Musik

Minggu, 03 Desember 2017

Dakeyla: Bebek Buruk Rupa (Bagian 1)



Tak ada gaun yang lebih indah, selain gaun pengantin. Aku mengamati bayangan dalam cermin, menatap iri gadis cantik bermata sipit mengenakan gaun putih berdada rendah tanpa lengan serta dihiasi renda dan payet bunga. Ukuran pinggangnya begitu ramping, sepertinya gaun itu memang disesuaikan dengan pemakainya.
Detik penyatuan semakin dekat, aku melihatnya berdiri di depan altar mengenakan setelan tuxedo berwarna hitam dipadu dasi kupu-kupu berwarna senada. Rambut hitamnya tersisir rapi ke arah belakang, samar-samar aku masih bisa menghirup aroma gel mint yang biasa dia pakai. Meski dia tersenyum, aku menangkap raut gugup yang coba disembunyikan di balik senyumnya.
Aku pun tak kalah gugup ketika melewati para tamu yang berjajar rapi disepanjang jalan menuju altar, entah telah berapa kali aku latihan berjalan, tapi begitu musik dimainkan tungkai kakiku gemetar hebat. Sepatu berhak runcingku terasa sesak, padahal ini ukuran yang pas untuk kakiku. Beberapa kali juga aku nyaris terjatuh karena gaun putih panjang ini. Lalu, kufokuskan pandanganku ke altar bernuansa putih yang menjadi tempat paling sakral itu, hampir di setiap sudut aku melihat mawar putih dan lili putih mendominasi keindahannya. Kucoba memperlihatkan deretan gigiku untuk tersenyum lepas agar berkurang rasa gugupku. Namun, semakin aku tersenyum, semakin orang memandangku dengan tatapan yang sedikit membuatku takut.
Lima meter mendekati altar pernikahan. Gubrakkkkkk, aku tersungkur. Hidung runcingku begitu keras menghantam lantai, tapi justru hatiku yang terasa sakit. Aku mendengar riuh tamu mulai bergemuruh, kutundukkan kepalaku agar mereka tak dapat melihat wajahku. Aku mendengar langkah kakinya berlari ke arahku.
“Saffea, Saffea.” Sontak aku terkejut, mendengarnya menyebut nama itu membuat degup jantungku bergejolak tak berirama, nyaris meletus karena kuat tekanan di dalam.
Aku melihat Saffea tergeletak, buket baby breath pemberianku yang tadi digenggamnya berguguran di lantai, bahkan tiara yang menghiasi kepalanya juga tergeletak di atara vas dan bunga-bunga yang berserakan. Segera aku berdiri untuk menjangkau Saffea yang masih tertunduk dan bergeming, tapi aku justru menimpa tubuh mungilnya karena lagi-lagi aku tersangkut gaunku sendiri. Takdir buruk, entah ini kutukan atau memang kemalangan, aku tak menyukainya. Kenapa harus hari ini kemalangan datang padaku? Saffea adalah sahabat terbaikku, kenapa takdir buruk ini harus merusak hari indahnya.
Pianis memainkan jemarinya di atas tuts, denting piano mengalun anggun mengisi ruangan, nada-nadanya menggelitikku dan memberikan warna biru. Beberapa pasang mata bertukar pandang di antara gelak tawa, entah kenapa ini membuat warna biruku semakin terang dan membuat kepalaku semakin berat hingga aku tak mampu menegakkan kepala.
Di atas pelaminan kulihat Saffea berdiri di sampingnya yang beberapa waktu lalu akhirnya menjadi pasangan hidup. Dia tersenyum bahagia menyambut para tamu memberikan ucapan selamat dan doa. Sejak pagi, di dalam hati aku pun tak pernah berhenti berdoa untuk kebahagian Saffea, semoga senyum merah jambu selalu terlukis di wajahnya.
“Dak…Dak…Dakeyla,” aku mendengar Saffea memanggilku, tapi aku pura-pura tak mendengarnya, “Bebek!” kali ini suara Saffea lebih keras.
Aku tak berani menatap mata Saffea setelah kekacauan yang baru kuciptakan, aku seperti pendosa yang pengecut. Aku memutar sedikit tubuhku, pura-pura mengobrol untuk menghindari Saffea. Bodohnya aku baru menyadari, aku duduk sendiri di sudut ruangan. Lalu aku mengambil ponselku dan berakting seolah sedang sibuk dengan benda berbentuk kotak itu.
“Jangan berbohong, aktingmu sangat buruk saat berbohong!” Suara Saffea benar-benar tak dapat kuhindari. Lantas aku berdiri menatapnya, senyum merah jambu itu masih terlukis di wajahnya, dan itu membuatku sangat malu.
“Aku bukan artis wajar kalau aktingku buruk” ucapku.
“Semua orang menghampiriku untuk memelukku dan memberikan ucapan selamat, tapi kamu hanya duduk di sini,” suaranya seperti merajuk, “aku akan membencimu, jika kamu seperti ini,” kata-kata itu seperti ribuan panah yang menghujam tubuhku.
“Saffea…” aku belum menyelesaikan kalimatku, Saffea  memberiku pelukan hangat.
“Jangan menyalahkan dirimu, ini hal yang biasa terjadi. Apa yang telah terjadi hari ini, tak sedikit pun mengurangi rasa bahagiaku.”
***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar