Bagai
pedang berkepala dua begitulah aku memaknainya. Satu sisinya bisa melukaiku
kalau tak hati-hati menggunakannya. Sedikit saja salah gerakan, aku terluka.
Sekali luka itu terbuka, butuh waktu lama untuk menyembuhkannya. Aku sangat
membencinya. Cinta.
Awal
Desember 2001. Mataku masih susah dibuka. Kalau bukan kekasihku membelai lembut
pipiku, aku masih ingin bergulat dengan selimut tebalku, apalagi udara pagi ini
benar-benar mencekat kulit putih pucatku. Kulihat kekasihku tersenyum lebar,
seperti biasa, dia merengkuhku dalam pelukannya. Aku tahu, dia benar-benar
menginginkanku.
“Hangattt.
Aku menyayangimu kekasihku.” Aku memeluk kekasihku dengan erat.
Kaleng-kaleng
soda sisa pesta tadi malam berserakan di lantai. piring dan gelas beberapa
pecah. Lantai pun basah, entah terkena tumpahan minuman atau muntahan. Hahhh,
padahal kepalaku masih berat karena banyak minum semalam, tapi aku tak akan
membiarkan tempat pertapaanku ini menimbulkan bau busuk yang mengganggu indera
penciumanku. Jarum jam di dinding menunjukan pukul tujuh, aku hanya punya waktu
satu jam untuk merapikan rumahku.
Di
kamar sederhana inilah aku mengabiskan waktu, bahkan mungkin sisa hidupku. Hanya
ada satu kamar tidur yang dilengkapi dengan kamar mandi kecil, dapur dan ruang
tamu jadi satu meskipun begitu tetap tertata rapi. Sebagai sekat kuletakkan
meja makan sebagai pajangan karena aku lebih suka menghabiskan makanku di depan
televisi. Tiada barang mewah di dalam sini, satu-satunya barang yang bisa
kubanggakan hanya televisi layar datar berukuran 60 inci hasil menukar kupon
berhadiah dari tempat kerjaku. Andai kekasihku tak datang berkunjung, televisi
itu akan jadi teman kencanku.
Bugkkk…bugkkk…bugkkk. Harghhh,
menjengkelkan. Tetangga menggedor pintuku. Aku benar-benar muak dengan
kelakuannya. Aku tak akan membuka meski dia memakiku. Mendengar makiannya
seperti nyanyian untukku. Laki-laki tua itu baru berhenti setelah ludahnya
habis di pintuku. Inilah risiko tinggal di rumah susun.
“Lirvieee…Lirvieee…Lirvieee,
buka pintumu sialan!” makian pertama yang diucapkanya. “Kau pikir dirimu siapa?
Anak ingusan tak punya aturan. Berandalan. Arogan. Kurang didikan” Makian kedua
lebih panjang. “Aku akan melapor kepada polisi kalau kau terus bertindak
semaumu,” pak tua itu selalu saja mengancamku, “kalau mau berpesta bukan di
sini, pergilah ke club.” Cuihhh…cuihhh…cuihhh liur anjing sudah dia
ludahkan tepat di pintu rumahku, setelah ini pasti dia akan menendang pintu dan
pergi.
Kukenakan
kaus hitam dan celana hitam, berapa gelang berbahan plastik dengan warna senada
berbaris indah dilengan kananku. Benda berwarna
silver, dengan logo AC kulingkarkan di lengan kiri untuk mengingatkan waktu.
Terakhir, tak lupa kusematkan name tag
dengan tulisan ‘Lirvie Meriage’ di dada kiriku. Sepatu kets berwana hitam putih
sepadan dengan topi baseball yang
hinggap di kepala menutupi rambut panjang yang kukucir kuda. Aku siap bekerja.
Sebagai
gadis lulusan sekolah menengah atas, tak banyak yang dapat kuharapkan untuk
mendapat tempat bekerja. Aku diterima sebagai kasir supermarket di salah satu mall,
pekerjaan yang tak terlau berat untuk dijalani. Aku cukup berdiri di depan meja
komputer mulai pukul sembilan pagi hingga pukul empat sore sambil memaikan
jari-jariku.
Sebenarnya
menjadi kasir bukanlah satu-satunya pekerjaanku, aku juga bekerja di restoran
Cina. Setelah selesai bekerja sebagai kasir, aku akan berlari menuju restoran
Cina yang letakknya di sebrang mall.
Aku harus berlari karena pukul setengah lima harus bersiap-siap menganti
seragam kasirku menjadi seragam pelayan.
Tak
ada waktu libur, tak ada istilah hari minggu, baik di supermarket ataupun di restoran tak pernah meliburkanku pada hari
minggu. Aku hanya libur pada waktu yang sudah dijadwalkan. Kalaupun mendapat
libur, aku tak pernah menggunakannya untuk libur, aku lebih suka mencari
pekerjaan lain untuk menghasilkan uang. Seperti menjadi buruh tanam di toko
tanaman hias atau menjadi buruh angkut di pabrik ikan kaleng.
Aku
memang seperti hamba uang. Aku harus mengumpulkan banyak uang. Ya, sebanyak
mungkin. Sebanyak yang kumampu.
Aku
menyusuri lorong gelap menuju kereta bawah tanah. Aroma parfum citrus menusuk
hidung runcingku, baunya manis, menggoda. Aku membayangkan rainbow cake dengan krim jeruk yang manis, persis dengan aroma parfum
itu. Seperti terhipnotis, aroma itu begitu dekat, semakin dekat, sangat dekat,
ahhh ini sungguh dekat.
“Kereta
paling pagi berangkat jam berapa, ya?” suara itu mengejutkankku dan sontak
pamflet di tanganku berhamburan. “Ahhh, maaf membuatmu terkejut.” Laki-laki
bermata coklat itu menatapku dengan pandangan menyesal. Dia berjongkok mengumpulkan
pamflet yang berserakan di atas ubin batu. Tanganya begitu cekatan, gerakannya
lincah, hanya beberapa detik lembaran-lembaran itu sudah tertumpuk rapi di atas
tangannya. Sedangkan aku hanya mengamatinya.
“Ramen
jamur,” dia membaca beberapa baris tulisan yang ada di pamflet,”kedai baru
dengan sajian istemewa untuk keluarga Anda, T-Resto,” sambungnya. “Kamu bekerja
di sini?” tanyanya.
Aku
mengambil pamflet dari tangannya dan tak menghiraukan pertanyaanya. “Di mana
tempatnya?” tanyanya lagi, aku justru mempercepat langkahku untuk menjauhinya
karena dia terlihat mengikutiku. “Kapan dibuka?” dia masih saja mengikuti
membuatku tak nyaman.
“Sekarang”
jawabku sembari menghentikan langkah sehingga membuat tubuh kami bertabrakan.
“Sekarang?”
dia tampak kebingungan, “kedai ramen?”
“Kereta
berangkat!” jawabku singkat.
Wushhh angin
menghujam tubuhku. Aku berbalik, menatap punggungnya membelakangiku, langkah
kakinya setengah berlari. Detik berikutnya aku hanya melihat titik hitam.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar