Musik bagaikan seorang mentalis
yang memiliki kekuatan untuk menghipnotis seseorang. Jika seorang mentalis
dapat dengan mudah memberikan sugesti, maka musik pun juga dapat melakukan hal
yang sama. Betapa dahsyatnya kekuatan musik, musik mampu menyatukan jutaan
manusia di dunia. Musik dengan mudah memberikan sugesti hingga kinerja otak
dengan mudahnya dapat leluasa dikendalikan.
Hanya dengan musik manusia dapat
mengenal aneka sisi kehidupan, berinteraksi, mengungkapkan perasaan, bahkan
menyampaikan gagasan tanpa harus ke berkunjung ke berbagai belahan dunia. Tentu
ini lebih menegaskan betapa hebatnya kekuatan yang dimiliki oleh musik. Dengan
musik kita dapat mulai mengenal budaya Timur, dengan musik kita dapat mulai
mengenal pola pikir orang Barat. Jelaslah musik mampu mengenalkan aneka sisi
kehidupan kepada manusia tanpa harus
menyusuri setiap belahan dunia.
Jika kita berbicara musik tentu
yang terbesit di pikiran kita adalah kombinasi alunan nada atau suara dari alat
musik dan lirik syair sehingga menghasilkan komposisi (suara) yang enak untuk
didengar. Dari hasil komposisi itulah musik menjadi beraneka macam, setiap
macamnya memiliki ciri yang berbeda. Akan tetapi perbedaan itu tidak lantas
menjadikan musik untuk tidak enak dinikmati. Justru dengan perbadaan itulah musik
jadi unik dan bervariasi hingga semakin menarik untuk dinikmati.
Lalu bagaimana “kekuatan” musik di
Indonesia? Di awal telah dijelaskan bahwa musik mampu menyatukan jutaan manusia
di dunia, jadi jika berbicara mengenai kekuatan musik di Indonesia – yang
jumlah penduduknya hanya sekian persen dari jumlah manusia di seluruh dunia – tentu jawabannya adalah musik mampu
menyugesti rakyat Indonesia. Lihat saja, berbagai perayaan tidak terlepas dari
musik. Merayakan hari kemerdekaan negara dengan pertujukan musik, merayakan
berbagai hari besar dengan pertunjukan musik, berbagai acara besar juga tidak
lengkap tanpa musik, seolah semua kegiatan kurang berkesan tanpa musik.
Perhatikan musik dangdut! Musik yang
identik dengan suara gendang dan seruling, musik yang katanya “musik orang
pinggiran” toh nyatanya mampu
menghipnotis jutaan rakyat Indonesia. Hampir seluruh rakyat Indonesia tahu musik
dangdut, bahkan hingga di pelosok negeri pun musik dangdut tidak asing untuk
didengar. Tidak peduli laki-laki atau pun perempuan, tua atau pun muda, kelas
ekonomi atau pun kelas eksekutif, semuanya menjadi penikmat musik dangdut. Ini
membuktikan bahwa musik dangdut yang disebut-sebut sebagai “musik orang
pinggiran” mampu menjadi alat pemersatu bagi rakyat Indonesia.
Selain musik dangdut, Indonesia juga memiliki musik pop yang umumnya
dibawakan oleh anak-anak band. Musik
pop biasanya paling digemari oleh anak muda. Dengan alunan musik yang dikemas
lebih modern, anak-anak band mampu
menyatukan jutaan pemuda-pemudi Indonesia yang tersebar di seluruh penjuru
negeri. Sebut saja Dewa, band yang
lumayan memiliki banyak penggemar dari berbagai kalangan, setiap mengadakan
konser tak terhitung jumlah penggemar yang datang, dan antarpenggemar tersebut munculah rasa
solidaritas.
Indonesia sendiri di kenal dengan
negara kepulauan yang kaya dengan budaya. Salah satu kekayaan budaya yang
dimiliki Indonesia adalah musik tradisional. Tentunya semua setuju dengan hal
ini. Lihat dan perhatikan peta Indonesia, hijau terbentang luas tanah air
Indonesia yang memiliki ragam musik setiap daerahnya. Musik di setiap daerah tersebut
memilki ciri masing-masing, unik dan berbeda dengan daerah yang lainnya.
Salah satu yang menjadi penyebab
setiap daerah memiliki musik yang berbeda dengan daerah lainnya adalah alat musik
yang digunakan. Dari yang paling timur, Papua, memiliki triton. Alat musik tradisional
yang penggunaanya dengan cara ditiup, terbuat dari kerang. Alat musik yang cara
penggunaannya yaitu dengan ditiup. Sasando, alat musik yang terbuat dari daun
lontar milik Rote, Nusa Tenggara Timur. Tifa, alat musik tradisional Maluku,
terbuat dari sebatang kayu yang dikosongi atau dihilangkan isinya dan pada
salah satu sisi ujungnya ditutupi, dan biasanya penutupnya digunakan kulit rusa
yang telah dikeringkan untuk menghasilkan suara yang bagus dan indah. Sampek,
alat musik tradisional dari Kalimantan, terbuat dari kayu. Aklung, alat musik
tradisional Jawa Barat, terbuat dari bambu. Masih banyak lagi alat musik tradisional
yang dimiliki oleh Indonesia.
Lantas bagaimana jika musik
tradisional Indonesia yang dijadikan sebagai pemersatu? Semua orang menyukai musik,
bukankah ini bisa dijadikan sebagai alat pemersatu yang cukup hebat bagi
Indonesia? Itu artinya, dengan musik,
kita dapat meningkatkan solidaritas. Dengan solidaritas yang semakin erat
tentunya lebih menjadikan negara kita semakin terhindar dari perpecahan. Selain
itu, Indonesia juga akan semakin dikenal oleh negara lain.
Pertanyaan selanjutnya adalah,
bagaimana caranya menjadikan musik tradisional sebagai pemersatu bagi rakyat Indonesia?
Salah satu cara yang cukuf efektif adalah dengan meningkatkan level musik
taradisional. Seperti yang kita tahu, dengan semakin kencangnya arus
globalisasi, musik tradisional Indonesia tampaknya semakin tersingkirkan, tidak
banyak orang yang tahu musik tradisional. Saat ini saja, masyarakat Indonesia
mulai terhipnotis oleh musik-musik dari negara barat dan dari Korea. Jadi,
dengan meningkatkan level musik tradisional, tentunya akan menjadikan
masyarakat Indonesia kembali untuk mencintai musik asli negeri.
Sering kali kita melihat tayangan di
televisi menampilkan berbagai pergelaran musik untuk merayakan hari-hari besar,
pembukaan acara-acara besar, atau pun sekadar untuk hiburan semata. Jika
pergelaran musik ini lebih banyak menampilkan musik-musik tradisional tentunya
ini akan menigkatkan level musik tradisional. Karena kenyataanya, musik
tradisional juga tidak kalah menarik dari musik modern.
Jika disetiap acara-acara
menampilkan pergelaran musik tradisional, maka keberagaman musik tradisional
akan semakin dikenal. Sebagai contoh, sebagian dari masyarakat Indonesia pasti
telah mengenal Saung Angklung Udjo yang terkenal tidak hanya di luar negeri, tapi
juga luar negeri. Saung Angklung Udjo tidak hanya memikat masyarakat Indonesia,
tapi juga memikat masyarakat mancanegara. Dengan dikenalnya Saung Angklung Udjo
ke mancanegara, tentunya tidak hanya melestarikan musik tradisional Indonesia,
tapi sekaligus memperkenalkan kepada masyarakat mancanegara, bahwa Indoanesia
memiliki musik yang menarik dan berbeda dengan yang lainya. Selain itu,
Indonesia juga memiliki identitas musik yang berbeda dengan yang lainnya.
Ini baru angklung dari Jawa Barat.
Bagaimana dengan sampek milik Kalimantan, sasando milik Nusa Tenggara Timur, tifa
milik Maluku, triton milik Papua? Tentu jika semuanya dimaksimalkan, selain
melestarikan budaya bangsa, kita akan menjadikan Indonesia tidak hanya memiliki
satu jenis musik, tapi akan ada beraneka jenis musik yang berbeda dengan negara
lain, dan menjadikan musik tradisional sebagai pemersatu bagi rakyat Indonesia. Apalagi jika berbagai alat musik tersebut dipadukan tentunya akan
menghasilkan harmoni nada yang spektakuler. Lihat saja betapa apiknya harmoni
nada yang ditampilkan oleh para orchestra,
dari petikan gitar, gesekan biola, dentingan piano, tiupan saksafon, mampu
menghadirkan alunan nada yang indah.
Jadi, akan lebih baik apabila di
berbagai acara yang diselenggarakan oleh Indonesia, disajikan pergelaran musik
tradisional. Jangan lagi menampilkan musik-musik yang justru tidak menunjukan
ciri khas Indonesia. Indonesia harus memiliki jati diri, meskipun hanya dilihat
dari sudut pandang seni (musik). Apalagi pada saat HUT Kemerdekaan RI, akan
jauh lebih baik jika menampilkan musik-musik tradisional daripada menampilkan
pertunjukan musik yang menelan dana fantastis, tapi tidak ada faedahnya untuk
Indonesia.
Selain lebih sering menampilkan pegelaran
musik tradisional, cara untuk menaikan level musik tradisional adalah dengan
memperkenalkan musik tradisional kepada anak-anak sejak usia sekolah dasar. Anak-anak
tidak hanya dikenalkan berbagai jenis musik daerah, tapi mereka juga diajari
untuk memainkan alat-alat musik tradisional. Dengan mengenalkan musik
tradisional sejak usia sekolah dasar, tentunya kita akan menciptakan generasi
muda yang cinta dengan musik tradisional. Sejak kecil mereka akan tersugesti
untuk turut serta melestarikan salah satu budaya bangsa, yaitu musik
tradisional.
Untuk terwujudnya hal tersebut,
tentunya tidak mudah. Namun, jika saja pemerintah memasukan musik tradisional
ke dalam program pembelajaran dan memaksimalkan kinerja guru seni untuk membimbing
siswa mengenali musik tradisional. Guru kesenian dapat dijadikan sebagai media
untuk mengenalkan beragam musik tradisional kepada anak-anak. Jika hal itu terlaksana, tentunya
memungkinkan untuk terwujud generasi muda yang cinta dengan musik tradisional dan semakin mempererat solidaritas Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar