Musik

Rabu, 21 November 2018

Key: (Im)mature (Bagian III)


BAB III
Sebuah Masalah

Jangan menganggap semua cinta di dunia ini sama hanya karena serig melihat cerita cinta yang sama.
          Setiap orang memiliki alasan untuk menutupi perasaanya di depan orang yang dicintai. Takut menjadi alasan untuk menutupi perasaan itu. Akan tetapi, ketika ketakutan itu berubah menjadi semakin besar, rasa sakitlah yang akhirnya menjadi alasan untuk tetap menutupi perasaan itu.
Sastra baru saja keluar dari kamar mandi. Dia menyeka tubuhnya yang masih basah dengan menggunakan handuk kecil berwarna putih yang tersampir di sandaran kursi. Tubuhnya yang berotot terpampang jelas, belum ada sehelai kain menutupi dadanya yang bidang itu.
Dilihatnya Keyko yang masih menutup mata terbujur di atas ranjang. “Dari sekian wanita yang kutemui, akhirnya dia wanita pertama yang berbaring di atas ranjangku.”
Aroma kopi bercampur krim menggelitik indra penciuman. Kepalanya masih terasa berat, tenggorokannya pun terasa pedih ketika menguap. Meski begitu, dia merasa tubuhnya masih memiliki stamina yang kuat.
“Sudah bangun?” Tanya Sastra dengan membelakangi Keyko karena masih mengaduk kopi.
Keyko mencari sumber bunyi, bola matanya menjelajah ke setiap sudut ruangan hingga dia menemukan sosok tegap yang hanya terlihat punggungnya. Jeritan Keyko hanya nyaris terdengar meski rongga mulutnya menganga begitu lebar. Dia pun menyadari, ini bukan kamarnya.
“Sudah lebih baik?”
“Kamu? Apa yang kamu lakukan di sini?”
“Aku? Bermain! Begitukah menurutmu?”

Keyko mendengus kesal. “Jawab yang benar selagi aku masih berbaik hati!” Keyko melemparkan tatapan tajam.
“Hemmm, benarkah? Memang apa yang akan kamu lakukan? Melukaiku dengan laser matamu?” Sastra menggoda Keyko.
“Aku akan benar-benar menggunakan laser mataku kalau kamu tidak menjawab pertnyaanku!” Keyko menatap Sastra. Namun, justru tawa lepas yang dia dapat dari wajah tampan Sastra.
“Wohooo, inikah tatapan mematikan itu?” Sastra menyeringai lebar, “Aku suka tatapan itu,” mendekatkan wajahnya kepada Keyko, “tatapan yang benar-benar sexy” sambungnya, tapi kali ini dengan berbisik lembut.
Keyko menatap penuh amarah kepada Sastra. Napasnya tersengal seperti ada batu yang menahan. Tatapanya tak beralih dari Sastra yang kini duduk di sampingnya sambari menyeruput kopi dengan santai.
“Berhenti menatapku adik kecil. Kalau seperti itu, aku benar-benar bisa terluka.” Ucap Sastra masih dengan bercanda.
“Tunggu saja, aku akan menuntutmu dengan pasal berlapis!”
“Menuntutku? Setelah melewati malam yang menggairahkan, kamu akan menuntutku? Itu sungguh tidak adil!”
“Apaaa??!!” Pekik Keyko.
Sastra menyereringai puas. “Aku menemukanmu di bawah guyuran hujan ketika malam yang indah!” tukas Sastra.
Ingatan membawa Keyko kembali ke peristiwa malam dingin itu. Semua yang terjadi tadi malam seperti rekaman drama yang diputar. Keyko teringat, malam itu dia duduk di pinggir danau hingga larut malam setelah sempat tertidur di ruang kuliah. Dia ingin menghubungi Vallen, tapi ponselnya telah kehabisan daya. Setelah itu, dia bergegas pulang karena rintik hujan mulai turun. Rintik hujan mulai menjadi guyuran hujan ketika sampai di terminal bus, anehnya malam itu tiba-tiba dia ingin air hujan terus mengguyur tubuhnya. Lantas dia memutuskan untuk pulang dengan berjalan kaki. Ketika berjalan, dia bertemu dengan seseorang, tetapi tidak dapat melihatnya dengan jelas. Sempat Keyko berbicara singkat dengan orang itu, sebelum kesadarannya hilang.
          “Sudah ingat?” Pertanyaan Sastra membuyarkan ingatan Keyko.
          “Haizzz, lalu apa yang kamu lakukan setelah itu?”
          “Kamu pikir sendiri! Apa yang kira-kira dilakukan oleh pria ketika menemukan wanita? Apalagi jika wanita itu memakai pakaian yang basah kuyup sehingga inci demi inci lekukan wanita itu terlihat dengan jelas.” Refleks Keyko menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya. “Untungnya aku hanya mau menyentuh wanita sexy,” Sastra beranjak dari ranjang, “kamu bisa mengajukan gugatan dan menuntutku dengan pasal berlapis kalau aku terbukti menyentuhmu.”
“Bagaimana aku bisa memercayaimu tidak menyentuhku,” sindir Keyko, “jelas sekali tampang cabul terpasang di wajahmu!”
“Wohooo, kasar sekali adik kecil ini. Kamu bisa langsung periksa ke rumah sakit untuk visum atau ke kantor polisi untuk memastikan sidik jariku yang tertinggal di tubuhmu!”
“Bagaimana jika kamu menggunakan sarung tangan agar tidak meninggalkan sidik jari di tubuhku?”
“Hanya pria bodoh yang mau menyentuh wanita dengan menggunakan alas pelindung!” Sastra berdecak heran dan jawaban itu membuat Keyko terlihat bodoh.
“Lalu, apa alasanmu membawaku ke rumahmu?”
“Aku pasti sudah melemparmu di depan rumahmu sejak tadi malam, jika menemukan kartu identitas atau ponselmu!”
Ting tong…ting tong…ting tong. Sastra meninggalkan Keyko untuk membuka pintu. “Bersihkan badanmu,” Sastra melemparkan kemeja putih dan handuk di atas ranjang, “jangan lupa cuci kepalamu supaya pikiran kotormu bersih!” pungkas Sastra.
“Dasar cabul.” Gumam Keyko.
“Aku dapat mendengarmu adik kecil!”
Keyko keluar dari kamar mandi dengan perasaan yang benar-benar tenang dan tubuh yang segar. Meski isi kepalanya masih dipenuhi tanda tanya, tetapi kepalanya terasa lebih baik. Rasa pusing yang sempat menusuk-nusuknya tadi malam juga telah menghilang.
“Kemari, aku sudah buatkan sarapan,” Sastra sambil mengangkat piring berisi roti panggang, “makanlah sebelum meninggalkan ruamahku.”
Uhukkkkkk, roti yang setengah hancur dalam mulut Vanza memberontak keluar. Segelas air putih segera dipaksakan menyesak ke tenggorokan untuk menahan roti yang nyaris menyembur ke mangkuk sereal di depan Sastra.
“Haizzz, dasar berandalan kecil!” Sastra tahu pasti yang sedang dipikirkan Vanza, “Ini memang seperti drama Korea, seorang wanita mengenakan kemejaku karena kami baru melewati malam yang menggairahkan,” Sastra menghujani Keyko dengan pandangan sinis, “aku sangat bersyukur andai tadi malam benar-benar menggairahkan bautku” sambungnya.
Dengan wajah canggung Keyko menuju meja makan. Raut wajahnya merona merah ketika melihat laki-laki lain duduk di seberang tempat duduk. Keyko ingat betul tatapan dingin laki-laki itu. Untuk beberapa saat Keyko menatap laki-laki itu.
 “Dia Vanza, laki-laki yang mencampakkanmu saat kamu ajak berkenalan! Masih ingat, adik kecil?” tanya Sastra sambil meletakkan dua gelas susu.
“Berhenti memanggilku adik kecil! Bisa jadi aku lebih tua darimu karena sebenarnya ini bukan tahun pertama kuliahku.”
“Berapa usiamu?”
“Desember nanti usiaku genap sembilan belas tahun!”
“Desember nanti usiaku genap dua puluh sembilan tahun! Jadi mulai sekarang gunakan kata-kata sopan saat berbincang denganku.”
Keyko hanya mengedip-kedipkan matanya mendengar ucapan Sastra. Tenggorokannya pun terasa benar-benar kering. Diraihnya secangkir kopi untuk disruput. Namun, Sastra menahan tanganya dan menyorongkan segelas susu. “Susu lebih bagus untuk pertumbuhanmu.” Meski  kesal, Keyko menenggak susu itu hingga tak tersisa.
Vanza menahan tawa mendengar percakapan itu. “Jangan tertawa, habiskan juga susumu!” Sastra melayangkan tangannya ke belakang kepala Vanza. Kali ini gantian Keyko yang menahan tawa.
Jemari Keyko bergetar ketika mengambil roti itu. Matanya yang bening pun terlihat mulai digenangi air. “Are you ok?” tanya Sastra.
“Emmm,” jawab Keyko.
Keyko memasukan roti ke dalam mulutnya. Selai nanas, mentega, dan garingnya roti itu terasa pas dimulutnya. Rasanya benar-benar sama, roti panggang kesukaanya yang biasa dibuatkan Orysa untuknya setiap pagi atau saat Keyko menghadapi tutor-tutornya. Meski ibunya membuat dengan racikan yang sama, tapi jika bukan buatan Orysa, Keyko tidak akan menyukainya.
Setelah melihat Keyko menyelesaikan sarapan, Sastra meminta Vanza untuk mengantar Keyko pergi. Setelah itu, dia pun bersiap-siap untuk berangkat kerja. Kaus oblong yang dia gunakan kini telah berganti menjadi kemeja biru muda, rambutnya juga telah disisir rapi.
“Apa imbalan yang kamu berikan karena aku telah menjaga barangmu dengan baik?” tanya Sastra kepada Vanza.
“Silakan jual aku semaumu, Bang!” jawab Vanza sebelum menutup pintu apartemen dan menyusul Keyko yang lebih dulu pergi.
***
Bulir-bulir bunga ilalang di padang menari manja disapa angin, saling bertaut seolah sedang bergenggaman tangan. Aromanya menebar candu di antara riuh angin dan pelukan hangat raja siang. Sesekali capung berayun manja di tangkai ilalang, seperti ingin turut menari.
Entah sudah berapa jauh langkah kakinya mengikuti laki-laki itu. Wajahnya mulai berwarna merah padam, bukan karena dia sedang marah, tapi sinar matahari mulai membakar kulit putihnya. Peluh pun tak henti menetes di antara kening dan kedua pipinya. Napas juga mulai tak beraturan karena kelelahan.
“Heyyy,” Keyko memanggil Vanza yang sedang berjalan di depannya. Tidak ada respons, mungkin karena jarak mereka cukup jauh.
Sekali panggil tidak ada respons, Keyko masih berpikir postif. Mungkin Vanza tak mendengar, pikirnya. Jadi, dia memutuskan untuk memanggil hingga berulang kali. Namun, tetap tidak ada respons. Dicobanya untuk berjalan lebih cepat agar dapat lebih dekat, setelah itu dicobanya untuk memanggil Vanza lagi. Tetap saja dia tidak mendapatkan respons.
Lelah berjalan ditambah kesal karena diabaikan, Keyko memilih untuk melepas sepatu berhak tinggi miliknya. Kebutulan pergelangan kakinya juga mulai nyeri. Apalagi padang ilalang yang sekarang dia lewati tekstur tanahnya tidak keras, sempat beberapa kali hak sepatunya tertancap ditanah lembut itu.
“Auwwwwww,” teriak Vanza sambil meraba bagian belakang kepalanya.
“Binggo. Kena kau!”
Vanza berbalik badan, tatapan dinginnya langsung menghujam Keyko yang berdiri agak jauh di hadapannya dengan mengenakan sebelah sepatu. Dengan kesal, Vanza mengambil sepatu hak tinggi berwarna hijau toska yang tadi mendarat indah di kepalanya. Setelah itu, dia lemparkan sepatu itu di antara semak ilalang. Dia pun mulai melangkah kembali menyusuri padang ilalang.
“Yakkkkkk,” pekik suara Keyko sedikit mengejutkan gendang telinga Vanza, “beraniya kau buang sepatuku!” Keyko berlari mengejar Vanza, dia terpincang-pincang karena hanya mengenakan sebelah sepatu saja.
“Masih dipakai?” tanya Vanza datar.
“Menurutmu??!!”
“Kalau masih dipakai kenapa dibuang?”
“Kamu yang buang?”
“Aku?” Vanza mendengus kesal, “kamu yang membuang sepatumu duluan!”
“Yakkkkkkk,” suara Keyko lebih melengking, kali ini malah lebih seperti jeritan, “kau benar-benar mau kena pukul ya?!” Karena kesal mendengar jawaban dan merasa diabaikan Vanza, Keyko menarik bagian belakang kemeja Vanza.
“Diamlah adik kecil,” Vanza mencengkram bahu Keyko, memberinya tatapan dingin dan suara geram, “aku hanya tidur satu jam malam ini dan aku lelah, jadi berhentilah teriak di dekatku, paham!”
“Kamu hanya tidur satu jam itu bukan urusanku. Kamu kelelahan juga bukan urusanku. Sekarang yang paling penting antarkan pulang karena aku juga tidak ingin terjebak lebih lama denganmu!”
“Aku?” Vanza menyeringai kesal, hidungnya kembang-kempis, bunyi gemertak giginya terdengar, “mengantarkanmu pulang? Aku bukan ayahmu, bukan juga ojek pribadimu. Jadi pulanglah sendiri dan berhenti mengekoriku karena kau benar-benar mengusikku!”
Amarah Keyko telah mencapai klimaks. Bagaimana tidak, setelah letih mengikuti Vanza, tiba-tiba saja lelaki itu dengan mudahnya mengatakan agar dia tidak mengikutinya lagi. Bukankah tadi sudah jelas, Sastra meminta Vanza untuk mengantarnya pergi, tapi sekarang dengan mudahnya lelaki itu menyingkirkannya yang sudah nyaris kehabisan tenaga.
What? Kamu lupa, temanmu menyuruhmu mengantarkan aku pergi!”
“Kamu lupa, temanku menyuruhku mengantarkamu pergi, bukan mengantarkan pulang!” balas Vanza. Setelah itu Vanza melanjutkan perjalanannya dan kembali mengabaikan Keyko yang sekarang bercampur marah dan lelah.
Walau peluh terus membanjir, lelah semakin merambat, dan jemari kaki kirinya mulai nyeri karena tidak mengenakan alas kaki, Keyko tetap berjalan. Dilihatnya Vanza semakin jauh di depan, dia pun melepas sepatu kanannya dan dimasukan ke dalam tasnya. Kini kedua kakinya sama-sama tak mengenakan alas kaki. Terlihat beberapa sayatan tertinggal di telapak kakinya, mungkin terkena batu atau ranting-ranting pohon sewaktu berjalan. Setengah berlari dia mencoba mengejar Vanza.
“Kau, kenapa masih saja mengekoriku?” tanya Vanza akhirnya.
“Kalau aku pulang naik taksi, aku bisa turun tepat di depan rumahku, tapi sebelumnya harus menelpon taksi terlebih dahulu. Masalahnya ponselku sudah kehabisan daya dari tadi malam. Kalau aku naik bus, dari sini masih jauh berjalan supaya sampai ke halte. Selain itu, tidak ada bus yang berhenti di depan rumahku. Masalahnya aku sudah kelelahan dan beberapa saat yang lalu baru sadar, ternyata aku tidak membawa dompet. Jadi aku tidak punya uang untuk bayar bus.” Jelas Keyko dengan nada memelas. “Aku juga tidak tahu sekarang ada di mana.” Lanjutnya.
“Jadi?”
“Jadi kupikir, lebih baik aku mengekorimu saja. Siapa tahu hatimu terbuka untuk mengantarkan pulang.” Kali ini Keyko mendahului Vanza, “Ke mana sekarang? Masih lurus ke depankah? Aku harap sudah tidak jauh.”
Rumah kecil di tengah padang rumput, di sekitarnya tumbuh beberapa pohon pinus yang enggan berdekatan satu sama lain, dari jauh tampak bukit menjulang.  Anyelir pun tumbuh di antara rerumputan hijau memberikan warna eksotis. Berbatasan dengan danau berwarna hijau yang ditumbuhi banyak teratai. Ditambah lagi dengan beberapa kelinci yang bekejar-kejaran di antara bunga-bunga menambah kesan bak berada di pondok peri.
Dari kejauahan rumah itu menebarkan aura sejuk bagi mata yang memandang. Rumah dengan ornamen kayu. Di serambi rumah terdapat dua pasang kursi dari bambu dengan satu meja berhias bunga mawar putih di atasnya. Di beberapa sudut serambi tergantung bunga anggrek bulan yang sedang bermekaran.
Dekat dengan rumah, di salah satu pohon, terpaku papan kecil dengan tulisan, Griya Asa, ditulis dengan menggunakan arang kayu. Dari tulisan yang tertera, mungkin pemilik rumah berharap agar rumah tersebut menjadi rumah harapan. Harapan bagi mereka untuk mendapat ketentraman ataupun kebahagian.
Mata Keyko tak henti berdecak kagum. Indah bunga sakura saat bermekaran, tak seindah rerumputan dan bunga anyelir. Putihnya salju Jepang tetap saja tak seindah hijaunya air danau. Sempat terpikir olehnya, bahwa sekarang dia sedang berada di negeri tempat para peri tinggal.
Kaki telanjang Keyko menyusuri rerumputan, ada yang menggelitik saraf-saraf kakinya. Jemarinya bergerak membelai anyelir berwarna merah muda dan putih. Digodanya kupu-kupu yang sedang asik menikmati madu. Hal itulah yang membuat senyuman terus terkembang di sudut bibir merahnya.
Riak air di danau menegaskan bahwa ada kehidupan lain selain teratai merah jambu itu. Benar sekali, sepasang kura-kura sedang menunggui anak-anaknya bermain di antara batang teratai. Gerombolan ikan kecil juga sedang bereuforia menyambut kaki mungil milik Keyko, entah karena kagum atau sedang menggoda, ikan-ikan itu berebut menciumi kakinya.
Puas mengizinkan air danau menjamah kakinya, Keyko menyusul Vanza yang sudah masuk ke rumah kecil itu. Di amatinya setiap benda yang ada di ruang tamu, nuansa klasik jelas tersuguh. Kursi dan meja dari rotan, lemari dari jati, serta lukisan pemandangan menjadi hal utama yang menarik matanya. Selain itu, beberapa bonsai menjadi daya tarik selanjutnya.
Keyko duduk disalah satu kursi sambil membuka album foto yang ada di atas meja, jari-jarinya pun lincah membuka lembar per lembar. Tak lama Vanza muncul dari dalam ruang sambil membawa segelas air putih dan semangkuk mi instan yang dilengkapi dengan telur rebus. Vanza duduk tepat di seberang tempat Keyko duduk.
“Wahhh, seharusnya kalau ada tamu juga disuguhi minum!” Ucap Keyko ketika melihat Vanza meletakkan air.
“Bagiku tamu itu sebutan bagi sesorang yang datang karena diundang.”
Keyko memonyongkan bibirnya, menegaskan bahwa dia sedang kesal, “Di mana ibumu? Aku pikir akan lebih baik kalau aku minta air ke ibumu saja. Karena aku yakin, seorang ibu yang melihatku pasti akan berbaik hati memberikan segelas air.”
“Tidak ada.”
“Ayahmu?”
“Tidak ada.”
“Saudaramu?
“Tidak ada!” tandasnya.
“Lalu kamu tinggal dengan siapa di sini?” selidik Keyko.
“Sendiri.”
Harghhh, Keyko memekik terkejut. Dengan cepat dia meraih tas yang dia letakkan di sampingnya. Digunkannya tas itu untuk menutupi dadanya. Dengan sigap, dia pun berdiri dengan kaki membentuk setengah kuda-kuda. Hal itu tentu membuat Vanza hanya memandang Keyko dengan penuh kebingungan.
“Jangan macam-macam! Aku pernah ikut karate walaupun tidak lulus. Tendangan kakiku juga lumayan kuat walaupun tidak jenjang! Pukulanku juga lumayan menyakitkan walaupun aku kurang bertenaga.” Jelas Keyko dengan tubuh yang jelas terlihat bergetar hebat.
“Ini yang kamu sebut lumayan,” Vanza merebut tas Keyko dan melemparkanya ke atas meja, “haisss, bahkan kelinciku lebih lumayan darimu.” Vanza menyeringai, “Kalau mau macam-macam sudah kulakukan sejak kau berisik di padang ilalang tadi.”
Vanza masuk kembali ke dalam ruang di sebelah ruang tamu, tak lama dia kembali lagi dengan membawa segelas air dan biskuit coklat. Di letakannya air dan biskuit itu di hadapan Keyko.
“Hanya itu yang tertinggal di lemari pendinginku.”
Tidak ada niatan bagi Keyko untuk meminum air itu, apalagi untuk memakan biskuit itu meski tenggorokannya telah kering karena terlalu lama berjalan. Dia memikirkan adega-adegan di film, biasanya tokoh antagonis akan memberikan minuman ataupun makanan beracun pada lawannya.
“Kenapa? Takut kuberi racun atau obat tidur?”
Sial, pria itu tahu yang sedang dia pikirkan, batin Keyko. Kalau bukan karena menjunjung etika, ingin sekali Keyko menuangkan air ke kepala pria di hadapannya. “Anggap saja ini bentuk menjaga diri,” tandas Keyko.
Vanza tersenyum kecil, lalu diambilnya air di atas meja dan mulai ditenggaknya. Cegukan demi cegukan mulai mengalir di kerongkongnnya bagai oasis di tengah padang pasir. Biskuit coklat yang sejak tadi merayu untuk dimakan juga menjadi sasaran Vanza selanjutnya. Tanganya yang berotot begitu cekatan meraih biskuit pertama dan memasukannya ke dalam mulut dengan lembut. Akan tetapi, baru satu gigitan, Keyko telah merebut biskuitnya dan menghabiskannya dengan sekali gigitan. Hal itu terus terjadi hingga Vanza mengambil biskuit ketiga.
Kini tangan Vanza meraih mi instan yang sudah mulai mengembang karena terlalu lama diabaikan. Mi instan itu tidak langsung dilahap karena Vanza menyadari, Keyko sekarang mulai melirik mi yang dipegangnya. Cukup lama Vanza memegangnya, tapi tidak ada tanda-tanda Keyko akan merebutnya. Keyko justru membuang pandanganya setiap Vanza menyorongkan mi itu. Akan tetapi, terkadang hal yang kita pikirkan berbanding terbalik dengan yang terjadi, nyatanya baru sendokan pertama selesai dikunyah, Keyko telah mengambil alih mangkuk berisi mi itu.
Sorry. Aku lapar maksimal setelah perjalanan pajang yang melelahkan.”
Ada senyuman di bibir Vanza, “Suka makanan sisa?” ucapnya sembari beranjak pergi meninggalkan Keyko.
Jam di dinding telah menunjukan pukul 11.35 ketika Vanza kembali menemui Keyko di ruang tamu. Dilihatnya Keyko kembali membuka beberapa album foto, Keyko kadang tersenyum, kadang mengernyitkan dahi, kadang juga menggosok-gosok foto dengan kesal. Untuk menunjukan kehadiran, Vanza berdeham. Hal itu tentu menyadarkan Keyko yang hanyut dalam memori foto-foto yang sedang dilihat.
Pandangan Keyko pun bertemu dengan pandangan Vanza yang sudah berdiri cukup lama mengamatinya. Pandangan Keyko langsung menjamah setiap bagian tubuh pria di sampingnya. Mulai dari cara berpakaian, detail wajah, hingga gaya rambut yang diberi gel berbau mint. Aroma sabun bercampur parfum juga begitu mengusik indra penciuman Keyko yang sensitif.
Sebagai seorang wanita, Keyko mengakui bahwa Vanza masuk dalam golongan pria berparas tampan dan berkarisma. Paduan kaus oblong warna abu-abu dengan kemeja berwarna hitam dan jeans hitam membuatnya sedap di pandang. Rambut yang tadi acak-acakan kini telah diberi gel tersisir rapi. Gaya rambut itu mengingatkannya dengan gaya rambut salah satu anggota boy band Korea kesukaannya.
“Seberapa tampanya aku hingga kamu tidak memalingkan pandangnmu?” tanya Vanza datar tanpa menatap Keyko, “kuharap, aku tidak membuatmu lupa cara bernapas.”
“Sial,” batin Keyko.
Helm berwarna hitam yang tergeletak di sebelah lemari diraih Vanza. Dia lemparkan helm itu ke Keyko. Dengan gesit, Keyko menagkapnya meski nyaris menjatuhkannya. Seperti tahu yang diperintahkan oleh Vanza, tanpa intruksi Keyko mengikuti Vanza yang siap keluar rumah. Di luar Vanza telah menunggunya di atas motor besar berwarna hitam.
“Kunci rumahku!” perintah Vanza sambil melemparkan sebuah kunci.
Kalau sedang tidak dalam kondisi terdesak, pasti Keyko telah memberi beberapa pukulan dan makian untuk Vanza karena telah memperlakukaknya dengan buruk. Karena Keyko tidak dapat berbuat apa-apa, jadi dia hanya menerima pasrah perlakuaan itu. Semoga ini menjadi pertemuan terakhirnya, pikir Keyko saat itu. Sungguh dia tidak ingin bertemu dengan pria itu di hari-hari mendatang.
Sepanjang perjalanan tidak ada kalimat yang terlontar dari bibir mungil Keyko, meskipun sebenarnya dia ingin sekali memaki pria itu. Bagaimana tidak, ternyata dari apartemen, tempat tinggal Sastra, tidak perlu melewati padang ilalang yang menyiksa karena ada jalan lain yang lebih mulus. Kalau dipikir, jarak tempuhnya pun lebih dekat. Seandainya saja sejak awal Vanza mengajaknya lewat jalan itu.
“Auwww,” teriak Keyko karena terkejut Vanza tiba-tiba menghentikan motornya, “sengaja, ya?”
“Turun!”
“Apa?”
“Turun!”
“Di sini?” Keyko bingung.
Dasar pria tidak berprasaan, pikir Keyko. Hal ini sungguh melukai harga dirinya sebagai seorang wanita. Seorang pria seharusnya tidak meninggalkan wanitanya di sembarang tempat. Namun, apa boleh buat, nyatanya Keyko bukanlah wanita milik Vanza. Jadi, wajar jika Keyko dicampakkan.
Vanza megeluarkan selembar uang dua puluh ribuan, diberikanya uang itu kepada Keyko yang telah mematung di samping motornya. “Untuk naik bus, jangan lupa kembalikan! Aku anggap ini sebagai utang, pastikan membayarnya saat kita bertemu.” Vanza memutar motornya, siap meninggalkan Keyko yang masih mematung dengan selembar uang di tangan kiri.
“Vanzaaaaaa,”panggil Keyko, “aku bayar hutangku sekarang,” Keyko melempar sepatu kanannya yang tadi disimpan di dalam tas, “ambil saja kembaliannya!”
“Sinting!!!” maki Vanza.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar