"Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan,
sayang engkau tak duduk di sampingku kawan. Banyak cerita yang mestinya kau
saksikan di tanah kering bebatuan..." Sepenggal lagu yang di popularkan oleh
Ebiet G. Ade ini, mungkin cukup untuk mendeskripsikan suara hati anak-anak
pinggiran. Anak-anak yang memiliki semangat juang tinggi untuk terus memperoleh
pendidikan yang layak, namun tampaknya semangat juang itu masih jauh dari kata
“berhasil”.
Jika kita membicarakan masalah pendidikan di
Indonesia tentunya itu bukanlah hal yang tabu untuk kita. Banyak media massa,
cetak maupun elektronik, telah membicarakan hal tersebut. Berbagai macam versi
cerita dan informasi pun akan kita dapatkan dengan mudah. Dari masalah kualitas,
sarana dan prasarana, karakter, hingga perdebatan SBI (Sekolah Berstandar
Internasional) dan RSBI (Rintisan Sekolah Berstandar Internasional) pun akan
kita peroleh. Ini membuktikan bahwa masalah pendidikan di Indonesia telah
dipublikasikan secara luas kepada seluruh masyarakat, serta menujukan masalah
pendidikan di Indonesia sudah sangat kompleks.
Sebagai salah satu contoh, tentunya kita pernah
menyaksikan tayangan di televisi ataupun membaca berita dari media cetak yang
menceritakan sulitnya medan yang harus ditempuh oleh anak-anak pinggiran untuk menuju
tempat (sekolah) tujuan mereka memperoleh pendidikan. Tak jarang, mereka harus
menempuh jalur darat yang jaraknya berkilo-kilo meter. Jalanan terjal dan
berbatu atau semak dan belukar adalah
hal biasa yang harus mereka hadapi. Tidak cukup sampai di situ, letih kaki
setelah berjalan berkilo-kilo, perjalanan pun masih harus dilanjutkan di jalur
air. Derasnya arus sungai tak menghentikan langkah perjuangan mereka. Tidak
adanya jembatan atau rakit untuk menyeberang mengharuskan tubuh letih mereka
untuk berenang agar sampai di tempat tujuan.
Sebagian dari kita, mungkin pernah membaca
informasi di media cetak, koran Kompas, mengenai mirisnya perjuangan pelajar dari
tingkat sekolah dasar hingga sekolah menangah atas yang tinggal di Jorong
Bukik, Nagari Koto Nan Tigo Utara Surantih, Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir
Selatan, Sumatera Barat, mereka terpaksa menyeberangi sungai setiap hari. Hal
itu mereka lakukan karena di daerah tersebut tidak ada sekolah dan infrastruktur
jembatan sebagai sarana untuk menyebarang. Sedangkan lebar sungai yang harus
mereka seberangi lebih dari 20 meter dengan arus yang cukup deras meskipun
kedalaman sungai rata-rata hanya setengah meter saja. Namun, jika banjir datang,
terpaksa mereka harus mengurungkan niat mereka untuk pergi ke sekolah karena
volume air semakin meninggi, arus sungai pun semakin deras. Ini baru di Sumatra
Barat, bagaimana dengan daerah lain? Apakah tidak ada cerita seperti itu atau
justru ada banyak cerita yang jauh lebih mengenaskan, namun belum
terpublikasikan?
Salah satu televisi swasta juga memiliki program
acara yang menguak pendidikan di Indonesia. Dalam program tersebut, sering
menampilkan potret perjuangan anak-anak pinggiran untuk memperoleh pendidikan.
Sangat miris, menyaksikan perjuangan mereka. Tidak hanya masalah medan sulit
yang harus mereka tempuh untuk samapai di sekolah, tapi kita juga menyaksikan
pemandangan yang jauh lebih menykitkan batin. Bagaimana tidak? Anak usia
sekolah dasar, dengan peluh yang terus menetes, tanpa alas kaki, kaki kecil
mereka terus melangkah menyusuri jalanan berbatu dan terjal, menembus semak dan
belukar, setelahlah itu tubuh ringkih mereka masih harus melawan derasnya ombak
sungai.
Kesulitan itu mungkin akan terbayar jika mereka
memiliki gedung sekolah yang layak pakai, fasilitas penunjang pembelajaran yang
lengkap, dan tenaga pengajar yang jumlahnya memadai. Namun sayangnya, hal itu
tidak mereka dapatkan, yang mereka dapatkan, justru gedung sekolah yang nyaris
roboh, fasilitas pembelajaran yang minim, dan tenaga pendidik yang terbatas. Tak
jarang, di sekolah tingkat dasar yang memliki 6 kelas, tapi hanya memiliki tiga
orang guru. Selain itu, perpustakaan sekolah yang seharusnya bisa digunakan
sebagai tempat untuk menggali pengetahuan dan informasi, bahkan tidak ada. Jangankan
perpustakaan, meja dan kursi pun kadang mereka harus saling berbagi karena
jumlahnya yang terbatas. Sungguh kondisi yang sangat ironis, di zaman yang
semakin modern, mereka masih memiliki keterbatasan untuk memdapatkan hak
mereka, yaitu memperoleh pendidikan yang layak.
Bandingkan dengan anak-anak yang tinggal di
pusat kota! Dengan mudah, mereka bisa memilih tranportasi yang akan mereka
gunakan untuk pergi kesekolah. Mereka tidak perlu jalan kaki atau berenang
menyeberangi sungai hanya untuk menuju sekolah. Gedung sekolah mereka pun
beraneka ragam, dari gedung yang tidak bertingkat sampai yang
bertingkat-tingkat pun ada. Belum lagi fasilitas penunjang pembelajaran yang
lengkap. Dari perputakaan sekolah hingga perpustakaan umum daerah sangat mudah
dijumpai.
Tunas bangsa adalah cikal bakal dari calon para
pemimpin dan pengembang negeri ini karena kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh
tunas bangsanya. Jika tidak dari sekarang mereka diberi ilmu dan pengetahuan
sebaik-baiknya, tidak diragukan lagi, sepeluh atau dua puluh tahun mendatang
negeri tercinta kita akan semakin tertinggal dengan negeri lain.
Jika menyimak uaraian permasalahan di atas,
tampaknya upaya pemerintah yang “katanya” terus berupaya untuk meningkatkan
kualitas pendidikan dan pemerataan pendidikan belumlah tercapai. Karena pada
keyataanya, masih ada anak-anak yang belum mendapatkan haknya. Jika sudah
seperti ini, semuanya sibuk saling menyalahkan dan mencari pembenaran untuk
dirinya sendiri.
Media massa sudah memublikasikannya dengan
sangat luas, masyarakatnya pun sudah pandai menilai kinerja pemerintah, tapi
mengapa masalah tersebut masih saja belum teratasi? Tentunya ini menjadi tugas
kita bersama untuk memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia. Kita harus
lebih peka dan peduli menyikapi masalah pendidikan yang terjadi di negeri ini.
Oleh sebab itu, mari bersama-sama kita perbaiki kualitas pendidikan di negeri
ini. Jangan sibuk memperkaya diri dengan ilmu dan pengetahuan, ilmu dan
pengetahuan akan lebih bermanfaat jika kita bagi dengan yang lain.
Untuk pemerintah, akan lebih baik jika
benar-benar mewujudkan pendidikan yang adil dan merata. Seperti makna yang
terkandung dalam pancasila, sila kelima, keadilan
sosial bagi seluruh rakyat Indoesia, tidak terkecuali keadilan dalam
mendapatkan hak pendidikan. Jangan hanya
kurikulum yang sibuk direvisi, yang paling terpenting adalah pendidikan yang
adil dan merata bagi seluruh tunas bangsa, merata dari segi kualitas, sarana
dan prasarana, atau pun tenaga kependidikan.
Jangan hanya membangun gedung-gedung tinggi
untuk dihuni para pejabat saja, jangan hanya royal mengeluarkan dana
bermilyar-milyar untuk membangun jembatan dan jalanan beraspal agar masalah
macet dan kenyamanan transportasi teratasi. Namun, yang terpenting jangan lupa,
bangun gedung-gedung sekolah untuk anak-anak kita, bangun jembatan untuk
anak-anak kita agar mereka lebih semangat meraih cita-cita. Merakalah jembatan
bagi kita untuk menuju negeri yang lebih maju dan berkualitas.
***
like thiss. . .
BalasHapusTerima kasih :D
BalasHapus