BAB I
Jiwa-jiwa Hampa
Mungkin ini kutukan
Bisa saja ini sandiwara
Aku benci itu
Dari tempatku berdiri, aku menatap awan
Menikmati setiap kenangan
Cinta mengubah air mata
Kudengarkan lagu untuk seorang pecundang
Lagu itu mengingatkanku kepada seseorang
Seseorang yang sering kulihat di cermin
Saat aku lupa liriknya
Melodinya selalu terngiang di kepalaku
Ada satu hal yang kurindukan
Menegakkan kepalaku menatap awan
Menyembuyikan air mata
Menyamarkan lara
Aku benci itu
Tidak memiliki keberanian
Bayangan dalam cermin itu menatapku
Mengintai setiap gerak yang kulakukan
Keberanian itu tidak pernah ada
Kebahagian hanya sebuah cerita semu
Omong kosong…keberanian
Mustahil…kebahagiaan
Mungkin ini kutukan
Bisa saja ini sandiwara
Aku benci itu
Embusan angin malam ini mulai merasuk dalam jiwa-jiwa yang
hampa, dinginnya dapat dirasakan hingga menembus ke dalam tulang-tulang,
membuat hati setiap insan lebih dingin dari bongkahan es. Desir angin terus
menjalar hingga tidak ada satu pun tempat untuk bersembunyi bagi jiwa-jiwa yang
penuh kehampaan. Burung hantu yang biasanya bernyayi riang di balik rimbunnya
daun-daun pohon pun ikut kehilangan suaranya. Angin malam telah membekukan
segalanya.
Malam semakin larut, tapi dewi malam juga belum menampakkan
kilauannya. Langit masih gelap tertutupi awan hitam yang sejak tadi masih asyik
menari-nari bersama angin. Kilatan-kilatan cahaya di langit menambah kesan
eksotis. Terlihat butiran-butiran air menetes dari sela-sela pucuk cemara.
Seorang
gadis tampak sedang berjalan menerobos dinginya malam, di bawah rintik hujan dia
terus menyusuri jalanan tanah yang sedikit terjal. Tubuhnya mulai menggigil,
tapi dia tetap berjalan. Wajahnya tertunduk lesu menyembunyikan bola matanya
yang penuh dengan genangan air. Rambutnya yang panjang, hitam, dan bergelombang
tergerai indah meski menutupi sebagian wajahnya.
Kakinya
yang mungil tanpa alas kaki, dipaksanya untuk terus melangkah. Meski rintik
hujan mulai berubah menjadi guyuran hujan, dia terus melangkah. Tanah yang
basah dan lembab menyisakan jejak-jejak mungil sebagai tanda bekas
keberadaannya. Tidak jelas arah tujuannya, gadis itu tetap melangkah.
Langkahnya
baru terhenti sejak menyadari ada sosok berjalan dari arah yang berlawanan dengannya.
Dengan sangat terpksa, dia menegakan kepala untuk melihat sosok yang sekarang
telah berdiri tepat di hadapannya.
Cukup
lama dia mengamati sosok yang ada di depan matanya, tidak ada kata yang
terucap, hanya saling pandang dengan tatapan kosong. “Malam yang indah.” Ucapnya
dengan suara parau penuh kesedihan.
“Ya,
malam yang indah dan penuh kehangatan.” Jawab sosok jangkung itu.
Dia
tersenyum tipis, kembali menundukan wajahnya, membiarkan air memenuhi pelupuk
matanya. Dengan desah napas yang berat, dia kembali melangkahkan kakinya
menjauhi sosok yang tidak jelas rupanya, terus berjalan semakin jauh meninggalkan
sosok itu.
***
Setiap
orang memiliki cara tersendiri untuk memaknai hidup. Tidak ada yang sama karena
manusia memang diciptakan dengan sifat yang berbeda-beda meskipun dengan wujud
yang sama.
“Hemzzz, satu
jam lagi, ya!” ucap Keyko mengakhiri percakapannya melalui telepon seluler,
lalu menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. ”Satu jam lagi pun aku
masih tetap tertidur.”
Hanya dentang
jam yang mengisi kesunyian di ruang kamar yang cukup luas itu.
Tidak ada gerakan, tubuh Keyko
masih terbujur di atas ranjang. Dengan selimut tebal berwarna hijau muda yang
menutupi seluruh tubuh, menimbulkan kesan tidak ada manusia yang hidup di kamar
itu.
Kamar itu hanya disekat menjadi tiga bagian saja. Bagian luar,
menghadap ke hutan pinus, sebagian berdinding kaca tebal transparan sehingga
dari dalam pun bisa melihat tupai yang berkejar-kejaran di antara hutan pinus
yang rindang. Di bagian dalam adalah bilik untuk tidur dan kamar mandi pribadi dengan
standar hotel bintang lima.
Kamar itu terlalu mewah untuk dikatakan sebagai sebuah kamar.
Di dalamnya ada rak buku berisi aneka judul buku bak seperti perpustakaan
pribadi. Ada meja kerja lengkap dengan komputer berlogo apel bertengger anggun.
Selain itu, ada televisi layar datar cukup besar, di seberangnya sofa berwarna
putih menambah kesan mewah, seolah kamar itu memiliki ruang tamu dan studio
film pribadi.
“Key, bangun!”
Tidak ada reaksi suara ataupun gerakan dari sosok yang
terbujur di atas tempat tidur. Sosok itu masih setia dengan posisinya. Namun,
perlahan Keyko dapat merasakan selimutnya mulai ditarik hingga tidak ada lagi yang
menutupi tubuh rampingnya. Sebuah kecupan di pipi, begitu hangat, baru saja dia
rasakan.
“Yukiiiiiii,” akhirnya Keyko mengeluarkan suara untuk
pertama kalinya.
“Aishiteru yo.” 1
“Watashi mo.” 2
Keyko membuka matanya dan duduk menatap adik laki-lakinya, Yuki, yang telah
duduk di sisinya mengenakan seragam putih abu-abu.
“Jangan pergi lagi!” ucap Yuki sembari memeluk erat tubuh Keyko.
Penuh kerinduan, seolah telah lama mereka tidak pernah berjumpa.
“Heyyy, kamu pikir ini drama. Hanashite!” 3
“Iyada!” 4
Yuki makin mengeratkan pelukannya.
“Hanashite!”
“Iyada!”
“Hanashite!”
“Janji, kamu tidak akan pergi meninggalkan ku lagi!”
Key tersenyum kecil, “Sinjite,
watashi wa mou ni dota Yuki o hanasanai. Zutto soba ni iru yo. Yuki ga iranai
to iu made zutto tsuite iku.” 5 (Percayalah, aku tidak pernah
meninggalkanmu lagi. Aku akan selalu berada di dekatmu. Terus mengikutimu
hingga kamu sendiri memintaku untuk berhenti)
Ada senyum terkembang di sudut bibir merah, Yuki.
“Makan, yuk!” ucapnya sembari melepaskan pelukannya. “Aku lapar, dari kemarin
sore belum makan.” Yuki masih saja merayu.
“Malas!” Keyko kembali menarik
selimutnya.
“Kamu tega membiarkan ku berdua
saja di meja makan dengan Orysa?”
“Ya. Aku rasa kalian kurang
akrab, akan jadi lebih baik jika kalian sering berdua di meja makan!” Jawab Keyko
dengan nada sedikit mengolok.
“Ayolah, aku tidak mungkin dapat
menelan menu makan pagiku dengan tenang, jika ada singa betina di seberang
tempat dudukku,” ekspresi penuh iba sedang ditampilkan oleh Yuki, “kamu harus
pergi ke kampus juga kan?”
“Jam sepuluh perkuliahan baru
dimulai! Lagi pula aku terlalu lama meninggalkan kamar mewahku, jadi kurasa,
aku membutuhkan waktu panjang untuk mengembalikan kenanganku di sini!”
“Ya, kamar ini seperti kamar mayat sejak kamu tinggalkan.
Mungkin hantu penghuni hutan pinus sudah pindah ke sini kalau aku tidak menanam
bawang di balkon.”
“Aisssttt, tidak ada hantu di tempat ini!” dengan terkejut, Keyko
bangkit.
“Heran, kenapa harus takut dengan hantu, bukankah orang
hidup justru lebih menakutkan?” Yuki tertawa kecil, “Coba lihat Orysa, bukankah
dia lebih menakutkan?” dia memberikan kecupan kecil di pipi kiri kakaknya
sebelum beranjak meninggalkan kamar bernuansa hijau itu.
Keyko sempat mendengar deru suara mabil sebelum kembali ke
dunia mimpinya. “Mungkin Yuki sudah pergi,” batinnya. Tidak berselang lama, ada
bunyi dari pintu kamarnya terbuka, sepertinya ada makhluk lain datang.
“Key, ada Vallen!” terdengar suara lembut seorang wanita
paruh baya.
“Mama! Kapan pulang?”
“Baru saja!”
Keyko tersenyum kecil. Tidak ada raut wajah yang terlihat
dari wanita paruh baya itu hingga pintu kamar kembali tertutup. Dengan tubuh
yang masih lemah, Keyko bangkit dari ranjangnya dan membuka jendela untuk
mendapatkan udara segar.
“Kapan kamu datang?” tanyanya pada Vallen sembari menikmati
udara yang membuai lembut wajahnya.
“Baru saja. Kebutulan waktu aku sampai, mamamu juga baru
sampai.” Vallen membaringkan dirinya di atas ranjang. “Mamamu dari mana? Aku
lihat dia datang dengan membawa koper besar andalannya. Seperti baru pulang dari
perjalanan jauh!”
“Ohhh, survei.”
“Pergi sendiri?”
Keyko hanya mengangguk kecil dan tersenyum kecil. “Sejak
papa meninggal, mama lebih suka pergi sendiri.”
“Wah, hebat. Wonder
woman!” Dengan sedikit terkejut, tiba-tiba Vallen bangkit dari tempat tidur
dan langsung berdiri di hadapan Keyko. “O, ya. Tadi malam kamu kabur ke mana?”
“Kabur? Siapa yang kabur?”
“Kamu! Kata Yuki, kamu sempat debat melawan Kak Orysa.
Setelah itu, tiba-tiba menghilang. Kasian Yuki. Dia panik. Beberapa kali
menelpon hanya untuk menanyakanmu. Sudah kukatakan aku tidak tahu, tapi masih
saja tidak percaya.”
“Ahhh, Yuki memang lebay. Aku hanya pergi keluar sebentar,
butuh yang hangat-hangat, jadi aku membeli mi ayam di tempat biasa.” Jawab Keyko
tenang.
“Hemmm, beli mi ayam hingga jam dua belas?” selidik Vallen.
“Aku melihat Yuki tertidur di ruang tamu, makanya dia tidak
sadar kalau aku sudah pulang.”
“Sungguh?”
“Ya.” Jawab Keyko meyakinkan. Sambil mengikat rambut
bergelombangnya, Keyko menuju kamar mandi.
“Key, ada komik baru?”
“Hemz, cari saja di tempat biasa!” Sahut Keyko dari dalam
kamar mandi.
Vallen mendengar gemericik bunyi air dari dalam kamar mandi.
Dia pun memutuskan mulai mencari komik di rak buku untuk dibaca sembari
menunggu sahabat yang sudah dikenalnya sedari kecil itu. Karena sudah sejak
kecil bersahat, Vallen tahu persis kebiasaan yang dilakukan oleh sahabatnya,
seperti butuh waktu lebih dari satu jam hanya untuk mandi.
“Aisttt, hime ini
memang menyebalkan. Semua yang dia inginkan dengan mudah bisa dimiliki.” Vallen
mengamati setiap detail isi ruangan kamar milik sahabatya. “Wah, rupanya dia
juga punya teleskop. Dasar orang kaya.”
Puas mengamati, Vallen mengambil komik dari salah satu rak
buku dan mulai membuka lembar demi lembar. Detik berikutnya, ruang itu kembali
sunyi, hanya sesekali terdengar bunyi halus dari gesekan kertas dan samar-samar
gemericik air.
“Vall, ayo kita berangkat!”
Vallen menutup buku yang ada dipangkuannya. “Aku kira kita akan
pergi ke kampus,” ucap Vallen dengan tatapan penuh tanda tanya ke arah Keyko
yang telah berdiri mematung di hadapannya.
“Memang kita akan ke kampus, ini hari pertamaku mengikuti
perkuliahan!”
“Penampilanmu seperti orang yang akan mengahadiri pesta.
Lihat saja hak sepatumu! Tidak ada perempuan yang mengenakan sepatu hak
setinggi itu di kampus. Aku rasa, kamu salah fashion.”
“Dari dulu aku memang suka mengenakan sepatu hak tinggi.”
“Hemmm, benar. Untuk menyamarkan tubuhmu yang pendek.”
“Heyyyyyy…” teriak Keyko.
“Ayo berangkat sebelum terlambat!” potong Vallen.
***
Numpang promo ya Admin^^
BalasHapusingin mendapatkan uang banyak dengan cara cepat
ayo segera bergabung dengan kami di ionpk.club ^_$
add Whatshapp : +85515373217 || ditunggu ya^^