Tak
ada gaun yang lebih indah, selain gaun pengantin. Aku mengamati bayangan dalam
cermin, menatap iri gadis cantik bermata sipit mengenakan gaun putih berdada
rendah tanpa lengan serta dihiasi renda dan payet bunga. Ukuran pinggangnya
begitu ramping, sepertinya gaun itu memang disesuaikan dengan pemakainya.
Detik
penyatuan semakin dekat, aku melihatnya berdiri di depan altar mengenakan
setelan tuxedo berwarna hitam dipadu dasi kupu-kupu berwarna senada. Rambut
hitamnya tersisir rapi ke arah belakang, samar-samar aku masih bisa menghirup
aroma gel mint yang biasa dia pakai. Meski dia tersenyum, aku menangkap raut
gugup yang coba disembunyikan di balik senyumnya.
Aku
pun tak kalah gugup ketika melewati para tamu yang berjajar rapi disepanjang
jalan menuju altar, entah telah berapa kali aku latihan berjalan, tapi begitu
musik dimainkan tungkai kakiku gemetar hebat. Sepatu berhak runcingku terasa
sesak, padahal ini ukuran yang pas untuk kakiku. Beberapa kali juga aku nyaris
terjatuh karena gaun putih panjang ini. Lalu, kufokuskan pandanganku ke altar
bernuansa putih yang menjadi tempat paling sakral itu, hampir di setiap sudut
aku melihat mawar putih dan lili putih mendominasi keindahannya. Kucoba
memperlihatkan deretan gigiku untuk tersenyum lepas agar berkurang rasa
gugupku. Namun, semakin aku tersenyum, semakin orang memandangku dengan tatapan
yang sedikit membuatku takut.
Lima
meter mendekati altar pernikahan. Gubrakkkkkk,
aku tersungkur. Hidung runcingku begitu keras menghantam lantai, tapi justru
hatiku yang terasa sakit. Aku mendengar riuh tamu mulai bergemuruh, kutundukkan
kepalaku agar mereka tak dapat melihat wajahku. Aku mendengar langkah kakinya
berlari ke arahku.
“Saffea,
Saffea.” Sontak aku terkejut, mendengarnya menyebut nama itu membuat degup
jantungku bergejolak tak berirama, nyaris meletus karena kuat tekanan di
dalam.
Aku
melihat Saffea tergeletak, buket baby breath pemberianku yang tadi digenggamnya berguguran di lantai,
bahkan tiara yang menghiasi kepalanya juga tergeletak di atara vas dan bunga-bunga
yang berserakan. Segera aku berdiri untuk menjangkau Saffea yang masih
tertunduk dan bergeming, tapi aku justru menimpa tubuh mungilnya karena
lagi-lagi aku tersangkut gaunku sendiri. Takdir buruk, entah ini kutukan atau
memang kemalangan, aku tak menyukainya. Kenapa harus hari ini kemalangan datang
padaku? Saffea adalah sahabat terbaikku, kenapa takdir buruk ini harus merusak
hari indahnya.
Pianis
memainkan jemarinya di atas tuts, denting piano mengalun anggun mengisi ruangan,
nada-nadanya menggelitikku dan memberikan warna biru. Beberapa pasang mata
bertukar pandang di antara gelak tawa, entah kenapa ini membuat warna biruku
semakin terang dan membuat kepalaku semakin berat hingga aku tak mampu
menegakkan kepala.
Di atas pelaminan kulihat
Saffea berdiri di sampingnya yang beberapa waktu lalu akhirnya
menjadi pasangan hidup. Dia tersenyum bahagia menyambut para tamu memberikan
ucapan selamat dan doa. Sejak pagi, di dalam hati aku pun tak pernah berhenti berdoa
untuk kebahagian Saffea, semoga senyum merah jambu selalu terlukis di wajahnya.
“Dak…Dak…Dakeyla,”
aku mendengar Saffea memanggilku, tapi aku pura-pura tak mendengarnya, “Bebek!”
kali ini suara Saffea lebih keras.
Aku
tak berani menatap mata Saffea setelah kekacauan yang baru kuciptakan, aku
seperti pendosa yang pengecut. Aku memutar sedikit tubuhku, pura-pura mengobrol
untuk menghindari Saffea. Bodohnya aku baru menyadari, aku duduk sendiri di
sudut ruangan. Lalu aku mengambil ponselku dan berakting seolah sedang sibuk
dengan benda berbentuk kotak itu.
“Jangan
berbohong, aktingmu sangat buruk saat berbohong!” Suara Saffea benar-benar tak
dapat kuhindari. Lantas aku berdiri menatapnya, senyum merah jambu itu masih
terlukis di wajahnya, dan itu membuatku sangat malu.
“Aku
bukan artis wajar kalau aktingku buruk” ucapku.
“Semua
orang menghampiriku untuk memelukku dan memberikan ucapan selamat, tapi kamu
hanya duduk di sini,” suaranya seperti merajuk, “aku akan membencimu, jika kamu
seperti ini,” kata-kata itu seperti ribuan panah yang menghujam tubuhku.
“Saffea…”
aku belum menyelesaikan kalimatku, Saffea memberiku pelukan hangat.
“Jangan
menyalahkan dirimu, ini hal yang biasa terjadi. Apa yang telah terjadi hari
ini, tak sedikit pun mengurangi rasa bahagiaku.”
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar