Guru
layaknya seorang model yang harus tampil memesona, tidak hanya ketika di
panggung, tapi di setiap kesempatan. Semakin menarik kesan yang ditampilkan
oleh seorang model, maka semakin banyak pula orang yang mengagumi dan
menjadikannya sebagai panutan. Entah
panutan untuk gaya busana, gaya riasan, gaya rambut, atau pun sekadar gaya
berjalan. Sama seperti model, guru pun harus tampil memesona di hadapan
siswa-siswinya, tidak hanya ketika di kelas, tapi di setiap kesempatan.
Karena guru adalah
model dalam implementasi pembelajaran, sebagai seorang guru jangan hanya
bertindak sebagai pengajar, tapi juga bertindaklah sebagai seorang pendidik.
Sudah pasti, segala tindakan yang dilakukan oleh seorang guru menjadi panutan
untuk peserta didik. Oleh sebab itu, jangan hanya menjaga kualitas pengetahuan
atau ilmu yang dimiliki, yang tak kalah penting adalah menjaga karakter.
Nantinya, karakter tersebut akan dijadikan panutan untuk siswa-siswi.
Dengan arus globalisasi
yang terus berkembang, tentunya sebagai seorang pendidik harus memiliki
karakter untuk mengimbangi arus tersebut. Salah satu karakter yang harus
dimiliki oleh guru adalah saling
menghargai. Sebenarnya, saling
menghargai adalah sikap sederhana yang seharusnya dimiliki oleh setiap
orang. Namun, tanpa disadari, sikap tersebut sebenarnya telah mulai luntur.
Sebagai contoh kecil, saat pembina upacara sedang menyampaikan ceramah,
siswa-siswi bukannya mendengarkan, tapi malah asyik mengobrol atau asyik
memainkan gadget. Sikap tersebut,
jelaslah menunjukan bahwa siswa-siswi
tidak mengahargai pembina upacara.
Bisa Anda bayangkan,
apa yang akan Anda lakukan, jika Anda adalah seorang guru kemudian melihat
murid-murid Anda sibuk bermain dengan gadget
canggih mereka pada saat upacara? Apakah Anda akan marah? Apakah Anda akan
mengur mereka? Apakah Anda akan mengambil gadget tersebut? atau Anda justru
membiarkan mereka terus berekspresi dengan gadget-nya?
Sebagai pendidik (guru) yang baik, tentunya Anda akan menegur siswa-siswi,
jika mereka tidak khidmat mengikuti upacara.
Upacara bukanlah
sekadar kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap hari senin. Upacara adalah
salah satu bentuk penghormatan yang kita tujukan kepada negara, dan juga kepada
para pahlawan yang telah terbelenggu dalam kesengsaraan demi memperjuangkan kemerdekaan
untuk kita. Jadi, pada saat upacara berlangsung, sudah sepatutnya kita menjaga
sikap kita.
Lantas, apa jadinya
jika seorang pendidik (guru) yang seharusnya memberikan contoh yang kepada
siswa justru melakukan tindakan yang malah terkesan seperti anak-anak yang
telah luntur jiwa patriotismenya. Bukankah itu sangat memalukan? Sangat
disayangkan, realitanya, saat ini banyak kita jumpai guru yang asyik mengobrol
atau memainkan gadget-nya ketika
upacara.
Cermati saja ketika
upacara peringatan HUT Kemerdekaan RI, siswa-siswi asyik mengobrol, dan gurunya
pun juga tak mau kalah, mereka juga asyik mengobrol bahkan sesekali
mengeluarkan gadget canggih untuk
berfoto-foto ria dengan dalih sebagai dokumentasi. Yang lebih ironis, upacara
sedang berlangsung, namun banyak yang mengeluarkan gadget lalu meng-update
status di media sosial, “Sedang upacara HUT Kemerdekaan RI,” atau “Dirgahayu
Republik Indonesia. Semoga kita menjadi generasi yang lebih baik,” atau
“Murid-muridku sayang, tetap semangat ,ya, mengikuti upacara walaupun panas
cukup menyengat.” Jadi, bagaimana dengan “pengikutnya” kalau modelnya saja seperti
ini?
Model yang baik adalah
model yang tidak hanya hanya dapat menuangkan gagasan, mampu menjawab semua
pertanyaan, sanggup menginspirasi orang lain, tapi yang tidak kalah penting
adalah dapat dijadikan sebagai seorang teladan. Tentu konteks model yang kita
bicarakan di sini adalah guru (pendidik). Jadi, jika ingin menumbuhkan karakter
saling menghargai kepada siswa, maka
guru harus terlebih dahulu menumbuhkan karakter tersebut dalam dirinya sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar