Di dunia ini ada dua jenis sahabat. Pertama, sahabat yang menampakan wujudnya sebagai seorang sahabat. Kedua, sahabat yang menjelma sebagai seorang musuh. Sahabat pertama bersikap baik padamu. Dia mengasihimu, mendukungmu, mengingatkanmu, dan selau ada untukmu. Akan tetapi, dia tidak menjadikanmu seorang yang tangguh. Sedangkan sahabat kedua bersikap sebaliknya. Dia membencimu, mengkritikmu, bahkan mencelakaimu. Meskipun tidak pernah mengasihimu, tapi dia yang menjadikanmu sebagai manusia tangguh dengan mental sekuat baja dan semangat yang terus berkorbar.
Salah
satu orang yang berperan dalam kemajuan karier adalah orang yang paling sering
memberikan kritikan. Akan tetapi, jangan sampai salah paham, kritikan yang
dimaksudkan tidak hanya kritikan yang bersifat membangun, tapi juga kritikan
yang bersifat menjatuhkan. Dari kedua jenis kritikan itulah, apabila dikelola
dengan baik, maka akan menjadikan seseorang sukses dalam karier.
Kerap
kali kita menjadi uring-uringan dengan rekan kerja. Apalagi jika rekan kerja
tersebut, suka memberi kritikan pedas. Seolah, kesalahan kecil yang kita lakukan
sengaja dibesar-besarkan, lalu menegur kita secara kasar di hadapan umum. Sehingga
terkesan bukan menegur, melainkan sedang mempermalukan kita. Belum puas
menegur, kadang masih mencela di hadapan bos yang membuat kita semakin
tersudut. Inilah yang menjadi pemicu utama, kita menyandangkan gelar “musuh”
kepada rekan kerja.
Banyak
orang yang belum menyadari bahwa kritikan yang bersifat menjatuhkan dapat
menjadikan seseorang lebih sukses. Yang lebih sering terjadi, orang yang sering
memberikan kritikan menjatuhkan justru dianggap sebagai musuh. Musuh yang siap
menjegal karier, musuh yang siap meruntuhkan karier, musuh yang siap menghancurkan
karier, dan entah sebutan lain yang terus disandangkan kepada pemberi kritikan.
Di
lingkungan kerja tentu kita menemukan berbagai macam karakter orang. Perbedaan karakter
inilah, kadang dianggap menjadi pemicu situasi kerja menjadi kurang nyaman,
bahkan menghambat pekerjaan. Namun, jika mau jujur, sebenarnya itu hanya sekadar
alasan untuk menunjukan ketidakprofesionalan dalam bekerja. Sebagai seorang
yang professional dalam bekerja, seharusnya dengan siapa pun dipertemukan
(dipasangkan), kita harus siap.
Dari
penjelasan di atas, terkadang kita suka membenci orang lain, tidak bisa menerima
kritikan orang lain, dan tidak ingin maju. Seoalah kita tidak memiliki filter
untuk merespons kritikan-kritikan yang menghunjam. Tanpa disadari, kita menyugesti
diri untuk berpikir dan bertindak negatif.
Kritikan dalam lingkungan kerja adalah
hal biasa, tapi mengubah kritikan menjadi masukan(motivasi) adalah hal yang luar
biasa. Sekarang, bukan saatnya “belajar” berpikir positif, tapi sudah saatnya
kita “mulai” berpikir dan bertindak positif. Salah satunya adalah dengan
mengubah kritikan pedas menjadi sebuah motivasi untuk lebih meningkatkan
kinerja.
Bersyukur, jika ada rekan kerja yang
suka memberi kritikan atau pun menegur kita. Itu artinya, rekan tersebut peduli
terhadap kemajuan karier kita. Meskipun cara penyampaiannya terkadang membuat
kita kecewa dan sakit hati, namun berkat kritikanya itulah yang membuat kita
justru banyak belajar. Tanpa ada kritikannya, mungkin hingga samapai saat ini,
yang kita tahu, hanya kesuksesaan dalam
bekerja. Namun sebenarnya, kesuksesan
itu hanya sebagian kecil dari kegagalan kita dalam bekerja.
Mari kita mengubah pola pikir. Jangan menganggap
rekan kerja sebagai seorang “musuh” hanya karena suka memberi kritikan, menegur
di hadapan umum, atau membesar-besarkan masalah. Rekan kerja yang demikianlah
yang menjadikan kita sebagai manusia tangguh dengan mental sekuat baja dan
semangat yang terus berkorbar. Rekan kerja
inilah, seorang sahabat yang menjelma sebagai musuh.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar