Karya: Vicki Kurniawan
Juara Harapan I Cipta Cerpen Tingkat Provinsi
Pagi hari menyambut sadarnya sepasang kekasih dari
mimpi mereka. Kabut yang menyelimuti indahnya alam sekitar seakan menyembunyikan
rahasia akan apa yang terjadi nanti. Tetesan embun mulai berani menutup
dinginya malam yang berganti dengan hangatnya matahari pagi.
Rumah kecil di
tengah padang rumput dan ditumbuhi pohon yang tak mau berdekatan satu sama lain,
berbunga hanya musim semi dan berbatasan
dengan hutan yang tak begitu lebat membuat tempat ini seperti negeri dongeng.
Rumah ini sudah menjadi saksi hangatnya sebuah cinta yang berkembang layaknya
bunga musim semi.
Sang wanita bangun dengan perasaan yang amat sedih
sedangkan sang pria bangun dengan perasaan khawatir, pasrah, dan sedih yang
mendalam karena harus berpisah dengan istrinya dikarenakan angin kehancuran
yang membawanya pada pertikaian antar umat manusia, dan ia yang hanya digunakan para elit politik untuk
menciptakan kengerian di medan laga yang menghancurkan semua nurani yang
melihatnya.
“Martha aku akan pergi hari ini menuju padang rumput
di seberang lembah ini untuk melanjutkan memimpin pasukanku ke medan perang,
tolong doakan aku agar hari ini jiwa yang lemah dapat kembali menjadi singa.”
“Mengapa harus hari ini engkau pergi sayangku. Tidak
kah kau ingat hari ini hari dimana kau melamarku.”
“Aku tak mungkin dapat menolak titah sang raja.
Maafkan aku sayangku.”
Dilepas kekasihnya itu dengan selembar kain yang diikatkan
pada lehernya sebagai pembawa keberuntungan agar dapat pulang kembali dalam
cintanya. Angin prahara ini sungguh sangat menyesakan jiwa, betapa besarnya
cinta yang harus dikorbankan dalam
peperangan ini.
Sang wanita hanya berkata, “Kembalilah Adolf sayangku
aku akan terus menunggumu di sini, di rumah ini sampai kau kembali, selamanya
jika perlu. Pergilah kau sayangku dan bawalah cinta ini bersamamu, hatiku
milikmu, jiwa ini hanya untukmu, tubuh ini hanya kau yang memilikinya. Kan
kujaga selalu cintamu di tempat yang sudah dipastikan, di jiwaku, di hatiku, di
nadiku, bahkan dalam aliran darahku kasihku. Pergilah bawa cintaku sayang.”
“Secepatnya ku kan kembali sayangku dan akan kubawakan
kemenagan beserta cintaku untukmu. Kubawakan bendera musuh untukmu, akan
kuhancurkan tembok benteng itu hanya untukmu dan kan kujadikan tameng dari
pintu-pintu benteng musuh itu untuk melindungi diriku yang di dalamnya ada
cintamu bernaung sayangku. Aku kan kembali sayangku, aku berjanji demi hidupku
dan percayalah pada janjiku.”
Lalu pergilah ia dengan gagah berani ke medan laga.
Ditebasnya kepala musuh-musuhnya itu dengan mudahnya. Berperang ia dengan gagah
beraninya menerobos pertahanan lawan. Namun, takdir berkata apa yang harus
dikatakannya karena Tuhan telah menyuratinya. Ia mati terhormat dengan bendera
musuh di tangannya yang berhasil direbut, dan gagang pintu benteng yang masih
melekat sedikit bagian pintunya sehingga masih bisa dijadikan tameng.
Telah dikabarkan pesan ini pada kekasihnya di rumah.
Kabar yang menyesakan jiwa yang mendengarnya dan membunuh harapan yang hidup
dalam setiap nurani yang merasanya. Kekasihnya hanya terdiam sejenak dan
menulis surat pada kepada lelaki yang dicintainya itu padahal telah diketahuinya
bahwa ia telah tiada. Terus meneruslah ia menulis surat-surat yang berisi
harapan kosong.
Kira-kira beginilah isi suratnya yang pertama.
Sayangku
mengapa kau pergi meninggalkanku sendiri di dunia ini yang begitu fana dan amat
menyesakkan kehidupan. Kau berjanji sayangku, kau sudah berjanji sayang, kau
sudah mengucapkannya, namun mengapa kau pergi meninggalkanku. Sendiri aku di
sini menanti dirimu untuk kembali karena aku percaya janjimu sayangku. Aku
percaya.
Lalu setelah beribu surat ia berikan pada pihak
militer untuk kekasihnya yang tak kunjung kembali, ia hanya terdiam di beranda
rumahnya untuk menanti kekasihnya pulang,
dan hanya ditemani matahari terbit dan terbenam disertai burung yang berkicau
amat sedih menyayat hati yang berusaha menggambarkan kesedihan ini, namun tak
kan pernah sanggup untuk itu.
Setelah kesedihan yang menerjang bagaikan ombak, datanglah
seorang utusan yang membawa gerobak penuh berisi surat-surat yang telah
menumpuk di gudang militer. Dengan nada geram dia memanggil wanita itu dan berkata.
“Hei kau keluarlah!
Ini surat-suratmu yang telah membusuk di gudang, ambilah atau akan ku
bakar. Hei cepatlah keluar!”
“Maaf aku sedang tertidur, maaf… maafkan aku.
Janganlah kau membakarnya sungguh akan ku ambil surat-surat itu. Sangatlah
berharga bagiku kumpulan kertas itu. Tunggulah sebentar aku akan segera
keluar.”
Berjalan ia tertatih karena tubuhnya telah digerogoti
kepedihan dan kesakitan karena matinya mawar cinta yang hanya menyisakan duri
dan menyiksa batinya.
“Nyona, cobalah mengerti suamimu telah meninggal
berbulan-bulan lalu. Tak ada gunanya kau mengirimi surat kepadanya, hanyalah
sia-sia dirimu melakukannya. Kami tetap menyimpan surat-surat itu hanya untuk
menghormati suamimu namun tak sangguplah kami menyimpan semua kata-kata yang menyayat
hati itu. Lagipula suamimu juga tak akan kembali dengan surat-surat yang kau
kirim itu. Cobalah mengerti nyonya.”
“Baiklah. namun tak dapatkah kau mengubur harapanku
dengan hadirnya kembali suamiku tercinta ke pelukanku?”
***
Terus menerus setiap sore menanti harapan yang kosong
dan senandung perih terngiang dari
rintikan hujan yang sesekali turun padahal yang dulunya selalu terdengar indah.
Ditatapnya kursi kosong di beranda itu dan tangis berderai tak habis mengingat
kekasihnya yang selalu menemaninya duduk menanti malam. Bahkan setelah hujan
berhenti, hujan yang mengalir di matanya
tak pernah berhenti menahan rindu yang lebih luas dari samudera.
Suatu malam kekasihnya datang ke mimpi wanita malang
itu dan berkata.
“Apa yang telah kau lakukan ahir-akhir ini sayangku?“
“Aku terus mengirimimu surat yang tak pernah kau balas
selama ini, kemana saja kau?”
“Aku telah…”
“Apa? Jawab aku, kau telah apa?”
“Aku telah mati dan berbahagia di sini, tolong relakanlah
aku.’’
“Masih teringat aku akan janjimu yang mengatakan kau
akan kembali, namun aku selalu menanti dengan sabar. Lalu kau sekarang datang
dengan mengatakan kau sudah mati dasar kau laki-laki yang tak pernah menepati
janji.”
“Maafkan aku Martha. aku tidak tau harus bagaimana
lagi.”
“Pergilah kau, berbahagialah di sana dengan bidadari-bidadari
surga dan biarkan aku menderita sendiri di sini bersama kenangan-kenagan kita
yang terkubur oleh kerapuhan dan terbakar kesedihan, tenggelam dalam genangan air
mata. Pergilah…pergilah kau dari hadapanku!”
Pergilah pria malang itu dengan wajah murung. Kembali ia ke surga dengan kesedihan yang mendalam dan
memohon kepada Tuhan untuk memberinya sekali lagi kesempatan untuk hidup dan
menepati janjinya itu. Lalu tuhan memberinya satu kali lagi kesempatan untuk
hidup. Namun, tuhan tak dapat melakukan itu, ia hanya memberinya kesempatan
satu hari saja untuk memenuhi janjinya dan menurunkannya dengan bentuk
malaikat.
Adolf turun dengan dua bidadari yang bernama Marina
dan Regia yang menemaninya dan menjaganya agar tak lebih dari sehari ia turun
ke bumi. Hanya sampai matahari terbit ia harus kembali.
Didatanginya rumah tua yang sudah reot, di dalamnya
ada kekasihnya yang tergulai lemas di tempat tidurnya itu. Didatanginya wanita
itu dengan berlinang air mata bahagia karena diberi sekali lagi kesempatan
untuk hidup bersama kekasihnya itu.
Akan tetapi, Tuhan telah mengirim malaikat maut
terlebih dahulu sebelum kedatanganya yang berarti kekasihnya sudah meninggal. Hilang harapannya
untuk membahagiakannya, tak sadar ia bahwa telah puluhan tahun meninggalkan
dunia ini. Kekasihnya sudah mati, telah hilang dari dunia ini dan percuma kata
penyesalan yang ia ucapkan berkali-kali pada kekasihnya. Tertera surat di samping
istrinya itu yang berbunyi.
“Kapan kau
kembali kasihku? 70.000 surat yang telah dikembalikan pihak militer tak
meyurutkan anganku untuk dirimu kembali. Sampai akhir hidupku masih kutulis
surat untukmu. Memang nampaknya ini adalah surat terakhir yang akan ku tulis
untukmu cintaku.
Aku
mencintaimu dengan ribuan kata yang telah terucap dari bibir tua ini dan hanya
dirimulah yang ku puja.
Siapaun
yang membaca surat ini dapat memilih untuk menggunakan 70.000 surat yang ada di
lemari tua itu sebagai kayu bakar untuk
membakar jasadku dan menyebarkan abunya di lautan atau menggunakan sampah
serutan pensil yang kugunakan untuk menulis surat-surat itu sebagai pemanas air
yang digunakan untuk memandikan jasad ini dan menguburnya di samping jasad
suamiku.”
Terhampar pula sebuah puisi di sisinya menggambarkan
kesedihannya selama ini.
“Hidup,
kematian, kehampaan, kesedihan, bahagia adalah keselarasan rasa dan kata yang
semu.
Jika
hidup hanya diisi kehampaan baiknya ku mati dalam kesedihan.
Jika
ku mati dalam kesedihan akan kupertanyakan mana bahagiaku dulu.
Jika
sedih tak jua terurai oleh bahagia akan kurasakan hampanya hidup ini tanpamu.”
Lalu tetap ia di samping pusara istrinya tercinta
sampai matahari mulai perlahan menghilang dari dunia. Marina dan Regia mencoba
mengingatkannya, namun cinta telah membutakannya. Tak sangguplah dua bidadari itu
memisahkan suami istri itu dan hanya berharap dan berdoa Tuhan dapat bertindak
bijak dengan kejadian ini.
Digunakan pilihan kedua oleh laki-laki itu. Setelah
menguburnya perlahan tubuhnya menghilang dan ia mulai panik karena takut akan
hilang selamanya dan tak dapat menjaga pusara kekasihnya tercinta.
Akhirnya hilanglah ia dari dunia ini, Marina dan Regia
yang mulai tersadar kebingungan dan bertanya pada Tuhan kemana perginya Adolf.
Tak berapa lama terlihatlah di langit dua orang dengan sayap menari-nari indah
dan berbahagia diiringi dengan puluhan bidadari dan malaikat ikut menari
bersamanya.
Lalu Tuhan menjawab pertanyaan dua bidadari itu dan
berkata.
“Itu lihatlah di langit yang telah kuciptakan indah
menari dua jiwa yang bahagia setelah semasa hidupnya ku berikan cobaan yang
amat berat dan itu adalah hadiah dari cinta mereka yang mereka jaga abadi
sampai akhir hayatnya. Bahkan lelaki itu tak pernah menyentuh kalian dan ribuan
bidadari yang telah kuberikan padanya, dan hanya menunggu kekasihnya tercinta.
Ikutlah kalian
berdua menari bersamanya, menari merasakan bahagia dan beritahulah burung-burung
yang selalu bernyanyi sedih mengiringi wanita itu melewati masanya untuk
menyanyi riang gembira, dan bunga-bunga yang sudah lama tak berkembang untuk
menyebarkan keharumannya sampai ke penjuru lembah ini dan menjadikan tempat ini
tempat terindah di bumi.”
“Baiklah Tuhan akan kulaksanakan perintah Mu dan
sungguh kami sangat berbahagia mendengar kabar ini dan tidak sedikit pun kami cemburu
padanya.”
Dua pasangan ini merasakan bahagia yang tiada tara. Menjadi
sepasang kekasih paling bahagia di muka bumi ini. Maka, hanyalah jasad yang
tertinggal membusuk di fananya dunia ini dan jiwa yang abadi berbahagia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar