Surya
belum jelas menampakan cahayanya. Kabut subuh masih tersisa di antara
remang-remang srengenge rojo awan. Suasana dusun pagi ini tidak
jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya. Penduduk dusun Genongan melakukan
kegiatan seperti biasa, seng wedok
sibuk menutu padi, sedangkan seng lanang
minum kopi sambil ngudut.
Mbok
Menuk keluar dari rumah, tangan kirinya menyibakan jarit lusuh yang dikenakannya, sedangkan tangan kanan ngindet bakul berisi padi. Lalu si Mbok duduk
di serambi rumah tangannya lincah menutu padi sambil melantunkan gending Jawa
kesukaannya.
“Sewu kuto uwis tak liwati…sewu ati tak
takoni…nanging kabeh podo ra ngerteni…lungamu neng ngendi…pirang taon anggonku
golek’i…semene durong biso nemoni…” mendengar suara Mbok Menuk, jelas
sekali lagu itu begitu dihapalnya.
Anak
Mbak Menuk, Sri, datang sambil membawa ember dan bakul berisi pakaian basah
yang baru dicuci di kali. Sri datang bersama dua rekannya, Karminah dan Roro.
Melihat
Mbok Menuk asyik nembang, Karminah
geleng-geleng. Tabiat Karmina yang asal nyeplos,
langsung berkomentar. “Oooalahhhh, Mbok. Saiki wes jamane Afgan kok sek
nyanyi lagune Didi Kempot.”
“Afgan? Afgan iku sopo, Min?” Mbok
Menuk menatap Karminah dengan pandangan penuh kebingungan.
“Wahhhhh,
si Mbok, masa tidak tahu Afgan. Iku lohhh Mbok, seng nyanyi Terima Kasih Cinta.”
“Terima Kasih Cinta? Koyo opo lagune?”
Sri mendekati Mbok Menuk, meletakan
ember dan bakul, lalu duduk di sebelah Mbok Menuk. Roro dan Karminah tertawa
kecil melihat wajah kebingungan Mbok Menuk. Dia mengambil alu yang dipegang
Mbok Menuk. Alu itu digunakanya sebagai mikrofon, “Dengar laraku…suara hati ini memangil namamu…karena separuh
aku….dirimu.”
“Wealahhhh,
kui ngono lagune Noah. Katrokkk.” Mbok Menung menghentikan Sri yang sedang
bernyanyi.
“Lohhh,
kok katrok sih Mbok?” Roro menimpali.
“Yo
memang katrokkk. Lagune Noah kok jaremu lagune Afgan.” Jawab Mbok Menuk
seenaknya.
“Laen
Afgan kah?” Karminah bertanya kepada Roro, “terus lagune sopo sing dinyanyik’ne
si Sri?”
“Koyo
lagune Roma, tapi jare si Mbok kok lagune Noah.”
“Sopo
meneh Noah? Penyanyi anyarkah?” tanya Sri penasaran.
Melihat
Sri dan rekan-rekanya kebingungan, Mbok Menuk mengambil alu yang masih dipegang
oleh Sri, “Ooo, katrokkk kabeh,”
sekarang gantian Mbok Menuk yang menyanyi, “lagune Afgan iku sing koyo ngene
lo, Nduk, terima kasih cinta untuk
segalanya…kau berikan lagi kesempatan itu…tak kan terulang lagi…semuaaaaaa
kesalahanku yang pernah menyakitimu.”
“Wealahhh, si Mbok gaul.” Sri bertepuk
tangan dan tertawa girang.
“Ooo,
ojo salah, kalau Mbokmu ini gak kepincut sama Bapakmu, pasti sudah jadi
penyanyi dangdut kaya Noah” Mbok Menuk berdiri lalu menggoyangkan pinggul ala
penyanyi dangdut profesional.
Dengan
cepat Roro berucap, “Waduhhh, Noah lain penyanyi dangdut, Mbok.”
“Loh
laen penyanyi dangdut. Terus penyanyi opo?”
“Kayane
Penyanyi keroncong, Mbok.”
Keributan
kembali terjadi, Karminah pun ikut menimpali, “Mosok Noah penyanyi keroncong?” berhenti
sejenak, setelah itu bertanya lagi, “lain penyanyi dangdutkah?”
Tidak ingin mendengar gadis-gadis
itu ribut kembali, Mbok menuk berusaha menengahi, ‘Wes…wes…terserah saja, Noah
itu penyanyi dangdut atau keroncong. Sing penting, kita sebagai orang Jawa
jangan sampai melupakan lagu-lagu Jawa. Tidak hanya lagu-lagu Jawa saja yang
harus dilestarikan, tetapi juga lagu-lagu daerah harus tetap kita lestarikan
supaya tidak tergeser sama lagu-lagu dari luar yang mulai meracuni anak-anak
muda. Lagu-lagu Jawa itu salah satu budaya Indonesia. Kalau bukan kita yang
melestarikan, siapa lagi?”
“Iya,
Mbok. Bener. Kita patut bersyukur jadi bagian Indonesia, negeri yang memiliki
banyak kebudayaan.” Ucap Sri.
“Betul
Mbok, lagu-lagu daerah juga tidak kalah menarik dengan lagu-lagu bule rambut
pirang.” Kali ini Karminah yang berbicara.
Terakhir,
Roro pun juga ikut menanggapi. Dia mengingat beberapa tayangan televisi yang
sering dia lihat di balai desa. Televisi kecil yang dijadikan pusat informasi
bagi warga desa Genongan menayangkan mengenai budaya Jawa yang ternyata
digemari oleh orang asing. “Betul…betul. Orang bule saja banyak yang belajar
nyiden jawa. Aku pernah lihat di TV, orang Jepang dan Perancis pinter nyinden.”
“Wah,
kalau orang luar saja mau belajar budaya kita, berarti kita sebagai orang
Indonesia asli harus mau melestarikan budaya kita, ya, Mbok?” Sri kembali
bertanya.
“Iya,
Nduk, apa lagi westernisasi mulai masuk ke negeri kita. Nah, jadi jangan sampai
westernisasi menjadi bom yang menghancurkan budaya kita, budaya Indonesia.”
Mendengar
kata asing, Sri kembali bertanya. Rasa penasarannya sejak dulu memang besar,
maklum saja dia memang tak lulus sekolah menengah atas. Bukan karena Sri tidak
cerdas, tapi karena keadaan ekonomi keluarga Sri yang tidak mampu membuatnya terpakasa
mengubur keinginannya untuk mengenyam pendidikan.
“Westrenisasi
itu apo, Mbok?” tanya Sri penasaran.
“
Ooo, katrokkk. Westernisasai itu budaya barat.”
“Ohhh,
westernisasai itu budaya barat. Kok koyo penyanyi keroncong, Mbok.” Roro
kembali memancing keributan.
“Ro…Ro…kamu
ini apa-apa dibilang penyanyi keroncong.”
“Jadi
kamu dari awal sudah tahu kalau westernisasi itu budaya barat?” Selidik Sri
kepada Karminah yang baru saja mengomentari pertanyaan Roro.
“Ora,
sih. Tak pikir westernisasai iku penyanyi dangdut.” Jawab Karminah singkat.
“Wealahhh,
katrok kok dicangkok. Sudah…sudah, ayo, mlebu kabeh neng omah.” Akhirnya mereka
pun masuk ke dalam rumah dan melanjutkan pembicaraan.
NR
Tidak ada komentar:
Posting Komentar