Musik

Kamis, 15 Juni 2017

Saudara: Adik Perempuan (Bagian Akhir)



Awal Desember 2016, rinai pertama menyentuh bumi, jatuh berguguran menabrak ranting-ranting pohon yang hampir mati. Rinai ini membawa genangan dan kenangan yang sama-sama mengendap, yang satu mengendap di dasar tanah dan satunya lagi mengendap di dasar hati.
Kusibakan rambut panjang hitamku yang bergelombang. Kumerahkan pipi dan bibirku. Terakhir kutebar aroma mint bercampur pinacone ke seluruh tubuh sebelum kutatap lekat sosok yang berdiri dihadapanku. Tatapannya begitu berani, dagunya terangkat menandakan kepercayaan dirinya. Aku menjadi sedikit lebih berani.
“Maaf,” seorang wanita membuyarkan pandangku, “saya tidak tahu Anda di sini” sambungnya. Aku tak mengacuhkannya, kutatap kembali bayang wajahku dalam cermin sebelum memasukan lipstikku ke dalam poket kecil yang selalu kubawa.
“Sepuluh menit lagi, kita akan ke ruang isolasi” ucapku dingin seperti biasanya.
“Siap!” jawabnya singkat sambil pergi tergopoh-gopoh menyisakan aroma khas alkohol yang semakin akrab denganku, sensasinya justru seperti candu.

Rabu, 14 Juni 2017

(Im)mature



Sebuah cinta yang kukira akan abadi kian menutup
Dan meskipun banyak teman yang meninggalkanku
Aku sudah tua jadi aku merasa aku sudah menjadi dewasa
Mengapa aku begitu cemas?

Lagi, hari ini, orang-orang terjebak di masa lalu
Dunia berjalan tanpa aku
Aku masih muda jadi aku merasa aku masih belum dewasa
Mengapa aku begitu bodoh?

Ketika aku pernah merasa bahagia meskipun tak punya apa-apa
Rasanya baru kemarin, ya, aku pikir aku sudah terlalu jauh
Aku tak ingat
Ini adalah yang pertama kalinya jadi aku canggung
Dan aku senang kenangan masa lalu masih terasa seperti mimpi
Dan aku tak tahu kemana tujuanku

Aku kan menyanyikan lagu ini dan aku kan kembali padamu
Jika aku bisa melihat cantiknya dirimu lagi
Aku kan mendengarkan lagu ini bersamamu dan menari tuk yang terakhir kalinya
Mengingat momen ini selamanya, jika perlu
Berdansa tuk yang terakhir kalinya

Aku menjadi cahaya yang redup dan hidup di antara bintang-bintang
Kau juga menjadi bintang dan kau melambai-lambai padaku
Apakah aku terlihat kesepian karena aku sendirian
Mengapa ini membuatku menangis?
Last Dance (BIGBANG)

Ada saatnya aku menjadi sedikit sensitif karena merasa orang-orang terdekatku tak sejalan denganku, seolah menghakimiku, dan tiba-tiba satu per satu mulai meninggalkanku. Aku pikir aku seorang yang dewasa, maka aku tak mengacuhkannya. Arghhh…mengapa aku begitu cemas?

Jumat, 09 Juni 2017

Hey You



Hey you, apa kabar dengan hidupmu?
Sudahlah lupakan masa lalumu!
Hey you, apa terkubur masa lalumu?
Sudahlah biarkan menjadi kenanganmu!

Saat kau ingin bahagia
Jadilah laki-laki pemberani, memahami meski tersakiti
Don’t wanna cry like baby
Saat kau ingin setia
Keberanian adalah teman, keyakinan adalah teman
Just wanna fight like superman

Hey you, mari kita mulai lakukan!
Hey you, mari kita mulai lakukan!
Mulai lakukan!
Mulai lakukan!

Angkat tanganmu, ini akan jadi berisik
Hilangkan perasaanmu, DJ ayo mainkan musik
Sudah cukup lama kau menunggu
Sungguh ini membuatku terganggu
Kau dan aku bukan parodi masa lalu
Jadi…

Hey you, mari kita mulai lakukan!
Hey you, mari kita mulai lakukan!
Mulai lakukan!
Mulai lakukan!
Don’t wanna cry like baby
Just wanna fight like superman

Nuriana Indah

Selasa, 06 Juni 2017

Gaun Pengantin (Bagian 2)



Oleh: Nuriana Indah
BAB II
Pemilik Hati

“Bibi, apa yang sebenarnya sedang bibi pikirkan? Tak pernah aku melihatmu berbuat seperti ini. Seharian aku melihat, bibi hanya menatap gaun itu tanpa berbuat apa-apa.”
“Lihat apa yang telah aku lakukan! Aku tak mengerti, mengapa aku harus melakukan ini. Membuat gaun pengantin untuk orang yang tak pernah aku ketahui sebelumnya.” Jawab Mina. “Bahkan sekali pun aku tak pernah berniat untuk membuatnya. Atau tak usah saja kuberikan gaun ini padanya?” Mina menatap kesal gaun indah yang tergelatak di hadapannya.
“Bukankah bibi sudah bersedia membuat gaun pengantin untuk wanita itu. Janji adalah janji, janji harus ditepati!”
“Bukan perkara ditepati, tapi dengan siapa aku berjanji? Aku juga tak mengerti. Bahkan bahan yang ditinggalkanya tak pernah kusentuh. Gaun ini kubuat dengan bahan yang kubeli sendiri.”
“Bukankah gaun ini dari sutra, benang, dan batu permata milik wanita itu?”
“Bukan! Gaun ini dari sutra, benang, dan batu permata yang kubeli sendiri. Aku memang sengaja membeli bahan serupa dengannya.”
“Kenapa bibi melakukan itu?”
“Aku juga tak tahu kenapa melakukan itu. Aku hanya berpikir untuk menjahit gaun pengantin untukmu, jadi aku tak ingin menggunakan bahan gaun darinya.” Mina membela diri, “Lagi pula, apa yang salah? Bahan yang gunukan pun sama.”
“Tapi kenapa wanita itu tak pernah datang untuk mengambil gaunnya? Bukankah ini sudah lebih dari setahun sejak wanita itu datang kemari?”
“Entahlah.”
"Aku katakan padanya untuk mengambilnya seminggu sebelum pernikahnya. Dia juga mengundang kita untuk menghadiri pernikahanya, tapi bagaimana kita akan datang jika wanita itu tak pernah kemari lagi? Aku tak sempat menyakan rumahnya waktu itu."
"Sudahlah. Aku tidak tertarik dengan pertanyaanmu!"
“Apakah wanita itu sudah tidak menginginkan gaunnya?”

Gaun Pengantin (Bagian 1)



Oleh: Nuriana Indah
 
Indahnya alam pagi ini, pohon-pohon kokoh berdiri menunjukan rindangnya daun yang dia miliki, bunga-bunga sedang bermekaran, di sana-sini kupu-kupu menari-menari di hamparan bunga-bunga di taman. Keluarga kumbang pun tidak mau kalah, mereka berayun-ayun di ranting-ranting pohon. Kicauan burung di pucuk cemara juga menambah syahdunya alam. Sepasang kekasih duduk  di bawah pohon, mereka tersenyum, bahagia.
“Kau tau sayang, apa yang membuatku jatuh cinta kepadamu?” Tanya si lelaki.
“Tentu kecantikannku yang membuatmu jatuh cinta kepadaku!” Jawab si wanita.
“Kecantikanmu masih kalah dengan bunga-bunga yang ada di tempat ini.”
“Jadi aku masih kalah cantik dengan bunga-bunga ini. Tak cukup menarikkah aku bagimu,” Si wanita pura-pura marah. “Setiap aku bercermin, aku selalu menangisi diriku, aku takut kalau kecantikanku menjadi milik laki-laki selain kau.”
Si lelaki tertawa kecil melihat kekasihnya marah, “Benarkah kau marah dengan yang ku katakan sayang?” lelaki itu membelai rambut kekasihnya dengan lembut, kemudian mencium pipi kirinya. “Kau memang kalah cantik dengan bunga-bunga, kau tidaklah sesempurna bunga-bunga ini,” lelaki itu memitik bunga berwarna putih, kemudian bunga itu dia selipkan di rambut kekasihnya. “Bunga-bunga ini akan bermekaran dan wangi setiap hari, setelah layu, bunga-bunga itu akan gugur, dan akan bermekaran lagi bunga-bunga baru yang lebih cantik dan segar.”
“Jadi, kau akan mencampakkan aku setelah aku tak cantik dan menarik lagi!” Kini, wanita itu benar-benar marah.
“Aku tidak pernah mencampakkanmu. Bagaimana mungkin aku mencampkkanmu, jauh darimu saja hati ku terasa kosong. Kau tahu, aku seperti tak bisa bernapas saat kau tak ada di sisiku.”
“Lalu mengapa kau berkata demikian padaku, bukankah aku tak sesempurna bunga-bunga ini.” Wanita itu tampak semakin marah, dia mencabut beberapa bunga yang ada di dekatnya. “Menikahlah dengan mereka, jika mereka lebih sempurna dariku!”
Lelaki itu hanya tersenyum, memeluk kekasihnya dengan erat. “Kau memang tak sesempura bunga-bunga di taman ini, tapi hanya kaulah yang mampu menyempurnakan hatiku. Kau dan bunga sama-sama mengajarkan ku tentang kesempurnaan, menyadarkan akal ku bahwa yang aku miliki dan cintai tidaklah sempurna, hanya milik Tuhan yang sempurna.” Lelaki itu mencium kening kekasihnya dengan lembut, “kecantikan bungan itu akan abadi hingga dia mati, tapi kecantikanmu tidaklah abadi. Ketika kau mulai menua, perlahan kecantikanmu akan pudar. Kecantikanmu memang tak sempurna, dan dengan ketidaksempurnaanmu aku berusaha mencintaimu dengan cara yang sempurna.”
“Menerima segala kekuranganku?”
“Menerima segala kekurangmu, dan menjaga kelebihan yang telah dititipkan Tuhan untukmu.” Laki-laki itu menggandeng kekasihnya menyusuri hamparan bunga.
Rumput-rumput bergoyang, nyiur melambai-lambai, matahari tersenyum bahagia, menyambut kebahagian pasangan kekasih ini. Alam pun ikut bernyanyi, gemericik suara air terjun memberi alunan lagu cinta untuk jiwa-jiwa yang yang dilanda gelora cinta.
***