Awal Desember 2016,
rinai pertama menyentuh bumi, jatuh berguguran menabrak ranting-ranting pohon
yang hampir mati. Rinai ini membawa genangan dan kenangan yang sama-sama
mengendap, yang satu mengendap di dasar tanah dan satunya lagi mengendap di
dasar hati.
Kusibakan rambut
panjang hitamku yang bergelombang. Kumerahkan pipi dan bibirku. Terakhir kutebar
aroma mint bercampur pinacone ke
seluruh tubuh sebelum kutatap lekat sosok yang berdiri dihadapanku. Tatapannya
begitu berani, dagunya terangkat menandakan kepercayaan dirinya. Aku menjadi sedikit
lebih berani.
“Maaf,” seorang wanita
membuyarkan pandangku, “saya tidak tahu Anda di sini” sambungnya. Aku tak
mengacuhkannya, kutatap kembali bayang wajahku dalam cermin sebelum memasukan
lipstikku ke dalam poket kecil yang selalu kubawa.
“Sepuluh menit lagi,
kita akan ke ruang isolasi” ucapku dingin seperti biasanya.
“Siap!” jawabnya
singkat sambil pergi tergopoh-gopoh menyisakan aroma khas alkohol yang semakin
akrab denganku, sensasinya justru seperti candu.
Aku bukan lagi Lirvie
yang dulu, bukan Lirvie si kekasih matahari, bukan Lirvie si gadis kesepian,
bukan Lirvie si pecundang di bawah hujan, apalagi Lirvie si mesin penghitung
uang. Aku menjelma menjadi seorang dewi bermahkota permata yang tentu membuat
orang lain menghujaniku dengan tatapan iri yang disembunyikan.
“Selamat pagi Dokter Lirvie.” Arghhh, lagi-lagi suara itu
menghilangkan bias memori di mindaku. Aku menatap ke arahnya tanpa berkata.
“Semua sudah siap,” sambungnya.
Aku beranjak dari
tempat dudukku meraih stetoskop dan jas putih kebanggaanku yang kugantung di
dekat jendela kayu yang menghadap ke hutan pinus. Dengan bangga kukenakan jas
itu, dengan stetoskop yang kukalungkan di leher membuat aura dewiku semakin
terpancar. Bergegas aku menyusuri lorong-lorong yang biasa kulalui dengan
ditemani suster Lee.
Decit dari gesekan
sepatu berhak runcingku dengan lantai marmer mengisi kehampaan. Beberapa mata
menatapku, lalu membungkukkan badan sambil menyapaku. Meskipun mereka
mengenakan jas yang sama denganku, tapi tetap saja mereka membungkukkan badan
ketika menyapaku. Mungkin karena aku berbeda dengan mereka, namaku terukir
indah bersama prestasi dan pemikaranku yang gemilang.
“Selamat pagi, Dok” sapa seorang wanita yang
sedang berdiri di belakang meja resepsionis.
“Selamat pagi, Dok” dua
orang laki-laki dan seorang perempuan bersamaan menyapaku, mereka mengenakan
jas yang sama denganku.
“Selamat pagi, Dok”
seorang laki-laki yang usianya mungkin jauh lebih tua dariku menyapa, tak lupa
dia membungkukan badan meski tangannya gemetar membawa
kardus berisi obat-obatan.
Arghhh,
aku tak menyukai sapaannya, semuanya terlihat palsu. Mereka akan mulai
bernyanyi dengan nada sinis dan intonasi bengis setelah aku berlalu. Jadi aku
pun menyunggingkan senyum datar khasku untuk menjawabnya.
Kuputar knop pintu
berwarna putih di hadapanku, tanganku gemetar saat menyentuh knop itu, dan
tungkaiku sedikit lunglai. Samar-samar aku melihat raganya mematung di tepi jendela.
Wajahnya sendu dengan air yang tak pernah mengering dari mata cekungnya. Tubuhnya
semakin kurus tergurus usia dan rambutnya yang dulu hitam pun mulai memutih.
Aku berjalan ke arahnya
untuk melihat dari dekat. Tangannya menggenggam pedang, tapi tidak sekali pun
dia menghunusnya. Pedang itu seperti kekuatan yang memberikan napas kehidupan
di sela rongga kematian.
Bibirnya dan matanya
sama-sama kelu, dia hendak seperti menyampaikan sesuatu. Dengan suara yang
nyaris hanya bisa didengarkannya sendiri, aku seperti mendengar dia menyebut
namaku. Namun, justru kata maaf yang
aku dengar.
“Maaf…maaf…maaf,”
ucapnya dengan suara parau penuh kesakitan, “maaf…maaf…maaf” hanya kata itu
lagi yang bisa kutangkap.
Aku membelai lembut
wajahnya, kuusap air mata yang tak pernah mengering itu. Lalu aku memeluknya
seperti dia memelukku di waktu dulu untuk mengingat setiap kenangan yang kami
ciptakan. Satu hal yang selalu kurindukan adalah saat aku melihat wajah
cantiknya, satu hal yang ingin kuulang adalah saat dia memeluku dengan sayap
yang hanya ditunjukan padaku. Aku menjadi bintang tanpa cahaya dan ini
membuatku menangis.
“Dokter Lirvie,” suster
Lee menepuk bahuku dengan hati-hati, “saya akan membersihkan tubuh pasien.”
“Suster Lee, silakan
cek pasien lain! Setelah selesai memeriksanya, saya yang akan membersihkan
tubuh pasien ini.” Aku menangkap raut terkejut yang tidak sempat disembunyikan
suster Lee sebelum pergi.
Aku melepaskan
pelukanku, membiarkanya menatap bulir rinai yang membuat siluet indah ketika
menghantam kaca jendela berbingkai kayu. Dengan bibir bergetar dan ribuan panah
yang menghunus jantung, kucoba memanggil namanya, “Lucia.”
Butuh waktu lima belas
tahun untuk menjadi aku yang sekarang. Namun yang tak pernah kulupa, kedatangan
Lucia malam itu mengubah air mata menjadi lara tanpa asa, kian mengering dan
akhirnya menghilang tanpa bayang. Namun, aku selalu bertanya, mengapa air mata
Lucia justru tak pernah mengering? mengapa lara justru semakin menganga? Setiap
aku menatap ke dalam lentera matanya tatapannya kosong menggoreskan bias nanar
yang menyayat hati.
Aku mengingat
malam-malam sebelumnya, hari itu aku melepaskan segalanya, mencoba berdamai
dengan keadaan. Meski aku harus menjadi seorang pecundang, tak masalah bagiku
asal aku melihat wajah cantik Lucia dengan senyum indah dari bibirnya. Kutanggalkan
semua pekerjaan yang menjadi harga diriku, kubawa ragaku melangkah menggapai
sesuatu yang sering disebut sebagai cita-cita. Meski aku masih belum tahu
tujuanku, setidaknya aku telah memantapkan langkahku.
Takdir buruk
menyandungku. Lucia menjadi seseorang yang nyaris tak kukenali. Dia tak mengingat
apapun, bahkan dirinya sendiri. Logikaku tak dapat menerima, seorang Lucia yang
kukenal kehilangan jiwanya hanya karena perkataanku malam itu. Atau ada rahasia
besar yang memeluknya hingga dia menjadi seperti itu? Ini seperti novel dengan sad ending, andai langit membuka tabir
pasti rahasia besar akan terungkap.
Dengan rupiah yang
telah kukumpulkan aku memilih jalanku, aku siap memulai takdirku sebagai dokter
jiwa.
***
Kumantapkan langkah
kakiku menyusuri lorong-lorong berliku tak berujung. Lorong-lorong ini seperti
labirin yang bisa saja menyesatkanku untuk meghilang darimu. Tapi kau tahu
pasti, lenteramu memiliki cahaya abadi yang menuntunku kepadamu. Di manapun kau
bersembunyi, aku akan menemukanmu. Bahkan ketika kau menghilang dari pandangku
dengan semua ingatanmu, aku akan datang ke masa lalu untuk menemuimu. Aku akan melihat
cantik wajahmu. Bagai raga tanpa jiwa begitulah aku mengingatmu, Lucia.
Selesai

Tidak ada komentar:
Posting Komentar