Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, fitnah diartikan sebagai perkataan
bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yang disebarkan dengan maksud
menjelekan orang (seperti menodai nama baik, merugikan kehormatan orang). Di
dalam kehidupan bermasyrakat, khususnya muslim, perbuatan fitnah dianggap
tindakan yang lebih kejam daripada pembunuhan. Ancaman dosa yang tidak
main-main diberikan kepada seorang yang tega melakukan fitnah terhadap saudara
sesama muslim. Ya, itulah gambaran fitnah.
Saat ini, mungkin sebagian orang telah
menganggap bahwa fitnah tidak lebih kejam daripada pembunuhan. Oleh sebab itu,
begitu mudahnya orang melakukan fitnah seolah tidak takut dengan dosa besar
yang tentunya didapat dari perbuatan tersebut. Demi kepuasan nafsu untuk
“menjatuhkan” orang lain ancaman dosa besar pun seolah hanya menjadi imajinasi
yang tidak akan terwujud di dunia nyata.
Realita fitnah yang terjadi saat ini
sangat lucu. Orang mengucapkan fitnah bak sedang melantunkan ayat-ayat Tuhan. Orang
menyebarkan fitnah bak sedang mensyiarkan agama. Melantunkannya dengan penuh
penghayatan, mensyiarkannya pun penuh dengan kegigihan agar dapat membentuk
harmoni fitnah yang indah.
Begitu nada-nada fitnah tersebar luas,
pemfitnah tersenyum bangga menyambut kesuksesannya sebagai seorang yang ahli
dalam melantunkan dan mensyiarkan kebohongan. Namun, tanpa pemfitnah sadari, di
luar dugaan mereka, Sang Iblis telah mencatat mereka sebagai kawan sejati untuk
menperluas jaringan syiar fitnah antarkaumnya sendiri.
Lalu, apa yang menyebabkan seseorang melakukan
fitnah? Perbuatan fitnah biasaya disebabkan oleh komplikasi penyakit hati yang
sudah akut. Iri dan dengki menjadi penyakit hati yang paling mendominasi
munculnya hasrat untuk melakukan fitnah terhadap orang lain. Ditambah lagi
dengan jiwa rapuh karena lemah keimanan teradap Tuhan menjadikan perbuatan fitnah
mudah melekat dalam diri seorang pemfitnah.
Sebenarnya hasrat untuk melakukan
fitnah – yang biasanya sering menjangkit jiwa manusia – dapat dihindari dengan
mudah. Apalagi jika kita telah mengetahui gejala-gejalanya, kita akan mudah
menghindari perbuatan tersebut. Cara pertama, meningkatkan ketaqwaan kita
terhadap Allah (hukumya wajib). Cara kedua, jangan membuka jaringan komunikasi
bersama kaum iblis, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Selebihnya kembali
ke diri masing-masing.
Mulailah untuk bersikap dan bertindak
positif. Hilangkan rasa iri, yaitu kurang senang melihat kelebihan orang lain
(entah kurang senang melihat kesuksesan, kepandaain, kecantikan, kekayaan, dll.
yang dimiliki oleh orang lain). Akan lebih baik, jika kita justru mengucap
syukur ketika melihat kelebihan orang lain. Hindari perbuatan dengki dengan
cara menjadikan orang lain sebagai guru dalam kehidupan. Dengan menjadikan
orang lain sebagai guru, justru kita dapat mengambil pelajaran dari kelebihan
atau pun kekurangan orang orang lain (Contoh yang baik untuk diaplikasikan dan contoh
yang buruk untuk dijadikan peringatan
agar tak melakukan keburukan).
Semua penyakit hati munculnya dari diri
sendiri. Sudah tentu obat hati muncul juga dari diri sendiri. Mari kita
menyembuhkan hati dengan mulai bersikap dan bertidak positif. Semoga kita
termasuk dalam golongan orang-orang yang tidak suka melakukan fitnah.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar