Musik

Jumat, 19 September 2014

Terima Kasih Tuhan

Karya: Vicki Kurniawan
Juara Harapan I Cipta Cerpen Tingkat Provinsi 
Pagi hari menyambut sadarnya sepasang kekasih dari mimpi mereka. Kabut yang menyelimuti  indahnya alam sekitar seakan menyembunyikan rahasia akan apa yang terjadi nanti. Tetesan embun mulai berani menutup dinginya malam yang berganti dengan hangatnya matahari pagi.
 Rumah kecil di tengah padang rumput dan ditumbuhi pohon yang tak mau berdekatan satu sama lain,  berbunga hanya musim semi dan berbatasan dengan hutan yang tak begitu lebat membuat tempat ini seperti negeri dongeng. Rumah ini sudah menjadi saksi hangatnya sebuah cinta yang berkembang layaknya bunga musim semi.
Sang wanita bangun dengan perasaan yang amat sedih sedangkan sang pria bangun dengan perasaan khawatir, pasrah, dan sedih yang mendalam karena harus berpisah dengan istrinya dikarenakan angin kehancuran yang membawanya pada pertikaian antar umat manusia, dan ia  yang hanya digunakan para elit politik untuk menciptakan kengerian di medan laga yang menghancurkan semua nurani yang melihatnya.
“Martha aku akan pergi hari ini menuju padang rumput di seberang lembah ini untuk melanjutkan memimpin pasukanku ke medan perang, tolong doakan aku agar hari ini jiwa yang lemah dapat kembali menjadi singa.”

“Mengapa harus hari ini engkau pergi sayangku. Tidak kah kau ingat hari ini hari dimana kau melamarku.”
“Aku tak mungkin dapat menolak titah sang raja. Maafkan aku sayangku.”
Dilepas kekasihnya itu dengan selembar kain yang diikatkan pada lehernya sebagai pembawa keberuntungan agar dapat pulang kembali dalam cintanya. Angin prahara ini sungguh sangat menyesakan jiwa, betapa besarnya cinta yang harus dikorbankan dalam  peperangan ini.
Sang wanita hanya berkata, “Kembalilah Adolf sayangku aku akan terus menunggumu di sini, di rumah ini sampai kau kembali, selamanya jika perlu. Pergilah kau sayangku dan bawalah cinta ini bersamamu, hatiku milikmu, jiwa ini hanya untukmu, tubuh ini hanya kau yang memilikinya. Kan kujaga selalu cintamu di tempat yang sudah dipastikan, di jiwaku, di hatiku, di nadiku, bahkan dalam aliran darahku kasihku. Pergilah bawa cintaku sayang.”
“Secepatnya ku kan kembali sayangku dan akan kubawakan kemenagan beserta cintaku untukmu. Kubawakan bendera musuh untukmu, akan kuhancurkan tembok benteng itu hanya untukmu dan kan kujadikan tameng dari pintu-pintu benteng musuh itu untuk melindungi diriku yang di dalamnya ada cintamu bernaung sayangku. Aku kan kembali sayangku, aku berjanji demi hidupku dan percayalah pada janjiku.”
Lalu pergilah ia dengan gagah berani ke medan laga. Ditebasnya kepala musuh-musuhnya itu dengan mudahnya. Berperang ia dengan gagah beraninya menerobos pertahanan lawan. Namun, takdir berkata apa yang harus dikatakannya karena Tuhan telah menyuratinya. Ia mati terhormat dengan bendera musuh di tangannya yang berhasil direbut, dan gagang pintu benteng yang masih melekat sedikit bagian pintunya sehingga masih bisa dijadikan tameng.
Telah dikabarkan pesan ini pada kekasihnya di rumah. Kabar yang menyesakan jiwa yang mendengarnya dan membunuh harapan yang hidup dalam setiap nurani yang merasanya. Kekasihnya hanya terdiam sejenak dan menulis surat pada kepada lelaki yang dicintainya itu padahal telah diketahuinya bahwa ia telah tiada. Terus meneruslah ia menulis surat-surat yang berisi harapan kosong.
Kira-kira beginilah isi suratnya yang pertama.
Sayangku mengapa kau pergi meninggalkanku sendiri di dunia ini yang begitu fana dan amat menyesakkan kehidupan. Kau berjanji sayangku, kau sudah berjanji sayang, kau sudah mengucapkannya, namun mengapa kau pergi meninggalkanku. Sendiri aku di sini menanti dirimu untuk kembali karena aku percaya janjimu sayangku. Aku percaya.
Lalu setelah beribu surat ia berikan pada pihak militer untuk kekasihnya yang tak kunjung kembali, ia hanya terdiam di beranda rumahnya untuk menanti kekasihnya  pulang, dan hanya ditemani matahari terbit dan terbenam disertai burung yang berkicau amat sedih menyayat hati yang berusaha menggambarkan kesedihan ini, namun tak kan pernah sanggup untuk itu.
Setelah kesedihan yang menerjang bagaikan ombak, datanglah seorang utusan yang membawa gerobak penuh berisi surat-surat yang telah menumpuk di gudang militer. Dengan nada geram dia memanggil wanita itu dan berkata.
“Hei kau keluarlah!  Ini surat-suratmu yang telah membusuk di gudang, ambilah atau akan ku bakar. Hei cepatlah keluar!”
“Maaf aku sedang tertidur, maaf… maafkan aku. Janganlah kau membakarnya sungguh akan ku ambil surat-surat itu. Sangatlah berharga bagiku kumpulan kertas itu. Tunggulah sebentar aku akan segera keluar.”
Berjalan ia tertatih karena tubuhnya telah digerogoti kepedihan dan kesakitan karena matinya mawar cinta yang hanya menyisakan duri dan menyiksa batinya.
“Nyona, cobalah mengerti suamimu telah meninggal berbulan-bulan lalu. Tak ada gunanya kau mengirimi surat kepadanya, hanyalah sia-sia dirimu melakukannya. Kami tetap menyimpan surat-surat itu hanya untuk menghormati suamimu namun tak sangguplah kami menyimpan semua kata-kata yang menyayat hati itu. Lagipula suamimu juga tak akan kembali dengan surat-surat yang kau kirim itu.  Cobalah mengerti nyonya.”
“Baiklah. namun tak dapatkah kau mengubur harapanku dengan hadirnya kembali suamiku tercinta ke pelukanku?”
***
Terus menerus setiap sore menanti harapan yang kosong dan senandung perih  terngiang dari rintikan hujan yang sesekali turun padahal yang dulunya selalu terdengar indah. Ditatapnya kursi kosong di beranda itu dan tangis berderai tak habis mengingat kekasihnya yang selalu menemaninya duduk menanti malam. Bahkan setelah hujan berhenti,  hujan yang mengalir di matanya tak pernah berhenti menahan rindu yang lebih luas dari samudera.
Suatu malam kekasihnya datang ke mimpi wanita malang itu dan berkata.
“Apa yang telah kau lakukan ahir-akhir ini sayangku?“
“Aku terus mengirimimu surat yang tak pernah kau balas selama ini, kemana saja kau?”
“Aku telah…”
“Apa? Jawab aku, kau telah apa?”
“Aku telah mati dan berbahagia di sini, tolong relakanlah aku.’’
“Masih teringat aku akan janjimu yang mengatakan kau akan kembali, namun aku selalu menanti dengan sabar. Lalu kau sekarang datang dengan mengatakan kau sudah mati dasar kau laki-laki yang tak pernah menepati janji.”
“Maafkan aku Martha. aku tidak tau harus bagaimana lagi.”
“Pergilah kau, berbahagialah di sana dengan bidadari-bidadari surga dan biarkan aku menderita sendiri di sini bersama kenangan-kenagan kita yang terkubur oleh kerapuhan dan terbakar kesedihan, tenggelam dalam genangan air mata. Pergilah…pergilah kau dari hadapanku!”
Pergilah pria malang itu dengan wajah murung. Kembali ia ke surga dengan kesedihan yang mendalam dan memohon kepada Tuhan untuk memberinya sekali lagi kesempatan untuk hidup dan menepati janjinya itu. Lalu tuhan memberinya satu kali lagi kesempatan untuk hidup. Namun, tuhan tak dapat melakukan itu, ia hanya memberinya kesempatan satu hari saja untuk memenuhi janjinya dan menurunkannya dengan bentuk malaikat.
Adolf turun dengan dua bidadari yang bernama Marina dan Regia yang menemaninya dan menjaganya agar tak lebih dari sehari ia turun ke bumi. Hanya sampai matahari terbit ia harus kembali.
Didatanginya rumah tua yang sudah reot, di dalamnya ada kekasihnya yang tergulai lemas di tempat tidurnya itu. Didatanginya wanita itu dengan berlinang air mata bahagia karena diberi sekali lagi kesempatan untuk hidup bersama kekasihnya itu.
Akan tetapi, Tuhan telah mengirim malaikat maut terlebih dahulu sebelum kedatanganya yang berarti  kekasihnya sudah meninggal. Hilang harapannya untuk membahagiakannya, tak sadar ia bahwa telah puluhan tahun meninggalkan dunia ini. Kekasihnya sudah mati, telah hilang dari dunia ini dan percuma kata penyesalan yang ia ucapkan berkali-kali pada kekasihnya. Tertera surat di samping istrinya itu  yang berbunyi.
Kapan kau kembali kasihku? 70.000 surat yang telah dikembalikan pihak militer tak meyurutkan anganku untuk dirimu kembali. Sampai akhir hidupku masih kutulis surat untukmu. Memang nampaknya ini adalah surat terakhir yang akan ku tulis untukmu cintaku.
Aku mencintaimu dengan ribuan kata yang telah terucap dari bibir tua ini dan hanya dirimulah yang ku puja.
Siapaun yang membaca surat ini dapat memilih untuk menggunakan 70.000 surat yang ada di lemari tua itu sebagai kayu  bakar untuk membakar jasadku dan menyebarkan abunya di lautan atau menggunakan sampah serutan pensil yang kugunakan untuk menulis surat-surat itu sebagai pemanas air yang digunakan untuk memandikan jasad ini dan menguburnya di samping jasad suamiku.
Terhampar pula sebuah puisi di sisinya menggambarkan kesedihannya selama ini.
“Hidup, kematian, kehampaan, kesedihan, bahagia adalah keselarasan rasa dan kata yang semu.
Jika hidup hanya diisi kehampaan baiknya ku mati dalam kesedihan.
Jika ku mati dalam kesedihan akan kupertanyakan mana bahagiaku dulu.
Jika sedih tak jua terurai oleh bahagia akan kurasakan hampanya hidup ini tanpamu.”
Lalu tetap ia di samping pusara istrinya tercinta sampai matahari mulai perlahan menghilang dari dunia. Marina dan Regia mencoba mengingatkannya, namun cinta telah membutakannya. Tak sangguplah dua bidadari itu memisahkan suami istri itu dan hanya berharap dan berdoa Tuhan dapat bertindak bijak dengan kejadian ini.
Digunakan pilihan kedua oleh laki-laki itu. Setelah menguburnya perlahan tubuhnya menghilang dan ia mulai panik karena takut akan hilang selamanya dan tak dapat menjaga pusara kekasihnya tercinta.
Akhirnya hilanglah ia dari dunia ini, Marina dan Regia yang mulai tersadar kebingungan dan bertanya pada Tuhan kemana perginya Adolf. Tak berapa lama terlihatlah di langit dua orang dengan sayap menari-nari indah dan berbahagia diiringi dengan puluhan bidadari dan malaikat ikut menari bersamanya.
Lalu Tuhan menjawab pertanyaan dua bidadari itu dan berkata.
“Itu lihatlah di langit yang telah kuciptakan indah menari dua jiwa yang bahagia setelah semasa hidupnya ku berikan cobaan yang amat berat dan itu adalah hadiah dari cinta mereka yang mereka jaga abadi sampai akhir hayatnya. Bahkan lelaki itu tak pernah menyentuh kalian dan ribuan bidadari yang telah kuberikan padanya, dan hanya menunggu kekasihnya tercinta.
 Ikutlah kalian berdua menari bersamanya, menari merasakan bahagia dan beritahulah burung-burung yang selalu bernyanyi sedih mengiringi wanita itu melewati masanya untuk menyanyi riang gembira, dan bunga-bunga yang sudah lama tak berkembang untuk menyebarkan keharumannya sampai ke penjuru lembah ini dan menjadikan tempat ini tempat terindah di bumi.”
“Baiklah Tuhan akan kulaksanakan perintah Mu dan sungguh kami sangat berbahagia mendengar kabar ini dan tidak sedikit pun kami cemburu padanya.”
Dua pasangan ini merasakan bahagia yang tiada tara. Menjadi sepasang kekasih paling bahagia di muka bumi ini. Maka, hanyalah jasad yang tertinggal membusuk di fananya dunia ini dan jiwa yang abadi berbahagia. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar