Musik

Minggu, 31 Desember 2017

Mbok Menuk


Surya belum jelas menampakan cahayanya. Kabut subuh masih tersisa di antara remang-remang srengenge rojo awan. Suasana dusun pagi ini tidak jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya. Penduduk dusun Genongan melakukan kegiatan seperti biasa, seng wedok sibuk menutu padi, sedangkan seng lanang minum kopi sambil ngudut.
Mbok Menuk keluar dari rumah, tangan kirinya menyibakan jarit lusuh yang dikenakannya, sedangkan tangan kanan ngindet bakul berisi padi. Lalu si Mbok duduk di serambi rumah tangannya lincah menutu padi sambil melantunkan gending Jawa kesukaannya.
Sewu kuto uwis tak liwati…sewu ati tak takoni…nanging kabeh podo ra ngerteni…lungamu neng ngendi…pirang taon anggonku golek’i…semene durong biso nemoni…” mendengar suara Mbok Menuk, jelas sekali lagu itu begitu dihapalnya.

Anak Mbak Menuk, Sri, datang sambil membawa ember dan bakul berisi pakaian basah yang baru dicuci di kali. Sri datang bersama dua rekannya, Karminah dan Roro.
Melihat Mbok Menuk asyik nembang, Karminah geleng-geleng. Tabiat Karmina yang asal nyeplos, langsung berkomentar. “Oooalahhhh, Mbok. Saiki wes jamane Afgan kok sek nyanyi lagune Didi Kempot.”
            “Afgan? Afgan iku sopo, Min?” Mbok Menuk menatap Karminah dengan pandangan penuh kebingungan.
“Wahhhhh, si Mbok, masa tidak tahu Afgan. Iku lohhh Mbok, seng nyanyi Terima Kasih Cinta.”
Terima Kasih Cinta? Koyo opo lagune?”
            Sri mendekati Mbok Menuk, meletakan ember dan bakul, lalu duduk di sebelah Mbok Menuk. Roro dan Karminah tertawa kecil melihat wajah kebingungan Mbok Menuk. Dia mengambil alu yang dipegang Mbok Menuk. Alu itu digunakanya sebagai mikrofon, “Dengar laraku…suara hati ini memangil namamu…karena separuh aku….dirimu.
“Wealahhhh, kui ngono lagune Noah. Katrokkk.” Mbok Menung menghentikan Sri yang sedang bernyanyi.
“Lohhh, kok katrok sih Mbok?” Roro menimpali.
“Yo memang katrokkk. Lagune Noah kok jaremu lagune Afgan.” Jawab Mbok Menuk seenaknya.
“Laen Afgan kah?” Karminah bertanya kepada Roro, “terus lagune sopo sing dinyanyik’ne si Sri?”
“Koyo lagune Roma, tapi jare si Mbok kok lagune Noah.”
“Sopo meneh Noah? Penyanyi anyarkah?” tanya Sri penasaran.
Melihat Sri dan rekan-rekanya kebingungan, Mbok Menuk mengambil alu yang masih dipegang oleh Sri, “Ooo, katrokkk kabeh,” sekarang gantian Mbok Menuk yang menyanyi, “lagune Afgan iku sing koyo ngene lo, Nduk, terima kasih cinta untuk segalanya…kau berikan lagi kesempatan itu…tak kan terulang lagi…semuaaaaaa kesalahanku yang pernah menyakitimu.
            “Wealahhh, si Mbok gaul.” Sri bertepuk tangan dan tertawa girang.
“Ooo, ojo salah, kalau Mbokmu ini gak kepincut sama Bapakmu, pasti sudah jadi penyanyi dangdut kaya Noah” Mbok Menuk berdiri lalu menggoyangkan pinggul ala penyanyi dangdut profesional.
Dengan cepat Roro berucap, “Waduhhh, Noah lain penyanyi dangdut, Mbok.”
“Loh laen penyanyi dangdut. Terus penyanyi opo?”
“Kayane Penyanyi keroncong, Mbok.”
Keributan kembali terjadi, Karminah pun ikut menimpali, “Mosok Noah penyanyi keroncong?” berhenti sejenak, setelah itu bertanya lagi, “lain penyanyi dangdutkah?”
            Tidak ingin mendengar gadis-gadis itu ribut kembali, Mbok menuk berusaha menengahi, ‘Wes…wes…terserah saja, Noah itu penyanyi dangdut atau keroncong. Sing penting, kita sebagai orang Jawa jangan sampai melupakan lagu-lagu Jawa. Tidak hanya lagu-lagu Jawa saja yang harus dilestarikan, tetapi juga lagu-lagu daerah harus tetap kita lestarikan supaya tidak tergeser sama lagu-lagu dari luar yang mulai meracuni anak-anak muda. Lagu-lagu Jawa itu salah satu budaya Indonesia. Kalau bukan kita yang melestarikan, siapa lagi?”
“Iya, Mbok. Bener. Kita patut bersyukur jadi bagian Indonesia, negeri yang memiliki banyak kebudayaan.” Ucap Sri.
“Betul Mbok, lagu-lagu daerah juga tidak kalah menarik dengan lagu-lagu bule rambut pirang.” Kali ini Karminah yang berbicara.
Terakhir, Roro pun juga ikut menanggapi. Dia mengingat beberapa tayangan televisi yang sering dia lihat di balai desa. Televisi kecil yang dijadikan pusat informasi bagi warga desa Genongan menayangkan mengenai budaya Jawa yang ternyata digemari oleh orang asing. “Betul…betul. Orang bule saja banyak yang belajar nyiden jawa. Aku pernah lihat di TV, orang Jepang dan Perancis pinter nyinden.”
“Wah, kalau orang luar saja mau belajar budaya kita, berarti kita sebagai orang Indonesia asli harus mau melestarikan budaya kita, ya, Mbok?” Sri kembali bertanya.
“Iya, Nduk, apa lagi westernisasi mulai masuk ke negeri kita. Nah, jadi jangan sampai westernisasi menjadi bom yang menghancurkan budaya kita, budaya Indonesia.”
Mendengar kata asing, Sri kembali bertanya. Rasa penasarannya sejak dulu memang besar, maklum saja dia memang tak lulus sekolah menengah atas. Bukan karena Sri tidak cerdas, tapi karena keadaan ekonomi keluarga Sri yang tidak mampu membuatnya terpakasa mengubur keinginannya untuk mengenyam pendidikan.
“Westrenisasi itu apo, Mbok?” tanya Sri penasaran.
“ Ooo, katrokkk. Westernisasai itu budaya barat.”
“Ohhh, westernisasai itu budaya barat. Kok koyo penyanyi keroncong, Mbok.” Roro kembali memancing keributan.
“Ro…Ro…kamu ini apa-apa dibilang penyanyi keroncong.”
“Jadi kamu dari awal sudah tahu kalau westernisasi itu budaya barat?” Selidik Sri kepada Karminah yang baru saja mengomentari pertanyaan Roro.
“Ora, sih. Tak pikir westernisasai iku penyanyi dangdut.” Jawab Karminah singkat.

“Wealahhh, katrok kok dicangkok. Sudah…sudah, ayo, mlebu kabeh neng omah.” Akhirnya mereka pun masuk ke dalam rumah dan melanjutkan pembicaraan.

NR

Tidak ada komentar:

Posting Komentar