Kali
ini saya akan menceritakan sebuah pengalaman “lucu” yang saya alami bersama
keponakan. Keponakan saya bernama Nur Aisyah, saya bisa memanggilnya dengan
sebutan Aiyk. Saat ini dia duduk di kelas dua SD. Waktu masih balita dia pernah
tinggal di rumah saya, meskipun sekarang sudah tidak tinggal lagi dengan saya,
tapi dia masih sering menginap di rumah. Kalau sedang bukan libur sekolah
biasanya dia akan menginap satu hari, tapi kalau sedang masa liburan sekolah
dia bisa menginap hingga satu minggu, bahkan lebih. Jadi, tidak salah kalau dia
begitu lengket dengan saya hingga sekarang.
(Nur Aisyah balita)
(Nur Aisyah sekarang)
Hari
itu masa liburan sekolah, seperti biasanya saya menjemputnya untuk menginap di
rumah. Dengan senyum sumringah khas miliknya, dia memeluk dan mencium saya, lalu menjinjing tas
ransel berwarna peach berisi buku
Iqro dan perlengkapan mewarnai yang selalu dia bawa setiap menginap di rumah.
Namun, isi tasnya ada yang berbeda, ternyata di dalamnya ada rapor hasi
belajarnya yang akan dia tunjukan kepada saya.
Saya
membuka rapor tersebut untuk melihat hasil yang diperoleh oleh keponakan saya.
Saya langsung tersenyum ketika membacanya. Nilai yang diperolehnya standar, bisa
dikatakan biasa saja, nothing special.
Dengan
wajah sendu, dia berkata, “Gak dapat juara satu tante.”
“Memang
kalau gak dapat juara kenapa?”
Saya
pikir dia kecewa karena hasil belajarnya tidak memuaskan, dia malu karena
nilai-nilanya biasa saja, atau dia merasa tidak secerdas teman-temanya. Ternyata
jawabannya membuat saya tertawa geli, “Aiyk gak dapat buku dari Bu Guru” jawabnya
polos. Yahhh, jawaban khas anak-anak yang baru saya mengerti. Dari jawaban itu
saya paham, untuk memahami anak, maka saya harus menjadi anak-anak (hal yang
selama ini sering saya lupakan).
Kemudian
sepupu saya (ibu dari keponakan saya) menceritakan hal-hal yang dialami anaknya
selama kegiatan belajar di kelas. Dari berbagai hal yang diceritakan, inti yang
saya tangkap adalah bahwa keponakan saya banyak tidak dapat menjawab dengan “tepat”
pertanyaan-pertanyaan yang diajukkan oleh guru. Apakah
yang dimaksud dengan akhlak yang baik,
seperti itu salah satu pertanyaan yang diajukan oleh guru kepada keponakan
saya berdasarkan cerita dari sepupu saya. Lalu dengan lantang keponakan saya
menjawab, Akhlak yang baik adalah
akhlaknya kakak. Dia menjawab seperti itu karena melihat kakaknya (keponkan
saya yang besar) selalu salat lima waktu, rajin salat malam dan membaca Quran,
hormat kepada orang tua, selalu berkata santun, tidak suka berbohong, berpakaian
sopan, dan masih banyak hal lain-lain dari kakaknya yang dia anggap sebagai
contoh akhlak yang baik.
(Tidak bermaksud membela, saya hanya
memosisikan dari sudut pandang anak) saya pikir jawaban-jawaban yang disampaikan
oleh keponakan saya bisa dikatakan tepat, sayangnya keponakan saya tidak
menjelaskan alasannya sehingga jawabanya “belum” dipahami oleh gurunya. Andai
keponakan saya menjawab, Akhlak yang baik
adalah akhlaknya kakak karena kakak salat lima waktu, rajin salat malam dan
membaca Quran, hormat kepada orang tua, dan tidak suka berbohong, tentu
akan lain ceritanya. Kenyataannya, keponakan saya masih anak 8 tahun yang belum
mampu menyampaikan hal-hal yang dia pikirkan dengan bahasa lisan yang ”baik”.
Dari
hal tersebut, mengingatkan saya bagaimana sindiran-sindiran mengenai
pembelajaran di kelas dalam film Three
Idiots yang sebenarnya mengajarkan kita mengenai bagaimana pembelajaran
yang ideal. Bagi yang pernah melihat film tersebut, tentu ingat adegan ketika Ranchodas
(Salman Khan) ditanya oleh profesor mengenai definisi mesin. Meskipun jawaban
yang disampaikan oleh Rancodas tidak sesuai yang diingankan oleh profesor, tetapi
Ranchodas mampu memberikan contoh mengenai pemanfaatan mesin dalam kehidupan
degan penjelaan sederhana yang mudah dipahami.
Tidak
bermaksud menyudutkan pihak mana pun, saya hanya berpikir tentang saya sendiri
yang juga seorang guru. Sering kali kita menilai kemampuan murid dengan
kemampuan yang kita miliki. Contoh sederhana, kadang kita tidak habis pikir,
kenapa siswa-siswa sulit menerima materi yang kita sampaikan, meskipun berulang
kali telah dijelaskan. Hal yang kadang lupa kita sadari, bahwa saat
menyampaikan meteri tersebut kepada siswa-siswa, kita telah mempelajari materi dari
para ahli materi selama empat tahun bahkan lebih, belum lagi kita telah
menyampaikan materi tersebut berulang-ulang dari generasi ke generasi, tentu
itu menjadi hal yang mudah untuk kita pahami. Sedangkan siswa menerima materi
tersebut sebagai pengetahuan baru yang tentunya belum pernah dipelajari.
Dari
pengalaman yang baru saja saya alami, saya pikir, saya baru saja mendapatkan
pelajaran berharga, tidak hanya pelajaran berharga untuk seorang guru (profesi
pekerjaan saya). Tidak semua jawaban harus berdasarkan teori, bukankah teori
bisa berubah ketika ditemukan teori baru? Jadi, penting bagi saya untuk
mendengar jawaban dari sudut pandang anak-anak didik dan mengajak mereka untuk
mengungkapkan hal-hal yang mereka pikirkan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar