Musik

Jumat, 22 Agustus 2014

Kapal Kerang



Karya: Yulan Cahya (Juara I Cipta Cerpen Tingkat Provinsi Kaltim)

            Aran tahu benar ayahnya adalah seorang Tentara Angkatan Laut, dan ayahnya meninggal pada saat bertugas. Banyak versi cerita mengenai ayahnya. Ada yang mengatakan ayahnya terkena peluru nyasar, ada juga yang mengatakan ayah tenggelam saat badai, bahkan ada yang mengatakan ayah pergi ke pulau lain dan tidak pernah kembali ke pulau asalnya karena sudah memiliki keluarga baru di sana. Yang terakhir ini paling tidak diyakini kebenarannya, Aran menyangka mungkin itu hanya pemikiran dari orang-orang yang tidak suka dengan ayah.
            Kejadian mengenai ayah ini terjadi saat Aran berumur enam bulan di dalam kandungan ibu. Aran tidak tahu apa-apa. Yang dia tahu hanya saat dia berhasil melihat dunia hanya senyum lelah ibu yang mengisi hari-harinya. Sampai dia berumur lima tahun dan mulai mengerti kalau sosok di dalam hidupnya berkurang satu.
            Aran masih ingat, siang itu setelah pengambilan raport dia pulang ke rumah sambil menangis. Bukan karena nilai raportnya jelek. Tapi karena raportnya belum bisa diambil sebab orangtuanya tidak datang untuk mengambil. Sementara teman-teman yang lainnya kebanyakan pergi mengambil raport bersama ayahnya, Aran hanya bisa menyaksikan pemandangan itu dengan pilu. Ada yang setelahnya langsung dimarahi ayahnya karena nilai raportnya jelek, ada juga yang langsung dipeluk ayahnya dan dijanjikan akan diberi hadiah karena nilainya bagus. Aran pun pulang dengan wajah penuh bekas air mata yang menganak sungai. Ibu yang harus menjaga toko seharian akhirnya mengalah untuk menutup tokonya demi mengambil raport Atan.
            “Bu, enak ya kalau punya ayah,” kata Aran setelahnya dan membuat ibu langsung terdiam dan hanya bisa memeluk erat tubuh kurusnya.
***

            “Aran,” ingatan Aran pada masa lalunya langsung buyar begitu ibu datang dan menepuk punggungnya. “Kamu sudah pasang benderanya?”
            “Sudah bu,” Aran menunjuk ke tiang bambu yang berdiri kokoh di halaman rumahnya. “Bu, seneng ya kalau bisa pasang bendera bareng ayah kayak yang lainnya.”
            “Kalau kamu bisa pasang sendiri tanpa ayah, itu artinya kamu lebih hebat. Iya kan?,” ibu tersenyum sedih sambil mengelus pelan rambut Aran.
            Aran mengangguk kecil sambil matanya menerawang jauh ke arah ombak yang berdebur menyapa pantai.
            Lima hari lagi tanggal 17 Agustus tiba. Itu artinya Indonesia akan merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan untuk yang kesekian kalinya. Kampung Nelayan yang walaupun terletak di penghujung kota di dekat pantai, tapi sudah penuh oleh umbul-umbul maupun bendera merah-putih yang berkibar-kibar di sepanjang jalan. Warga kampung juga turut sibuk menyiapkan berbagai macam arena lomba seperti panjat pinang, lomba makan kerupuk, mau pun lomba lari karung. Beberapa nelayan malah sengaja tidak melaut untuk mempersiapkan perayaan HUT Kemerdekaan tahun ini.
            Aran juga ikut menyibukkan diri dalam mempersiapkan HUT Kemerdekaan tahun ini. Dia mengikuti sebuah lomba yang disampaikan oleh gurunya. Lomba itu adalah lomba membuat prakarya yang berbau kemerdekaan, dan di balik prakarya itu harus ada cerita mengenai mengapa prakarya tersebut dibuat. Aran merahasiakan keikutsertaannya dalam lomba ini dari ibunya. Dia ingin membuat kejutan, jika ia menang baru ia akan memberitahu ibunya.
            Setiap hari setelah pulang sekolah Aran menuju rumah Dimas, sahabatnya. Selama ini dia mengerjakan prakaryanya di rumah Dimas agar tidak ketahuan ibunya. Dia membuat sebuah kapal perang sederhana dengan bahan kulit kerang yang sudah mati. Kapal itu berwarna merah di sisi kanannya dan putih di sisi kirinya. Aran membentuk kapal itu sedemikian rupa sehingga terlihat kalau kapal itu tetap kokoh meski melawan badai. Dia juga menambahkan satu tiang kecil bendera merah putih di puncak kapalnya. Setelah selesai Aran menyerahkan karya itu kepada gurunya dan gurunya membantu mengirimkan karyanya melalui jasa pengiriman ke lembaga yang mengadakan lomba tersebut.
            Lomba ini menjadi salah satu jalan untuk mewujudkan mimpi Aran. Jika menang, pemenangnya akan dibeasiswai untuk bersekolah di sekolah tentara. Selama ini Aran memang bercita-cita menjadi tentara seperti ayahnya. Tapi tidak seorang pun tahu  mengenai cita-citanya itu, bahkan ibunya pun tidak tahu.

30 Oktober 1996
Sebuah motor jingga dengan dua kantung surat di jok belakangnya berhenti di depan rumah Aran. Aran yang sedang berbaring di sofa ruang tamunya langsung berlari keluar begitu melihat Pak Pos. Aran jarang menerima kiriman, karena itu Aran senang menerima kiriman yang diantar Pak Pos. Kiriman itu hanya berupa sebuah amplop coklat panjang, yang di depannya tercantum logo sebuah akademi kependidikan. Aran tidak sempat melihat logonya, dia langsung membuka amplopnya cepat-cepat.
Tiba-tiba Aran terlonjak senang setelah membacanya. Dia langsung berlari ke dapur menemui ibunya, “Bu aku menang! Aku nanti jadi TNI juga seperti ayah bu!”
Ibu menoleh, tatapannya pias. Aran langsung berubah bingung. Seharusnya ibu senang mendengar kabar ini. “Kamu bilang apa? Jadi TNI?!” Nada bicara ibu meninggi. Aran menjadi semakin bingung, tidak biasanya ibu seperti ini. “Kamu mau mati sia-sia seperti ayahmu juga? Hilang dan dilupakan? Iya?! Kamu mau?!,” ibu menatapnya garang, dan setelah itu tatapannya mengabur. Dia terisak pelan.
Amplop coklat itu meluncur dari tangan Aran. “Ayah nggak mati sia-sia bu.”
“Jangan pernah berpikiran untuk menjadi TNI. Buang harapanmu jauh-jauh!” Desis ibu.
Aran langsung membalikkan badannya dan tidak pulang ke rumah sampai malam menjelang.
***
Malam pun tiba, Aran berjalan gontai ke rumahnya, wajah ditekuk. Dia ingin langsung masuk ke kamarnya dan tidur, tanpa mandi dulu. Kepalanya sudah sangat pusing memikirkan mimpinya yang seperti dihempas-hempaskan begitu saja. Tapi, sampai di halaman rumah dia tertegun melihat sosok ibu duduk di dipan di depan pintu. Dia mengira ibu sudah tidur, makanya dia pulang. Aran hendak membalik langkahnya, tapi ibu memanggilnya.
“Nak, maafkan ibu,” ibu mengawali dengan napas berat.
Aran mendengus. Ibu yang mendengar dengusannya menoleh, tatapannya berubah menjadi redup kembali. Sebegitu kerasnya kah Aran memimpikan menjadi TNI, sampai-sampai dia mendengus di hadapanku? pikir ibunya.
“Ibu takut kehilangan kamu seperti ayah kamu,” ibu mengelus punggung Aran pelan.
Aran menatap ibu tajam, “Tapi ibu tidak takut menginjak cita-citaku begitu saja?”
Mendengar itu ibu seperti disambar petir. Tidak pernah Aran berkata sekasar ini kepadanya.
“Bu, sudahlah, mungkin aku hanya harus berpikir bagaimana caranya mengubur cita-citaku. Itu saja,” Aran beranjak, meninggalkan ibu yang kini menangis sesenggukan.
Setelah kejadian itu Aran lebih banyak diam kepada ibu. Mereka tidak lagi sering mengobrol panjang lebar seperti dulu. Mereka kebanyakan sibuk dengan pekerjaannya sendiri-sendiri. Aran juga lebih sering menghindar jika bertemu ibu. Bahkan dia menjadi lebih sering menginap di rumah Dimas dengan alasan hendak belajar kelompok. Tapi dia tidak sepenuhnya bohong. Selain memang untuk menghindari ibu, dia juga menjadi lebih sering belajar kelompok dengan Dimas karena ujian kelulusan semakin dekat. Di rumah Dimas, lagi-lagi dia mempersiapkan segala sesuatu yang tidak diketahui ibu.
Aran mempersiapkan berkas-berkas yang dibutuhkan untuk pendaftaran ulang di akademi tentara tersebut. Terkadang saat pulang ke rumah, dia mengendap-endap ke kamar ibu untuk mengambil berkas-berkas seperti akta kelahiran dan kartu keluarga. Setelah selesai memfotokopinya barulah dia mengembalikan berkas itu kembali ke kamar ibu. Dia juga memalsukan beberapa tanda tangan ibu, seperti surat izin orang tua dan lain-lain. Dia tahu hal itu tidak benar. Tapi yang penting sekarang dia harus mendaftar ulang dulu, setidaknya cita-citanya ini tidak terbuang begitu saja. Baru nanti dia akan memikirkan cara bagaimana menjelaskan ke ibu.

26 Desember 1996
Semua yang Aran butuhkan untuk daftar ulang telah lengkap. Tas ransel kecilnya pun telah sarat dengan baju dan keperluan lainnya yang akan dibawanya untuk mendaftar ulang selama tiga hari di Yogyakarta. Dengan ibu, dia beralasan hendak mengikuti studytour sekolah keluar pulau. Ibu percaya-percaya saja. Akhirnya hari itu, ditemani Dimas dia berangkat ke Yogyakarta menggunakan pesawat terbang.
Sesampainya di sana, Aran dan Dimas langsung menuju ke akademi tentara tanpa membuang-buang waktu. Selama proses daftar ulang, Aran harus melakukan beberapa pemeriksaan, di antaranya tes darah, tes urin, maupun pemeriksaan kesehatan. Setelah dinyatakan bebas dari rokok dan narkoba, dan tidak mempunyai riwayat penyakit berat, Aran akhirnya dinyatakan menjadi mahasiswa akademi tersebut.
Setelahnya mereka tidak langsung pulang. Mereka berkeliling dulu di seputar kota Yogya selama beberapa hari yang masih tersisa. Dimas sekalian melihat-lihat universitas yang ada di Yogya, siapa tahu dia berniat untuk mendaftar di sana.
Akhirnya setelah tiga hari, mereka kembali. Sesampainya di rumah, ibu sudah menunggu di depan pintu. Melihat wajah ibu yang semakin tua dan lelah, Aran menjadi semakin merasa bersalah karena belakangan ini ia telah banyak membohongi ibu. Sampai di depan pintu dia langsung menyalami tangan ibu.
Studytour-nya pake akta kelahiran sama kartu keluarga ya?’ tanya ibu tiba-tiba.
DEG. Tangan Aran yang sedang membuka tali sepatunya terhenti di udara.
“Ibu nggak tahu siapa yang mengajarkan kamu untuk membangkang seperti ini,” Aran menunduk dalam-dalam, tidak berani mendongak. Aran merasa sangat bersalah terhadap ibu. “Kamu persis seperti ayahmu. Keras kepala.”
“Maaf bu,” hanya itu yang bisa Aran ucapkan setelah beberapa lama hening. Dia tahu ibu sedang menatapnya tajam.
“Ibu bukannya menginjak-injak cita-citamu. Tapi kamu juga harus pahami kalau ibu trauma, dan ibu sakit jika harus ditinggalkan kamu juga,” kata ibu lagi, kali ini suaranya tercekat.
Aran menengadah,”Aku ingin menjadi TNI bukan untuk pergi bu. Aku hanya bersiap-siap jika aku harus pergi. Tidak ada orang yang ingin pergi.”
Mata ibu mengabur. Setetes air bening meluncur dari sana.
“Pergi tidaknya itu permainan takdir bu. Sekalipun misalnya aku tertembak, tapi kalau takdir masih menginginkan aku untuk hidup, maka aku tidak akan mati,” lanjut Aran lagi.
“Kamu bisa ngomong seperti itu karena bukan kamu yang merasakan pedihnya ditinggal ayah,” ibu berteriak, tercekat.
Aran tersenyum sedih,”Ibu bilang aku tidak pedih?”
Ibu menggeleng, tidak dapat berkata-kata karena menyadari ucapannya salah.
“Aku hanya ingin melanjutkan perjuangan ayah yang tertunda, bu,” kata Aran akhirnya. Setelah itu dia masuk ke kamarnya dan tidak keluar sampai keesokan harinya.
11 September 2002
Kapal perang itu sudah melepaskan ikatannya dari kaitan di dermaga. Beberapa keluarga tentara yang mengantar keluarganya terlihat berkerumun di pinggir dermaga sambil melambai-lambaikan tangan. Di kejauhan Aran melihat ibunya dengan kerudung jingga yang berkibar-kibar tertiup angin, juga Dimas di sebelahnya. Aran memberikan penghormatan, kedua orang itu membalasnya. Lalu Aran tersenyum lebar.
“Hati-hati,” terlihat ibu berucap dari gerak bibirnya.
Aran mengangguk tegas.
Episode baru hidupnya akan dimulai. Kini dia akan mengarungi lautan luas. Dia berharap bisa kembali nanti. Semua yang ada di atas kapal menyimpan harapan itu. Tapi jika dia pergi, dia tidak takut karena untuk itulah dia hidup, untuk mempertahankan Merah Putih agar tetap berkibar, untuk ayah, untuk ibu, dan juga untuk kapal kerang yang selalu dibawanya di setiap pelayarannya.
Ibu sudah ikhlas. Tapi dia masih menangis terharu. Berkali-kali dia membaca cerita kecil yang ditulis Aran untuk lomba prakarya dulu itu. Cerita tentang kapal kerangnya.
Ayahku seorang TNI Angkatan Laut. Dia meninggal waktu aku masih di dalam kandungan ibu. Kata ibu, ayah orang hebat. Dia bisa memposisikan dirinya kapan harus tegas dan kapan harus berlaku lembut. Aku pernah bertanya kepada ibu, kalau ayah orang yang tegas kenapa dia bisa mati? Ibu berkata kalau mati tidaknya seseorang itu tidak dapat dihindari, sekuat apa pun orang itu berusaha menghindarinya.
Mungkin kapal perang yang dinaiki ayah dulu berbeda dengan kapal-kapal perang sekarang yang sudah memiliki senjata lengkap, tapi aku yakin di puncak kapal itu pasti berkibar bendera merah putih, baik dulu maupun sekarang.
Mengapa aku membuat kapalku dengan bahan kulit kerang? Karena aku percaya kulit kerang itu kuat. Dia bisa bertahan dari deburan ombak yang ganas meskipun tubuhnya kecil. Dan walaupun pada akhirnya dia juga akhirnya hancur, tapi kepingannya yang hancur pun akan tetap keras. Seperti jiwa tentara-tentara kita. Meskipun mereka telah tiada, tapi jiwa untuk terus mempertahankan Bumi Pertiwi ini tetap ada di dalam jiwa generasi penerusnya.
Naranda Bahari, Agustus 1996
Ibu mengelap air di sudut matanya. Dia senang bisa melahirkan dan merawat Naranda Bahari untuk tanah tumpah darah ini.

1 komentar: