Musik

Rabu, 05 Maret 2014

Berakit-rakit Dahulu, Berenang-renang Kemudian


"Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan, sayang engkau tak duduk di sampingku kawan. Banyak cerita yang mestinya kau saksikan di tanah kering bebatuan..." Sepenggal lagu yang di popularkan oleh Ebiet G. Ade ini, mungkin cukup untuk mendeskripsikan suara hati anak-anak pinggiran. Anak-anak yang memiliki semangat juang tinggi untuk terus memperoleh pendidikan yang layak, namun tampaknya semangat juang itu masih jauh dari kata “berhasil”.

Jika kita membicarakan masalah pendidikan di Indonesia tentunya itu bukanlah hal yang tabu untuk kita. Banyak media massa, cetak maupun elektronik, telah membicarakan hal tersebut. Berbagai macam versi cerita dan informasi pun akan kita dapatkan dengan mudah. Dari masalah kualitas, sarana dan prasarana, karakter, hingga perdebatan SBI (Sekolah Berstandar Internasional) dan RSBI (Rintisan Sekolah Berstandar Internasional) pun akan kita peroleh. Ini membuktikan bahwa masalah pendidikan di Indonesia telah dipublikasikan secara luas kepada seluruh masyarakat, serta menujukan masalah pendidikan di Indonesia sudah sangat kompleks.
Sebagai salah satu contoh, tentunya kita pernah menyaksikan tayangan di televisi ataupun membaca berita dari media cetak yang menceritakan sulitnya medan yang harus ditempuh oleh anak-anak pinggiran untuk menuju tempat (sekolah) tujuan mereka memperoleh pendidikan. Tak jarang, mereka harus menempuh jalur darat yang jaraknya berkilo-kilo meter. Jalanan terjal dan berbatu  atau semak dan belukar adalah hal biasa yang harus mereka hadapi. Tidak cukup sampai di situ, letih kaki setelah berjalan berkilo-kilo, perjalanan pun masih harus dilanjutkan di jalur air. Derasnya arus sungai tak menghentikan langkah perjuangan mereka. Tidak adanya jembatan atau rakit untuk menyeberang mengharuskan tubuh letih mereka untuk berenang agar sampai di tempat tujuan.
Sebagian dari kita, mungkin pernah membaca informasi di media cetak, koran Kompas,   mengenai mirisnya perjuangan pelajar dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah menangah atas yang tinggal di Jorong Bukik, Nagari Koto Nan Tigo Utara Surantih, Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, mereka terpaksa menyeberangi sungai setiap hari. Hal itu mereka lakukan karena di daerah tersebut tidak ada sekolah dan infrastruktur jembatan sebagai sarana untuk menyebarang. Sedangkan lebar sungai yang harus mereka seberangi lebih dari 20 meter dengan arus yang cukup deras meskipun kedalaman sungai rata-rata hanya setengah meter saja. Namun, jika banjir datang, terpaksa mereka harus mengurungkan niat mereka untuk pergi ke sekolah karena volume air semakin meninggi, arus sungai pun semakin deras. Ini baru di Sumatra Barat, bagaimana dengan daerah lain? Apakah tidak ada cerita seperti itu atau justru ada banyak cerita yang jauh lebih mengenaskan, namun belum terpublikasikan?
Salah satu televisi swasta juga memiliki program acara yang menguak pendidikan di Indonesia. Dalam program tersebut, sering menampilkan potret perjuangan anak-anak pinggiran untuk memperoleh pendidikan. Sangat miris, menyaksikan perjuangan mereka. Tidak hanya masalah medan sulit yang harus mereka tempuh untuk samapai di sekolah, tapi kita juga menyaksikan pemandangan yang jauh lebih menykitkan batin. Bagaimana tidak? Anak usia sekolah dasar, dengan peluh yang terus menetes, tanpa alas kaki, kaki kecil mereka terus melangkah menyusuri jalanan berbatu dan terjal, menembus semak dan belukar, setelahlah itu tubuh ringkih mereka masih harus melawan derasnya ombak sungai.
Kesulitan itu mungkin akan terbayar jika mereka memiliki gedung sekolah yang layak pakai, fasilitas penunjang pembelajaran yang lengkap, dan tenaga pengajar yang jumlahnya memadai. Namun sayangnya, hal itu tidak mereka dapatkan, yang mereka dapatkan, justru gedung sekolah yang nyaris roboh, fasilitas pembelajaran yang minim, dan tenaga pendidik yang terbatas. Tak jarang, di sekolah tingkat dasar yang memliki 6 kelas, tapi hanya memiliki tiga orang guru. Selain itu, perpustakaan sekolah yang seharusnya bisa digunakan sebagai tempat untuk menggali pengetahuan dan informasi, bahkan tidak ada. Jangankan perpustakaan, meja dan kursi pun kadang mereka harus saling berbagi karena jumlahnya yang terbatas. Sungguh kondisi yang sangat ironis, di zaman yang semakin modern, mereka masih memiliki keterbatasan untuk memdapatkan hak mereka, yaitu memperoleh pendidikan yang layak.
Bandingkan dengan anak-anak yang tinggal di pusat kota! Dengan mudah, mereka bisa memilih tranportasi yang akan mereka gunakan untuk pergi kesekolah. Mereka tidak perlu jalan kaki atau berenang menyeberangi sungai hanya untuk menuju sekolah. Gedung sekolah mereka pun beraneka ragam, dari gedung yang tidak bertingkat sampai yang bertingkat-tingkat pun ada. Belum lagi fasilitas penunjang pembelajaran yang lengkap. Dari perputakaan sekolah hingga perpustakaan umum daerah sangat mudah dijumpai.
Tunas bangsa adalah cikal bakal dari calon para pemimpin dan pengembang negeri ini karena kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh tunas bangsanya. Jika tidak dari sekarang mereka diberi ilmu dan pengetahuan sebaik-baiknya, tidak diragukan lagi, sepeluh atau dua puluh tahun mendatang negeri tercinta kita akan semakin tertinggal dengan negeri lain.
Jika menyimak uaraian permasalahan di atas, tampaknya upaya pemerintah yang “katanya” terus berupaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan pemerataan pendidikan belumlah tercapai. Karena pada keyataanya, masih ada anak-anak yang belum mendapatkan haknya. Jika sudah seperti ini, semuanya sibuk saling menyalahkan dan mencari pembenaran untuk dirinya sendiri.
Media massa sudah memublikasikannya dengan sangat luas, masyarakatnya pun sudah pandai menilai kinerja pemerintah, tapi mengapa masalah tersebut masih saja belum teratasi? Tentunya ini menjadi tugas kita bersama untuk memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia. Kita harus lebih peka dan peduli menyikapi masalah pendidikan yang terjadi di negeri ini. Oleh sebab itu, mari bersama-sama kita perbaiki kualitas pendidikan di negeri ini. Jangan sibuk memperkaya diri dengan ilmu dan pengetahuan, ilmu dan pengetahuan akan lebih bermanfaat jika kita bagi dengan yang lain.
Untuk pemerintah, akan lebih baik jika benar-benar mewujudkan pendidikan yang adil dan merata. Seperti makna yang terkandung dalam pancasila, sila kelima, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indoesia, tidak terkecuali keadilan dalam mendapatkan hak pendidikan.  Jangan hanya kurikulum yang sibuk direvisi, yang paling terpenting adalah pendidikan yang adil dan merata bagi seluruh tunas bangsa, merata dari segi kualitas, sarana dan prasarana, atau pun tenaga kependidikan.
Jangan hanya membangun gedung-gedung tinggi untuk dihuni para pejabat saja, jangan hanya royal mengeluarkan dana bermilyar-milyar untuk membangun jembatan dan jalanan beraspal agar masalah macet dan kenyamanan transportasi teratasi. Namun, yang terpenting jangan lupa, bangun gedung-gedung sekolah untuk anak-anak kita, bangun jembatan untuk anak-anak kita agar mereka lebih semangat meraih cita-cita. Merakalah jembatan bagi kita untuk menuju negeri yang lebih maju dan berkualitas.
***

2 komentar: