Musik

Selasa, 06 Juni 2017

Gaun Pengantin (Bagian 2)



Oleh: Nuriana Indah
BAB II
Pemilik Hati

“Bibi, apa yang sebenarnya sedang bibi pikirkan? Tak pernah aku melihatmu berbuat seperti ini. Seharian aku melihat, bibi hanya menatap gaun itu tanpa berbuat apa-apa.”
“Lihat apa yang telah aku lakukan! Aku tak mengerti, mengapa aku harus melakukan ini. Membuat gaun pengantin untuk orang yang tak pernah aku ketahui sebelumnya.” Jawab Mina. “Bahkan sekali pun aku tak pernah berniat untuk membuatnya. Atau tak usah saja kuberikan gaun ini padanya?” Mina menatap kesal gaun indah yang tergelatak di hadapannya.
“Bukankah bibi sudah bersedia membuat gaun pengantin untuk wanita itu. Janji adalah janji, janji harus ditepati!”
“Bukan perkara ditepati, tapi dengan siapa aku berjanji? Aku juga tak mengerti. Bahkan bahan yang ditinggalkanya tak pernah kusentuh. Gaun ini kubuat dengan bahan yang kubeli sendiri.”
“Bukankah gaun ini dari sutra, benang, dan batu permata milik wanita itu?”
“Bukan! Gaun ini dari sutra, benang, dan batu permata yang kubeli sendiri. Aku memang sengaja membeli bahan serupa dengannya.”
“Kenapa bibi melakukan itu?”
“Aku juga tak tahu kenapa melakukan itu. Aku hanya berpikir untuk menjahit gaun pengantin untukmu, jadi aku tak ingin menggunakan bahan gaun darinya.” Mina membela diri, “Lagi pula, apa yang salah? Bahan yang gunukan pun sama.”
“Tapi kenapa wanita itu tak pernah datang untuk mengambil gaunnya? Bukankah ini sudah lebih dari setahun sejak wanita itu datang kemari?”
“Entahlah.”
"Aku katakan padanya untuk mengambilnya seminggu sebelum pernikahnya. Dia juga mengundang kita untuk menghadiri pernikahanya, tapi bagaimana kita akan datang jika wanita itu tak pernah kemari lagi? Aku tak sempat menyakan rumahnya waktu itu."
"Sudahlah. Aku tidak tertarik dengan pertanyaanmu!"
“Apakah wanita itu sudah tidak menginginkan gaunnya?”

Gaun Pengantin (Bagian 1)



Oleh: Nuriana Indah
 
Indahnya alam pagi ini, pohon-pohon kokoh berdiri menunjukan rindangnya daun yang dia miliki, bunga-bunga sedang bermekaran, di sana-sini kupu-kupu menari-menari di hamparan bunga-bunga di taman. Keluarga kumbang pun tidak mau kalah, mereka berayun-ayun di ranting-ranting pohon. Kicauan burung di pucuk cemara juga menambah syahdunya alam. Sepasang kekasih duduk  di bawah pohon, mereka tersenyum, bahagia.
“Kau tau sayang, apa yang membuatku jatuh cinta kepadamu?” Tanya si lelaki.
“Tentu kecantikannku yang membuatmu jatuh cinta kepadaku!” Jawab si wanita.
“Kecantikanmu masih kalah dengan bunga-bunga yang ada di tempat ini.”
“Jadi aku masih kalah cantik dengan bunga-bunga ini. Tak cukup menarikkah aku bagimu,” Si wanita pura-pura marah. “Setiap aku bercermin, aku selalu menangisi diriku, aku takut kalau kecantikanku menjadi milik laki-laki selain kau.”
Si lelaki tertawa kecil melihat kekasihnya marah, “Benarkah kau marah dengan yang ku katakan sayang?” lelaki itu membelai rambut kekasihnya dengan lembut, kemudian mencium pipi kirinya. “Kau memang kalah cantik dengan bunga-bunga, kau tidaklah sesempurna bunga-bunga ini,” lelaki itu memitik bunga berwarna putih, kemudian bunga itu dia selipkan di rambut kekasihnya. “Bunga-bunga ini akan bermekaran dan wangi setiap hari, setelah layu, bunga-bunga itu akan gugur, dan akan bermekaran lagi bunga-bunga baru yang lebih cantik dan segar.”
“Jadi, kau akan mencampakkan aku setelah aku tak cantik dan menarik lagi!” Kini, wanita itu benar-benar marah.
“Aku tidak pernah mencampakkanmu. Bagaimana mungkin aku mencampkkanmu, jauh darimu saja hati ku terasa kosong. Kau tahu, aku seperti tak bisa bernapas saat kau tak ada di sisiku.”
“Lalu mengapa kau berkata demikian padaku, bukankah aku tak sesempurna bunga-bunga ini.” Wanita itu tampak semakin marah, dia mencabut beberapa bunga yang ada di dekatnya. “Menikahlah dengan mereka, jika mereka lebih sempurna dariku!”
Lelaki itu hanya tersenyum, memeluk kekasihnya dengan erat. “Kau memang tak sesempura bunga-bunga di taman ini, tapi hanya kaulah yang mampu menyempurnakan hatiku. Kau dan bunga sama-sama mengajarkan ku tentang kesempurnaan, menyadarkan akal ku bahwa yang aku miliki dan cintai tidaklah sempurna, hanya milik Tuhan yang sempurna.” Lelaki itu mencium kening kekasihnya dengan lembut, “kecantikan bungan itu akan abadi hingga dia mati, tapi kecantikanmu tidaklah abadi. Ketika kau mulai menua, perlahan kecantikanmu akan pudar. Kecantikanmu memang tak sempurna, dan dengan ketidaksempurnaanmu aku berusaha mencintaimu dengan cara yang sempurna.”
“Menerima segala kekuranganku?”
“Menerima segala kekurangmu, dan menjaga kelebihan yang telah dititipkan Tuhan untukmu.” Laki-laki itu menggandeng kekasihnya menyusuri hamparan bunga.
Rumput-rumput bergoyang, nyiur melambai-lambai, matahari tersenyum bahagia, menyambut kebahagian pasangan kekasih ini. Alam pun ikut bernyanyi, gemericik suara air terjun memberi alunan lagu cinta untuk jiwa-jiwa yang yang dilanda gelora cinta.
***

Sabtu, 20 Mei 2017

Latihan US Bahasa Indonesia SMP



1.                  Dengan harta yang dimiliki, manusia menjadi (1) angkuh dan mengaku Tuhan, sementara dengan (2) ilmunya seseorang akan mengakui (3) kelemahan dan (4) kehampaanya di hadapan Tuhan.
Jika kata yang bergaris bawah dalam kalimat tersebut disusun menjadi kamus kecil, urutan yang paling benar, yaitu …


a.       1, 2, 3, 4
b.      1, 2, 4, 3
c.       1, 4, 3, 2
d.      1, 4, 2, 3


2.                  Pada pagi yang cerah, berkumpullah empat binatang yang saling bersahabat, dan sudah lama tidak berjumpa. Mereka adalah seekor burung gereja, burung merpati, burung elang, dan kura-kura. Masing-masing dari mereka terlihat begitu bahagia, nampak muka mereka berseri-seri. Setelah saling melepas rindu dan bertegur sapa, mereka saling berbagi cerita tentang keadaan mereka masing-masing.
Pada paragraf di atas terdapat kata yang tidak baku, yaitu pada kalimat …


a.       Pertama
b.      Kedua
c.       Ketiga
d.      Keempat

Jumat, 07 April 2017

Jadilah Pahlawan Masa Kini dengan Membangkitkan Pendidikan Moral Bangsa

Berikut adalah esai yang berhasil menjadi juara pertama dalam ajang lomba esai tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Universitas Syarif Hidayatullah, Jakarta. Untuk membaca silakan klik link berikut!

https://drive.google.com/file/d/0B9jhauHYBdQOMllySzhCbmw1VkE/view?usp=sharing

Rabu, 08 Maret 2017

Izinkan Aku Mengenalmu Cemara



Tidak ada jarak di antara kita
Aku suka caramu memperlakukanku
Menciptakan keajaiban di galeri hidupku
Mengisinya dengan tawa dan air mata
Jadi izinkan aku mengenalmu