Karya: Yulan Cahya (Juara I Cipta Cerpen Tingkat Provinsi Kaltim)
Aran
tahu benar ayahnya adalah seorang Tentara Angkatan Laut, dan ayahnya meninggal
pada saat bertugas. Banyak versi cerita mengenai ayahnya. Ada yang mengatakan
ayahnya terkena peluru nyasar, ada juga yang mengatakan ayah tenggelam saat
badai, bahkan ada yang mengatakan ayah pergi ke pulau lain dan tidak pernah
kembali ke pulau asalnya karena sudah memiliki keluarga baru di sana. Yang
terakhir ini paling tidak diyakini kebenarannya, Aran menyangka mungkin itu
hanya pemikiran dari orang-orang yang tidak suka dengan ayah.
Kejadian
mengenai ayah ini terjadi saat Aran berumur enam bulan di dalam kandungan ibu.
Aran tidak tahu apa-apa. Yang dia tahu hanya saat dia berhasil melihat dunia
hanya senyum lelah ibu yang mengisi hari-harinya. Sampai dia berumur lima tahun
dan mulai mengerti kalau sosok di dalam hidupnya berkurang satu.
Aran
masih ingat, siang itu setelah pengambilan raport dia pulang ke rumah sambil
menangis. Bukan karena nilai raportnya jelek. Tapi karena raportnya belum bisa
diambil sebab orangtuanya tidak datang untuk mengambil. Sementara teman-teman
yang lainnya kebanyakan pergi mengambil raport bersama ayahnya, Aran hanya bisa
menyaksikan pemandangan itu dengan pilu. Ada yang setelahnya langsung dimarahi
ayahnya karena nilai raportnya jelek, ada juga yang langsung dipeluk ayahnya
dan dijanjikan akan diberi hadiah karena nilainya bagus. Aran pun pulang dengan
wajah penuh bekas air mata yang menganak sungai. Ibu yang harus menjaga toko
seharian akhirnya mengalah untuk menutup tokonya demi mengambil raport Atan.
“Bu,
enak ya kalau punya ayah,” kata Aran setelahnya dan membuat ibu langsung
terdiam dan hanya bisa memeluk erat tubuh kurusnya.
***
“Aran,”
ingatan Aran pada masa lalunya langsung buyar begitu ibu datang dan menepuk
punggungnya. “Kamu sudah pasang benderanya?”
“Sudah
bu,” Aran menunjuk ke tiang bambu yang berdiri kokoh di halaman rumahnya. “Bu,
seneng ya kalau bisa pasang bendera bareng ayah kayak yang lainnya.”
“Kalau
kamu bisa pasang sendiri tanpa ayah, itu artinya kamu lebih hebat. Iya kan?,”
ibu tersenyum sedih sambil mengelus pelan rambut Aran.
Aran
mengangguk kecil sambil matanya menerawang jauh ke arah ombak yang berdebur
menyapa pantai.
Lima
hari lagi tanggal 17 Agustus tiba. Itu artinya Indonesia akan merayakan Hari
Ulang Tahun Kemerdekaan untuk yang kesekian kalinya. Kampung Nelayan yang
walaupun terletak di penghujung kota di dekat pantai, tapi sudah penuh oleh
umbul-umbul maupun bendera merah-putih yang berkibar-kibar di sepanjang jalan. Warga
kampung juga turut sibuk menyiapkan berbagai macam arena lomba seperti panjat
pinang, lomba makan kerupuk, mau pun lomba lari karung. Beberapa nelayan malah
sengaja tidak melaut untuk mempersiapkan perayaan HUT Kemerdekaan tahun ini.
Aran
juga ikut menyibukkan diri dalam mempersiapkan HUT Kemerdekaan tahun ini. Dia
mengikuti sebuah lomba yang disampaikan oleh gurunya. Lomba itu adalah lomba
membuat prakarya yang berbau kemerdekaan, dan di balik prakarya itu harus ada
cerita mengenai mengapa prakarya tersebut dibuat. Aran merahasiakan
keikutsertaannya dalam lomba ini dari ibunya. Dia ingin membuat kejutan, jika
ia menang baru ia akan memberitahu ibunya.
Setiap
hari setelah pulang sekolah Aran menuju rumah Dimas, sahabatnya. Selama ini dia
mengerjakan prakaryanya di rumah Dimas agar tidak ketahuan ibunya. Dia membuat
sebuah kapal perang sederhana dengan bahan kulit kerang yang sudah mati. Kapal
itu berwarna merah di sisi kanannya dan putih di sisi kirinya. Aran membentuk
kapal itu sedemikian rupa sehingga terlihat kalau kapal itu tetap kokoh meski
melawan badai. Dia juga menambahkan satu tiang kecil bendera merah putih di
puncak kapalnya. Setelah selesai Aran menyerahkan karya itu kepada gurunya dan
gurunya membantu mengirimkan karyanya melalui jasa pengiriman ke lembaga yang
mengadakan lomba tersebut.
Lomba
ini menjadi salah satu jalan untuk mewujudkan mimpi Aran. Jika menang,
pemenangnya akan dibeasiswai untuk bersekolah di sekolah tentara. Selama ini
Aran memang bercita-cita menjadi tentara seperti ayahnya. Tapi tidak seorang
pun tahu mengenai cita-citanya itu,
bahkan ibunya pun tidak tahu.
30
Oktober 1996
Sebuah motor jingga
dengan dua kantung surat di jok belakangnya berhenti di depan rumah Aran. Aran yang
sedang berbaring di sofa ruang tamunya langsung berlari keluar begitu melihat
Pak Pos. Aran jarang menerima kiriman, karena itu Aran senang menerima kiriman
yang diantar Pak Pos. Kiriman itu hanya berupa sebuah amplop coklat panjang,
yang di depannya tercantum logo sebuah akademi kependidikan. Aran tidak sempat
melihat logonya, dia langsung membuka amplopnya cepat-cepat.
Tiba-tiba Aran
terlonjak senang setelah membacanya. Dia langsung berlari ke dapur menemui
ibunya, “Bu aku menang! Aku nanti jadi TNI juga seperti ayah bu!”
Ibu menoleh, tatapannya
pias. Aran langsung berubah bingung. Seharusnya ibu senang mendengar kabar ini.
“Kamu bilang apa? Jadi TNI?!” Nada bicara ibu meninggi. Aran menjadi semakin
bingung, tidak biasanya ibu seperti ini. “Kamu mau mati sia-sia seperti ayahmu
juga? Hilang dan dilupakan? Iya?! Kamu mau?!,” ibu menatapnya garang, dan
setelah itu tatapannya mengabur. Dia terisak pelan.
Amplop coklat itu
meluncur dari tangan Aran. “Ayah nggak mati sia-sia bu.”
“Jangan pernah
berpikiran untuk menjadi TNI. Buang harapanmu jauh-jauh!” Desis ibu.
Aran langsung
membalikkan badannya dan tidak pulang ke rumah sampai malam menjelang.
***
Malam pun tiba, Aran
berjalan gontai ke rumahnya, wajah ditekuk. Dia ingin langsung masuk ke
kamarnya dan tidur, tanpa mandi dulu. Kepalanya sudah sangat pusing memikirkan
mimpinya yang seperti dihempas-hempaskan begitu saja. Tapi, sampai di halaman
rumah dia tertegun melihat sosok ibu duduk di dipan di depan pintu. Dia mengira
ibu sudah tidur, makanya dia pulang. Aran hendak membalik langkahnya, tapi ibu
memanggilnya.
“Nak, maafkan ibu,” ibu
mengawali dengan napas berat.
Aran mendengus. Ibu
yang mendengar dengusannya menoleh, tatapannya berubah menjadi redup kembali.
Sebegitu kerasnya kah Aran memimpikan menjadi TNI, sampai-sampai dia mendengus
di hadapanku? pikir ibunya.
“Ibu takut kehilangan
kamu seperti ayah kamu,” ibu mengelus punggung Aran pelan.
Aran menatap ibu tajam,
“Tapi ibu tidak takut menginjak cita-citaku begitu saja?”
Mendengar itu ibu
seperti disambar petir. Tidak pernah Aran berkata sekasar ini kepadanya.
“Bu, sudahlah, mungkin
aku hanya harus berpikir bagaimana caranya mengubur cita-citaku. Itu saja,” Aran
beranjak, meninggalkan ibu yang kini menangis sesenggukan.
Setelah kejadian itu
Aran lebih banyak diam kepada ibu. Mereka tidak lagi sering mengobrol panjang
lebar seperti dulu. Mereka kebanyakan sibuk dengan pekerjaannya
sendiri-sendiri. Aran juga lebih sering menghindar jika bertemu ibu. Bahkan dia
menjadi lebih sering menginap di rumah Dimas dengan alasan hendak belajar
kelompok. Tapi dia tidak sepenuhnya bohong. Selain memang untuk menghindari ibu,
dia juga menjadi lebih sering belajar kelompok dengan Dimas karena ujian
kelulusan semakin dekat. Di rumah Dimas, lagi-lagi dia mempersiapkan segala
sesuatu yang tidak diketahui ibu.
Aran mempersiapkan
berkas-berkas yang dibutuhkan untuk pendaftaran ulang di akademi tentara
tersebut. Terkadang saat pulang ke rumah, dia mengendap-endap ke kamar ibu
untuk mengambil berkas-berkas seperti akta kelahiran dan kartu keluarga.
Setelah selesai memfotokopinya barulah dia mengembalikan berkas itu kembali ke
kamar ibu. Dia juga memalsukan beberapa tanda tangan ibu, seperti surat izin
orang tua dan lain-lain. Dia tahu hal itu tidak benar. Tapi yang penting
sekarang dia harus mendaftar ulang dulu, setidaknya cita-citanya ini tidak
terbuang begitu saja. Baru nanti dia akan memikirkan cara bagaimana menjelaskan
ke ibu.
26
Desember 1996
Semua yang Aran
butuhkan untuk daftar ulang telah lengkap. Tas ransel kecilnya pun telah sarat
dengan baju dan keperluan lainnya yang akan dibawanya untuk mendaftar ulang
selama tiga hari di Yogyakarta. Dengan ibu, dia beralasan hendak mengikuti studytour sekolah keluar pulau. Ibu
percaya-percaya saja. Akhirnya hari itu, ditemani Dimas dia berangkat ke
Yogyakarta menggunakan pesawat terbang.
Sesampainya di sana,
Aran dan Dimas langsung menuju ke akademi tentara tanpa membuang-buang waktu.
Selama proses daftar ulang, Aran harus melakukan beberapa pemeriksaan, di
antaranya tes darah, tes urin, maupun pemeriksaan kesehatan. Setelah dinyatakan
bebas dari rokok dan narkoba, dan tidak mempunyai riwayat penyakit berat, Aran
akhirnya dinyatakan menjadi mahasiswa akademi tersebut.
Setelahnya mereka tidak
langsung pulang. Mereka berkeliling dulu di seputar kota Yogya selama beberapa
hari yang masih tersisa. Dimas sekalian melihat-lihat universitas yang ada di
Yogya, siapa tahu dia berniat untuk mendaftar di sana.
Akhirnya setelah tiga
hari, mereka kembali. Sesampainya di rumah, ibu sudah menunggu di depan pintu.
Melihat wajah ibu yang semakin tua dan lelah, Aran menjadi semakin merasa
bersalah karena belakangan ini ia telah banyak membohongi ibu. Sampai di depan
pintu dia langsung menyalami tangan ibu.
“Studytour-nya pake akta kelahiran sama kartu keluarga ya?’ tanya
ibu tiba-tiba.
DEG. Tangan Aran yang
sedang membuka tali sepatunya terhenti di udara.
“Ibu nggak tahu siapa
yang mengajarkan kamu untuk membangkang seperti ini,” Aran menunduk
dalam-dalam, tidak berani mendongak. Aran merasa sangat bersalah terhadap ibu.
“Kamu persis seperti ayahmu. Keras kepala.”
“Maaf bu,” hanya itu
yang bisa Aran ucapkan setelah beberapa lama hening. Dia tahu ibu sedang
menatapnya tajam.
“Ibu bukannya
menginjak-injak cita-citamu. Tapi kamu juga harus pahami kalau ibu trauma, dan
ibu sakit jika harus ditinggalkan kamu juga,” kata ibu lagi, kali ini suaranya
tercekat.
Aran menengadah,”Aku
ingin menjadi TNI bukan untuk pergi bu. Aku hanya bersiap-siap jika aku harus
pergi. Tidak ada orang yang ingin pergi.”
Mata ibu mengabur.
Setetes air bening meluncur dari sana.
“Pergi tidaknya itu
permainan takdir bu. Sekalipun misalnya aku tertembak, tapi kalau takdir masih
menginginkan aku untuk hidup, maka aku tidak akan mati,” lanjut Aran lagi.
“Kamu bisa ngomong
seperti itu karena bukan kamu yang merasakan pedihnya ditinggal ayah,” ibu
berteriak, tercekat.
Aran tersenyum
sedih,”Ibu bilang aku tidak pedih?”
Ibu menggeleng, tidak
dapat berkata-kata karena menyadari ucapannya salah.
“Aku hanya ingin
melanjutkan perjuangan ayah yang tertunda, bu,” kata Aran akhirnya. Setelah itu
dia masuk ke kamarnya dan tidak keluar sampai keesokan harinya.
11 September 2002
Kapal perang itu sudah
melepaskan ikatannya dari kaitan di dermaga. Beberapa keluarga tentara yang
mengantar keluarganya terlihat berkerumun di pinggir dermaga sambil
melambai-lambaikan tangan. Di kejauhan Aran melihat ibunya dengan kerudung
jingga yang berkibar-kibar tertiup angin, juga Dimas di sebelahnya. Aran
memberikan penghormatan, kedua orang itu membalasnya. Lalu Aran tersenyum
lebar.
“Hati-hati,” terlihat
ibu berucap dari gerak bibirnya.
Aran mengangguk tegas.
Episode baru hidupnya
akan dimulai. Kini dia akan mengarungi lautan luas. Dia berharap bisa kembali
nanti. Semua yang ada di atas kapal menyimpan harapan itu. Tapi jika dia pergi,
dia tidak takut karena untuk itulah dia hidup, untuk mempertahankan Merah Putih
agar tetap berkibar, untuk ayah, untuk ibu, dan juga untuk kapal kerang yang
selalu dibawanya di setiap pelayarannya.
Ibu sudah ikhlas. Tapi
dia masih menangis terharu. Berkali-kali dia membaca cerita kecil yang ditulis
Aran untuk lomba prakarya dulu itu. Cerita tentang kapal kerangnya.
Ayahku
seorang TNI Angkatan Laut. Dia meninggal waktu aku masih di dalam kandungan
ibu. Kata ibu, ayah orang hebat. Dia bisa memposisikan dirinya kapan harus
tegas dan kapan harus berlaku lembut. Aku pernah bertanya kepada ibu, kalau
ayah orang yang tegas kenapa dia bisa mati? Ibu berkata kalau mati tidaknya
seseorang itu tidak dapat dihindari, sekuat apa pun orang itu berusaha
menghindarinya.
Mungkin
kapal perang yang dinaiki ayah dulu berbeda dengan kapal-kapal perang sekarang
yang sudah memiliki senjata lengkap, tapi aku yakin di puncak kapal itu pasti
berkibar bendera merah putih, baik dulu maupun sekarang.
Mengapa
aku membuat kapalku dengan bahan kulit kerang? Karena aku percaya kulit kerang
itu kuat. Dia bisa bertahan dari deburan ombak yang ganas meskipun tubuhnya
kecil. Dan walaupun pada akhirnya dia juga akhirnya hancur, tapi kepingannya
yang hancur pun akan tetap keras. Seperti jiwa tentara-tentara kita. Meskipun
mereka telah tiada, tapi jiwa untuk terus mempertahankan Bumi Pertiwi ini tetap
ada di dalam jiwa generasi penerusnya.
Naranda
Bahari, Agustus 1996
Ibu mengelap air di
sudut matanya. Dia senang bisa melahirkan dan merawat Naranda Bahari untuk
tanah tumpah darah ini.
Wah..panjang... Besok aja bacanya... :-P
BalasHapus