Oleh: Nuriana Indah
BAB II
Pemilik Hati
“Bibi, apa yang sebenarnya sedang bibi pikirkan? Tak pernah
aku melihatmu berbuat seperti ini. Seharian aku melihat, bibi hanya menatap gaun
itu tanpa berbuat apa-apa.”
“Lihat apa yang telah aku lakukan! Aku tak mengerti, mengapa
aku harus melakukan ini. Membuat gaun pengantin untuk orang yang tak pernah aku
ketahui sebelumnya.” Jawab Mina. “Bahkan sekali pun aku tak pernah berniat
untuk membuatnya. Atau tak usah saja kuberikan gaun ini padanya?” Mina menatap
kesal gaun indah yang tergelatak di hadapannya.
“Bukankah bibi sudah bersedia membuat gaun pengantin untuk
wanita itu. Janji adalah janji, janji harus ditepati!”
“Bukan perkara ditepati, tapi dengan siapa aku berjanji? Aku
juga tak mengerti. Bahkan bahan yang ditinggalkanya tak pernah kusentuh. Gaun
ini kubuat dengan bahan yang kubeli sendiri.”
“Bukankah gaun ini dari sutra, benang, dan batu permata
milik wanita itu?”
“Bukan! Gaun ini dari sutra, benang, dan batu permata yang
kubeli sendiri. Aku memang sengaja membeli bahan serupa dengannya.”
“Kenapa bibi melakukan itu?”
“Aku juga tak tahu kenapa melakukan itu. Aku hanya berpikir
untuk menjahit gaun pengantin untukmu, jadi aku tak ingin menggunakan bahan
gaun darinya.” Mina membela diri, “Lagi pula, apa yang salah? Bahan yang
gunukan pun sama.”
“Tapi kenapa wanita itu tak pernah datang untuk mengambil gaunnya?
Bukankah ini sudah lebih dari setahun sejak wanita itu datang kemari?”
“Entahlah.”
"Aku katakan padanya untuk mengambilnya seminggu sebelum pernikahnya. Dia juga mengundang kita untuk menghadiri pernikahanya, tapi bagaimana kita akan datang jika wanita itu tak pernah kemari lagi? Aku tak sempat menyakan rumahnya waktu itu."
"Sudahlah. Aku tidak tertarik dengan pertanyaanmu!"
“Apakah wanita itu sudah tidak menginginkan gaunnya?”

