Sebatang pohon
tua menari gemulai
Daunnya berdesir
sedang bernyanyi
Dahannya
melambai-lambai memanggilku
Terus tersenyum
menggodaku
Untuk mendekat
dan semakin mendekat
Tubuhku yang
mulai rapuh
Kakiku yang
mulai lemah
Kupaksa terus
berpijak agar tak hilang arah
Aku pun mulai
melangkah
Untuk mendekat
dan semakin mendekat
Kudengar
Ternyata pohon
tua itu tak bernyanyi
Kupandang
Ternyata pohon
tua itu tak memanggilku
Kurasa
Pohon tua itu
pun tak tak juga sedang menggodaku
Untuk mendekat
dan semakin mendekat
Dia tak
bernyanyi, tapi sedang melantunkan ayat-ayat-Mu
Dia tak memanggilku,
tapi sedang menyebut asma-Mu
Dia tak
menggodaku, tapi dia sedang mengingat-Mu
Untuk mendekat
dan semakin mendekat
Yaa Rabbi
Engkau zat yang
Maha Berkuasa
Aku bersimpuh
berderai air mata
Aku tak mampu
mengucap kata
Aku manusia
busuk yang penuh dengan lendir hitam
Yaa Rabbi
Dia sebatang
pohon tua mengingat dan terus mengingat-Mu
Sedangkan aku
manusia terlalu sombong kepada-Mu
Sedangkan aku
manusia terlalu hina di hadapan-Mu
Aku manusia
busuk tak pantas mendapatkkan kasih-Mu
Yaa Rabbi
Tak pernah
kulantunkan ayat-ayat-Mu
Tak pernah
kusebut asma-Mu
Tak pernah
kuingat kuasa-Mu
Aku manusia
busuk yang tak tahu malu
Yaa rabbi
Aku manusia
busuk tertunduk malu melantunkan ayat-ayat-Mu
Aku manusia busuk
tertunduk malu menyebut asma-Mu
Sebelum jasadku
membusuk, aku bersujud di hadapan-Mu
Untuk mendekat
dan semakin mendekat
Nuriana Indah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar