BAB II
Singa Betina
Perkara mudah berdamai dengan
keadaan, yang sulit justru ketika manusia dituntut menikmati keadaan sedangkan
hati dan logika sama-sama berteriak tak menemukan kenikmatan.
“Jika aku menyukai sesuatu hal yang berlebihan, wajar saat
kehilangan, aku merasakan sakit yang berlebihan pula. Ini membuatku kesal karena
hatiku terus memikirkannya.”
“Jangan menahan dirimu karena masa lalu dan berhentilah
menyesali yang telah terjadi. Semua yang telah berlalu hanya menjadi sebuah
kenangan.”
”Ini benar-benar melukai harga diriku karena aku tidak bisa
mengendalikan kekecewaanku.”
“Kalau kamu masih belum bisa mengendalikan kekecewaanmu,
genggamlah tanganku,” Vallen mengulurkan tangannya, “aku akan selalu ada
untukmu.”
“Kenangan itu masih saja membuatku kecewa meski aku sudah
mulai menata masa depanku.” Keyko meraih tangan sahabatnya dan menggenggamnya
dengan erat, “Terima kasih masih tetap bersamaku.”
“Ya, karena hari ini, aku siap untuk menjadi ibu perimu.”
“Ayo masuk, aku ingin segera tahu tempatku meguras otak.”
“Aku rasa bukan hanya sekadar menguras otak, tapi juga
menguras mental. Ingat kamu satu-satunya mahasiswi yang tidak mengikuti Ospek.”
“Hemmm, aku rasa, aku akan cepat diidolai oleh senior
perempuan yang menjelma sebagai singa betina.”
“Hahahaha,” Vallen tertawa lepas, “maaf, untuk hal yang satu
itu, aku benar-benar tidak ingin menjadi ibu perimu.”
Meski bangunan itu cukup luas, tapi terlihat sepi penghuni.
Hanya terlihat beberapa mahasiswa yang sedang sibuk mengobrol sembari mengamati
foto-foto yang terpampang di papan mading. “Di lantai dasar ini khusus untuk
kantor. Ada bagian tata usaha, ruang pertemuan, ruang dosen, kantor Himpunan
Mahasiswa (Hima),” Vallen mulai menjelaskan, “intinya, kalau ada yang ingin
kamu urus mengenai kuliah, semuanya ada di sini.”
“Ok.”
Setelah naik ke lantai dua dan menyusuri dua koridor panjang,
akhirnya keduanya sampai di ruang kelas. Ruang kelas itu terlihat nyaman,
begitu masuk terlihat meja dan kursi tersusun rapi. Fasilitas penujang
perkulian, seperti LCD, pengeras suara, dan komputer juga ada. Selain itu,
ruang kelas itu juga dilengkapi dengan AC.
“Tidak terlalu buruk.” Batin Keyko.
“Di gedung ini ada delapan ruang kelas untuk kuliah. Semua
ruang kelas ada di lantai dua dan tiga. Umumnya lantai tiga hanya dihuni untuk
para senior semester tingkat akhir. Jadi, jangan berpikir berkunjung ke lantai
tiga, jika Anda masih menjadi junior, apalagi junior yang tidak mengikuti Ospek.”
“Ok.”
“Dilantai paling atas, lantai empat, ada laboratorium
komputer, mushola, dan perpustakaan. Aku sarankan, kalau ingin ke lantai empat,
lebih baik kamu ke perpustakaan saja. Laboratorium komputer adalah tempat
favorit urutan ke dua sebagai tempat para senior berkumpul, sedangkan mushola
tempat favorit para calon penghuni surga berkumpul aku rasa kamu tidak ada
dalam daftar itu.”
“Daftar apa?”
“Daftar calon penghuni surga.”
Keyko mendengus dengan kesal, seperti ada asap mengepul
keluar dari hidung dan telinganya. “Urutan pertama di mana?”
“Di kantinlah! Jangan berpikir pergi ke kantin. Kalau kamu
ingin selamat dari singa betina, paling tidak selama dua semester, kamu tidak berkunjung ke kantin.”
“Kenapa?”
“Karena kamu tidak mengikuti Ospek!”
“Ahhh, itu lagi. Seolah ada segerombolan singa yang siap
menerkamku hanya karena tidak mengikuti Ospek.” Jawab Keyko dengan sinis sambil
melempar tasnya di meja yang paling dekat dengan jendela.
“Path of life!” Vallen
berjalan menuju pintu, “Aku rasa, kamu juga akan lebih menyukai ruang
perpustakaan. Ada banyak koleksi buku dari dalam dan luar negeri. Selain itu,
ruangannya nyaman, dan tidak banyak yang datang ke sana karena rata-rata
mahasiswa lebih menyukai perputakaan yang ada di gedung utama.”
Setengah hati Keyko tersenyum, “Hemmm, aku mengerti.”
Dengan sedikit keraguan, Vallen meninggalkan Keyko yang
masih tampak kesal. “Aku pergi, Key.”
“Ya. Nanti aku akan menemuimu.”
“Kampusku di gedung utama. Lumayan jauh dari sini. Kalau
kamu jalan kaki, butuh waktu sekitar lima belas sampai dua puluh menit.”
Keyko hanya mengangguk sebagai tanda bahwa dia telah paham
dengan penjelasan sahabatnya, Vallen. Kemudian dia menarik kursi untuk duduk
sebelum melambaikan tangan kepada Vallen yang siap meninggalkannya sendirian di
ruang itu.
Keyko menatap ke luar jendela, dia melihat danau yang cukup
luas di bagian belakang gedung, “Wahhh, ada danau di sini,” batin Keyko, “cukup
indah, tapi penuh dengan pasangan kekasih, memuakan.”
Keyko mengambil kamera dari dalam tas hitamnya. Dia mulai
menekan tombol ‘On’ kemudian mulai membidik beberapa objek untuk diabadikan
dengan kamera kesayangannya. Danau yang baru dilihatnya pun tidak luput dari
bidikannya.
Ketika Keyko sibuk dengan kameranya, tiba-tiba dia mendengar
langkah kaki yang semakin dekat dengan ruang kelasnya. Tidak lama, terlihat dua
laki-laki berdiri di depan pintu ruang kelas, yang satu mengenakan kemeja
berwarna hitam, yang satunya lagi mengenakan kemeja berwarna abu-abu. Kedua
laki-laki tersebut sempat menatap ke arah Keyko dengan penuh rasa penasaran.
“Wow, anak baru!” Ucap laki-laki yang mengenakan kemeja hitam.
“Singa jantan hitam dan abu-abu, benar-benar kelam dan suram!”
batin Keyko tidak acuh. Lalu dia mengambil earphone
dari dalam tasnya, mendengarkan musik, dan mulai sibuk kembali dengan
kameranya.
Meski tidak memandang ke arah laki-laki itu, Keyko dapat
memastikan sekarang mereka telah duduk tepat di belakangnya. Mereka seperti sedang
membicarakan sesuatu. Namun, karena Keyko mendengarkan musik dengan volume
terlalu tinggi, dia tidak mendengar yang sedang dibicarakan oleh kedua
laki-laki itu.
Satu per satu mahasiswa mulai datang. Mereka selalu menatap
kaget ke arah Keyko. “Haiii.” Sapa Keyko kepada setiap mahasiswa yang baru
datang.
“Wahhh, yang baru datang disapa. Kita dari tadi duduk di
belakangnya, jangankan disapa, dilihat pun tidak.”
“Mungkin kita seperti hantu, makanya tidak terdeteksi dengan
penglihatan.”
“Wohooo, bingo. Hantu sexy, jadi jangan harap bisa
mendeteksi kita, jika Anda tidak sexy!”
Keyko yang mendengar pembicaraan itu langsung kesal. Sangat
keras mereka berbicara, seolah memang sengaja dilakukan agar dia mendengar yang
sedang mereka bicarakan. Lalu Keyko memutar kepalanya untuk menatap mereka.
Saat berputar Keyko sengaja mengibaskan rambutnya dengan kencang. Bisa dipastikan
salah satu wajah mereka pasti terkena
kibasan rambutnya.
“Haiii,” sapa Keyko
dengan senyuman dan nada suara yang sangat dibuat-buat. “Key,” ucap Keyko
sambil melambaikan tangannya, “you?”
“Sastra Riyandi, biasa disapa Sastra.” Jawab laki-laki yang
mengenakan kemeja hitam setelah sempat terdiam sekian detik.
“You?” tanya Keyko
kepada laki-laki yang mengenakan kemeja abu-abu. Namun, tidak ada jawaban yang
keluar dari bibir merahnya, laki-laki itu tetap diam menatap Keyko sekejap lalu
kembali sibuk dengan kameranya.
“You?” Keyko
kembali bertanya, dan tetap tidak ada jawaban yang terdengar.
“Hai, kamu!” Tiba-tiba Keyko merasakan ada yang menarik
pundaknya. Tiga perempuan berdiri di hadapannya. Dari caranya menatap, Keyko
yakin bahwa mereka adalah kawanan singa betina.
“Akhirnya datang juga. Haiii, Singa Betina.” Ucap Keyko di
dalam hati.
“Tanada Keyko Azhura?”
“A watashi? Tanada nanika tetsudau koto aru no, senpai.” Jawab
Keyko dengan khas gaya bicara orang Jepang.
Dari reaksi wajah yang ditunjukan oleh para seniornya, Keyko
yakin ada keterkejutan. “Do you speaking English?“
“No!”
“Bisa bahasa Indonesia?”
“Ha, kuso yarau Indonesia go wakaranakattara koko ni
benkkyoushinai yo.”
Tiga senior itu pun lebih terkejut. Cukup lama ketiganya
hanya memandang dengan penuh kebingungan. Seolah mereka menemukan jalan buntu
untuk berkomunikasi.
Salah satu dari mereka mengeluarkan beberapa ikat rambut
warna-warni dari dalam tas. “Pakai ini sebagai hukuman!” Mereka mengucapkannya
dengan diiringi bahasa tubuh.
Dengan santai, Keyko mengambil satu per satu ikat rambut dan
mulai mengikat rambutnya. Semua mata yang ada di ruang kelas memandang ke arahnya.
Namun, dia seolah tidak memedulikan pandangan mata-mata tersebut.
“Mungkinkah dia paham maksud kita?”
“Aku rasa paham.”
“Tapi dari tadi dia sama sekali tidak menggunakan bahasa
Indonesia. Kalau dilihat dari wajahnya memang bukan orang Indonesia.”
“Wakaruyo! Wakaranakattara omae o iwareta koto o shinai yo!”
Jawab Keyko santai sambil terus mengikat rambutnya.
“ Tanishii na. Senpai o ijimeruno wa.” Ucap Sastra.
Kalimat itu tentu saja membuat Keyko terkejut. Dia tidak
menyangka, ada yang mengerti dengan yang dia katakan.
“Selamat pagi.” Terdengar ada yang baru datang.
“Wah, Miss. Killer
datang. Ayo keluar. Ingat jangan dilepas.”
Jika awalnya Keyko berpikir senior akan menjadi hal yang
paling menakutkan untuk ditakuti di tempat ini, maka hari ini juga dia mengubah
pikirannya. Melihat sosok tinggi dan ramping yang ada di depan kelas membuat
tubuhnya bergetar hebat. Jika sekarang berdiri, mungkin kakinya tidak sanggup
menopang tubuhnya.
Sastra menepuk pundak Keyko, “Tashilaai osoroshii onna.”
“Hemmm, aku tahu.”
Hampir dua jam lebih Keyko mengikuti perkuliahan. Dalam
sejarah hidupnya, hari ini untuk yang pertama kali dia tidak tertidur saat
belajar, tetapi dia pun tidak dapat menyerap materi pelajaran. Biasanya,
mulutnya tidak akan pernah berhenti untuk bertanya ataupun menanggapi materi yang
sedang disampaikan, jika sedang tidak tertidur di kelas. Akan tetapi, hari ini
dia benar-benar hanya terdiam hingga jam perkuliahan selesai. Bukan karena
menikmati materi pelajaran, tapi dia syok dengan dosen perempuan yang ada di
depan pandangannnya.
“Orysa. Dari sekian banyak universitas ternama, kenapa aku
harus bertemu dengannya di sini? Dari sekian banyak program jurusan, kenapa dia
harus mengajar di sini? Dari sekian banyak dosen, kenapa harus dia yang menjadi
dosenku?” Keluh Keyko dalam hatinya, “ini benar-benar membuatku gila. Aku tidak
hanya menemukan singa betina di kelas ini, bahkan aku menemukan ratu singa di
sini.”
“Ok. Saya rasa pertemuan kita sudah cukup untuk hari ini.” Orysa
mengakhiri materi perkuliahannya, “Silakan menikmati liburan, selagi Anda
bisa.”
“Kamu dengar, Bang? Dia mengatakan agar kita menikmati
liburan.”
“Ya, aku mendengarnya,” Sastra menghela napas panjang,”dia
menyuruh kita untuk menikmati liburan setelah apa yang dilakukannya? Bahkan dia
memberi kita nilai E hanya karena melakukan
satu kali libur dari jadwal perkuliahannya!”
“Ya, aku pikir kamu menikmatinya, Bang. Dengan mendapatkan
nilai E, kamu memiliki alasan untuk bergabung dengan para mahasiswa baru.”
“Bukan bergabung, tapi menggoda.” Sastra mengedipkan sebelah
matanya, “aku pergi, sampai bertemu lagi.”
“Emmm, nanti aku akan datang ke tempat kerjamu, Bang.”
Detik selanjutnya hanya jejak Sastra yang tertinggal di
ruang sunyi yang mulai ditinggalkan oleh penghuninya itu.
***
Terkadang dunia ini terlalu bising untuk ditinggali, terlalu
banyak suara yang bisa membuat gendang telinga nyaris meledak. Saat itu
terjadi, sebagian manusia akan berlari, lalu bersembunyi di dalam kamarnya dan
menutup telinganya rapat-rapat. Manusia seperti itulah yang sering dianggap
sebagai seorang pecundang yang tidak berani menatap dunia. Namun, salahkah
mereka? Salahkah jika mereka hanya mau mendengarkan yang mampu mereka dengar?
Keyko masih duduk termenung di tempatnya. Entah sudah berapa
lama dia membisu di tempat itu. Pandangan terfokus menatap rintik hujan yang
membasahi bumi. Tidak mau kalah, bola matanya pun kini mulai terlapisi air yang
siap membasahi dunianya. Seperti sebuah pepatah, dia merasakan kesunyian di
tengah keramaian.
Dirapikannya buku-buku yang sejak tadi masih berhamburan di
hadapannya. Ditumpuk, lalu semuanya dipaksa masuk ke dalam tas berwarna hijau
miliknya.
“Awww,” sontak Keyko menjerit, “aishhh, sakit!” Tubuh mungil
Keyko tersungkur kelantai saat berdiri. Rupanya tanpa sengaja meja yang tepat berada
dibelakangnya digeser oleh seseorang dan mengenai pinggulnya, itulah yang
menyebabkan dia tersungkur.
Segera Keyko berdiri sembari memegang sikunya yang berdarah.
Sebenarnya tidak banyak darah yang keluar, tapi Keyko merasa luka di tangannya
itu benar-benar menyakitkan untuknya.
Dilihatnya pelaku yang menyebabkan rasa sakit itu timbul,
lalu dengan kesal dilemparkan tasnya tepat mengenai tubuh pelaku. “Aishhh,
sial. Liat tanganku berdarah! Benar-benar sial!”
Si pelaku hanya berdiri menatap Keyko yang matanya telah
mengeluarkan buliran air. Melihat pelaku yang hanya diam tanpa mengeluarkan
sepatah kata dan tidak menunjukan tidakan apa pun membuat Keyko semakin merasa
sakit.
“Heyyy, lihat!” Keyko menyorongkn sikunya yang berdarah,
“Lihat, ini sakit. Sakit. Ini benar-benar sakit!” buliran air mata kini semakin
deras mengalir tanpa mampu terbendung lagi.
Si pelaku masih saja bersikap sama, berdiri, menatap, tanpa
sepatah kata terlontar dari bibirnya meski sudah sangat jelas dia melihat Keyko
menangis tersengal-sengal tepat di depan matanya. Sikapnya benar-benar dingin.
Ditinggalkannya Keyko dengan tangis yang semakin menjadi,
tetap tanpa sepatah kata pun. Keyko menatap penuh amarah, tapi dia sendiri juga
sudah tidak mampu untuk mengeluarkan kata-kata. Keyko hanya bisa terus mengutuk
dalam hati sambil menatap pelaku yang mulai menjauh darinya.
Semburat lembayung senja menambah kesunyian, tidak terdengar
lagi gemuruh hujan, sebagai gantinya sayup-sayup terdengar suara jangkrik.
Meski mendung hitam telah pergi, namun langit masih sedikit gelap.
Keyko membuka mata, menguap sambil membelai wajahnya. Mata
dan kepalanya terasa nyeri, tetapi anehnya dia tidak menangis. Padahal nyeri
kali ini lebih sakit jika dibandingkan sikunya yang berdarah karena tersungkur
di lantai.
Mungkin karena lelah menangis, tanpa sadar Keyko tertidur.
Diliriknya jam tangan yang melingkar di tangan kirinya, 18.55 Wita. “Wahhh,
ketiduran!” Dilihatnya ke samping kiri dan kanan tidak ada seorang pun di
ruangan itu selain dirinya. Dengan cepat dia merapikan wajah dan rambutnya,
meraih tasnya, dan bergegas pergi.
Dengan kesadaran yang belum utuh, dilangkahkan kakinya
menyusuri lorong-lorong dan menuruni anak tangga. “Aishhh, benar-benar sepi.
Kampus macam apa ini, baru jam tujuh sudah tidak ada penghuni.” Gerutu Keyko.
Tidak ada seorang pun yang dia temui.
Keyko merogoh tasnya, seperti ada benda penting yang ingin dia
cari. Tak lama, ponsel berwarna hijau telah ada dalam genggamannya diiringi
dengan senyum tipis di sudut bibirnya. “Aishhh, mati!”
Keyko melanjutkan langkahnya, ingin rasanya dia segera
sampai di rumah, berendam dengan air hangat dengan aroma buah-buahan. Aroma
buah-buahan yang alami mungkin akan cepet mengembalikan pikirannya yang sedang
tidak stabil. Namun, langkah kakinya justru berlawanan arah dengan jalan
pulang.
Sejak pertama datang Keyko memang tampak tergoda dengan
danau yang terletak di belakang gedung kampusnya. Kalau bukan karena mahasiswa
baru yang tidak mengikuti kegiatan Ospek, dia ingin pergi ke danau itu.
Keyko duduk di pinggir danau, dilepaskannya sepatu hak
tinggi yang melekat di kakinya. Dibiarkannya air danau membasahi kakinya, meski
dingin merambat, tetapi kesegaran yang justru dia rasakan. Diraihnya kemera
dari dalam tasnya, dilihatnya kembali gambar-gambar hasil bidikannya sambil
sesekali menggoyang-goyangkan kakinya.
Waktu telah menujukan pukul 20.15 Wita, bergegas Keyko
meninggalkan danau. Ditemani dingin angin malam dan rintik hujan, langkah
kakinya mulai menyusuri jalanan gelap itu. Dengan sedikit gotai, dia paksakan
tubuhnya untuk terus melangkah meski rintik hujan telah berubah menjadi guyuran
hujan.
“Malam yang indah!” Ucap Keyko kepada seseorang yang
berpapasan dengannya.
“Hemmmm, malam yang indah.”
***
Depo 20ribu bisa menang puluhan juta rupiah
BalasHapusmampir di website ternama I O N Q Q
paling diminati di Indonesia,
di sini kami menyediakan 9 permainan dalam 1 aplikasi
~bandar poker
~bandar-Q
~domino99
~poker
~bandar66
~sakong
~aduQ
~capsa susun
~perang baccarat (new game)
segera daftar dan bergabung bersama kami.Smile
Whatshapp : +85515373217