Tanada Keyko Azhura, biasa disapa “Key”. Gadis berdarah
campuran, ibunya seorang pribumi asli dari Samarinda, ayahnya berasal dari
bangsa penjajah, Jepang. Dibandingkan dengan dua saudara kandungnya, Tanada Orysa
Lethycia dan Tanada Yuki, Keyko memiliki wajah paling oriental, mewarisi rupa
ayahnya. Dengan kulit putih khas wanita Jepang, mata sipit, ditambah kilau
hitam bola matanya, makin mengukuhkan bahwa dia seorang hime (putri) Jepang.
Menurutnya, hidupnya bak cerita drama di televisi, hanya fiktif
belaka, tidak nyata, hanya sandiwara. Sebagai salah satu pemeran dalam drama
tersebut, dia diberi peran sebagai seorang putri raja yang memiliki segalanya.
Saat senja berganti, dia berpikir akan ada peran lain yang
dimainkan. Namun, perannya masih saja tetap sama. Dia masih harus menjadi putri
raja. Seperti terjebak dengan peran yang dia mainkan, dia merasa bosan. Namun,
jika dipikir dalam-dalam, betapa beruntungnya dia, katanya. Banyak yang menginginkan
perannya, tapi tidak ada kesempatan.
Kegiatan yang paling disukainya adalah pergi ke sekolah.
Bukan karena dia orang yang peduli dengan pendidikan, tapi karena dia menemukan
tempat untuk bermain-main. Di sekolah dia bebas melakukan yang dia sukai. Dia
hanya butuh waktu sepuluh menit mendengar materi pelajaran, sisanya dia akan
tertidur di mejanya.
Hampir di setiap pelajaran dia tertidur. Tidak peduli
pelajaran matematika dan fisika yang
membutuhkan konsentrasi tinggi karena banyak rumus-rumus yang rumit, dia tetap
tertidur. Bahkan di laboratorium saat praktikum biologi atau kimia pun dia
sering tertidur. Hanya pelajaran olah raga yang membuat matanya terbuka.
Ada sepuluh tutor yang mengajarnya di rumah. Bahkan satu
tutor ada yang mengajar hingga empat kali dalam seminggu. Setiap hari ada tiga
tutor yang datang, satu tutor punya waktu dua jam untuk mengajarinya. Biasanya,
belajar dengan tutor pertama dimulai dari pukul 16.00 – 18.00, setelah itu dua
tutor lainnya akan mengajarinya dari pukul 19.00 – 23.00. Itu alasannya dia
tetap mendapat nilai sempurna meski sering tertidur saat di kelas.
Awalnya, dia menganggap itu sebagai penyiksaan. Namun,
karena sudah sejak kecil menjalaninya, dia menikmatinya. Dari kecil ayahnya
memang telah mempersiapkannya untuk menjadi seorang dokter sekaligus kepala
rumah sakit. Nantinya dialah yang menjadi penerus ayahnya.
Ayahnya seorang dokter spesialis jantung dan CEO di Tanada
Hospital, rumah sakit milik keluarga, telah beroperasi sejak tahun 2000. Sebuah
rumah sakit swasta, besar, dan mewah
bagi kalangan elite. Ibunya seorang dokter spesialis kulit, tapi lebih memilih
karier sebagai pengusaha bidang kecantikan. Tak heran jika ibunya menjadi CEO
di perusahan salon milik sendiri.
Delapan belas tahun dia rasa sudah cukup untuk menuruti
keinginan orang tuanya. Entah sejak kapan, dia sudah tidak menginginkan profesi
dokter. Mungkin sejak dia mendapat kado dari kakanya ketika ulang tahunnya yang
ke-15 atau ketika ayahnya meninggal satu tahun yang lalu. Untuk apa ayahnya menjadi
seorang dokter, jika tidak bisa menyembuhkan penyakitnya sendiri, pikirnya.
Tokyo, ketika
sakura mulai bermekaran, peristiwa itu terjadi. Dia sedang berjalan-jalan menikmati
udara hari pertama musim semi. Tiba-tiba ibu dan kakanya muncul di hadapannya
membongkar semua kebohonganya. Saat dia memilih jalannya sendiri, saat itulah
masalah-masalah itu dimulai. Namun, terlalu cepat kebohongannya terungkap.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar