Bagai
pedang berkepala dua begitulah aku memaknainya. Satu sisinya bisa melukaiku
kalau tak hati-hati menggunakannya. Sedikit saja salah gerakan, aku terluka.
Sekali luka itu terbuka, butuh waktu lama untuk menyembuhkannya. Aku sangat
membencinya. Cinta.
Awal
Desember 2001. Mataku masih susah dibuka. Kalau bukan kekasihku membelai lembut
pipiku, aku masih ingin bergulat dengan selimut tebalku, apalagi udara pagi ini
benar-benar mencekat kulit putih pucatku. Kulihat kekasihku tersenyum lebar,
seperti biasa, dia merengkuhku dalam pelukannya. Aku tahu, dia benar-benar
menginginkanku.