Musik

Rabu, 21 November 2018

Key: (Im)mature (Bagian IV)


BAB IV
Satu Langkah Lebih Dekat

Perjalanan sunyi yang ditempuh sendiri membuat seseorang kehilangan arah. Pengalaman akan mengiringi, masa depan menunggu, tapi kompas terkadang justru menyesatkan. Ketuguhan hatilah yang membuat satu langkah lebih dekat menuju akhir perjalanan. Akan tetapi, bias harapan mengehempas keyakinan di setiap persimpangan jalan.
Andai malam tiada membawa gulita, tentu tak perlu mengharap kehadiran bintang sebagai lentera. Kini di bawah langit biru yang telah berubah menjadi hitam sebuah lentera telah bercahaya. Tibalah masa ketika tanah lembab lebih memiliki daya tarik untuk dilihat daripada menatap cahaya bintang yang menyilaukan mata seorang pecundang.
Pagi itu tidak jauh berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Beberapa mahasiswa berlalu-lalang di antara koridor-koridor panjang. Beberapa lainnya menyibukan diri di gazebo, terlihat ada yang belajar ataupun sekadar berbincang-bincang sembari menunggu jadwal kuliah dimulai.
Seperti biasa, Vanza datang ketika jadwal kuliahnya hampir dimulai. Setelah menempatkan tunggangan kesayangngannya di tempat teduh, dia menuju ke ruang kelas. Dia sempatkan melambai tangan kebeberapa rekan yang dia kenal. Sesekali dia tidak hanya melambaikan tangan, tetapi juga berjabat tangan sembari meneriakan, “Heiiii, Bro” ke beberapa orang yang berpapasan dengannya.
“Woyyy, Van!” seorang gadis berpawakan tinggi dan ramping mengejutkan Vanza. Dari bahasa tubuhnya tampak sekali dia seorang yang akrab dengan Vanza.
          Melepaskan pelukan, “Pagi-pagi sudah memelukku, kamu sengaja membuat hormonku tidak stabil?” goda Vanza.
          “Hormonmu memang selalu tidak stabil setiap berhadapan denganku.”
          Tawa dan decak dari bibir Vanza membuat gadis itu tersenyum lebar menunjukan deretan giginya yang putih. “Aku masih mengantuk karena tadi malam harus kerja keras untuk mengimbangimu.”
          “Ketika aku tidak merasa puas dengan yang kamu berikan, itukah yang kamu sebut kerja keras,” Vanza mendekati gadis itu, menyudutkannya hingga kedinding, “haruskah kita ulangi yang tadi malam?” bisik Vanza nyaris seperti desahan.
“Aaa, kali ini hormonku yang tidak stabil, kita bolos saja?” tanya gadis itu sambil mengalungkan lengannya dileher kokoh milik Vanza dan mengedipkan mata penuh arti.
Ok coll.” Vanza menyingkirkan lengan gadis itu dari lehernya, sebagai ganti Vanza mengadeng gadis itu.
Ada saatnya ketika seseorang terkejut dengan yang dilihat meskipun itu bukanlah sebuah kejutan. Tarikan napas berat menyesakkan dada tentu menjadi imbalan. Sedikit menyakitkan, tapi itu imbalan yang tidak dapat ditolak.
Keyko menghela napas berat melihat pemandangan yang ada di hadapannya, beberapa detik yang lalu dia rasa perutnya terasa mual. Kalau saja pemandangan itu tak lekas pergi dari hadapannya, mungkin isi perutnya telah memberontak keluar.
“Kerja keras?” Keyko berdecak, “membuatku mual saja.”
Pagi itu Keyko sangat antusias mengikuti perkuliahan. Beberapa buku tebal telah dia siapkan, buku catatan yang biasanya tidak pernah dia sediakan juga sudah siap di dalam tas. Sebelum dosennya datang, dia juga menyempatkan untuk membuka buku dan mencatat beberapa deretan kalimat.
Akan tetapi, setelah perkuliahan dimulai, dia hanya mampu menahan lima belas menit matanya untuk tetap terjaga. Setelah itu, matanya sudah tertutup rapat tanpa celah. Buku tebal yang tadi dibaca sekarang telah menjadi alas kepala. Keyko  tertidur pulas ketika rekan-rekannya hikmat mendengarkan khotbah dari dosen laki-laki berpawakan tinggi-besar itu.
“Tanada,” panggil Lizy yang duduk bersebelahan dengan Keyko, tapi hanya lenguhan yang terdengar. “Tanada…Tanada…Tanada bangun!”
“Nona Tanadaaa!!!” Kali ini suara itu benar-benar membuat mata terbuka.
Yes, Mr.” jawab Keyko tanggap.
“Ini kelas Etika Jurnalistik bukan kelas Etika Tidur di Kelas!” raung Mr. Billy.
I am so sorry, Mr.”
“Keluar!”
Tanpa menunggu perintah dua kali, Keyko langsung meraih tas dan meninggalkan ruang kelas. Wajahnya dan matanya sama-sama tertunduk lesu, tapi begitu di luar kelas wajah dan matanya berbinar riang. “Harusnya dia sudah mengusirku sejak tadi,” ucapnya dalam hati.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar