Musik

Sabtu, 01 Juli 2017

Ketika Anak Menjawab



Kali ini saya akan menceritakan sebuah pengalaman “lucu” yang saya alami bersama keponakan. Keponakan saya bernama Nur Aisyah, saya bisa memanggilnya dengan sebutan Aiyk. Saat ini dia duduk di kelas dua SD. Waktu masih balita dia pernah tinggal di rumah saya, meskipun sekarang sudah tidak tinggal lagi dengan saya, tapi dia masih sering menginap di rumah. Kalau sedang bukan libur sekolah biasanya dia akan menginap satu hari, tapi kalau sedang masa liburan sekolah dia bisa menginap hingga satu minggu, bahkan lebih. Jadi, tidak salah kalau dia begitu lengket dengan saya hingga sekarang.
(Nur Aisyah balita)


 
(Nur Aisyah sekarang)
Hari itu masa liburan sekolah, seperti biasanya saya menjemputnya untuk menginap di rumah. Dengan senyum sumringah khas miliknya, dia  memeluk dan mencium saya, lalu menjinjing tas ransel berwarna peach berisi buku Iqro dan perlengkapan mewarnai yang selalu dia bawa setiap menginap di rumah. Namun, isi tasnya ada yang berbeda, ternyata di dalamnya ada rapor hasi belajarnya yang akan dia tunjukan kepada saya.
Saya membuka rapor tersebut untuk melihat hasil yang diperoleh oleh keponakan saya. Saya langsung tersenyum ketika membacanya. Nilai yang diperolehnya standar, bisa dikatakan biasa saja, nothing special.
Dengan wajah sendu, dia berkata, “Gak dapat juara satu tante.”
“Memang kalau gak dapat juara kenapa?”
Saya pikir dia kecewa karena hasil belajarnya tidak memuaskan, dia malu karena nilai-nilanya biasa saja, atau dia merasa tidak secerdas teman-temanya. Ternyata jawabannya membuat saya tertawa geli, “Aiyk gak dapat buku dari Bu Guru” jawabnya polos. Yahhh, jawaban khas anak-anak yang baru saya mengerti. Dari jawaban itu saya paham, untuk memahami anak, maka saya harus menjadi anak-anak (hal yang selama ini sering saya lupakan).
Kemudian sepupu saya (ibu dari keponakan saya) menceritakan hal-hal yang dialami anaknya selama kegiatan belajar di kelas. Dari berbagai hal yang diceritakan, inti yang saya tangkap adalah bahwa keponakan saya banyak tidak dapat menjawab dengan “tepat” pertanyaan-pertanyaan yang diajukkan oleh guru.  Apakah yang dimaksud dengan akhlak yang baik, seperti itu salah satu pertanyaan yang diajukan oleh guru kepada keponakan saya berdasarkan cerita dari sepupu saya. Lalu dengan lantang keponakan saya menjawab, Akhlak yang baik adalah akhlaknya kakak. Dia menjawab seperti itu karena melihat kakaknya (keponkan saya yang besar) selalu salat lima waktu, rajin salat malam dan membaca Quran, hormat kepada orang tua, selalu berkata santun, tidak suka berbohong, berpakaian sopan, dan masih banyak hal lain-lain dari kakaknya yang dia anggap sebagai contoh akhlak yang baik.
 (Tidak bermaksud membela, saya hanya memosisikan dari sudut pandang anak) saya pikir jawaban-jawaban yang disampaikan oleh keponakan saya bisa dikatakan tepat, sayangnya keponakan saya tidak menjelaskan alasannya sehingga jawabanya “belum” dipahami oleh gurunya. Andai keponakan saya menjawab, Akhlak yang baik adalah akhlaknya kakak karena kakak salat lima waktu, rajin salat malam dan membaca Quran, hormat kepada orang tua, dan tidak suka berbohong, tentu akan lain ceritanya. Kenyataannya, keponakan saya masih anak 8 tahun yang belum mampu menyampaikan hal-hal yang dia pikirkan dengan bahasa lisan yang ”baik”.
Dari hal tersebut, mengingatkan saya bagaimana sindiran-sindiran mengenai pembelajaran di kelas dalam film Three Idiots yang sebenarnya mengajarkan kita mengenai bagaimana pembelajaran yang ideal. Bagi yang pernah melihat film tersebut, tentu ingat adegan ketika Ranchodas (Salman Khan) ditanya oleh profesor mengenai definisi mesin. Meskipun jawaban yang disampaikan oleh Rancodas tidak sesuai yang diingankan oleh profesor, tetapi Ranchodas mampu memberikan contoh mengenai pemanfaatan mesin dalam kehidupan degan penjelaan sederhana yang mudah dipahami.
Tidak bermaksud menyudutkan pihak mana pun, saya hanya berpikir tentang saya sendiri yang juga seorang guru. Sering kali kita menilai kemampuan murid dengan kemampuan yang kita miliki. Contoh sederhana, kadang kita tidak habis pikir, kenapa siswa-siswa sulit menerima materi yang kita sampaikan, meskipun berulang kali telah dijelaskan. Hal yang kadang lupa kita sadari, bahwa saat menyampaikan meteri tersebut kepada siswa-siswa, kita telah mempelajari materi dari para ahli materi selama empat tahun bahkan lebih, belum lagi kita telah menyampaikan materi tersebut berulang-ulang dari generasi ke generasi, tentu itu menjadi hal yang mudah untuk kita pahami. Sedangkan siswa menerima materi tersebut sebagai pengetahuan baru yang tentunya belum pernah dipelajari.
Dari pengalaman yang baru saja saya alami, saya pikir, saya baru saja mendapatkan pelajaran berharga, tidak hanya pelajaran berharga untuk seorang guru (profesi pekerjaan saya). Tidak semua jawaban harus berdasarkan teori, bukankah teori bisa berubah ketika ditemukan teori baru? Jadi, penting bagi saya untuk mendengar jawaban dari sudut pandang anak-anak didik dan mengajak mereka untuk mengungkapkan hal-hal yang mereka pikirkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar