BAB III
Sebuah Masalah
Jangan menganggap semua cinta di dunia ini sama hanya karena
serig melihat cerita cinta yang sama.
Setiap orang
memiliki alasan untuk menutupi perasaanya di depan orang yang dicintai. Takut
menjadi alasan untuk menutupi perasaan itu. Akan tetapi, ketika ketakutan itu
berubah menjadi semakin besar, rasa sakitlah yang akhirnya menjadi alasan untuk
tetap menutupi perasaan itu.
Sastra baru saja keluar dari
kamar mandi. Dia menyeka tubuhnya yang masih basah dengan menggunakan handuk
kecil berwarna putih yang tersampir di sandaran kursi. Tubuhnya yang berotot
terpampang jelas, belum ada sehelai kain menutupi dadanya yang bidang itu.
Dilihatnya Keyko yang masih menutup
mata terbujur di atas ranjang. “Dari sekian wanita yang kutemui, akhirnya dia
wanita pertama yang berbaring di atas ranjangku.”
Aroma kopi bercampur krim menggelitik
indra penciuman. Kepalanya masih terasa berat, tenggorokannya pun terasa pedih
ketika menguap. Meski begitu, dia merasa tubuhnya masih memiliki stamina yang
kuat.
“Sudah bangun?” Tanya Sastra
dengan membelakangi Keyko karena masih mengaduk kopi.
Keyko mencari sumber bunyi, bola
matanya menjelajah ke setiap sudut ruangan hingga dia menemukan sosok tegap
yang hanya terlihat punggungnya. Jeritan Keyko hanya nyaris terdengar meski
rongga mulutnya menganga begitu lebar. Dia pun menyadari, ini bukan kamarnya.
“Sudah lebih baik?”
“Kamu? Apa yang kamu lakukan di sini?”
“Aku? Bermain! Begitukah menurutmu?”
Keyko mendengus kesal. “Jawab yang benar selagi aku masih
berbaik hati!” Keyko melemparkan tatapan tajam.
“Hemmm, benarkah? Memang apa yang akan kamu lakukan?
Melukaiku dengan laser matamu?” Sastra menggoda Keyko.
“Aku akan benar-benar menggunakan laser mataku kalau kamu
tidak menjawab pertnyaanku!” Keyko menatap Sastra. Namun, justru tawa lepas
yang dia dapat dari wajah tampan Sastra.
“Wohooo, inikah tatapan mematikan itu?” Sastra menyeringai
lebar, “Aku suka tatapan itu,” mendekatkan wajahnya kepada Keyko, “tatapan yang
benar-benar sexy” sambungnya, tapi kali ini dengan berbisik lembut.
Keyko menatap penuh amarah kepada
Sastra. Napasnya tersengal seperti ada batu yang menahan. Tatapanya tak beralih
dari Sastra yang kini duduk di sampingnya sambari menyeruput kopi dengan
santai.
“Berhenti menatapku adik kecil.
Kalau seperti itu, aku benar-benar bisa terluka.” Ucap Sastra masih dengan
bercanda.
“Tunggu saja, aku akan menuntutmu
dengan pasal berlapis!”
“Menuntutku? Setelah melewati
malam yang menggairahkan, kamu akan menuntutku? Itu sungguh tidak adil!”
“Apaaa??!!” Pekik Keyko.
Sastra menyereringai puas. “Aku
menemukanmu di bawah guyuran hujan ketika malam yang indah!” tukas Sastra.
Ingatan membawa Keyko kembali ke
peristiwa malam dingin itu. Semua yang terjadi tadi malam seperti rekaman drama
yang diputar. Keyko teringat, malam itu dia duduk di pinggir danau hingga larut
malam setelah sempat tertidur di ruang kuliah. Dia ingin menghubungi Vallen,
tapi ponselnya telah kehabisan daya. Setelah itu, dia bergegas pulang karena
rintik hujan mulai turun. Rintik hujan mulai menjadi guyuran hujan ketika
sampai di terminal bus, anehnya malam itu tiba-tiba dia ingin air hujan terus
mengguyur tubuhnya. Lantas dia memutuskan untuk pulang dengan berjalan kaki.
Ketika berjalan, dia bertemu dengan seseorang, tetapi tidak dapat melihatnya
dengan jelas. Sempat Keyko berbicara singkat dengan orang itu, sebelum
kesadarannya hilang.
“Sudah
ingat?” Pertanyaan Sastra membuyarkan ingatan Keyko.
“Haizzz, lalu
apa yang kamu lakukan setelah itu?”
“Kamu pikir
sendiri! Apa yang kira-kira dilakukan oleh pria ketika menemukan wanita?
Apalagi jika wanita itu memakai pakaian yang basah kuyup sehingga inci demi
inci lekukan wanita itu terlihat dengan jelas.” Refleks Keyko menarik selimut
dan menutupi seluruh tubuhnya. “Untungnya aku hanya mau menyentuh wanita sexy,”
Sastra beranjak dari ranjang, “kamu bisa mengajukan gugatan dan menuntutku
dengan pasal berlapis kalau aku terbukti menyentuhmu.”
“Bagaimana aku bisa memercayaimu
tidak menyentuhku,” sindir Keyko, “jelas sekali tampang cabul terpasang di
wajahmu!”
“Wohooo, kasar sekali adik kecil
ini. Kamu bisa langsung periksa ke rumah sakit untuk visum atau ke kantor
polisi untuk memastikan sidik jariku yang tertinggal di tubuhmu!”
“Bagaimana jika kamu menggunakan
sarung tangan agar tidak meninggalkan sidik jari di tubuhku?”
“Hanya pria bodoh yang mau
menyentuh wanita dengan menggunakan alas pelindung!” Sastra berdecak heran dan
jawaban itu membuat Keyko terlihat bodoh.
“Lalu, apa alasanmu membawaku ke
rumahmu?”
“Aku pasti sudah melemparmu di
depan rumahmu sejak tadi malam, jika menemukan kartu identitas atau ponselmu!”
Ting tong…ting tong…ting tong. Sastra meninggalkan Keyko untuk membuka pintu. “Bersihkan
badanmu,” Sastra melemparkan kemeja putih dan handuk di atas ranjang, “jangan
lupa cuci kepalamu supaya pikiran kotormu bersih!” pungkas Sastra.
“Dasar cabul.” Gumam Keyko.
“Aku dapat mendengarmu adik
kecil!”
Keyko keluar dari kamar mandi
dengan perasaan yang benar-benar tenang dan tubuh yang segar. Meski isi
kepalanya masih dipenuhi tanda tanya, tetapi kepalanya terasa lebih baik. Rasa
pusing yang sempat menusuk-nusuknya tadi malam juga telah menghilang.
“Kemari, aku sudah buatkan
sarapan,” Sastra sambil mengangkat piring berisi roti panggang, “makanlah sebelum
meninggalkan ruamahku.”
Uhukkkkkk, roti yang setengah
hancur dalam mulut Vanza memberontak keluar. Segelas air putih segera
dipaksakan menyesak ke tenggorokan untuk menahan roti yang nyaris menyembur ke
mangkuk sereal di depan Sastra.
“Haizzz, dasar berandalan kecil!”
Sastra tahu pasti yang sedang dipikirkan Vanza, “Ini memang seperti drama Korea,
seorang wanita mengenakan kemejaku karena kami baru melewati malam yang
menggairahkan,” Sastra menghujani Keyko dengan pandangan sinis, “aku sangat
bersyukur andai tadi malam benar-benar menggairahkan bautku” sambungnya.
Dengan wajah canggung Keyko menuju
meja makan. Raut wajahnya merona merah ketika melihat laki-laki lain duduk di
seberang tempat duduk. Keyko ingat betul tatapan dingin laki-laki itu. Untuk
beberapa saat Keyko menatap laki-laki itu.
“Dia Vanza, laki-laki yang mencampakkanmu saat
kamu ajak berkenalan! Masih ingat, adik kecil?” tanya Sastra sambil meletakkan
dua gelas susu.
“Berhenti memanggilku adik kecil!
Bisa jadi aku lebih tua darimu karena sebenarnya ini bukan tahun pertama
kuliahku.”
“Berapa usiamu?”
“Desember nanti usiaku genap sembilan
belas tahun!”
“Desember nanti usiaku genap dua
puluh sembilan tahun! Jadi mulai sekarang gunakan kata-kata sopan saat
berbincang denganku.”
Keyko hanya mengedip-kedipkan
matanya mendengar ucapan Sastra. Tenggorokannya pun terasa benar-benar kering. Diraihnya
secangkir kopi untuk disruput. Namun, Sastra menahan tanganya dan menyorongkan
segelas susu. “Susu lebih bagus untuk pertumbuhanmu.” Meski kesal, Keyko menenggak susu itu hingga tak
tersisa.
Vanza menahan tawa mendengar percakapan
itu. “Jangan tertawa, habiskan juga susumu!” Sastra melayangkan tangannya ke
belakang kepala Vanza. Kali ini gantian Keyko yang menahan tawa.
Jemari Keyko bergetar ketika
mengambil roti itu. Matanya yang bening pun terlihat mulai digenangi air. “Are you ok?” tanya Sastra.
“Emmm,” jawab Keyko.
Keyko memasukan roti ke dalam
mulutnya. Selai nanas, mentega, dan garingnya roti itu terasa pas dimulutnya.
Rasanya benar-benar sama, roti panggang kesukaanya yang biasa dibuatkan Orysa
untuknya setiap pagi atau saat Keyko menghadapi tutor-tutornya. Meski ibunya
membuat dengan racikan yang sama, tapi jika bukan buatan Orysa, Keyko tidak
akan menyukainya.
Setelah melihat Keyko menyelesaikan
sarapan, Sastra meminta Vanza untuk mengantar Keyko pergi. Setelah itu, dia pun
bersiap-siap untuk berangkat kerja. Kaus oblong yang dia gunakan kini telah
berganti menjadi kemeja biru muda, rambutnya juga telah disisir rapi.
“Apa imbalan yang kamu berikan
karena aku telah menjaga barangmu dengan baik?” tanya Sastra kepada Vanza.
“Silakan jual aku semaumu, Bang!”
jawab Vanza sebelum menutup pintu apartemen dan menyusul Keyko yang lebih dulu
pergi.
***
Bulir-bulir bunga ilalang di
padang menari manja disapa angin, saling bertaut seolah sedang bergenggaman
tangan. Aromanya menebar candu di antara riuh angin dan pelukan hangat raja
siang. Sesekali capung berayun manja di tangkai ilalang, seperti ingin turut
menari.
Entah sudah berapa jauh langkah
kakinya mengikuti laki-laki itu. Wajahnya mulai berwarna merah padam, bukan
karena dia sedang marah, tapi sinar matahari mulai membakar kulit putihnya.
Peluh pun tak henti menetes di antara kening dan kedua pipinya. Napas juga
mulai tak beraturan karena kelelahan.
“Heyyy,” Keyko memanggil Vanza yang
sedang berjalan di depannya. Tidak ada respons, mungkin karena jarak mereka
cukup jauh.
Sekali panggil tidak ada respons,
Keyko masih berpikir postif. Mungkin Vanza tak mendengar, pikirnya. Jadi, dia
memutuskan untuk memanggil hingga berulang kali. Namun, tetap tidak ada
respons. Dicobanya untuk berjalan lebih cepat agar dapat lebih dekat, setelah
itu dicobanya untuk memanggil Vanza lagi. Tetap saja dia tidak mendapatkan
respons.
Lelah berjalan ditambah kesal
karena diabaikan, Keyko memilih untuk melepas sepatu berhak tinggi miliknya.
Kebutulan pergelangan kakinya juga mulai nyeri. Apalagi padang ilalang yang
sekarang dia lewati tekstur tanahnya tidak keras, sempat beberapa kali hak
sepatunya tertancap ditanah lembut itu.
“Auwwwwww,” teriak Vanza sambil
meraba bagian belakang kepalanya.
“Binggo. Kena kau!”
Vanza berbalik badan, tatapan
dinginnya langsung menghujam Keyko yang berdiri agak jauh di hadapannya dengan
mengenakan sebelah sepatu. Dengan kesal, Vanza mengambil sepatu hak tinggi
berwarna hijau toska yang tadi mendarat indah di kepalanya. Setelah itu, dia
lemparkan sepatu itu di antara semak ilalang. Dia pun mulai melangkah kembali
menyusuri padang ilalang.
“Yakkkkkk,” pekik suara Keyko
sedikit mengejutkan gendang telinga Vanza, “beraniya kau buang sepatuku!” Keyko
berlari mengejar Vanza, dia terpincang-pincang karena hanya mengenakan sebelah
sepatu saja.
“Masih dipakai?” tanya Vanza
datar.
“Menurutmu??!!”
“Kalau masih dipakai kenapa
dibuang?”
“Kamu yang buang?”
“Aku?” Vanza mendengus kesal,
“kamu yang membuang sepatumu duluan!”
“Yakkkkkkk,” suara Keyko lebih
melengking, kali ini malah lebih seperti jeritan, “kau benar-benar mau kena
pukul ya?!” Karena kesal mendengar jawaban dan merasa diabaikan Vanza, Keyko
menarik bagian belakang kemeja Vanza.
“Diamlah adik kecil,” Vanza mencengkram
bahu Keyko, memberinya tatapan dingin dan suara geram, “aku hanya tidur satu
jam malam ini dan aku lelah, jadi berhentilah teriak di dekatku, paham!”
“Kamu hanya tidur satu jam itu
bukan urusanku. Kamu kelelahan juga bukan urusanku. Sekarang yang paling
penting antarkan pulang karena aku juga tidak ingin terjebak lebih lama
denganmu!”
“Aku?” Vanza menyeringai kesal,
hidungnya kembang-kempis, bunyi gemertak giginya terdengar, “mengantarkanmu
pulang? Aku bukan ayahmu, bukan juga ojek pribadimu. Jadi pulanglah sendiri dan
berhenti mengekoriku karena kau benar-benar mengusikku!”
Amarah Keyko telah mencapai
klimaks. Bagaimana tidak, setelah letih mengikuti Vanza, tiba-tiba saja lelaki
itu dengan mudahnya mengatakan agar dia tidak mengikutinya lagi. Bukankah tadi
sudah jelas, Sastra meminta Vanza untuk mengantarnya pergi, tapi sekarang
dengan mudahnya lelaki itu menyingkirkannya yang sudah nyaris kehabisan tenaga.
“What? Kamu lupa, temanmu menyuruhmu mengantarkan aku pergi!”
“Kamu lupa, temanku menyuruhku
mengantarkamu pergi, bukan mengantarkan pulang!” balas Vanza. Setelah itu Vanza
melanjutkan perjalanannya dan kembali mengabaikan Keyko yang sekarang bercampur
marah dan lelah.
Walau peluh terus membanjir,
lelah semakin merambat, dan jemari kaki kirinya mulai nyeri karena tidak
mengenakan alas kaki, Keyko tetap berjalan. Dilihatnya Vanza semakin jauh di
depan, dia pun melepas sepatu kanannya dan dimasukan ke dalam tasnya. Kini
kedua kakinya sama-sama tak mengenakan alas kaki. Terlihat beberapa sayatan
tertinggal di telapak kakinya, mungkin terkena batu atau ranting-ranting pohon
sewaktu berjalan. Setengah berlari dia mencoba mengejar Vanza.
“Kau, kenapa masih saja
mengekoriku?” tanya Vanza akhirnya.
“Kalau aku pulang naik taksi, aku
bisa turun tepat di depan rumahku, tapi sebelumnya harus menelpon taksi
terlebih dahulu. Masalahnya ponselku sudah kehabisan daya dari tadi malam.
Kalau aku naik bus, dari sini masih jauh berjalan supaya sampai ke halte.
Selain itu, tidak ada bus yang berhenti di depan rumahku. Masalahnya aku sudah
kelelahan dan beberapa saat yang lalu baru sadar, ternyata aku tidak membawa
dompet. Jadi aku tidak punya uang untuk bayar bus.” Jelas Keyko dengan nada
memelas. “Aku juga tidak tahu sekarang ada di mana.” Lanjutnya.
“Jadi?”
“Jadi kupikir, lebih baik aku
mengekorimu saja. Siapa tahu hatimu terbuka untuk mengantarkan pulang.” Kali
ini Keyko mendahului Vanza, “Ke mana sekarang? Masih lurus ke depankah? Aku
harap sudah tidak jauh.”
Rumah kecil di tengah padang
rumput, di sekitarnya tumbuh beberapa pohon pinus yang enggan berdekatan satu
sama lain, dari jauh tampak bukit menjulang.
Anyelir pun tumbuh di antara rerumputan hijau memberikan warna eksotis.
Berbatasan dengan danau berwarna hijau yang ditumbuhi banyak teratai. Ditambah
lagi dengan beberapa kelinci yang bekejar-kejaran di antara bunga-bunga
menambah kesan bak berada di pondok peri.
Dari kejauahan rumah itu
menebarkan aura sejuk bagi mata yang memandang. Rumah dengan ornamen kayu. Di
serambi rumah terdapat dua pasang kursi dari bambu dengan satu meja berhias
bunga mawar putih di atasnya. Di beberapa sudut serambi tergantung bunga
anggrek bulan yang sedang bermekaran.
Dekat dengan rumah, di salah satu
pohon, terpaku papan kecil dengan tulisan, Griya
Asa, ditulis dengan menggunakan arang kayu. Dari tulisan yang tertera,
mungkin pemilik rumah berharap agar rumah tersebut menjadi rumah harapan. Harapan
bagi mereka untuk mendapat ketentraman ataupun kebahagian.
Mata Keyko tak henti berdecak
kagum. Indah bunga sakura saat bermekaran, tak seindah rerumputan dan bunga
anyelir. Putihnya salju Jepang tetap saja tak seindah hijaunya air danau.
Sempat terpikir olehnya, bahwa sekarang dia sedang berada di negeri tempat para
peri tinggal.
Kaki telanjang Keyko menyusuri
rerumputan, ada yang menggelitik saraf-saraf kakinya. Jemarinya bergerak
membelai anyelir berwarna merah muda dan putih. Digodanya kupu-kupu yang sedang
asik menikmati madu. Hal itulah yang membuat senyuman terus terkembang di sudut
bibir merahnya.
Riak air di danau menegaskan
bahwa ada kehidupan lain selain teratai merah jambu itu. Benar sekali, sepasang
kura-kura sedang menunggui anak-anaknya bermain di antara batang teratai.
Gerombolan ikan kecil juga sedang bereuforia menyambut kaki mungil milik Keyko,
entah karena kagum atau sedang menggoda, ikan-ikan itu berebut menciumi
kakinya.
Puas mengizinkan air danau
menjamah kakinya, Keyko menyusul Vanza yang sudah masuk ke rumah kecil itu. Di
amatinya setiap benda yang ada di ruang tamu, nuansa klasik jelas tersuguh.
Kursi dan meja dari rotan, lemari dari jati, serta lukisan pemandangan menjadi
hal utama yang menarik matanya. Selain itu, beberapa bonsai menjadi daya tarik selanjutnya.
Keyko duduk disalah satu kursi
sambil membuka album foto yang ada di atas meja, jari-jarinya pun lincah
membuka lembar per lembar. Tak lama Vanza muncul dari dalam ruang sambil
membawa segelas air putih dan semangkuk mi instan yang dilengkapi dengan telur
rebus. Vanza duduk tepat di seberang tempat Keyko duduk.
“Wahhh, seharusnya kalau ada tamu
juga disuguhi minum!” Ucap Keyko ketika melihat Vanza meletakkan air.
“Bagiku tamu itu sebutan bagi
sesorang yang datang karena diundang.”
Keyko memonyongkan bibirnya,
menegaskan bahwa dia sedang kesal, “Di mana ibumu? Aku pikir akan lebih baik
kalau aku minta air ke ibumu saja. Karena aku yakin, seorang ibu yang melihatku
pasti akan berbaik hati memberikan segelas air.”
“Tidak ada.”
“Ayahmu?”
“Tidak ada.”
“Saudaramu?
“Tidak ada!” tandasnya.
“Lalu kamu tinggal dengan siapa
di sini?” selidik Keyko.
“Sendiri.”
Harghhh, Keyko memekik terkejut.
Dengan cepat dia meraih tas yang dia letakkan di sampingnya. Digunkannya tas
itu untuk menutupi dadanya. Dengan sigap, dia pun berdiri dengan kaki membentuk
setengah kuda-kuda. Hal itu tentu membuat Vanza hanya memandang Keyko dengan
penuh kebingungan.
“Jangan macam-macam! Aku pernah
ikut karate walaupun tidak lulus. Tendangan kakiku juga lumayan kuat walaupun
tidak jenjang! Pukulanku juga lumayan menyakitkan walaupun aku kurang
bertenaga.” Jelas Keyko dengan tubuh yang jelas terlihat bergetar hebat.
“Ini yang kamu sebut lumayan,” Vanza
merebut tas Keyko dan melemparkanya ke atas meja, “haisss, bahkan kelinciku lebih
lumayan darimu.” Vanza menyeringai, “Kalau mau macam-macam sudah kulakukan
sejak kau berisik di padang ilalang tadi.”
Vanza masuk kembali ke dalam
ruang di sebelah ruang tamu, tak lama dia kembali lagi dengan membawa segelas
air dan biskuit coklat. Di letakannya air dan biskuit itu di hadapan Keyko.
“Hanya itu yang tertinggal di
lemari pendinginku.”
Tidak ada niatan bagi Keyko untuk
meminum air itu, apalagi untuk memakan biskuit itu meski tenggorokannya telah
kering karena terlalu lama berjalan. Dia memikirkan adega-adegan di film,
biasanya tokoh antagonis akan memberikan minuman ataupun makanan beracun pada
lawannya.
“Kenapa? Takut kuberi racun atau
obat tidur?”
Sial, pria itu tahu yang sedang
dia pikirkan, batin Keyko. Kalau bukan karena menjunjung etika, ingin sekali Keyko
menuangkan air ke kepala pria di hadapannya. “Anggap saja ini bentuk menjaga
diri,” tandas Keyko.
Vanza tersenyum kecil, lalu
diambilnya air di atas meja dan mulai ditenggaknya. Cegukan demi cegukan mulai
mengalir di kerongkongnnya bagai oasis di tengah padang pasir. Biskuit coklat
yang sejak tadi merayu untuk dimakan juga menjadi sasaran Vanza selanjutnya.
Tanganya yang berotot begitu cekatan meraih biskuit pertama dan memasukannya ke
dalam mulut dengan lembut. Akan tetapi, baru satu gigitan, Keyko telah merebut
biskuitnya dan menghabiskannya dengan sekali gigitan. Hal itu terus terjadi
hingga Vanza mengambil biskuit ketiga.
Kini tangan Vanza meraih mi
instan yang sudah mulai mengembang karena terlalu lama diabaikan. Mi instan itu
tidak langsung dilahap karena Vanza menyadari, Keyko sekarang mulai melirik mi
yang dipegangnya. Cukup lama Vanza memegangnya, tapi tidak ada tanda-tanda Keyko
akan merebutnya. Keyko justru membuang pandanganya setiap Vanza menyorongkan mi
itu. Akan tetapi, terkadang hal yang kita pikirkan berbanding terbalik dengan
yang terjadi, nyatanya baru sendokan pertama selesai dikunyah, Keyko telah
mengambil alih mangkuk berisi mi itu.
“Sorry. Aku lapar maksimal setelah perjalanan pajang yang
melelahkan.”
Ada senyuman di bibir Vanza,
“Suka makanan sisa?” ucapnya sembari beranjak pergi meninggalkan Keyko.
Jam di dinding telah menunjukan
pukul 11.35 ketika Vanza kembali menemui Keyko di ruang tamu. Dilihatnya Keyko
kembali membuka beberapa album foto, Keyko kadang tersenyum, kadang
mengernyitkan dahi, kadang juga menggosok-gosok foto dengan kesal. Untuk
menunjukan kehadiran, Vanza berdeham. Hal itu tentu menyadarkan Keyko yang
hanyut dalam memori foto-foto yang sedang dilihat.
Pandangan Keyko pun bertemu dengan
pandangan Vanza yang sudah berdiri cukup lama mengamatinya. Pandangan Keyko
langsung menjamah setiap bagian tubuh pria di sampingnya. Mulai dari cara
berpakaian, detail wajah, hingga gaya rambut yang diberi gel berbau mint. Aroma
sabun bercampur parfum juga begitu mengusik indra penciuman Keyko yang
sensitif.
Sebagai seorang wanita, Keyko
mengakui bahwa Vanza masuk dalam golongan pria berparas tampan dan berkarisma.
Paduan kaus oblong warna abu-abu dengan kemeja berwarna hitam dan jeans hitam membuatnya sedap di pandang.
Rambut yang tadi acak-acakan kini telah diberi gel tersisir rapi. Gaya rambut
itu mengingatkannya dengan gaya rambut salah satu anggota boy band Korea kesukaannya.
“Seberapa tampanya aku hingga
kamu tidak memalingkan pandangnmu?” tanya Vanza datar tanpa menatap Keyko, “kuharap,
aku tidak membuatmu lupa cara bernapas.”
“Sial,” batin Keyko.
Helm berwarna hitam yang
tergeletak di sebelah lemari diraih Vanza. Dia lemparkan helm itu ke Keyko. Dengan
gesit, Keyko menagkapnya meski nyaris menjatuhkannya. Seperti tahu yang
diperintahkan oleh Vanza, tanpa intruksi Keyko mengikuti Vanza yang siap keluar
rumah. Di luar Vanza telah menunggunya di atas motor besar berwarna hitam.
“Kunci rumahku!” perintah Vanza
sambil melemparkan sebuah kunci.
Kalau sedang tidak dalam kondisi
terdesak, pasti Keyko telah memberi beberapa pukulan dan makian untuk Vanza
karena telah memperlakukaknya dengan buruk. Karena Keyko tidak dapat berbuat
apa-apa, jadi dia hanya menerima pasrah perlakuaan itu. Semoga ini menjadi
pertemuan terakhirnya, pikir Keyko saat itu. Sungguh dia tidak ingin bertemu
dengan pria itu di hari-hari mendatang.
Sepanjang perjalanan tidak ada
kalimat yang terlontar dari bibir mungil Keyko, meskipun sebenarnya dia ingin
sekali memaki pria itu. Bagaimana tidak, ternyata dari apartemen, tempat
tinggal Sastra, tidak perlu melewati padang ilalang yang menyiksa karena ada
jalan lain yang lebih mulus. Kalau dipikir, jarak tempuhnya pun lebih dekat.
Seandainya saja sejak awal Vanza mengajaknya lewat jalan itu.
“Auwww,” teriak Keyko karena
terkejut Vanza tiba-tiba menghentikan motornya, “sengaja, ya?”
“Turun!”
“Apa?”
“Turun!”
“Di sini?” Keyko bingung.
Dasar pria tidak berprasaan,
pikir Keyko. Hal ini sungguh melukai harga dirinya sebagai seorang wanita. Seorang
pria seharusnya tidak meninggalkan wanitanya di sembarang tempat. Namun, apa
boleh buat, nyatanya Keyko bukanlah wanita milik Vanza. Jadi, wajar jika Keyko
dicampakkan.
Vanza megeluarkan selembar uang
dua puluh ribuan, diberikanya uang itu kepada Keyko yang telah mematung di
samping motornya. “Untuk naik bus, jangan lupa kembalikan! Aku anggap ini sebagai
utang, pastikan membayarnya saat kita bertemu.” Vanza memutar motornya, siap
meninggalkan Keyko yang masih mematung dengan selembar uang di tangan kiri.
“Vanzaaaaaa,”panggil Keyko, “aku
bayar hutangku sekarang,” Keyko melempar sepatu kanannya yang tadi disimpan di
dalam tas, “ambil saja kembaliannya!”
“Sinting!!!” maki Vanza.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar