Aku
tahu
Dia
yang kini telah terbujur kaku
Meringkuk
di anatara kelembapan dan kegelapan
Aku
tahu
Dia
yang kini tinggal tulang-tulang terabaikan
Merintih
di antara kesunyian dan kenistaan
Aku
tahu
Dia
yang menjadikan merah di atas putih
Dia
yang meneteskan peluh dan darah
Dia
yang memberimu tahta dan singgasana
Aku
tahu, aku masih ingat
Dulu,
dia terus berlari meski peluru menembus hati
Dia
tetap berderap maju
Aku
tahu, aku masih ingat
Dulu,
dia berdiri paling depan
Tangan
kanan mencengkram pedang, tangan kiri mencengkram tombak
Cairan
merah segar membanjiri tubuh kokohnya
Dia
tetap berderap maju
Aku
tahu, aku masih ingat
Saat
raganya mulai kaku, dia lempar seperti bangkai
Tapi
teriakan-teriakan revolusi masih terdengar jelas
Aku
tahu
Pekik
merdeka
Yang
dulu selalu dia kumandangkan
Sekarang
tak pernah lagi terdengar
Pekik
merdeka
Yang
menggelegar bagai magma
Kini
hanya tinggal tangis penuh kehampaan
Menjadi
tulang-tulang terabaikan
Dia yang kini telah terbujur kaku
Meringkuk dan merintih
Menunggu waktu menjadi tulang-tulang diselimuti debu
Nuriana Indah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar