gelar “musuh” kepada rekan kerja.
Banyak orang yang belum menyadari bahwa kritikan yang bersifat menjatuhkan dapat menjadikan seseorang lebih sukses. Yang lebih sering terjadi, orang yang sering memberikan kritikan menjatuhkan justru dianggap sebagai musuh. Musuh yang siap menjegal karier, musuh yang siap meruntuhkan karier, musuh yang siap menghancurkan karier, dan entah sebutan lain yang terus disandangkan kepada pemberi kritikan.
Di lingkungan kerja tentu kita menemukan berbagai macam karakter orang. Perbedaan karakter inilah, kadang dianggap menjadi pemicu situasi kerja menjadi kurang nyaman, bahkan menghambat pekerjaan. Namun, jika mau jujur, sebenarnya itu hanya sekadar alasan untuk menunjukan ketidakprofesionalan dalam bekerja. Sebagai seorang yang professional dalam bekerja, seharusnya dengan siapa pun dipertemukan (dipasangkan), kita harus siap.
Dari penjelasan di atas, terkadang kita suka  membenci orang lain, tidak bisa menerima kritikan orang lain, dan tidak ingin maju. Seoalah kita tidak memiliki filter untuk merespons kritikan-kritikan yang menghunjam. Tanpa disadari, kita menyugesti diri untuk berpikir dan bertindak negatif.
          Kritikan dalam lingkungan kerja adalah hal biasa, tapi mengubah kritikan menjadi masukan(motivasi) adalah hal yang luar biasa. Sekarang, bukan saatnya “belajar” berpikir positif, tapi sudah saatnya kita “mulai” berpikir dan bertindak positif. Salah satunya adalah dengan mengubah kritikan pedas menjadi sebuah motivasi untuk lebih meningkatkan kinerja.
          Bersyukur, jika ada rekan kerja yang suka memberi kritikan atau pun menegur kita. Itu artinya, rekan tersebut peduli terhadap kemajuan karier kita. Meskipun cara penyampaiannya terkadang membuat kita kecewa dan sakit hati, namun berkat kritikanya itulah yang membuat kita justru banyak belajar. Tanpa ada kritikannya, mungkin hingga samapai saat ini, yang kita tahu, hanya kesuksesaan  dalam bekerja. Namun  sebenarnya, kesuksesan itu hanya sebagian kecil dari kegagalan kita dalam bekerja.
          Mari kita mengubah pola pikir. Jangan menganggap rekan kerja sebagai seorang “musuh” hanya karena suka memberi kritikan, menegur di hadapan umum, atau membesar-besarkan masalah. Rekan kerja yang demikianlah yang menjadikan kita sebagai manusia tangguh dengan mental sekuat baja dan semangat yang terus berkorbar.  Rekan kerja inilah, seorang sahabat yang menjelma sebagai musuh.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar