Oleh: Nuriana Indah
“Kau tau sayang, apa yang membuatku jatuh cinta kepadamu?”
Tanya si lelaki.
“Tentu kecantikannku yang membuatmu jatuh cinta kepadaku!”
Jawab si wanita.
“Kecantikanmu masih kalah dengan bunga-bunga yang ada di
tempat ini.”
“Jadi aku masih kalah cantik dengan bunga-bunga ini. Tak
cukup menarikkah aku bagimu,” Si wanita pura-pura marah. “Setiap aku bercermin,
aku selalu menangisi diriku, aku takut kalau kecantikanku menjadi milik
laki-laki selain kau.”
Si lelaki tertawa kecil melihat kekasihnya marah, “Benarkah
kau marah dengan yang ku katakan sayang?” lelaki itu membelai rambut kekasihnya
dengan lembut, kemudian mencium pipi kirinya. “Kau memang kalah cantik dengan
bunga-bunga, kau tidaklah sesempurna bunga-bunga ini,” lelaki itu memitik bunga
berwarna putih, kemudian bunga itu dia selipkan di rambut kekasihnya.
“Bunga-bunga ini akan bermekaran dan wangi setiap hari, setelah layu,
bunga-bunga itu akan gugur, dan akan bermekaran lagi bunga-bunga baru yang
lebih cantik dan segar.”
“Jadi, kau akan mencampakkan aku setelah aku tak cantik dan
menarik lagi!” Kini, wanita itu benar-benar marah.
“Aku tidak pernah mencampakkanmu. Bagaimana mungkin aku
mencampkkanmu, jauh darimu saja hati ku terasa kosong. Kau tahu, aku seperti
tak bisa bernapas saat kau tak ada di sisiku.”
“Lalu mengapa kau berkata demikian padaku, bukankah aku tak
sesempurna bunga-bunga ini.” Wanita itu tampak semakin marah, dia mencabut
beberapa bunga yang ada di dekatnya. “Menikahlah dengan mereka, jika mereka lebih
sempurna dariku!”
Lelaki itu hanya tersenyum, memeluk kekasihnya dengan erat.
“Kau memang tak sesempura bunga-bunga di taman ini, tapi hanya kaulah yang
mampu menyempurnakan hatiku. Kau dan bunga sama-sama mengajarkan ku tentang
kesempurnaan, menyadarkan akal ku bahwa yang aku miliki dan cintai tidaklah
sempurna, hanya milik Tuhan yang sempurna.” Lelaki itu mencium kening
kekasihnya dengan lembut, “kecantikan bungan itu akan abadi hingga dia mati,
tapi kecantikanmu tidaklah abadi. Ketika kau mulai menua, perlahan kecantikanmu
akan pudar. Kecantikanmu memang tak sempurna, dan dengan ketidaksempurnaanmu
aku berusaha mencintaimu dengan cara yang sempurna.”
“Menerima segala kekuranganku?”
“Menerima segala kekurangmu, dan menjaga kelebihan yang
telah dititipkan Tuhan untukmu.” Laki-laki itu menggandeng kekasihnya menyusuri
hamparan bunga.
Rumput-rumput bergoyang, nyiur melambai-lambai, matahari
tersenyum bahagia, menyambut kebahagian pasangan kekasih ini. Alam pun ikut
bernyanyi, gemericik suara air terjun memberi alunan lagu cinta untuk jiwa-jiwa
yang yang dilanda gelora cinta.
***
BAB I
Sutra,
Benang, dan Batu Permata
“Marissa,” teriak Mina dari dapur, “Turunlah, aku sudah
membuatkan sarapan untukmu.”
Tidak menunggu lama, Rissa datang dengan mata yang masih
sayu dan rambut yang acak-acakan, “Mengapa bibi memasak untukku? Aku yang akan
memasak untuk bibi.”
“Apa kau pikir aku sudah terlalu tua untuk membuat masakan
untukmu? Kalau hanya semangkuk sup sayuran, aku masih cukup mampu untuk
membuatnya. Sudahlah, cuci muka, aku tak sabar menikmati sup ini denganmu.”
“Baiklah!” Segera Rissa beranjak pergi meninggalkan bibinya.
Hanya beberapa menit saja Rissa memerlukan waktu untuk
mencuci wajah dan merapikan rambutnya. Dengan wajah yang sudah berseri dan mata
yang jernih, Rissa kembali menghampiri bibinya yang sudah menunggunya di meja
makan. Rissa duduk di seberang tempat duduk bibinya, dengan posisi duduk
seperti ini dia dapat melihat dengan jelas kerutan wajah bibinya yang makin
tampak terlihat.
“Mengapa kau memandangku seperti itu? Apa kau sedang
menghitung kerutan di wajahku?” Pertanyaan Mina membuyarkan pandangan Rissa.
“Harghhhhh, bibi masih terlalu muda untuk memiliki kerutan.”
“Benarkah? Usiaku sudah lewat 50 tahun, rasanya tak pantas
kalau disebut muda.”
Rissa hanya tertawa kecil, tangannya yang mungil mengambil
sup sayur buatan Mina. “Bibi, mengapa kau selalu memasak sup sayur untuku? Aku
hampir jenuh dengan sup sayuran masakanmu, tak bisakah kau memasak selain ini?”
Tanya Rissa pura-pura kecewa.
“Sup sayur makanan kesukaan ibumu. Tak bolehkah aku memasak
makanan yang disukai oleh wanita yang melahirkanmu?”
“Jika memang benar dengan senang hati aku akan makan sup
sayur setiap hari?”
“Bukankah kau jenuh makan sup sayur setiap hari?”
“Aku rasa sekarang tidak.” Jawab Rissa mantap.
“Ya, sudahlah, habiskan sarapanmu,” di luar, seseorang
mengetuk pintu. “Aku akan membuka pintu, sepertinya seseorang mengunjungi gubuk
kita. Mungkin Aslam datang mengantar
kain dan benang.”
Mina melangkah keluar dari ruang makan menuju ruang tamu.
Tubuh yang mulai renta membuatnya tidak mampu berjalan cepat, butuh waktu
beberapa menit untuk sampai di ruang tamu, tangannya yang terlihat makin
keriput kini membuka pintu kayu yang ada di hadapannya.
“Salam.” Sapa seorang wanita muda, usinya mungkin seumuran
dengan Rissa.
“Salam,” Mina tertegun dengan wanita yang ada di hadapannya,
wanita itu tampak cantik dengan mengenakan baju berwarna merah muda, dipadu
dengan sepatu hak tinggi warna senada, dan tas kulit warna hitam di lengannya
membuat wanita itu terlihat anggun. “Apakah kau mencari seseorang di sini?”
Tanya Mina setelah berhasil menutupi rasa kagumnya.
“Aku mencari seorang penjahit bernama Mina. Apakah bibi
bernama Mina?”
“Ya, aku Mina. Apa yang membuatmu datang ke sini untuk
mencariku?”
“Ahhhh, bolehkah aku masuk? Tak baik membiarkan tamu berdiri
di teras, aku bukanlah tamu yang hendak mencelakakan.”
“Hahhhh, benar. Tak baik membiarkan tamu berdiri di teras.
Maaf, aku terlalu terkejut dengan kedatanganmu,” Mina mengajak wanita itu
masuk. “Hampir tidak pernah ada orang berkunjung ke gubukku, dan sekarang
seorang wanita cantik mengunjungiku.”
“Bibi tahu? Aku hampir putus asa mencari rumah bibi. Mungkin
ada baiknya, jika tadi meminta Aslam mengantarku.”
“Aslam? Bagaimana kau kenal Aslam?” Tanya Mina heran.
“Ya, dialah yang memberi tahu tempat tinggal bibi padaku.”
“Lalu untuk apa kau mencariku?”
“Kemarin aku datang ke toko kain milik Aslam membeli sutra,
benang, dan beberapa batu permata untuk kubuat gaun pengantin. Lalu, aku
melihat putri bungsu Aslam hendak pergi ke pesta dengan mengenakan gaun yang
indah. Aku bertanya kepadanya, di mana dia membeli gaun itu? Dia mengatakan,
gaun itu pemberian dari seorang wanita tua pelanggan ayahnya. Setelah itu, aku
langsung bertanya kepada Aslam, siapa pelanggan yang telah memberikan gaun
indah kepada anaknya itu?”
“Apakah Aslam mengatakan gaun itu pemberianku?”
“Ya, begitulah yang dikatakannya.” Wanita itu mengambil
bungkusan berwarna hitam dari dalam tas kulitnya. “Bisakah bibi menolongku?” Tanya
wanita itu sambil memberikan bungkusan itu kepada Mina.
“Apa yang harus ku lakukan untuk menolongmu? Dan apa ini?”
“Ini sutra, benang, dan batu permata yang kubeli dari toko
Aslam. Aku ingin bibi membuatkan gaun pengantin yang indah untukku. Tiga bulan
lagi aku akan menikah dengan seorang laki-laki yang aku cintai. Dia adalah
sahabatku sejak kecil, dan kini setelah kami dewasa, kami akan menikah. Aku
sudah lama bersamanya, dan selama itu pula, sedikit pun dia tak pernah
membuatku kecewa. Oleh sebab itu, aku ingin tampil cantik dengan gaun yang
indah di hari pernikahan kami agar dia tak kecewa karena telah memilihku
sebagai isitrinya.”
“Tak salahkah kau datang ke sini? Aku bukanlah seorang
penjahit yang andal. Bahkan aku tak pernah membuat gaun pengantin seumur
hidupku.” Mina menarik napas dalam-dalam, dadanya terasa sesak setiap ada yang
meyebut gaun pengantin di hadapannya.
“Aku tak salah orang. Aku yakin bibi bisa membuatkan gaun
pengantin yang indah untukku. Tak pernah aku melihat gaun indah seperti yang bibi
buat. Aku sudah sering membeli gaun dari berbagai toko, tapi aku merasa tak ada
yang seindah buatanmu, meski aku baru pertama melihat. Aku akan membayar berapa
pun yang bibi minta.”
“Kau tak perlu mengeluarkan uang untuk membayarku. Aku
bukanlah seorang penjahit yang bisa mewujudkan keinginanmu. Aku tak bisa
membuatkan gaun pengantin untukmu! Dan aku memang tak ingin membuat gaun
pengantin untuk siapa pun!”
“Aku mohon, jangan berbuat demiakian kepadaku. Seharian aku
mencari, dan tegakah bibi membiarkan aku pulang dengan perasaan kecewa?”
“Aku tak bermaksud mengecewakanmu, tapi aku memang tak bisa
mewujudkan keinginanmu.”
Wanita itu hampir menangis ketika tiba-tiba Rissa datang
samabil membawa secangkir teh dan ubi rebus. Rissa duduk di sebelah Mina,
matanya langsung tertuju kepada wanita yang duduk di hadapan bibinya dengan
mata yang berkaca-kaca.
“Bibi, apa yang sudah bibi lakukan hingga membuatnya hampir
menangis?”
“Ahhhh, tidak. Bukan bibimu yang membuatku hampir menangis.
Ini salahku, aku yang terlalu memaksa bibimu untuk mewujudkan keinginanku.”
Jawab wanita itu.
“Bibi, bisakah aku berbicara sebentar di luar denganmu?”
Tanya Rissa kepada Mina, dan tanpa berkata, Mina langsung beranjak dari kursi
menuju teras sebagai tanda dia mau menuruti Rissa. “Kau bisa menikmati teh dan
ubi rebus ini selagi aku berbicara dengan bibiku. Tunggulah, ini tak akan
lama.” Rissa pergi menyusul Mina.
Mina berdiri di teras mengahadap ke padang rumput yang ada
di hadapannya. Pandangannya kosong, matanya tampak berkaca-kaca, dan dadanya
amat terasa sesak.
Rissa menghampiri Mina. “Apa yang ingin kau bicarakan
denganku?” tanya Mina tanpa menatap Rissa.
“Sebenarnya, aku sudah mendengar percakapan bibi dengannya
dari awal. Entah kenapa, aku tak tega dengan wanita itu.”
“Apa kau mengenal wanita itu?”
“Aku tak mengenalnya, bahkan aku tak pernah bertemu
dengannya sebelum ini.”
“Lalu kenapa kau tak tega dengannya?”
“Aku tak bisa menjawab pertanyaan itu, aku pun tak bisa
menjelaskan alasannya, dan aku memang tak punya alasan untuk ku jelaskan.”
Rissa memeluk erat tubuh Mina. “Bibi, dia tampak senang ketika bertemu
denganmu, dia menggantungkan semua kebahagiannya kepadamu, dan kebahagian itu
seperti akan hilang ketika kau menolak keinginannya.”
“Apa aku salah kalau aku menolak keinginannya? Dia bukan
kau, aku hanya akan mewujudkan yang menjadi keinginanmu, jadi untuk apa aku
harus mewujudkan keinginannya.”
“Kalau begitu, anggaplah bibi sedang membuatkan gaun
pengantin untukku.”
“Tapi dia bukan kau!” Suara Mina mulai meninggi, air matanya
juga nyaris tumpah.
“Aku mohon bibi!” Rissa berlutut di hadapan Mina, jarinya
terus menggenggam tangan Mina. “Buatkan gaun pengantin untuknya, sungguh aku
tak tega melihatnya pulang dengan kecewa.”
“Kenapa kau sangat peduli dengannya? Bahakan kau tak
mengenalnya.”
“Bibi, aku juga seorang wanita dewasa yang belum menikah. Suatu
hari, aku juga ingin menikah dengan seorang laki-laki yang aku cintai, dan saat
hari itu tiba, aku juga ingin tampil cantik dengan gaun yang indah di hadapan
calon suamiku.” Air mata Rissa mengalir. “Aku juga pasti akan kecewa jika tak
memilki gaun yang indah untuk aku kenakan.”
“Kenapa kau menangis untuk seseorang yang tak kau kenal? Kau
terlalu baik, janganlah kau seperti itu kepada semua orang, belum tentu orang
akan membalas kebaikanmu. Hanya aku yang tulus berbaik hati kepadamu. Hanya
aku. Hanya aku!”
“Aku tahu, tak ada seorang pun yang baik denganku dan
menuruti keinginanku selain bibi. Oleh karena itu, aku mohon kepadamu,
turutilah keinginannku. Aku ingin bibi membuatkan gaun pengantin untuknya.”
“Sudahlah, hentikan tangismu. Aku tak ingin melihat kau
menagis.” Mina mengusap air mata Rissa. “Jika kau ingin aku membuatkan gaun
pengantin untuknya, baiklah, akan aku lakukan. Sungguh aku tak bisa menolak
yang menjadi keinginanmu.”
“Sungguh aku menyadari, tak ada seorang ibu ataupun ayah
yang baik selain dirimu. Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu, bibi.”
“Kau tahu bahagiaku adalah melihatmu bahagia. Aku akan
mengutuk diriku sendiri jika aku menghalangi yang bahagia untukmu!”
Mina dan Rissa masuk ke dalam rumah bersamaan, di dalam
rumah wanita itu menunggu dengan hati cemas. Teh yang disuguhkan Rissa sama
sekali tak dia sentuh. “Lama sekali. Apakah aku sudah membuat kalian
bertengkar?” Wanita itu menatap Mina dan Rissa bergantian, dia terlihat
terkejut melihat raut wajah Mina dan Rissa yang masih basah dengan arir mata.
“Aku hanya wanita tidak tahu diri. Betapa bodohnya aku, aku telah membuat orang
lain bertengkar hanya karena keinginanku sendiri.” Wanita itu tampak menyesal,
dia beranjak dari tempat duduk sambil mengambil bungkusan hitam miliknya. “Sungguh,
aku meminta maaf dengan yang telah aku lakukan kepada kalian.”
“Tinggalkan bungkusanmu jika kau hendak pulang. Sungguh aku
tidak bisa menolak yang menjadi keinginan keponakanku!” Ucap Mina sebelum pergi
meninggalkan ruang tamu.
Wanita itu tampak bingung. Dia hanya bertukar pandang dengan
Rissa yang berdiri di sebelahnya. “Aku tidak mengerti yang dikatakan oleh
bibimu.”
“Tinggalkan bahan yang digunakan untuk membuat gaun. Bibiku
akan membuatkan gaun pengantin yang indah untukmu.” Ucap Rissa.
“Benarkah yang kau katakana?” Tanya wanita itu tidak
percaya.
“Benar, satu minggu sebelum hari pernikahanmu kau bisa
datang kemari untuk mengambilnya. Aku yakin kau tak akan kecewa dengan gaun
pengantin buatan bibiku. Kau akan terlihat semakin cantik dan anggun ketika
memakainya nanti.”
“Bahkan dia tak mengukur badanku. Bagaimana mungkin dia akan
membuatkan gaun pengantin untukku.”
“Dia tak perlu mengukur badanmu. Aku rasa kita memiliki
ukuran badan yang sama, biarlah nanti dia menggunakan ukuran badanku.”
“Ahhhh, aku tak percaya dengan semua ini.” Wanita itu
menggenggam tangan Rissa. “Apa yang harus ku lakukan untuk membalas
kebaikanmu?”
“Kau tak perlu membalas, aku tak pernah meminta balasan utuk
kebaikan yang kulakukan.”
Wanita itu berpamitan setelah menenggak teh, dan memakan
satu buah ubi rebus yang disuguhkan Rissa. “Aku rasa sudah saatnya aku pulang,
sudah cukup lama aku di sini.”
“Baiklah, datangalah kemari jika hari penikahanmu tinggal
satu minggu.
“Baiklah, terima kasih.”
“Aku akan mengantarmu hingga di ujung jalan.”
“Aku rasa tidak perlu, biarkan aku pulang sendiri. aku sudah
terlalu merepotkanmu.’
“Tak apa, kebutulan aku juga ingin melihat teratai di danau.
Aku pikir, letak danau itu tak jauh dari jalan. Kita masih bisa bercerita
hingga di ujung jalan.”
Rissa dan wanita itu mulai menyusuri hamparan rumput.
Sesekali wanita itu menengok ke belakang melihat rumah Rissa yang terletak di
dalam hutan. Di sekeliling rumah banyak pohon-pohon rindang, semakin jauh
mereka berjalan rumah itu semakin tidak terlihat karena tertutupi rindangnnya
daun pohon. Tanah yang mereka pijak juga sama sekali tidak terlihat, semua
tanah tertutupi dengan rumput-rumput hijau yang indah. Hanya jalanan setapak di
pinggir danau yang tidak ditumbuhi rumput.
“Aku tidak bisa berhenti pikir, bagaimana mungkin kalian
bisa tinggal di tempat ini. Tidak ada listrik, jauh dari orang, bahkan bisa
dikatakan di dalam hutan.” Ucap wanita itu setelah mereka sampai di dekat
danau.
“Aku dan bibiku sudah lama tinggal di sini. Kata bibiku,
sejak aku berumur tiga tahun bibi membawaku ke tempat ini. Aku hanya tinggal
bersama bibi di tempat ini, dan aku sangat menyukai tempat ini.”
“Hanya berdua?” Wanita itu sangat heran.
“Ya, aku hanya tinggal bersama bibiku di sini. Pohon dan
padang rumput jadi tetangga kami, burung dan ternak tempat kami berkeluh kesah,
dan bunga teratai ini jadi teman bermainku sejak kecil.” Jawab Rissa. “Aku
rasa, aku cukup mengantarmu di sini.”
“Iya, cukup di sini saja. Hanya sedikit melangkah, aku akan
sampai di jalan pulang.” Ucap wanita itu sambil melihat sepatunya yang kotor
terkena tanah dan lumpur. “Jika tak keberatan, datanglah ke acara
pernikahanku.”
“Jika tidak ada sesuatu yang menghalangiku, aku akan
datang.”
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar