Musik

Kamis, 15 Juni 2017

Saudara: Adik Perempuan (Bagian Akhir)



Awal Desember 2016, rinai pertama menyentuh bumi, jatuh berguguran menabrak ranting-ranting pohon yang hampir mati. Rinai ini membawa genangan dan kenangan yang sama-sama mengendap, yang satu mengendap di dasar tanah dan satunya lagi mengendap di dasar hati.
Kusibakan rambut panjang hitamku yang bergelombang. Kumerahkan pipi dan bibirku. Terakhir kutebar aroma mint bercampur pinacone ke seluruh tubuh sebelum kutatap lekat sosok yang berdiri dihadapanku. Tatapannya begitu berani, dagunya terangkat menandakan kepercayaan dirinya. Aku menjadi sedikit lebih berani.
“Maaf,” seorang wanita membuyarkan pandangku, “saya tidak tahu Anda di sini” sambungnya. Aku tak mengacuhkannya, kutatap kembali bayang wajahku dalam cermin sebelum memasukan lipstikku ke dalam poket kecil yang selalu kubawa.
“Sepuluh menit lagi, kita akan ke ruang isolasi” ucapku dingin seperti biasanya.
“Siap!” jawabnya singkat sambil pergi tergopoh-gopoh menyisakan aroma khas alkohol yang semakin akrab denganku, sensasinya justru seperti candu.
Aku bukan lagi Lirvie yang dulu, bukan Lirvie si kekasih matahari, bukan Lirvie si gadis kesepian, bukan Lirvie si pecundang di bawah hujan, apalagi Lirvie si mesin penghitung uang. Aku menjelma menjadi seorang dewi bermahkota permata yang tentu membuat orang lain menghujaniku dengan tatapan iri yang disembunyikan.
 “Selamat pagi Dokter Lirvie.” Arghhh, lagi-lagi suara itu menghilangkan bias memori di mindaku. Aku menatap ke arahnya tanpa berkata. “Semua sudah siap,” sambungnya.
Aku beranjak dari tempat dudukku meraih stetoskop dan jas putih kebanggaanku yang kugantung di dekat jendela kayu yang menghadap ke hutan pinus. Dengan bangga kukenakan jas itu, dengan stetoskop yang kukalungkan di leher membuat aura dewiku semakin terpancar. Bergegas aku menyusuri lorong-lorong yang biasa kulalui dengan ditemani suster Lee.
Decit dari gesekan sepatu berhak runcingku dengan lantai marmer mengisi kehampaan. Beberapa mata menatapku, lalu membungkukkan badan sambil menyapaku. Meskipun mereka mengenakan jas yang sama denganku, tapi tetap saja mereka membungkukkan badan ketika menyapaku. Mungkin karena aku berbeda dengan mereka, namaku terukir indah bersama prestasi dan pemikaranku yang gemilang.
 “Selamat pagi, Dok” sapa seorang wanita yang sedang berdiri di belakang meja resepsionis.
“Selamat pagi, Dok” dua orang laki-laki dan seorang perempuan bersamaan menyapaku, mereka mengenakan jas yang sama denganku.
“Selamat pagi, Dok” seorang laki-laki yang usianya mungkin jauh lebih tua dariku menyapa, tak lupa dia membungkukan badan meski tangannya gemetar membawa kardus berisi obat-obatan.
Arghhh, aku tak menyukai sapaannya, semuanya terlihat palsu. Mereka akan mulai bernyanyi dengan nada sinis dan intonasi bengis setelah aku berlalu. Jadi aku pun menyunggingkan senyum datar khasku untuk menjawabnya.
Kuputar knop pintu berwarna putih di hadapanku, tanganku gemetar saat menyentuh knop itu, dan tungkaiku sedikit lunglai. Samar-samar aku melihat raganya mematung di tepi jendela. Wajahnya sendu dengan air yang tak pernah mengering dari mata cekungnya. Tubuhnya semakin kurus tergurus usia dan rambutnya yang dulu hitam pun mulai memutih.


Aku berjalan ke arahnya untuk melihat dari dekat. Tangannya menggenggam pedang, tapi tidak sekali pun dia menghunusnya. Pedang itu seperti kekuatan yang memberikan napas kehidupan di sela rongga kematian.
Bibirnya dan matanya sama-sama kelu, dia hendak seperti menyampaikan sesuatu. Dengan suara yang nyaris hanya bisa didengarkannya sendiri, aku seperti mendengar dia menyebut namaku. Namun, justru kata maaf yang aku dengar.
“Maaf…maaf…maaf,” ucapnya dengan suara parau penuh kesakitan, “maaf…maaf…maaf” hanya kata itu lagi yang bisa kutangkap.
Aku membelai lembut wajahnya, kuusap air mata yang tak pernah mengering itu. Lalu aku memeluknya seperti dia memelukku di waktu dulu untuk mengingat setiap kenangan yang kami ciptakan. Satu hal yang selalu kurindukan adalah saat aku melihat wajah cantiknya, satu hal yang ingin kuulang adalah saat dia memeluku dengan sayap yang hanya ditunjukan padaku. Aku menjadi bintang tanpa cahaya dan ini membuatku menangis.
“Dokter Lirvie,” suster Lee menepuk bahuku dengan hati-hati, “saya akan membersihkan tubuh pasien.”
“Suster Lee, silakan cek pasien lain! Setelah selesai memeriksanya, saya yang akan membersihkan tubuh pasien ini.” Aku menangkap raut terkejut yang tidak sempat disembunyikan suster Lee sebelum pergi.
Aku melepaskan pelukanku, membiarkanya menatap bulir rinai yang membuat siluet indah ketika menghantam kaca jendela berbingkai kayu. Dengan bibir bergetar dan ribuan panah yang menghunus jantung, kucoba memanggil namanya, “Lucia.”
Butuh waktu lima belas tahun untuk menjadi aku yang sekarang. Namun yang tak pernah kulupa, kedatangan Lucia malam itu mengubah air mata menjadi lara tanpa asa, kian mengering dan akhirnya menghilang tanpa bayang. Namun, aku selalu bertanya, mengapa air mata Lucia justru tak pernah mengering? mengapa lara justru semakin menganga? Setiap aku menatap ke dalam lentera matanya tatapannya kosong menggoreskan bias nanar yang menyayat hati.
Aku mengingat malam-malam sebelumnya, hari itu aku melepaskan segalanya, mencoba berdamai dengan keadaan. Meski aku harus menjadi seorang pecundang, tak masalah bagiku asal aku melihat wajah cantik Lucia dengan senyum indah dari bibirnya. Kutanggalkan semua pekerjaan yang menjadi harga diriku, kubawa ragaku melangkah menggapai sesuatu yang sering disebut sebagai cita-cita. Meski aku masih belum tahu tujuanku, setidaknya aku telah memantapkan langkahku.
Takdir buruk menyandungku. Lucia menjadi seseorang yang nyaris tak kukenali. Dia tak mengingat apapun, bahkan dirinya sendiri. Logikaku tak dapat menerima, seorang Lucia yang kukenal kehilangan jiwanya hanya karena perkataanku malam itu. Atau ada rahasia besar yang memeluknya hingga dia menjadi seperti itu? Ini seperti novel dengan sad ending, andai langit membuka tabir pasti rahasia besar akan terungkap.
Dengan rupiah yang telah kukumpulkan aku memilih jalanku, aku siap memulai takdirku sebagai dokter jiwa.
***
Kumantapkan langkah kakiku menyusuri lorong-lorong berliku tak berujung. Lorong-lorong ini seperti labirin yang bisa saja menyesatkanku untuk meghilang darimu. Tapi kau tahu pasti, lenteramu memiliki cahaya abadi yang menuntunku kepadamu. Di manapun kau bersembunyi, aku akan menemukanmu. Bahkan ketika kau menghilang dari pandangku dengan semua ingatanmu, aku akan datang ke masa lalu untuk menemuimu. Aku akan melihat cantik wajahmu. Bagai raga tanpa jiwa begitulah aku mengingatmu, Lucia.

Selesai

Tidak ada komentar:

Posting Komentar