Musik

Kamis, 16 Februari 2017

Pleonasme



 Oleh: Mugiyanto dan Nuriana Indah
Komunikasi tidak akan terjadi tanpa adanya suatu perantara atau sarana. Sarana yang paling vital dalam berkomunikasi adalah bahasa karena bahasa merupakan alat komunikasi utama sepanjang sejarah kehidupan manusia di dunia. Tanpa bahasa seseorang tidak akan mampu mengungkapkan isi hatinya.
Bahasa bersifat dinamis, yaitu selalu mengalami perubahan dan perkembangan. Di zaman purba, manusia belum mengenal bahasa lisan akibat tingkat peradaban yang masih rendah. Oleh karena itu, mereka menggunakan bahasa isyarat. Dengan bahasa tubuh, mereka bisa berkomunikasi antarsatu dengan lainnya. Seiring berjalannya waktu, tingkat peradaban manusia semakin tinggi dan bahasa isyarat dianggap tidak mampu memenuhi kebutuhan manusia dalam berkomunikasi.
Untuk memenuhi kebutuhan komunikasi secara luas maka tercipta bahasa lisan maupun tulisan. Bahasa lisan dianggap lebih mampu mengekspresikan gagasan secara nyata dibandingkan bahasa isyarat. Sedangkan bahasa bahasa tulisan pun dianggap sebagai media untuk menyampaikan informasi maupun pesan yang tidak dapat disampaikan secara langsung melalui ujaran.
Oleh sebab itu, sebagai alat komunikasi secara lisan maupun tulisan, bahasa memliki kaidah dalam penggunaannya, begitu pula dengan penggunaan bahasa Indonesia. Namun, permasalahan timbul, para pemakai Bahasa Indonesia baik dalam percakapan sehari-hari maupun dalam acara resmi sering kali memakai kata yang mubazir (berlebihan) dan memiliki arti sama atau sering disebut dengan pleonasme.

Jumat, 10 Februari 2017

Saudara: Adik Perempuan (Bagian 4)



Aku berdiri di sudut jalan, tubuhku menggigil. Air berlomba menetes dari rambut panjangku. Kemeja merah marun yang kukenakan menjadi melekat dengan kulit. Pandanganku tertuju pada sosok yang mendekat ke arahku, raut wajahnya tertupi payung hitam, tapi dari cara jalannya aku tahu itu dia.
“Lirvie?” Dia memanggil namaku, kuangkat sedikit wajah untuk menatapnya. Dia mendengus jengah seperti hendak memaki, tapi aku keliru.  Dia jatuhkan payung hitam yang tadi melindunginya, dia lepaskan jaket biru tua yang membalut tubuh rampingnya, lalu disodorkannya jaket itu padaku dengan kesal.
“Pakailah!” ucapnya, kali ini suaranya terdengar ramah. Namun, aku bergeming dan hanya menatapnya. “Pakailah! Kamu tidak suka dingin, apalagi hujan!” dilemparkannya jaket itu kepadaku.
Mungkin dia pikir aku akan menangkapnya, salah jika dia berpikir begitu. Kubiarkan jaket itu meluncur, terkulai di atas genangan air. “Aku tak membutuhkannya!” ucapku datar.
Kulihat sorot mata yang tajam, wajah putihnya memerah. “Kalau tak membutuhkannya, setidaknya kamu menagkapnya agar tidak jatuh!”
“Aku tak ingin melakukannya!”
Dia mendengus kesal, terlihat sekali dia menahan amarah. “Kau!” diacungkan jarinya di depan mataku sambil menggertakkan gigi, “lihat betapa angkuhnya dirimu! Aku benar-benar membencimu Lirvie!” diambilnya jaket yang telah basah dan kotor itu, lalu meninggalkanku yang masih bergeming.

Jumat, 03 Februari 2017

Kenapa cuma Ikan yang Dikalengi?



Di hari yang penat dengan penuh tekanan deadline tesis yang terus menghantui, kenyataannya inspirasi tidak kunjung datang. Entah sudah berapa lama aku menatap hampa monitor berukuran 10 inci ini, barisan huruf pun hanya menatap nanar ke arahku. Remote TV yang telentang di sudut meja sejak tadi bermain mata, dari gelagatnya sudah tidak tahan untuk dijamah. So, segera kuraih dan mulai menjamahnya (hahaha, agak menjijikan).
Singkat cerita, akhirnya kunyalakan TV sejenak untuk me-refresh pikiran yang sebenarnya sudah tegang sejak beberapa hari lalu. Menurutku, acara siang itu membosankan, beberapa chanel TV didominasi dengan iklan-iklan produk rumah tangga baik dari dalam maupun luar negeri (kebayangkan siang-siang nonton iklan panci), sisanya menampilkan drama-drama yang kurang memiliki nilai edukasi. Untung siang itu ada salah satu TV swasta (sebut saja TRANS7) yang menayangkan program acara yang menurutku cukup mengedukasi (yahhh, walaupun dikategorikan tayangan untuk anak-anak).