Karya: Nuriana
Indah
Peristiwa subuh di dusun Bedugul, azan
berkumandang, kokok ayam jago menggelegar, samar-samar kicauan burung
terdengar. Teriakan minta tolong Sumarni mulai membangunkan warga yang masih
tertidur lelap. Sumarni berteriak sambil berlari tergopoh-gopoh ke luar rumah
dengan membawa alu.
Dengan raut wajah merah padam, Karso
mengejar Sumarni, ”Tak usah kau berteriak! Tak ada yang menolongmu, kembalikan
alu itu, biar kupakai untuk memecahkan kepala Inang,” berusaha merebut alu dari
tangan Sumarni.
”Tak kasihankah dengan Emak yang sudah
renta?” Sumarni menangis dan mengiba kepada Karso.
Karso yang memiliki watak keras dan
tempramental selalu menjadi setiap mendengar Inang batuk. Usia Inang yang
semakin senja membuatnya digerogoti berbagai penyakit, bahkan hampir setiap
waktu Inang selalu batuk. Karso yang
sejak kecil dirawat oleh Inang bahkan tidak peduli dengan sakit yang diderita
oleh Inang.
”Peduli apa aku dengannya,” Karso
meludah, ”orang tua penyakitan! Biar kupecahkan kepalanya dengan alu, biar
lekas mampus! Kau pikir aku betah mendengar suara batuknya setiap malam!” menarik
alu dengan kasar dari tangan Sumarni.
Sumarni menahan kaki Karso untuk
menahannya. Akan tetapi apa daya, tubuh Sumarni terlalu ringkih untuk melawan
tubuh Karso yang telah dikuasai oleh amarah. Dengan sisa-sisa tenaga dan suara
parau, Sumarni berteriak meminta pertolongan. Namun, tidak ada yang peduli
dengan teriakan Sumarni.
Beberapa warga berdatangan, pun mereka
hanya melihat sambil sesekali mengumpat dan bergunjing. Kejadian seperti ini
memang bukan yang pertama dilihat oleh warga dusun Bedugul. Tabiat Karso
membuat warga enggan untuk berurusan dengan orang-orang di sekitar Karso. Meski
mereka tidak tega melihat perlakuan Karso kepada Sumarni dan Inang, tapi warga
memilih diam daripada harus berurusan dengan Karso.
”Dasar tidak waras! Setiap hari ribut
terus!” ucap Daklan yang datang bersama warga lainnya.
Melihat warga mulai berdatangan, Karso
segera menyingkirkan tangan Sumarni yang masih berusaha menahan tubuhnya, dia
mendorong tubuh ringkih Sumarni hingga tersungkur di tanah.
”Minggir!” bentak Karso sambil
mendorong tubuh Sumarni.
Sumarni terus mengiba kepada warga. Kalau
bukan dengan warga tak tahu lagi dia harus minta tolong kepada siapa.
Sebenarnya, bukannya warga tidak mau menolong, tapi kalau berurusan dengan
Karso, maksud hati hendak menolong justru dibuat babakbelur oleh lelaki itu.
Seperti hilang harapan, Sumarni hanya
menangis pasrah sambil menyusul Karso ke dalam rumah. Untuk kesekian kalinya,
Sumarni harus pasrah menerima keadaan. Ia tak tega melihat Inang diperlakukan
kasar, pun dia tak mampu menghentikan peringai kasar Karso.
”Hentikan, jangan kau sakiti Emak
lagi!” berdiri di samping dipan tempat Inang terbaring, dia masih berusaha
menahan Karso, ”Emak yang merawat kita sejak orang tua kita meninggal.”
Inang tahu pasti bagaimana hati anak
perempuannya ini. Meski Sumarni bukan terlahir dari rahimnya, tapi Inang dapat
merasakan kasih tulus Sumarni. Melihat Sumarni begutu mengiba, tak tega juga
Inang melihatnya. Inang mencoba bangkit dari dipan, dia menyodorkan tubuhnya
kepada Karso, ”Pukul saja aku, So. Aku terlalu renta untuk melawanmu. Aku
pasrah menghadapi nasib.”
Mendengar ucapan Inang, makin tersulut
amarah Karso. Baginya Inang seperti menantangnya saja. Dengan gesit, Karso mendorong
Sumarni dengan kasar, kembali menghampiri Inang yang sedang duduk di dipan bambu.
”Matilah kau nenek tua!” Karso mengangkat
alu, siap untuk memukul kepala Inang.
”Kau yang mati!” Tak disangka, Sumarni memukulkan
balok di kepala Karso. Berkali-kali Sumarni memukul kepala Karso, hingga
akhirnya Karso tewas.
Melihat Karso tersungkur bersimbah
darah, Inang begetar, tak habis dia berpikir, ”Apa yang kau lakukan kepada
abangmu? Kau membunuhnya, Marni!” Inang menghampiri tubuh Karso yang besimbah
darah.
“Biarlah, Mak. Biar
dia tak menyakiti emak lagi. Lagi pula dia tak tahu balas budi.”
Inang menggenggam tangan Sumarni yang
masih memegang balok, “Tetap salah yang kau lakukan. Aku sudah renta, tak
masalah bagiku kalau memang hidupku harus berakhir ditangan anak angkatku
sendiri. Aku sudah pasrah” mengambil balok di tangan Sumarni.
Sumarni menatap Inang dengan pandangan nanar. Batinnya kembali bergejolak. Dia
merasa lega karena sekarang tidak perlu lagi melihat Inang mendapat perlakuan
kasar Karso, di lain sisi Sumarni kalut membayangkan hari-harinya akan
dihabiskan dibalik jeruji besi. Akan tetapi yang paling membuatnya teriris, dia
harus kehilangan satu-satunya saudara sekandungnya.
“Sudahlah, Mak. Tak
perlu disesali. Aku siap untuk mempertanggungjawabkan perbuatanku. Balok itu
memang sudah kusiapkan dari tadi malam untuk jaga-jaga kalau Karso mengamuk.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar