Musik

Minggu, 03 Desember 2017

Alu untuk Inang

Karya: Nuriana Indah

Peristiwa subuh di dusun Bedugul, azan berkumandang, kokok ayam jago menggelegar, samar-samar kicauan burung terdengar. Teriakan minta tolong Sumarni mulai membangunkan warga yang masih tertidur lelap. Sumarni berteriak sambil berlari tergopoh-gopoh ke luar rumah dengan membawa alu.
Dengan raut wajah merah padam, Karso mengejar Sumarni, ”Tak usah kau berteriak! Tak ada yang menolongmu, kembalikan alu itu, biar kupakai untuk memecahkan kepala Inang,” berusaha merebut alu dari tangan Sumarni.

”Tak kasihankah dengan Emak yang sudah renta?” Sumarni menangis dan mengiba kepada Karso.
Karso yang memiliki watak keras dan tempramental selalu menjadi setiap mendengar Inang batuk. Usia Inang yang semakin senja membuatnya digerogoti berbagai penyakit, bahkan hampir setiap waktu Inang selalu batuk.  Karso yang sejak kecil dirawat oleh Inang bahkan tidak peduli dengan sakit yang diderita oleh Inang.
”Peduli apa aku dengannya,” Karso meludah, ”orang tua penyakitan! Biar kupecahkan kepalanya dengan alu, biar lekas mampus! Kau pikir aku betah mendengar suara batuknya setiap malam!” menarik alu dengan kasar dari tangan Sumarni.
Sumarni menahan kaki Karso untuk menahannya. Akan tetapi apa daya, tubuh Sumarni terlalu ringkih untuk melawan tubuh Karso yang telah dikuasai oleh amarah. Dengan sisa-sisa tenaga dan suara parau, Sumarni berteriak meminta pertolongan. Namun, tidak ada yang peduli dengan teriakan Sumarni.
Beberapa warga berdatangan, pun mereka hanya melihat sambil sesekali mengumpat dan bergunjing. Kejadian seperti ini memang bukan yang pertama dilihat oleh warga dusun Bedugul. Tabiat Karso membuat warga enggan untuk berurusan dengan orang-orang di sekitar Karso. Meski mereka tidak tega melihat perlakuan Karso kepada Sumarni dan Inang, tapi warga memilih diam daripada harus berurusan dengan Karso.
”Dasar tidak waras! Setiap hari ribut terus!” ucap Daklan yang datang bersama warga lainnya.
Melihat warga mulai berdatangan, Karso segera menyingkirkan tangan Sumarni yang masih berusaha menahan tubuhnya, dia mendorong tubuh ringkih Sumarni hingga tersungkur di tanah.
”Minggir!” bentak Karso sambil mendorong tubuh Sumarni.
Sumarni terus mengiba kepada warga. Kalau bukan dengan warga tak tahu lagi dia harus minta tolong kepada siapa. Sebenarnya, bukannya warga tidak mau menolong, tapi kalau berurusan dengan Karso, maksud hati hendak menolong justru dibuat babakbelur oleh lelaki itu.
Seperti hilang harapan, Sumarni hanya menangis pasrah sambil menyusul Karso ke dalam rumah. Untuk kesekian kalinya, Sumarni harus pasrah menerima keadaan. Ia tak tega melihat Inang diperlakukan kasar, pun dia tak mampu menghentikan peringai kasar Karso.
”Hentikan, jangan kau sakiti Emak lagi!” berdiri di samping dipan tempat Inang terbaring, dia masih berusaha menahan Karso, ”Emak yang merawat kita sejak orang tua kita meninggal.”
Inang tahu pasti bagaimana hati anak perempuannya ini. Meski Sumarni bukan terlahir dari rahimnya, tapi Inang dapat merasakan kasih tulus Sumarni. Melihat Sumarni begutu mengiba, tak tega juga Inang melihatnya. Inang mencoba bangkit dari dipan, dia menyodorkan tubuhnya kepada Karso, ”Pukul saja aku, So. Aku terlalu renta untuk melawanmu. Aku pasrah menghadapi nasib.”
Mendengar ucapan Inang, makin tersulut amarah Karso. Baginya Inang seperti menantangnya saja. Dengan gesit, Karso mendorong Sumarni dengan kasar, kembali menghampiri Inang yang sedang duduk di  dipan bambu.
”Matilah kau nenek tua!” Karso mengangkat alu, siap untuk memukul kepala Inang.
”Kau yang mati!” Tak disangka, Sumarni memukulkan balok di kepala Karso. Berkali-kali Sumarni memukul kepala Karso, hingga akhirnya Karso tewas.
Melihat Karso tersungkur bersimbah darah, Inang begetar, tak habis dia berpikir, ”Apa yang kau lakukan kepada abangmu? Kau membunuhnya, Marni!” Inang menghampiri tubuh Karso yang besimbah darah.
“Biarlah, Mak. Biar dia tak menyakiti emak lagi. Lagi pula dia tak tahu balas budi.”
Inang menggenggam tangan Sumarni yang masih memegang balok, “Tetap salah yang kau lakukan. Aku sudah renta, tak masalah bagiku kalau memang hidupku harus berakhir ditangan anak angkatku sendiri. Aku sudah pasrah” mengambil balok di tangan Sumarni.
Sumarni menatap Inang dengan pandangan nanar. Batinnya kembali bergejolak. Dia merasa lega karena sekarang tidak perlu lagi melihat Inang mendapat perlakuan kasar Karso, di lain sisi Sumarni kalut membayangkan hari-harinya akan dihabiskan dibalik jeruji besi. Akan tetapi yang paling membuatnya teriris, dia harus kehilangan satu-satunya saudara sekandungnya.
“Sudahlah, Mak. Tak perlu disesali. Aku siap untuk mempertanggungjawabkan perbuatanku. Balok itu memang sudah kusiapkan dari tadi malam untuk jaga-jaga kalau Karso mengamuk.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar