Musik

Rabu, 21 November 2018

Key: (Im)mature (Bagian II)


BAB II
Singa Betina

Perkara mudah berdamai dengan keadaan, yang sulit justru ketika manusia dituntut menikmati keadaan sedangkan hati dan logika sama-sama berteriak tak menemukan kenikmatan.
“Jika aku menyukai sesuatu hal yang berlebihan, wajar saat kehilangan, aku merasakan sakit yang berlebihan pula. Ini membuatku kesal karena hatiku terus memikirkannya.”
“Jangan menahan dirimu karena masa lalu dan berhentilah menyesali yang telah terjadi. Semua yang telah berlalu hanya menjadi sebuah kenangan.”
”Ini benar-benar melukai harga diriku karena aku tidak bisa mengendalikan kekecewaanku.”

“Kalau kamu masih belum bisa mengendalikan kekecewaanmu, genggamlah tanganku,” Vallen mengulurkan tangannya, “aku akan selalu ada untukmu.”
“Kenangan itu masih saja membuatku kecewa meski aku sudah mulai menata masa depanku.” Keyko meraih tangan sahabatnya dan menggenggamnya dengan erat, “Terima kasih masih tetap bersamaku.”
“Ya, karena hari ini, aku siap untuk menjadi ibu perimu.”
“Ayo masuk, aku ingin segera tahu tempatku meguras otak.”
“Aku rasa bukan hanya sekadar menguras otak, tapi juga menguras mental. Ingat kamu satu-satunya mahasiswi yang tidak mengikuti Ospek.”
“Hemmm, aku rasa, aku akan cepat diidolai oleh senior perempuan yang menjelma sebagai singa betina.”
“Hahahaha,” Vallen tertawa lepas, “maaf, untuk hal yang satu itu, aku benar-benar tidak ingin menjadi ibu perimu.”
Meski bangunan itu cukup luas, tapi terlihat sepi penghuni. Hanya terlihat beberapa mahasiswa yang sedang sibuk mengobrol sembari mengamati foto-foto yang terpampang di papan mading. “Di lantai dasar ini khusus untuk kantor. Ada bagian tata usaha, ruang pertemuan, ruang dosen, kantor Himpunan Mahasiswa (Hima),” Vallen mulai menjelaskan, “intinya, kalau ada yang ingin kamu urus mengenai kuliah, semuanya ada di sini.”
“Ok.”
Setelah naik ke lantai dua dan menyusuri dua koridor panjang, akhirnya keduanya sampai di ruang kelas. Ruang kelas itu terlihat nyaman, begitu masuk terlihat meja dan kursi tersusun rapi. Fasilitas penujang perkulian, seperti LCD, pengeras suara, dan komputer juga ada. Selain itu, ruang kelas itu juga dilengkapi dengan AC.
“Tidak terlalu buruk.” Batin Keyko.
“Di gedung ini ada delapan ruang kelas untuk kuliah. Semua ruang kelas ada di lantai dua dan tiga. Umumnya lantai tiga hanya dihuni untuk para senior semester tingkat akhir. Jadi, jangan berpikir berkunjung ke lantai tiga, jika Anda masih menjadi junior, apalagi junior yang tidak mengikuti Ospek.”
“Ok.”
“Dilantai paling atas, lantai empat, ada laboratorium komputer, mushola, dan perpustakaan. Aku sarankan, kalau ingin ke lantai empat, lebih baik kamu ke perpustakaan saja. Laboratorium komputer adalah tempat favorit urutan ke dua sebagai tempat para senior berkumpul, sedangkan mushola tempat favorit para calon penghuni surga berkumpul aku rasa kamu tidak ada dalam daftar itu.”
“Daftar apa?”
“Daftar calon penghuni surga.”
Keyko mendengus dengan kesal, seperti ada asap mengepul keluar dari hidung dan telinganya. “Urutan pertama di mana?”
“Di kantinlah! Jangan berpikir pergi ke kantin. Kalau kamu ingin selamat dari singa betina, paling tidak selama dua semester,  kamu tidak berkunjung ke kantin.”
“Kenapa?”
“Karena kamu tidak mengikuti Ospek!”
“Ahhh, itu lagi. Seolah ada segerombolan singa yang siap menerkamku hanya karena tidak mengikuti Ospek.” Jawab Keyko dengan sinis sambil melempar tasnya di meja yang paling dekat dengan jendela.
Path of life!” Vallen berjalan menuju pintu, “Aku rasa, kamu juga akan lebih menyukai ruang perpustakaan. Ada banyak koleksi buku dari dalam dan luar negeri. Selain itu, ruangannya nyaman, dan tidak banyak yang datang ke sana karena rata-rata mahasiswa lebih menyukai perputakaan yang ada di gedung utama.”
Setengah hati Keyko tersenyum, “Hemmm, aku mengerti.”
Dengan sedikit keraguan, Vallen meninggalkan Keyko yang masih tampak kesal. “Aku pergi, Key.”
“Ya. Nanti aku akan menemuimu.”
“Kampusku di gedung utama. Lumayan jauh dari sini. Kalau kamu jalan kaki, butuh waktu sekitar lima belas sampai dua puluh menit.”
Keyko hanya mengangguk sebagai tanda bahwa dia telah paham dengan penjelasan sahabatnya, Vallen. Kemudian dia menarik kursi untuk duduk sebelum melambaikan tangan kepada Vallen yang siap meninggalkannya sendirian di ruang itu.
Keyko menatap ke luar jendela, dia melihat danau yang cukup luas di bagian belakang gedung, “Wahhh, ada danau di sini,” batin Keyko, “cukup indah, tapi penuh dengan pasangan kekasih, memuakan.”
Keyko mengambil kamera dari dalam tas hitamnya. Dia mulai menekan tombol ‘On’ kemudian mulai membidik beberapa objek untuk diabadikan dengan kamera kesayangannya. Danau yang baru dilihatnya pun tidak luput dari bidikannya.
Ketika Keyko sibuk dengan kameranya, tiba-tiba dia mendengar langkah kaki yang semakin dekat dengan ruang kelasnya. Tidak lama, terlihat dua laki-laki berdiri di depan pintu ruang kelas, yang satu mengenakan kemeja berwarna hitam, yang satunya lagi mengenakan kemeja berwarna abu-abu. Kedua laki-laki tersebut sempat menatap ke arah Keyko dengan penuh rasa penasaran.
“Wow, anak baru!” Ucap laki-laki yang mengenakan  kemeja hitam.
“Singa jantan hitam dan abu-abu, benar-benar kelam dan suram!” batin Keyko tidak acuh. Lalu dia mengambil earphone dari dalam tasnya, mendengarkan musik, dan mulai sibuk kembali dengan kameranya.
Meski tidak memandang ke arah laki-laki itu, Keyko dapat memastikan sekarang mereka telah duduk tepat di belakangnya. Mereka seperti sedang membicarakan sesuatu. Namun, karena Keyko mendengarkan musik dengan volume terlalu tinggi, dia tidak mendengar yang sedang dibicarakan oleh kedua laki-laki itu.
Satu per satu mahasiswa mulai datang. Mereka selalu menatap kaget ke arah Keyko. “Haiii.” Sapa Keyko kepada setiap mahasiswa yang baru datang.
“Wahhh, yang baru datang disapa. Kita dari tadi duduk di belakangnya, jangankan disapa, dilihat pun tidak.”
“Mungkin kita seperti hantu, makanya tidak terdeteksi dengan penglihatan.”
“Wohooo, bingo. Hantu sexy, jadi jangan harap bisa mendeteksi kita, jika Anda tidak sexy!”
Keyko yang mendengar pembicaraan itu langsung kesal. Sangat keras mereka berbicara, seolah memang sengaja dilakukan agar dia mendengar yang sedang mereka bicarakan. Lalu Keyko memutar kepalanya untuk menatap mereka. Saat berputar Keyko sengaja mengibaskan rambutnya dengan kencang. Bisa dipastikan  salah satu wajah mereka pasti terkena kibasan rambutnya.
 “Haiii,” sapa Keyko dengan senyuman dan nada suara yang sangat dibuat-buat. “Key,” ucap Keyko sambil melambaikan tangannya, “you?
“Sastra Riyandi, biasa disapa Sastra.” Jawab laki-laki yang mengenakan kemeja hitam setelah sempat terdiam sekian detik.
You?” tanya Keyko kepada laki-laki yang mengenakan kemeja abu-abu. Namun, tidak ada jawaban yang keluar dari bibir merahnya, laki-laki itu tetap diam menatap Keyko sekejap lalu kembali sibuk dengan kameranya.
You?” Keyko kembali bertanya, dan tetap tidak ada jawaban yang terdengar.
“Hai, kamu!” Tiba-tiba Keyko merasakan ada yang menarik pundaknya. Tiga perempuan berdiri di hadapannya. Dari caranya menatap, Keyko yakin bahwa mereka adalah kawanan singa betina.
“Akhirnya datang juga. Haiii, Singa Betina.” Ucap Keyko di dalam hati.
“Tanada Keyko Azhura?”
“A watashi? Tanada nanika tetsudau koto aru no, senpai.” Jawab Keyko dengan khas gaya bicara orang Jepang.
Dari reaksi wajah yang ditunjukan oleh para seniornya, Keyko yakin ada keterkejutan. “Do you speaking English?“
No!”
“Bisa bahasa Indonesia?”
“Ha, kuso yarau Indonesia go wakaranakattara koko ni benkkyoushinai yo.”
Tiga senior itu pun lebih terkejut. Cukup lama ketiganya hanya memandang dengan penuh kebingungan. Seolah mereka menemukan jalan buntu untuk berkomunikasi.
Salah satu dari mereka mengeluarkan beberapa ikat rambut warna-warni dari dalam tas. “Pakai ini sebagai hukuman!” Mereka mengucapkannya dengan diiringi bahasa tubuh.
Dengan santai, Keyko mengambil satu per satu ikat rambut dan mulai mengikat rambutnya. Semua mata yang ada di ruang kelas memandang ke arahnya. Namun, dia seolah tidak memedulikan pandangan mata-mata tersebut.
“Mungkinkah dia paham maksud kita?”
“Aku rasa paham.”
“Tapi dari tadi dia sama sekali tidak menggunakan bahasa Indonesia. Kalau dilihat dari wajahnya memang bukan orang Indonesia.”
“Wakaruyo! Wakaranakattara omae o iwareta koto o shinai yo!” Jawab Keyko santai sambil terus mengikat rambutnya.
“ Tanishii na. Senpai o ijimeruno wa.” Ucap Sastra.
Kalimat itu tentu saja membuat Keyko terkejut. Dia tidak menyangka, ada yang mengerti dengan yang dia katakan.
“Selamat pagi.” Terdengar ada yang baru datang.
“Wah, Miss. Killer datang. Ayo keluar. Ingat jangan dilepas.”
Jika awalnya Keyko berpikir senior akan menjadi hal yang paling menakutkan untuk ditakuti di tempat ini, maka hari ini juga dia mengubah pikirannya. Melihat sosok tinggi dan ramping yang ada di depan kelas membuat tubuhnya bergetar hebat. Jika sekarang berdiri, mungkin kakinya tidak sanggup menopang tubuhnya.
Sastra menepuk pundak Keyko, “Tashilaai osoroshii onna.”
“Hemmm, aku tahu.”
Hampir dua jam lebih Keyko mengikuti perkuliahan. Dalam sejarah hidupnya, hari ini untuk yang pertama kali dia tidak tertidur saat belajar, tetapi dia pun tidak dapat menyerap materi pelajaran. Biasanya, mulutnya tidak akan pernah berhenti untuk bertanya ataupun menanggapi materi yang sedang disampaikan, jika sedang tidak tertidur di kelas. Akan tetapi, hari ini dia benar-benar hanya terdiam hingga jam perkuliahan selesai. Bukan karena menikmati materi pelajaran, tapi dia syok dengan dosen perempuan yang ada di depan pandangannnya.
“Orysa. Dari sekian banyak universitas ternama, kenapa aku harus bertemu dengannya di sini? Dari sekian banyak program jurusan, kenapa dia harus mengajar di sini? Dari sekian banyak dosen, kenapa harus dia yang menjadi dosenku?” Keluh Keyko dalam hatinya, “ini benar-benar membuatku gila. Aku tidak hanya menemukan singa betina di kelas ini, bahkan aku menemukan ratu singa di sini.”
“Ok. Saya rasa pertemuan kita sudah cukup untuk hari ini.” Orysa mengakhiri materi perkuliahannya, “Silakan menikmati liburan, selagi Anda bisa.”
“Kamu dengar, Bang? Dia mengatakan agar kita menikmati liburan.”
“Ya, aku mendengarnya,” Sastra menghela napas panjang,”dia menyuruh kita untuk menikmati liburan setelah apa yang dilakukannya? Bahkan dia memberi kita nilai E hanya karena  melakukan satu kali libur dari jadwal perkuliahannya!”
“Ya, aku pikir kamu menikmatinya, Bang. Dengan mendapatkan nilai E, kamu memiliki alasan untuk bergabung dengan para mahasiswa baru.”
“Bukan bergabung, tapi menggoda.” Sastra mengedipkan sebelah matanya, “aku pergi, sampai bertemu lagi.”
“Emmm, nanti aku akan datang ke tempat kerjamu, Bang.”
Detik selanjutnya hanya jejak Sastra yang tertinggal di ruang sunyi yang mulai ditinggalkan oleh penghuninya itu.
***
Terkadang dunia ini terlalu bising untuk ditinggali, terlalu banyak suara yang bisa membuat gendang telinga nyaris meledak. Saat itu terjadi, sebagian manusia akan berlari, lalu bersembunyi di dalam kamarnya dan menutup telinganya rapat-rapat. Manusia seperti itulah yang sering dianggap sebagai seorang pecundang yang tidak berani menatap dunia. Namun, salahkah mereka? Salahkah jika mereka hanya mau mendengarkan yang mampu mereka dengar?
Keyko masih duduk termenung di tempatnya. Entah sudah berapa lama dia membisu di tempat itu. Pandangan terfokus menatap rintik hujan yang membasahi bumi. Tidak mau kalah, bola matanya pun kini mulai terlapisi air yang siap membasahi dunianya. Seperti sebuah pepatah, dia merasakan kesunyian di tengah keramaian.
Dirapikannya buku-buku yang sejak tadi masih berhamburan di hadapannya. Ditumpuk, lalu semuanya dipaksa masuk ke dalam tas berwarna hijau miliknya.
“Awww,” sontak Keyko menjerit, “aishhh, sakit!” Tubuh mungil Keyko tersungkur kelantai saat berdiri. Rupanya tanpa sengaja meja yang tepat berada dibelakangnya digeser oleh seseorang dan mengenai pinggulnya, itulah yang menyebabkan dia tersungkur.
Segera Keyko berdiri sembari memegang sikunya yang berdarah. Sebenarnya tidak banyak darah yang keluar, tapi Keyko merasa luka di tangannya itu benar-benar menyakitkan untuknya.
Dilihatnya pelaku yang menyebabkan rasa sakit itu timbul, lalu dengan kesal dilemparkan tasnya tepat mengenai tubuh pelaku. “Aishhh, sial. Liat tanganku berdarah! Benar-benar sial!”
Si pelaku hanya berdiri menatap Keyko yang matanya telah mengeluarkan buliran air. Melihat pelaku yang hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah kata dan tidak menunjukan tidakan apa pun membuat Keyko semakin merasa sakit.
“Heyyy, lihat!” Keyko menyorongkn sikunya yang berdarah, “Lihat, ini sakit. Sakit. Ini benar-benar sakit!” buliran air mata kini semakin deras mengalir tanpa mampu terbendung lagi.
Si pelaku masih saja bersikap sama, berdiri, menatap, tanpa sepatah kata terlontar dari bibirnya meski sudah sangat jelas dia melihat Keyko menangis tersengal-sengal tepat di depan matanya. Sikapnya benar-benar dingin.
Ditinggalkannya Keyko dengan tangis yang semakin menjadi, tetap tanpa sepatah kata pun. Keyko menatap penuh amarah, tapi dia sendiri juga sudah tidak mampu untuk mengeluarkan kata-kata. Keyko hanya bisa terus mengutuk dalam hati sambil menatap pelaku yang mulai menjauh darinya.
Semburat lembayung senja menambah kesunyian, tidak terdengar lagi gemuruh hujan, sebagai gantinya sayup-sayup terdengar suara jangkrik. Meski mendung hitam telah pergi, namun langit masih sedikit gelap.
Keyko membuka mata, menguap sambil membelai wajahnya. Mata dan kepalanya terasa nyeri, tetapi anehnya dia tidak menangis. Padahal nyeri kali ini lebih sakit jika dibandingkan sikunya yang berdarah karena tersungkur di lantai.
Mungkin karena lelah menangis, tanpa sadar Keyko tertidur. Diliriknya jam tangan yang melingkar di tangan kirinya, 18.55 Wita. “Wahhh, ketiduran!” Dilihatnya ke samping kiri dan kanan tidak ada seorang pun di ruangan itu selain dirinya. Dengan cepat dia merapikan wajah dan rambutnya, meraih tasnya, dan bergegas pergi.
Dengan kesadaran yang belum utuh, dilangkahkan kakinya menyusuri lorong-lorong dan menuruni anak tangga. “Aishhh, benar-benar sepi. Kampus macam apa ini, baru jam tujuh sudah tidak ada penghuni.” Gerutu Keyko. Tidak ada seorang pun yang dia temui.
Keyko merogoh tasnya, seperti ada benda penting yang ingin dia cari. Tak lama, ponsel berwarna hijau telah ada dalam genggamannya diiringi dengan senyum tipis di sudut bibirnya. “Aishhh, mati!”
Keyko melanjutkan langkahnya, ingin rasanya dia segera sampai di rumah, berendam dengan air hangat dengan aroma buah-buahan. Aroma buah-buahan yang alami mungkin akan cepet mengembalikan pikirannya yang sedang tidak stabil. Namun, langkah kakinya justru berlawanan arah dengan jalan pulang.
Sejak pertama datang Keyko memang tampak tergoda dengan danau yang terletak di belakang gedung kampusnya. Kalau bukan karena mahasiswa baru yang tidak mengikuti kegiatan Ospek, dia ingin pergi ke danau itu.
Keyko duduk di pinggir danau, dilepaskannya sepatu hak tinggi yang melekat di kakinya. Dibiarkannya air danau membasahi kakinya, meski dingin merambat, tetapi kesegaran yang justru dia rasakan. Diraihnya kemera dari dalam tasnya, dilihatnya kembali gambar-gambar hasil bidikannya sambil sesekali menggoyang-goyangkan kakinya.
Waktu telah menujukan pukul 20.15 Wita, bergegas Keyko meninggalkan danau. Ditemani dingin angin malam dan rintik hujan, langkah kakinya mulai menyusuri jalanan gelap itu. Dengan sedikit gotai, dia paksakan tubuhnya untuk terus melangkah meski rintik hujan telah berubah menjadi guyuran hujan.
“Malam yang indah!” Ucap Keyko kepada seseorang yang berpapasan dengannya.
“Hemmmm, malam yang indah.”
***

1 komentar:

  1. Depo 20ribu bisa menang puluhan juta rupiah
    mampir di website ternama I O N Q Q
    paling diminati di Indonesia,
    di sini kami menyediakan 9 permainan dalam 1 aplikasi
    ~bandar poker
    ~bandar-Q
    ~domino99
    ~poker
    ~bandar66
    ~sakong
    ~aduQ
    ~capsa susun
    ~perang baccarat (new game)
    segera daftar dan bergabung bersama kami.Smile
    Whatshapp : +85515373217

    BalasHapus