Musik

Selasa, 26 Agustus 2014

Guru, Kaulah Inspirasiku



Menuju Sosok Guru Cerdas yang Mengerti Siswa untuk Lebih Baik
Oleh: Rizali Aulia Rahman

Pejabat negara, polisi, tentara, bahkan seorang presiden pun dapat berhasil mencapai yang mereka impikan saat kecil tak lepas dari campur tangan seorang pahlawan, pahlawan tanpa tanda jasa, pahlawan yang menjadi tiang fondasi, pembangun generasi masa depan suatu bangsa, yaitu guru.  Tak heran bila Kaisar Jepang pun saat membangun negaranya setelah terkena bom atom oleh negara sekutu mencari guru yang tersisa untuk kembali membangun Jepang sampai sekarang menjadi Macan Asia.

Guru menjadi kunci sukses suatu bangsa. Bagaimana tidak,gurulah yang mengambil andil besar setelah orang tua dalam membentuk kepribadian generasi muda. Generasi mudalah yang akan menerima tanggung jawabdaripara pendahulunya untuk membangun bangsa. Bila generasi muda lalai dan tidak siap, maka bisa dipastikan bahwa bangsa itu akan menjadi bangsa yang gagal di masa depan.
Guru sesungguhnya adalah seorang desainer masa depan bagi generasi remaja, anak bangsa. Melalui sentuhannya, masa depan generasi remaja banyak ditentukan. Kesalahan perlakuan dan pemberian teladan dapat berdampak fatal terhadap perkembangan anak-anak remaja yang tidak hanya tampak saat itu saja, melainkan nanti di kemudian hari.
Terkait pentingnya peran guru, seperti yang sudah penulis singgung di awal, suatu ketika Kota Hirosima dan Nagasaki dihancurkan oleh sekutu dengan bom atom pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945. Ada 140.000 jiwa di Kota Hirosima dan 80.000 jiwa di Kota Nagasaki menjadi korban. Akan tetapi, dalam hal ini, Pemerintahan Jepang, terkhusus kaisarnya sendiri, lebih memperhatikan tentang beberapa banyak jumlah guru yang meninggal pada waktu itu daripada yang lainnya karena guru adalah penggerak kemajuan suatu bangsa.
Adapun di Indonesia peran guru juga sangat dierhatikan. Hal itu bisa dilihat dari banyaknya tunjangan-tunjangan yang disediakan pemerintah baik tunjangan fungsional maupun sertifikasi. Hal itu berguna untuk kesejahteraan para guru dan untuk memotivasi agar lebih professional menjadi seorang guru.
Memasuki era teknologi yang terus berkembang, tantangan hidup semakin dinamis dan kompleks. Bermunculan kenakalan siswa-siswi dengan berbagai bentuk dinilai masyarakat sebagai bentuk ketidakmampuan guru dalam mentransformasikan nilai-nilai etika.
Bila kita tengok lebih dalam, di Indonesia sendiri – terkadang penulis bingung bila memikir ini – seorang pejabat tinggi negara yang sudah sangat puas mengenyam pendidikan hingga title tertinggi (Prof. Dr.) dapat melakukan tindakan korupsi, mencuri uang rakyat seolah-olah seperti tidak pernah mengenyam bangku sekolahan. Padahal bila kita ambil kesimpulan kasar, mereka adalah kaum elite yang sudah puas mengenyam pendidikan dan pastinya mereka adalah orang terpilih. Mengapa hal “sekotor” ini dapat terjadi? Di mana peran guru dalam kasus ini?
Sekarang mari kita lihat bagaimana peran guru di kelas dan sistem pendidikan. Di zaman sekarang sangat sulit menemukan sosok guru yang mengajar efektif. Sangat sulit menemukan sosok guru yang mau mengimbangi siswanya. Kebanyakan guru menginginkan muridnya mengikuti sistemnya tanpa mau mengerti hal yang diinginkan siswa. Hal ini membawa kita pada realita, realita bahwa murid terpaksa mengikuti sistem gurunya.
Pendidikan sekarang, menurut penulis, membawa kita pada kenyataan bahawa unit pendidikan, seperti sekolah, kebanyakan “mengatrol” nilai siswa. Hal ini membawa pengaruh psikologis bagi para siswa berupa rasa tidak mau bekerja keras dan perasaan pasrah tanpa berusaha dengan anggapan, “Paling remidi, tugas, dan tahu-tahu 80 di rapor.”
Banyak guru yang tidak memiliki motivasi dan semangat untuk mengajar di kelas. Waktu pelajaran sering diisi dengan mencatat ataupun mengerjakan tugas tanpa siswa diberi wawasan secukupnya tentang materi yang diajarkan. Ada juga yang memberi tugas membuat rangkuman materi dengan asumsi siswa sudah mampu menjawab semua pertanyaan yang berkaitan dengan materi hanya dengan merangkum. Lalu ada guru yang memanfaatkan otoritasnya dengan bersikap galak kepada siswa. Ini diharapakan dapat menarik perhatian siswa terhadap pelajaran yang diajarkan sehingga guru akan lebih leluasa mengajarkan materi.
Apa pun sikap guru di kelas akan dilihat dan direkam oleh murid-muridnya. Bila yang diperagakan dan diterapkan guru adalah hala yang salah, lebih mementingkan “yang penting tugas mengajar selesai” ketimbang keyamanan dan perasaan siswa. Terlebih bila siswa-siswinya masih belum dapat menentukan yang benar dan yang salah, yang dapat dicontoh dan yang dapat dijadikan pelajaran hidup, maka tindakan fatal ini dapat membentuk generasi penghapal tanpa tahu aplikasinya. Generasi berilmu, tapi mengesampingkan: perasaan, kenyamanan, dan kepentingan masyarakat luas.
Tahu yang benar, tapi tidak tahu aplikasinya dalam hidup. Itu artinya, genarasi yang hanya dijejali ilmu tanpa diseimbangi dengan nilai etika dan nilai lain, norma agama. Hal itu disebabkan oleh kesalahan sistem pembelajaran ang telah berlangsung lama.
Guru masa depan adalah guru profesional yang cerdas dalam menangani siswa-siswinya. Guru yang mengerti perasaan siswanya sehingga siswa sendiri mengerti tulus dan hagatnya kasih sayang guru, orang tua di sekolah. guru yang kreatif dalam mengajar membuat setiap detik waktu belajar penuh cinta dan kebahagiaan. Semua berawal dari guru, beliaulah yang memiliki pengetahuaan lalu diajarkan kepada murid-muridnya.
Indonesia butuh guru yang tidak hanya pintar. Menurut pengamatan penulis, guru pintar sangat banyak. Akan tetapi, guru yang dapat memotivasi siswa sangat sedikit. Pendidikan terdasar seperti Kelompok Bermain ataupun Taman Kanak-kanak harus memiliki guru-guru terbaik karena dari situ generasi Indonesia dibentuk.
Kita butuh guru-guru yang rela mengabdi, mempertaruhkan kepentingan pribadi demi kemajuan bangsa. Guru yang tidak mendahulukan kesejahteraan diri, tetapi guru yang sangat memprioritaskan pendidikan untuk murid. Seperti yang dicontohkan sosok Ibu Muslimah di trilogi Laskar Pelangi.
Guru yang hebat, harus siap mendidik siswa-siswi. Bagaimanapun sikap atau siat seorang siswa, kita tidak akan pernah tahu menjadi apa dia di masa depan. Gurulah figur yang menjadi jembatan untuk menyeberangka siswa-siswi menuju masa depan yang cerah.
Guru, kaulah inspirasiku! Masa depan bangsa di tanganmu. Anak-anak terbaik bangsa ini, kaulah yang menentukanya. Kasih sayangmu, perhatianmu, cintamu kepada murid-muridmu melahirkan generasi cemerlang. Kaulah pahlawan yang sebenarnya. Di mana pun kau berada, di situ cahaya masa depan ada. Pengabdianmu setulus hati, emosimu menjadi semangat kami. Kesabaran dan ketabahanmu adalah pelajaran hidup yang mendalam agar menjadi manusia yang terus bermanfaat bagi sesama.
Guru adalah manusia. Siswa juga manusia, sekolah pun yang mengelola manusia. Semua tidak luput dari kesalahan terlebih kekhilafan mendalam. Diperlukan guru cerdas dan memotivasi untuk menangani siswa penuh semangat, demi Indonesia hebat.
Jaya bangsaku, jaya guru Indonesia!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar