Musik

Jumat, 10 Februari 2017

Saudara: Adik Perempuan (Bagian 4)



Aku berdiri di sudut jalan, tubuhku menggigil. Air berlomba menetes dari rambut panjangku. Kemeja merah marun yang kukenakan menjadi melekat dengan kulit. Pandanganku tertuju pada sosok yang mendekat ke arahku, raut wajahnya tertupi payung hitam, tapi dari cara jalannya aku tahu itu dia.
“Lirvie?” Dia memanggil namaku, kuangkat sedikit wajah untuk menatapnya. Dia mendengus jengah seperti hendak memaki, tapi aku keliru.  Dia jatuhkan payung hitam yang tadi melindunginya, dia lepaskan jaket biru tua yang membalut tubuh rampingnya, lalu disodorkannya jaket itu padaku dengan kesal.
“Pakailah!” ucapnya, kali ini suaranya terdengar ramah. Namun, aku bergeming dan hanya menatapnya. “Pakailah! Kamu tidak suka dingin, apalagi hujan!” dilemparkannya jaket itu kepadaku.
Mungkin dia pikir aku akan menangkapnya, salah jika dia berpikir begitu. Kubiarkan jaket itu meluncur, terkulai di atas genangan air. “Aku tak membutuhkannya!” ucapku datar.
Kulihat sorot mata yang tajam, wajah putihnya memerah. “Kalau tak membutuhkannya, setidaknya kamu menagkapnya agar tidak jatuh!”
“Aku tak ingin melakukannya!”
Dia mendengus kesal, terlihat sekali dia menahan amarah. “Kau!” diacungkan jarinya di depan mataku sambil menggertakkan gigi, “lihat betapa angkuhnya dirimu! Aku benar-benar membencimu Lirvie!” diambilnya jaket yang telah basah dan kotor itu, lalu meninggalkanku yang masih bergeming.

“Thresa!” suaraku bergetar saat memanggilnya, setelah cukup lama, nama itu keluar juga dari bibirku.
Meski tak memandangnya, aku mendengar langkahnya terhenti, “Emmm?” suaranya sangat berat.
Kami berdiri saling membelakangi, “Aku juga benar-benar membencimu!” aku cukup tenang mengucapkannya.
Cukup lama kami terdiam. Dari tempat berdiri, aku dapat mendengar tangisnya. Langkah kakinya mendekat, aku tetap membelakanginya.
“Apa yang kulakukan di masa lalu memang salah, aku mengakuinya. Untuk kesekiankalinya kukatakan, ya, benar. Aku yang mengatakan kepada semua orang tentang kebohongan itu. Oleh sebab itu, aku terus datang untuk meminta maafmu. Aku terus mengikutimu seperti orang bodoh hanya untuk mendapatkan maafmu.”
“Berhentilah mengikutiku karena itu tak akan mengubah apapun!” Tidak ada beban ketika aku mengucapkanya, hanya ingin dia tahu. “Untuk semua kebaikan yang telah kamu lakukan, sebenarnya aku ingin mengucapkan terima kasih, tapi aku tak bisa melakukannya karena aku terlalu membencimu.”
“Apa kata maaf terlalu mahal untukmu?” mulutku sudah terkunci, tak kuacuhkan pertanyaan itu, “Kalau begitu, teruslah hidup dengan kebencian itu!”

Langit membuka tabir
Sebuah rahasia akan terungkap
Ada satu hal kurindukan
Di tempat ini, di tanah kering di bawah langit biru
Di antara desiran angin dan kilau cahaya
Ketika aku hanya mampu menundukkan wajah
Menyembunyikan pandanganku
            Kini semua berlalu
            Hujan telah menyapa, menjamah tubuhku
            Memberikan pelukan, mengembalikan kesadaran
Menunjukan diriku yang sebenarnya
Lerai genggamanku biarkan pergi
Cinta tak mampu menahanku
Meski meringkuk karena rindu
Aku tak akan kembali
Aku…tak kembali
            Kini semua berlalu
            Hujan telah menyapa, menjamah tubuhku
            Membawaku saat tersenyum karena hal bodoh
            Sesungguhnya kesepian memelukku
            Membawaku saat mudah tertidur
            Sesungguhnya kesedihan memelukku
            Membawaku saat sedikit berbicara
            Sesungguhnya rahasia besar memelukku
            Membawaku saat tak bisa menangis
            Sesungguhnya kelemahan memelukku
            Membawaku saat marah karena hal kecil
Sesungguhnya aku hanya butuh cinta
Lerai genggamanku biarkan pergi
Cinta tak mampu menahanku
Meski meringkuk karena rindu
Aku tak akan kembali
Aku…tak kembali
            Kini di bawah hujan
            Tak perlu kusembunyikan pandangan
            Aku berani menatap langit
            Meski air mata tak pernah mengering
            Tak ada yang tahu tangisku
            Hujan menghapus jejak air mataku
            (Say good bye to my sad story)
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar