Musik

Sabtu, 12 Januari 2019

Pantai Pemedas: Liburan Tipis-Tipis Murmer



Liburan ke pantai pada saat akhir tahun tampaknya menjadi salah satu agenda wajib bagi kebanyakan orang Indonesia. Bisa dibuktikan, pada saat liburan akhir tahun beberapa pantai di Indonesia dipenuhi wisatawan, dari sekadar jalan-jalan, berkumpul bersama keluarga atau kerabat, ataupun menikmati matahari terbit dan terbenam. Nahhh, kali ini aku akan mengulas salah satu pantai yang ada di Kalimantan Timur, tempat wisata alam yang sepertinya masih belum banyak diketahui oleh wisatawan, bahkan ketika kuketik lokasinya di salah satu aplikasi navigasi tidak muncul#nahhh lohhh.
Jujur, sempat ragu buat tetap pergi atau memilih cari tempat lain yang sudah jelas keberadaannya#euwww. Dengan berbekal informasi dan petunjuk arah dari beberapa responden yang pernah ke sana, akhirnya kuberanikan diri untuk pergi. Jadi guys, Pantai Pemedas ini terletak di Kecamatan Samboja,  sebuah kecamatan yang terletak di wilayah pesisir Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur.



Jauh gak sih Pantai Pemedas?
Hemmm, jauh gak ya? Sebenarnya ini tergantung kalian dari arah mana. Untuk bisa ke pantai ini, jika dari Samarinda, ada dua jalur yang bisa kalian pilih.
Pertama, Kondisi jalan sebenarnya cukup baik setelah dilaksanakan pembangunan, tetapi kalian akan menemukan beberapa ruas jalan yang rusak di area pertambangan. Dari pusat Kota Samarinda, kalian membutuhkan waktu sekitar dua jam (bisa lebih cepat kalau gak terjebak macet di pusat Kota Samarinda) dengan kecepatan kendaraan 40 – 60km/jam. Kalian bisa melewati jalan poros menuju ujung Palaran ke daerah Bantuas, dari Bantuas perjalanan masih harus lanjut melewati Sanga-sanga. Dari Sanga-sanga kalian akan melanjutkan perjalanan melewati jalan poros Sanga-sanga – Muara Jawa, ketika melewati jalur ini sebaiknya kalian hati-hati dan siapkan stamina karena jalur yang harus dilewati cukup menegangkan: banyak tanjakan, tikungan tajam, jurang yang curam, dan kabar buruknya sepanjang perjalanan kalian akan lebih bertemu dengan jalan rusak dan berdebu ketika melewati area pertambangan#euwww. Selain itu, kalian juga bisa menyaksikan bekas galian tambang yang ternyata jumlahnya tidak sedikit (bukti alam kita telah dirusak terpampang nyata, guys). Jika kalian telah masuk daerah Muara Jawa artinya perjalanan semakin dekat (sekitar 25 – 35 menit), tinggal melewati jalan raya Muara Jawa – Samboja menuju Pantai Pemedas. Selain itu, perjalanan kalian sedikit menyenangkan karena jalur lumayan mulus dan menyejukkan mata, sehingga kalian dapat mempercepat laju kendaraan.
Kedua, kamu bisa melewati jalan poros Samarinda – Balikpapan, kemudian menuju Samboja dengan waktu tempuh sekitar dua hingga tiga jam. Nahhh, untuk jalur kedua ini kalian tidak perlu kuatir karena jalur yang kamu lewati dapat dikatakan cukup baik dan lancar. Jika dibandingkan jalur pertama, jalur kedua ini membutuhkan waktu yang lebih lama, tapi setidaknya pada jalur ini kalian tidak perlu melewati berbagai tikungan tajam yang diapit jurang curam, apalagi jalanan terjal karena area pertambangan. Untuk menghilangkan kejenuhan berkendara, kalian bisa menikmati pemandangan hutan yang masih asri di Bukit Soeharto.
Untuk ke sana bisa pakai transportasi umum?
            Bisa gak ya? Harusnya sih bisa. Akan tetapi, aku tidak merekomendasikan untuk naik trasportasi umum, jika kalian memilih perjalanan lewat jalur pertama. Ada baiknya kalian membawa kendaraan pribadi, entah itu roda dua, roda empat, atau banyak roda juga boleh (asal jangan sepatu roda aja ya, guys). Kenapa harus pakai kendaraan pribadi? Nahhh, berdasarkan pengalamanku lalu, selama perjalanan lewat jalur pertama, aku nyaris tidak menemukan transportasi umum, seperti bus atau angkutan kota yang langsung bisa membawa penumpang dari Samarinda menuju lokasi wisata. Jika kalian ingin menggunakan transportasi umum setidaknya kalian harus bersabar untuk beberapa kali ganti angkutan kota, belum lagi kalian bisa menunggu hingga batas waktu yang tidak dapat ditentukan (ini serius loh, guys). Bahkan di jalur Sanga-sanga – Muara Jawa tidak ada angkutan kota, apalagi bus wisata. Nahhh, kalau lewat jalur kedua, setidaknya kalian bisa menggunakan bus melalui jalam raya Samarinda – Balikpapan, kemudian naik angkutan kota untuk menuju tempat wisata.
Sebagai catatan, jika kalian menggunakan kendaraan pribadi, ada baiknya sebelum melakukan perjalanan, kalian memeriksa kondisi kendaraan dan pastikan kendaraan sudah terisi penuh dengan bahan bakar karena sepanjang perjalanan jarang ditemui SPBU ataupun bengkel kendaraan. Bukan tidak ada SPBU ataupun bengkel kendaraan ya, tapi jaraknya lumayan jauh, khususnya jalur pertama ketika kalian melintasi jalan raya Sanga-sanga – Muara Jawa. Kalau tempat untuk makan kalian tidak perlu kuatir, di sepanjang jalur sepi pun setidaknya kalian bisa menemukan pedagang kaki lima.
Biaya masuknya mahal?
Ini nihhh, pertanyaan yang sering muncul. Namanya juga mumer alias murah meriah, jadi jangan berharap gratis ya, guys. Tapi tenang, tiket masuknya tidak sampai jual rumah apalagi jual ginjal#lebay. Kalau bukan hari biasa kalian cukup mengeluarkan uang tiket sebesar Rp. 5.000,- untuk kendaraan roda dua dan Rp. 10.000,- untuk kendaraan roada empat. Sedangkan pada saat libur sekolah dan akhir tahun kalian harus membayar sebesar Rp. 15.000,- untuk kendaraan roda dua dan Rp. 20.000,- untuk kendaraan roda empat, ada selisih harga setidaknya masih terjangkau.
Area parkir luas dan aman gak?
            Yahhh, tempatnya tidak terlau luas. Akan tetapi, karena masih sepi pengunjung, jadi selama kalian tidak menggunakan bus atau truk kontainer, aku jamin kalian bisa parkir dengan tenang. Sebenarnya tidak ada tempat parkir khusus pengunjung, bahkan beberapa pengunjung memakir kendaraan nyaris dekat dengan bibir pantai. Tidak jarang kalian juga menemukan pengunjung yang justru sengaja membawa kendaraan mereka hingga dekat dengan pantai untuk menyisir pantai atau ber-selfie (inilah deretan pengunjung nekat yang mengurangi keindahan pemandangan).
Fasilitas umum dan kebersihannya gimana?
Akhirnya, pertanyaan yang ditunggu-tunggu datang juga. Setiap kita berkunjung ke tempat wisata, tentu kita harus memastikan fasilitas penunjangnya juga, ya guys! Ini penting untuk kenyamanan kita. Di tempat ini menyediakan toilet umum (jadi kalian gak perlu pipis di laut, ya guys#wewww), tempat pemandian umum yang dapat kalian gunakan setelah berenang, dan juga ada mushala (walaupun berukuran minimalis). Akan tetapi, kalian harus keluar modal, ya, untuk menggunakan fasilitas umum tersebut (agak kecewa, akhirnya fasilitas umum menjelma fasilitas berbayar). Untuk sekadar buang pipis, kalian harus mengeluarkan Rp. 2.000,- sedangkan untuk buang air besar sediakan Rp. 3.000,- (lumayan murah guys, daripada kalian harus pipis di laut atau nahan eek sampai jadi batu#nooo). Untuk ongkos mandi cukup membayar Rp. 5.000,-  kalian sudah bisa mandi dengan durasi waktu yang lumayan lama (lama nunggu air keluar dari keran). Kalau mushala, alhamdulillah kalian dapat memanfaatkanya dengan gratis (tapi plisss, jangan numpang tidur).
Sebagai orang yang tergolong tidak suka bersih-bersih, tapi sangat menjunjung kebersihan (apa sihhh), menurutku tempat ini masih kurang bersih. Toilet dan tempat pemandian umum masih jauh dari harapan bersih dan wangi. Di beberapa tempat ada pohon berukuran cukup besar yang tumbang karena telah mati, tapi dibiarkan saja. Kayu-kayu bekas bangunan atau entah apapun itu, dibiarkan teronggok. Masih ada beberapa sampah yang ditinggal begitu saja oleh pemiliknya.
Akan tetapi menurutku masalah kebersihan tersebut wajar, sebagai tempat wisata yang masih belum banyak diketahui pengunjung, pengelolaannya tentu belum maksimal, sehingga perlu lebih ditingkatkan secara meyeluruh. Namun, jangan kecewa, lingkungan di sekitar pantai bisa dikatakan bersih. Aku merasakan kesadaran pengunjung untuk menjaga kebersihan lingkungan pantai saat ini sedikit meningkat. Meskipun hanya tersedia tempat sampah kecil yang hanya ada dibeberapa tempat, kenyataanya pengunjung tidak banyak meninggalkan sampah-sampah bekas makanan atau minuman di sembarang tempat (kalaupun masih ada sedikit sampah, ini hanya oknum “manusia” yang perlu dibuang ke tempat sampah).
View dan kontur pantainya kece kan?
Ini nihhh, pertanyaan penting, tapi jawabanya relatif. Eitsss tenang, setelah perjalanan panjang dan melelahkan, kalian bisa menikmati suasana pantai yang cukup ciamik dan aroma khas pinecone dari pepohonan pinus yang tumbuh rindang.
paling suka sama pohon pinusnya
Kontur pantainya sama dengan pantai pada umumnya, di pantai ini kalian juga akan menemukan air, pasir, pinus, dan mangrove. Airnya tidak seperti imajinasi kita tentang pantai, jika kalian menginginkan air yang jernih dan berwarna biru, maka berenanglah hingga ke tengah laut (tolong jangan dilakukan, jika kalian bukan perenang hebat). Pasirnya tidak seeksotik Pantai Kuta, tapi tetap sangat pas untuk bermain dan media melatih kreativitas anak. Pohon pinus juga banyak tumbuh dan berdaun rindang, sehingga kita bisa duduk dengan tenang menikmati deburan ombak sembari menyantap makanan tanpa takut kepanasan.
Untuk view sunrise ataupun sunset, aku belum bisa memberikan deskripsi yang pas karena memang belum menikmati keindahan tersebut (maklum, dateng pas siang bolong dan pulang sebelum senja). Namun, menikmati cahaya matahari yang menerobos dari cela pepohonan pinus, salah satu hal yang sayang untuk dilewatkan (banyak pohon pinus yang bikin pemandangannya kece, guys). Selain itu, deburan ombak yang memecah pantai juga jadi pertunjukan indah yang memanjakan mata. Bonusnya, kalau beruntung kalian juga akan bertemu beberapa biota laut.
ini bukan aku, ya guys
Sebagai catatan, di pantai ini kalian juga akan menemukan pakaian basah dan helm yang digantung sembarangan di pohon-pohon pinus (ini ulah manusia, yang minta dibinasakan).
Apa aja sih yang bisa dilakukan di Pantai Pemedas?
Pertama, kalau di pantai, tentu hal menyenangkan yang bisa kalian lakukan sampai puas adalah berenang. Namun, untuk yang tidak bisa berenang jangan kecewa, kalian bisa menyewa pelampung dengan biaya Rp. 20.000,- kalian bisa memakai pelampung tersebut sampai puas. Kalau tidak tertarik berenang kalian bisa main bola dengan kerabat atau sahabat ataupun main layang-layang yang pasti gratis (kalau gak punya bola atau layang-layang jangan khawatir, di sana banyak yang jual).
ini juga bukan aku, ya guys
Kedua, kalian tidak hanya menikmati keindahan pantai bersama pasangan, tetapi juga bisa mengadakan acara family gathering kecil-kecilan bersama kerabat dan sahabat (tentu ini jadi ide cerdas buat para penyandang jomblo#eiuuuhhh). Pada saat family gathering, kalian bisa menyewa gazebo seluas 5 – 6 m2 dengan biaya sebesar Rp. 50.000,- per gazebo, sedangkan durasi waktunya bisa satu hari penuh. Setidaknya ada 4 gazebo yang tersedia, jadi tidak perlu khawatir, jika membawa kerabat atau sahabat. Sebenarnya, selain gazebo ada juga tempat yang bisa digunakan untuk family gathering dengan tempat yang lebih luas, nyaman, dan lokasinya pun lebih dekat dengan bibir pantai, tapi aku tidak tahu tarif sewa tempat tersebut. Kalau biaya sewa gazebo mahal, kalian bisa menyewa alas sebesar Rp. 15.000,- hingga Rp. 25.000,- (sesuai ukuran dan jenis, ya) dengan durasi sepuasnya (yang penting gak sampai nginep, apalagi dibawa pulang) atau membawa alas dari rumah kalau ingin lebih hemat. Kalau aku lebih suka menyewa alas, selain harga terjangkau, aku juga bisa memlih tempat piknik yang dekat dengan pantai dan di bawah pohon pinus yang teduh (lebih mantap, guys).


aku di belakang yang pakai topi, ya guys
Ketiga, kalian bisa menyewa motorcross mini atau ATV untuk merasakan menyusuri bibir pantai dengan cara yang berbeda. Biaya sewa motorcross mini sebesar Rp. 25.000,- sedangkan ATV sebesar Rp. 35.000,- dengan durasi waktu sewa selama 10 menit. Jika 10 menit belum puas, kalian bisa merogoh kocek sebesar Rp. 70.000,- untuk biaya sewa motorcross mini dan Rp. 100.000,- untuk biaya sewa ATV dengan durasi waktu sewa selama 30 menit (hemat goceng sih, tetep aja mahal).
ingat, ini bukan aku guys
            Keempat, menikmati pemandangan laut menggunakan kapal wisata sederhana (bukan kapal pesiar, ya) atau menggunakan banana boat. Kalau ingin mencoba sensasi terombang-ambing melawan ombak, bisa coba naik kapal wisata dengan biaya Rp. 25.000,- tapi kapal wisata baru beroperasi jika sekurangnya ada 6 – 8 penumpang. Nahhh, kalau ingin mencoba yang lebih menguji adrenalin, kalian bisa mencoba banana boat, tarifnya juga sama dengan tarif kapal wisata.
            Kelima, camping untuk melepas senja dan menyambut fajar, pasti ini akan jadi momen indah ketika kalian bisa menyaksikan sunrise dan sunset. Karena di Pantai Pemedas banyak pohon pinus yang tumbuh saling berdekatan dan berdaun rindang, ada baiknya kalian membawa hammock (ini dijamin seru guys, apalagi rame-rame).
Tempat makan pasti adakan?
Tidak perlu risau hanya karena kalian tidak membawa makanan. Di tempat wisata ini tersedia warung kecil-kecil yang menjual aneka makanan dan minuman dengan harga yang murmer. Jajanan kesukaan anak-anak seperti ice krim murmer, pentol dan sosis (rebus, bakar, goreng), kentang, aneka nuget, es doger, dan masih banyak lagi. Kalau ingin makan berat juga ada bakso, gado-gado, sate, mie instan rebus/goreng dan lain-lain.

Jadi, inilah sedikit ulasan mengenai Pantai Pemedas sebagai salah satu tujuan wisata yang murah meriah. Buat kalian yang ingin pergi ke sana, pastiakan kalian jaga kebersihan lingkungan, ya.

2 komentar:

  1. ayo segera bergabung dengan kami hanya dengan minimal deposit 20.000
    dapatkan bonus rollingan dana refferal ditunggu apa lagi
    segera bergabung dengan kami di i*o*n*n*q*q

    BalasHapus
  2. Saya pengen ke pantaiipantai Utk penyewaan gazebo semalam berapa ya?

    BalasHapus