Aku berdiri di sudut
jalan, tubuhku menggigil. Air berlomba menetes dari rambut panjangku. Kemeja
merah marun yang kukenakan menjadi melekat dengan kulit. Pandanganku tertuju
pada sosok yang mendekat ke arahku, raut wajahnya tertupi payung hitam, tapi
dari cara jalannya aku tahu itu dia.
“Lirvie?” Dia memanggil
namaku, kuangkat sedikit wajah untuk menatapnya. Dia mendengus jengah seperti
hendak memaki, tapi aku keliru. Dia
jatuhkan payung hitam yang tadi melindunginya, dia lepaskan jaket biru tua yang
membalut tubuh rampingnya, lalu disodorkannya jaket itu padaku dengan kesal.
“Pakailah!” ucapnya,
kali ini suaranya terdengar ramah. Namun, aku bergeming dan hanya menatapnya.
“Pakailah! Kamu tidak suka dingin, apalagi hujan!” dilemparkannya jaket itu
kepadaku.
Mungkin dia pikir aku
akan menangkapnya, salah jika dia berpikir begitu. Kubiarkan jaket itu
meluncur, terkulai di atas genangan air. “Aku tak membutuhkannya!” ucapku
datar.
Kulihat sorot mata yang
tajam, wajah putihnya memerah. “Kalau tak membutuhkannya, setidaknya kamu
menagkapnya agar tidak jatuh!”
“Aku tak ingin
melakukannya!”
Dia mendengus kesal,
terlihat sekali dia menahan amarah. “Kau!” diacungkan jarinya di depan mataku
sambil menggertakkan gigi, “lihat betapa angkuhnya dirimu! Aku benar-benar
membencimu Lirvie!” diambilnya jaket yang telah basah dan kotor itu, lalu
meninggalkanku yang masih bergeming.
“Thresa!” suaraku
bergetar saat memanggilnya, setelah cukup lama, nama itu keluar juga dari
bibirku.
Meski tak memandangnya,
aku mendengar langkahnya terhenti, “Emmm?”
suaranya sangat berat.
Kami berdiri saling
membelakangi, “Aku juga benar-benar membencimu!” aku cukup tenang mengucapkannya.
Cukup lama kami terdiam.
Dari tempat berdiri, aku dapat mendengar tangisnya. Langkah kakinya mendekat,
aku tetap membelakanginya.
“Apa yang kulakukan di
masa lalu memang salah, aku mengakuinya. Untuk kesekiankalinya kukatakan, ya,
benar. Aku yang mengatakan kepada semua orang tentang kebohongan itu. Oleh sebab
itu, aku terus datang untuk meminta maafmu. Aku terus mengikutimu seperti orang
bodoh hanya untuk mendapatkan maafmu.”
“Berhentilah mengikutiku
karena itu tak akan mengubah apapun!” Tidak ada beban ketika aku mengucapkanya,
hanya ingin dia tahu. “Untuk semua kebaikan yang telah kamu lakukan, sebenarnya
aku ingin mengucapkan terima kasih, tapi aku tak bisa melakukannya karena aku terlalu
membencimu.”
“Apa kata maaf terlalu mahal
untukmu?” mulutku sudah terkunci, tak kuacuhkan pertanyaan itu, “Kalau begitu, teruslah
hidup dengan kebencian itu!”
Langit membuka tabir
Sebuah rahasia akan terungkap
Ada satu hal kurindukan
Di tempat ini, di tanah kering di bawah langit
biru
Di antara desiran angin dan kilau cahaya
Ketika aku hanya mampu menundukkan wajah
Menyembunyikan pandanganku
Kini
semua berlalu
Hujan
telah menyapa, menjamah tubuhku
Memberikan
pelukan, mengembalikan kesadaran
Menunjukan diriku yang sebenarnya
Lerai genggamanku biarkan pergi
Cinta tak mampu menahanku
Meski meringkuk karena rindu
Aku tak akan kembali
Aku…tak kembali
Kini
semua berlalu
Hujan
telah menyapa, menjamah tubuhku
Membawaku
saat tersenyum karena hal bodoh
Sesungguhnya
kesepian memelukku
Membawaku
saat mudah tertidur
Sesungguhnya
kesedihan memelukku
Membawaku
saat sedikit berbicara
Sesungguhnya
rahasia besar memelukku
Membawaku
saat tak bisa menangis
Sesungguhnya
kelemahan memelukku
Membawaku
saat marah karena hal kecil
Sesungguhnya aku hanya butuh cinta
Lerai genggamanku biarkan pergi
Cinta tak mampu menahanku
Meski meringkuk karena rindu
Aku tak akan kembali
Aku…tak kembali
Kini
di bawah hujan
Tak
perlu kusembunyikan pandangan
Aku
berani menatap langit
Meski
air mata tak pernah mengering
Tak
ada yang tahu tangisku
Hujan
menghapus jejak air mataku
(Say
good bye to my sad story)
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar