Musik

Jumat, 03 Februari 2017

Kenapa cuma Ikan yang Dikalengi?



Di hari yang penat dengan penuh tekanan deadline tesis yang terus menghantui, kenyataannya inspirasi tidak kunjung datang. Entah sudah berapa lama aku menatap hampa monitor berukuran 10 inci ini, barisan huruf pun hanya menatap nanar ke arahku. Remote TV yang telentang di sudut meja sejak tadi bermain mata, dari gelagatnya sudah tidak tahan untuk dijamah. So, segera kuraih dan mulai menjamahnya (hahaha, agak menjijikan).
Singkat cerita, akhirnya kunyalakan TV sejenak untuk me-refresh pikiran yang sebenarnya sudah tegang sejak beberapa hari lalu. Menurutku, acara siang itu membosankan, beberapa chanel TV didominasi dengan iklan-iklan produk rumah tangga baik dari dalam maupun luar negeri (kebayangkan siang-siang nonton iklan panci), sisanya menampilkan drama-drama yang kurang memiliki nilai edukasi. Untung siang itu ada salah satu TV swasta (sebut saja TRANS7) yang menayangkan program acara yang menurutku cukup mengedukasi (yahhh, walaupun dikategorikan tayangan untuk anak-anak).

Pernah dengar Laptop si Unyil, yang ditayangkan TRANS7 kan? (kalau si Unyil sihhh sebenarnya tontonan legend generasi 80-an). Mungkin kalian sepakat, ini salah satu tayangan TV zaman sekarang yang cukup mengedukasi, tidak hanya untuk anak-anak, tapi juga untuk umum. Setidaknya ditengah padatnya jadwal tayangan gosip selebritis dan sinetron yang durasi dan episodenya sepanjang tol cipularang, Laptop si Unyil mampu menjadi tayangan beredukasi.


Tiga menit pertama, si Unyil bercerita mengenai perbedaan rajungan dan kepiting (hehehe, aku baru tahu rajungan dan kepiting berbeda). Menit berikutnya menampilkan olahan rajungan, bola-bola rajungan, yang bentuknya mirip bakso (ngelihat bola-bola rajungan spontan jadi ngilerrr). Tidak hanya olahan rajungan, menit-menit selanjutnya tidak kalah membuat ngiler, kali ini mengupas tuntas proses pembuatan tahu isi tuna, bentuknya mirip tahu isi bakso. Baik bola-bola rajungan maupun tahu isi tuna, rupanya telah dijual di berbagai daerah di Indonesia.
Dari tayangan tersebut, aku jadi tahu, ada orang Indonesia yang kreatif, mereka mampu mengelola beberapa bagian kecil kekayaan Indonesia. Andai setiap penduduk Indonesia punya kreativitas seperti pencetus bola-bola rajungan dan tahu isi tuna, pasti Indonesia semakin maju di bidang ekonomi. Sebab dengan kreativitas tersebut, Indonesia tidak hanya mampu mengolah kekayaan Indonesia, tetapi juga menciptakan lapangan pekerjaan yang tentunya juga berpengaruh dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Tidak cukup membahas bola-bola rajungan dan tahu isi tuna, si Unyil pun bersemangat menceritakan rumput laut dan ikan tuna. Wahhh, aku akhirnya tahu, Indonesia merupakan penghasil rumput laut nomor satu di dunia. Rumput laut yang dihasilkan mencapai 8,3 juta ton dan banyak di ekspor ke Cina dan Singapura. Rumput laut tersebut dijadikan sebagai bahan aneka olahan makanan, aneka produk kosmetik, dan dimanfaatkan sebagai bahan farmasi. Sedangkan ikan tuna pun juga sudah di ekspor, 70% tuna Indonesia di ekspor ke Jepang. Namun, sayangnya Indonesia baru mampu mengekspor bahan mentah, bukan produk olahan.


Padahal bahan mentah yang di ekspor ke luar negeri, kalau sudah menjadi produk jadi akan diimpor juga oleh Indonesia. Tentunya dengan harga yang nominalnya juga dikatakan tidak murah untuk berbagai lapisan masyarakat Indonesia. Masih terus berandai, “Andai saja yang di ekspor bukan bahan mentah.” (Kenapa Cuma ikan yang dikalengin? Kenapa udang, kepiting, atau cumi tidak dikalengi juga?)
Dengan kondisi kepulauan yang di kelilingi lautan, Indonesia memiliki kekayaan alam dari sektor laut yang melimpah. Namun, sungguh disayangkan, jika yang diekspor hanya bahan mentah saja. Jika potensi kelautan tersebut dapat dimaksimalkan, tentu pertumbuhan ekonomi Indonesia semakin cepat. Akan banyak tersedia lapangan pekerjaan sehingga jumlah pengangguran yang menjadi faktor utama kemiskinan dapat diminimalisasi, bahkan ditekan sekecil mungkin (ini hanya berdasarkan pengetahuan minim yang saya punya).
Yahhh, semoga dengan tayangan tersebut, mampu memberikan suntikan semangat bagi kita, Indonesia. Sudah saatnya membuka mata, bahwa Indonesia merupakan negara kaya yang mampu menjadi negara maju. Mari tingkatkan kreativiatas, percaya diri untuk mengelola kekayaan alam kita, alam Indonesia.

1 komentar: