Menuju Sosok
Guru Cerdas yang Mengerti Siswa untuk Lebih Baik
Oleh:
Rizali Aulia Rahman
Pejabat
negara, polisi, tentara, bahkan seorang presiden pun dapat berhasil mencapai
yang mereka impikan saat kecil tak lepas dari campur tangan seorang pahlawan, pahlawan
tanpa tanda jasa, pahlawan yang menjadi tiang fondasi, pembangun generasi masa
depan suatu bangsa, yaitu guru. Tak
heran bila Kaisar Jepang pun saat membangun negaranya setelah terkena bom atom
oleh negara sekutu mencari guru yang tersisa untuk kembali membangun Jepang
sampai sekarang menjadi Macan Asia.
Guru
menjadi kunci sukses suatu bangsa. Bagaimana tidak,gurulah yang mengambil andil
besar setelah orang tua dalam membentuk kepribadian generasi muda. Generasi
mudalah yang akan menerima tanggung jawabdaripara pendahulunya untuk membangun
bangsa. Bila generasi muda lalai dan tidak siap, maka bisa dipastikan bahwa
bangsa itu akan menjadi bangsa yang gagal di masa depan.
Guru
sesungguhnya adalah seorang desainer masa depan bagi generasi remaja, anak
bangsa. Melalui sentuhannya, masa depan generasi remaja banyak ditentukan.
Kesalahan perlakuan dan pemberian teladan dapat berdampak fatal terhadap
perkembangan anak-anak remaja yang tidak hanya tampak saat itu saja, melainkan
nanti di kemudian hari.
Terkait
pentingnya peran guru, seperti yang sudah penulis singgung di awal, suatu
ketika Kota Hirosima dan Nagasaki dihancurkan oleh sekutu dengan bom atom pada
tanggal 6 dan 9 Agustus 1945. Ada 140.000 jiwa di Kota Hirosima dan 80.000 jiwa
di Kota Nagasaki menjadi korban. Akan tetapi, dalam hal ini, Pemerintahan
Jepang, terkhusus kaisarnya sendiri, lebih memperhatikan tentang beberapa
banyak jumlah guru yang meninggal pada waktu itu daripada yang lainnya karena
guru adalah penggerak kemajuan suatu bangsa.
Adapun
di Indonesia peran guru juga sangat dierhatikan. Hal itu bisa dilihat dari
banyaknya tunjangan-tunjangan yang disediakan pemerintah baik tunjangan
fungsional maupun sertifikasi. Hal itu berguna untuk kesejahteraan para guru
dan untuk memotivasi agar lebih professional menjadi seorang guru.
Memasuki
era teknologi yang terus berkembang, tantangan hidup semakin dinamis dan
kompleks. Bermunculan kenakalan siswa-siswi dengan berbagai bentuk dinilai
masyarakat sebagai bentuk ketidakmampuan guru dalam mentransformasikan
nilai-nilai etika.
Bila
kita tengok lebih dalam, di Indonesia sendiri – terkadang penulis bingung bila
memikir ini – seorang pejabat tinggi negara yang sudah sangat puas mengenyam
pendidikan hingga title tertinggi (Prof. Dr.) dapat melakukan tindakan korupsi,
mencuri uang rakyat seolah-olah seperti tidak pernah mengenyam bangku
sekolahan. Padahal bila kita ambil kesimpulan kasar, mereka adalah kaum elite
yang sudah puas mengenyam pendidikan dan pastinya mereka adalah orang terpilih.
Mengapa hal “sekotor” ini dapat terjadi? Di mana peran guru dalam kasus ini?
Sekarang
mari kita lihat bagaimana peran guru di kelas dan sistem pendidikan. Di zaman
sekarang sangat sulit menemukan sosok guru yang mengajar efektif. Sangat sulit
menemukan sosok guru yang mau mengimbangi siswanya. Kebanyakan guru
menginginkan muridnya mengikuti sistemnya tanpa mau mengerti hal yang
diinginkan siswa. Hal ini membawa kita pada realita, realita bahwa murid
terpaksa mengikuti sistem gurunya.
Pendidikan
sekarang, menurut penulis, membawa kita pada kenyataan bahawa unit pendidikan,
seperti sekolah, kebanyakan “mengatrol” nilai siswa. Hal ini membawa pengaruh
psikologis bagi para siswa berupa rasa tidak mau bekerja keras dan perasaan
pasrah tanpa berusaha dengan anggapan, “Paling remidi, tugas, dan tahu-tahu 80
di rapor.”
Banyak
guru yang tidak memiliki motivasi dan semangat untuk mengajar di kelas. Waktu
pelajaran sering diisi dengan mencatat ataupun mengerjakan tugas tanpa siswa
diberi wawasan secukupnya tentang materi yang diajarkan. Ada juga yang memberi
tugas membuat rangkuman materi dengan asumsi siswa sudah mampu menjawab semua
pertanyaan yang berkaitan dengan materi hanya dengan merangkum. Lalu ada guru
yang memanfaatkan otoritasnya dengan bersikap galak kepada siswa. Ini
diharapakan dapat menarik perhatian siswa terhadap pelajaran yang diajarkan
sehingga guru akan lebih leluasa mengajarkan materi.
Apa
pun sikap guru di kelas akan dilihat dan direkam oleh murid-muridnya. Bila yang
diperagakan dan diterapkan guru adalah hala yang salah, lebih mementingkan
“yang penting tugas mengajar selesai” ketimbang keyamanan dan perasaan siswa.
Terlebih bila siswa-siswinya masih belum dapat menentukan yang benar dan yang
salah, yang dapat dicontoh dan yang dapat dijadikan pelajaran hidup, maka
tindakan fatal ini dapat membentuk generasi penghapal tanpa tahu aplikasinya.
Generasi berilmu, tapi mengesampingkan: perasaan, kenyamanan, dan kepentingan
masyarakat luas.
Tahu
yang benar, tapi tidak tahu aplikasinya dalam hidup. Itu artinya, genarasi yang
hanya dijejali ilmu tanpa diseimbangi dengan nilai etika dan nilai lain, norma
agama. Hal itu disebabkan oleh kesalahan sistem pembelajaran ang telah
berlangsung lama.
Guru
masa depan adalah guru profesional yang cerdas dalam menangani siswa-siswinya.
Guru yang mengerti perasaan siswanya sehingga siswa sendiri mengerti tulus dan
hagatnya kasih sayang guru, orang tua di sekolah. guru yang kreatif dalam
mengajar membuat setiap detik waktu belajar penuh cinta dan kebahagiaan. Semua
berawal dari guru, beliaulah yang memiliki pengetahuaan lalu diajarkan kepada
murid-muridnya.
Indonesia
butuh guru yang tidak hanya pintar. Menurut pengamatan penulis, guru pintar
sangat banyak. Akan tetapi, guru yang dapat memotivasi siswa sangat sedikit.
Pendidikan terdasar seperti Kelompok Bermain ataupun Taman Kanak-kanak harus
memiliki guru-guru terbaik karena dari situ generasi Indonesia dibentuk.
Kita
butuh guru-guru yang rela mengabdi, mempertaruhkan kepentingan pribadi demi
kemajuan bangsa. Guru yang tidak mendahulukan kesejahteraan diri, tetapi guru
yang sangat memprioritaskan pendidikan untuk murid. Seperti yang dicontohkan
sosok Ibu Muslimah di trilogi Laskar
Pelangi.
Guru
yang hebat, harus siap mendidik siswa-siswi. Bagaimanapun sikap atau siat
seorang siswa, kita tidak akan pernah tahu menjadi apa dia di masa depan.
Gurulah figur yang menjadi jembatan untuk menyeberangka siswa-siswi menuju masa
depan yang cerah.
Guru,
kaulah inspirasiku! Masa depan bangsa di tanganmu. Anak-anak terbaik bangsa
ini, kaulah yang menentukanya. Kasih sayangmu, perhatianmu, cintamu kepada
murid-muridmu melahirkan generasi cemerlang. Kaulah pahlawan yang sebenarnya.
Di mana pun kau berada, di situ cahaya masa depan ada. Pengabdianmu setulus
hati, emosimu menjadi semangat kami. Kesabaran dan ketabahanmu adalah pelajaran
hidup yang mendalam agar menjadi manusia yang terus bermanfaat bagi sesama.
Guru
adalah manusia. Siswa juga manusia, sekolah pun yang mengelola manusia. Semua
tidak luput dari kesalahan terlebih kekhilafan mendalam. Diperlukan guru cerdas
dan memotivasi untuk menangani siswa penuh semangat, demi Indonesia hebat.
Jaya
bangsaku, jaya guru Indonesia!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar