Oleh: Nuriana Indah
Indahnya alam pagi ini, pohon-pohon kokoh berdiri menunjukan
rindangnya daun yang dia miliki, bunga-bunga sedang bermekaran, di sana-sini
kupu-kupu menari-menari di hamparan bunga-bunga di taman. Keluarga kumbang pun
tidak mau kalah, mereka berayun-ayun di ranting-ranting pohon. Kicauan burung
di pucuk cemara juga menambah syahdunya alam. Sepasang kekasih duduk di bawah pohon, mereka tersenyum, bahagia.
“Kau tau sayang, apa yang membuatku jatuh cinta kepadamu?”
Tanya si lelaki.
“Tentu kecantikannku yang membuatmu jatuh cinta kepadaku!”
Jawab si wanita.
“Kecantikanmu masih kalah dengan bunga-bunga yang ada di
tempat ini.”
“Jadi aku masih kalah cantik dengan bunga-bunga ini. Tak
cukup menarikkah aku bagimu,” Si wanita pura-pura marah. “Setiap aku bercermin,
aku selalu menangisi diriku, aku takut kalau kecantikanku menjadi milik
laki-laki selain kau.”
Si lelaki tertawa kecil melihat kekasihnya marah, “Benarkah
kau marah dengan yang ku katakan sayang?” lelaki itu membelai rambut kekasihnya
dengan lembut, kemudian mencium pipi kirinya. “Kau memang kalah cantik dengan
bunga-bunga, kau tidaklah sesempurna bunga-bunga ini,” lelaki itu memitik bunga
berwarna putih, kemudian bunga itu dia selipkan di rambut kekasihnya.
“Bunga-bunga ini akan bermekaran dan wangi setiap hari, setelah layu,
bunga-bunga itu akan gugur, dan akan bermekaran lagi bunga-bunga baru yang
lebih cantik dan segar.”
“Jadi, kau akan mencampakkan aku setelah aku tak cantik dan
menarik lagi!” Kini, wanita itu benar-benar marah.
“Aku tidak pernah mencampakkanmu. Bagaimana mungkin aku
mencampkkanmu, jauh darimu saja hati ku terasa kosong. Kau tahu, aku seperti
tak bisa bernapas saat kau tak ada di sisiku.”
“Lalu mengapa kau berkata demikian padaku, bukankah aku tak
sesempurna bunga-bunga ini.” Wanita itu tampak semakin marah, dia mencabut
beberapa bunga yang ada di dekatnya. “Menikahlah dengan mereka, jika mereka lebih
sempurna dariku!”
Lelaki itu hanya tersenyum, memeluk kekasihnya dengan erat.
“Kau memang tak sesempura bunga-bunga di taman ini, tapi hanya kaulah yang
mampu menyempurnakan hatiku. Kau dan bunga sama-sama mengajarkan ku tentang
kesempurnaan, menyadarkan akal ku bahwa yang aku miliki dan cintai tidaklah
sempurna, hanya milik Tuhan yang sempurna.” Lelaki itu mencium kening
kekasihnya dengan lembut, “kecantikan bungan itu akan abadi hingga dia mati,
tapi kecantikanmu tidaklah abadi. Ketika kau mulai menua, perlahan kecantikanmu
akan pudar. Kecantikanmu memang tak sempurna, dan dengan ketidaksempurnaanmu
aku berusaha mencintaimu dengan cara yang sempurna.”
“Menerima segala kekuranganku?”
“Menerima segala kekurangmu, dan menjaga kelebihan yang
telah dititipkan Tuhan untukmu.” Laki-laki itu menggandeng kekasihnya menyusuri
hamparan bunga.
Rumput-rumput bergoyang, nyiur melambai-lambai, matahari
tersenyum bahagia, menyambut kebahagian pasangan kekasih ini. Alam pun ikut
bernyanyi, gemericik suara air terjun memberi alunan lagu cinta untuk jiwa-jiwa
yang yang dilanda gelora cinta.
***