Di hari yang penat dengan penuh
tekanan deadline tesis yang terus
menghantui, kenyataannya inspirasi tidak kunjung datang. Entah sudah berapa
lama aku menatap hampa monitor berukuran 10 inci ini, barisan huruf pun hanya
menatap nanar ke arahku. Remote TV yang telentang di sudut meja sejak tadi
bermain mata, dari gelagatnya sudah tidak tahan untuk dijamah. So, segera kuraih dan mulai menjamahnya (hahaha,
agak menjijikan).
Singkat cerita, akhirnya
kunyalakan TV sejenak untuk me-refresh
pikiran yang sebenarnya sudah tegang sejak beberapa hari lalu. Menurutku, acara
siang itu membosankan, beberapa chanel
TV didominasi dengan iklan-iklan produk rumah tangga baik dari dalam maupun
luar negeri (kebayangkan siang-siang nonton iklan panci), sisanya menampilkan
drama-drama yang kurang memiliki nilai edukasi. Untung siang itu ada salah satu
TV swasta (sebut saja TRANS7) yang menayangkan program acara yang menurutku cukup
mengedukasi (yahhh, walaupun dikategorikan tayangan untuk anak-anak).
Pernah dengar Laptop si Unyil, yang ditayangkan TRANS7
kan? (kalau si Unyil sihhh sebenarnya tontonan legend generasi 80-an). Mungkin
kalian sepakat, ini salah satu tayangan TV zaman sekarang yang cukup
mengedukasi, tidak hanya untuk anak-anak, tapi juga untuk umum. Setidaknya ditengah
padatnya jadwal tayangan gosip selebritis dan sinetron yang durasi dan episodenya
sepanjang tol cipularang, Laptop si Unyil
mampu menjadi tayangan beredukasi.
Tiga menit pertama, si Unyil
bercerita mengenai perbedaan rajungan dan kepiting (hehehe, aku baru tahu
rajungan dan kepiting berbeda). Menit berikutnya menampilkan olahan rajungan,
bola-bola rajungan, yang bentuknya mirip bakso (ngelihat bola-bola rajungan
spontan jadi ngilerrr). Tidak hanya olahan rajungan, menit-menit selanjutnya tidak
kalah membuat ngiler, kali ini mengupas tuntas proses pembuatan tahu isi tuna,
bentuknya mirip tahu isi bakso. Baik bola-bola rajungan maupun tahu isi tuna,
rupanya telah dijual di berbagai daerah di Indonesia.
Dari tayangan tersebut, aku jadi
tahu, ada orang Indonesia yang kreatif, mereka mampu mengelola beberapa bagian
kecil kekayaan Indonesia. Andai setiap penduduk Indonesia punya kreativitas
seperti pencetus bola-bola rajungan dan tahu isi tuna, pasti Indonesia semakin
maju di bidang ekonomi. Sebab dengan kreativitas tersebut, Indonesia tidak
hanya mampu mengolah kekayaan Indonesia, tetapi juga menciptakan lapangan
pekerjaan yang tentunya juga berpengaruh dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Tidak cukup membahas bola-bola
rajungan dan tahu isi tuna, si Unyil pun bersemangat menceritakan rumput laut dan
ikan tuna. Wahhh, aku akhirnya tahu, Indonesia merupakan penghasil rumput laut
nomor satu di dunia. Rumput laut yang dihasilkan mencapai 8,3 juta ton dan
banyak di ekspor ke Cina dan Singapura. Rumput laut tersebut dijadikan sebagai
bahan aneka olahan makanan, aneka produk kosmetik, dan dimanfaatkan sebagai
bahan farmasi. Sedangkan ikan tuna pun juga sudah di ekspor, 70% tuna Indonesia
di ekspor ke Jepang. Namun, sayangnya Indonesia baru mampu mengekspor bahan
mentah, bukan produk olahan.
Padahal bahan mentah yang di
ekspor ke luar negeri, kalau sudah menjadi produk jadi akan diimpor juga oleh
Indonesia. Tentunya dengan harga yang nominalnya juga dikatakan tidak murah
untuk berbagai lapisan masyarakat Indonesia. Masih terus berandai, “Andai saja
yang di ekspor bukan bahan mentah.” (Kenapa Cuma ikan yang dikalengin? Kenapa udang,
kepiting, atau cumi tidak dikalengi juga?)
Dengan kondisi kepulauan yang di
kelilingi lautan, Indonesia memiliki kekayaan alam dari sektor laut yang
melimpah. Namun, sungguh disayangkan, jika yang diekspor hanya bahan mentah
saja. Jika potensi kelautan tersebut dapat dimaksimalkan, tentu pertumbuhan
ekonomi Indonesia semakin cepat. Akan banyak tersedia lapangan pekerjaan
sehingga jumlah pengangguran yang menjadi faktor utama kemiskinan dapat
diminimalisasi, bahkan ditekan sekecil mungkin (ini hanya berdasarkan
pengetahuan minim yang saya punya).
Yahhh, semoga dengan tayangan
tersebut, mampu memberikan suntikan semangat bagi kita, Indonesia. Sudah
saatnya membuka mata, bahwa Indonesia merupakan negara kaya yang mampu menjadi
negara maju. Mari tingkatkan kreativiatas, percaya diri untuk mengelola
kekayaan alam kita, alam Indonesia.


Yuk, besok bikin jengkol kalengan...
BalasHapus