BAB IV
Satu Langkah Lebih Dekat
Perjalanan sunyi yang ditempuh
sendiri membuat seseorang kehilangan arah. Pengalaman akan mengiringi, masa depan
menunggu, tapi kompas terkadang justru menyesatkan. Ketuguhan hatilah yang membuat
satu langkah lebih dekat menuju akhir perjalanan. Akan tetapi, bias harapan
mengehempas keyakinan di setiap persimpangan jalan.
Andai malam tiada membawa gulita,
tentu tak perlu mengharap kehadiran bintang sebagai lentera. Kini di bawah
langit biru yang telah berubah menjadi hitam sebuah lentera telah bercahaya.
Tibalah masa ketika tanah lembab lebih memiliki daya tarik untuk dilihat
daripada menatap cahaya bintang yang menyilaukan mata seorang pecundang.
Pagi itu tidak jauh berbeda
dengan hari-hari sebelumnya. Beberapa mahasiswa berlalu-lalang di antara
koridor-koridor panjang. Beberapa lainnya menyibukan diri di gazebo, terlihat ada yang belajar
ataupun sekadar berbincang-bincang sembari menunggu jadwal kuliah dimulai.
Seperti biasa, Vanza datang
ketika jadwal kuliahnya hampir dimulai. Setelah menempatkan tunggangan
kesayangngannya di tempat teduh, dia menuju ke ruang kelas. Dia sempatkan
melambai tangan kebeberapa rekan yang dia kenal. Sesekali dia tidak hanya
melambaikan tangan, tetapi juga berjabat tangan sembari meneriakan, “Heiiii,
Bro” ke beberapa orang yang berpapasan dengannya.
“Woyyy, Van!” seorang gadis
berpawakan tinggi dan ramping mengejutkan Vanza. Dari bahasa tubuhnya tampak
sekali dia seorang yang akrab dengan Vanza.
Melepaskan pelukan,
“Pagi-pagi sudah memelukku, kamu sengaja membuat hormonku tidak stabil?” goda
Vanza.
“Hormonmu memang
selalu tidak stabil setiap berhadapan denganku.”
Tawa dan
decak dari bibir Vanza membuat gadis itu tersenyum lebar menunjukan deretan
giginya yang putih. “Aku masih mengantuk karena tadi malam harus kerja keras
untuk mengimbangimu.”
“Ketika aku
tidak merasa puas dengan yang kamu berikan, itukah
yang kamu sebut kerja keras,” Vanza mendekati gadis itu, menyudutkannya hingga
kedinding, “haruskah kita ulangi yang tadi malam?” bisik Vanza nyaris seperti
desahan.
