Musik

Rabu, 07 September 2016

Saudara: Adik Perempuan (Bagian 1)



Bagai pedang berkepala dua begitulah aku memaknainya. Satu sisinya bisa melukaiku kalau tak hati-hati menggunakannya. Sedikit saja salah gerakan, aku terluka. Sekali luka itu terbuka, butuh waktu lama untuk menyembuhkannya. Aku sangat membencinya. Cinta.
Awal Desember 2001. Mataku masih susah dibuka. Kalau bukan kekasihku membelai lembut pipiku, aku masih ingin bergulat dengan selimut tebalku, apalagi udara pagi ini benar-benar mencekat kulit putih pucatku. Kulihat kekasihku tersenyum lebar, seperti biasa, dia merengkuhku dalam pelukannya. Aku tahu, dia benar-benar menginginkanku.

“Hangattt. Aku menyayangimu kekasihku.” Aku memeluk kekasihku dengan erat.
Kaleng-kaleng soda sisa pesta tadi malam berserakan di lantai. piring dan gelas beberapa pecah. Lantai pun basah, entah terkena tumpahan minuman atau muntahan. Hahhh, padahal kepalaku masih berat karena banyak minum semalam, tapi aku tak akan membiarkan tempat pertapaanku ini menimbulkan bau busuk yang mengganggu indera penciumanku. Jarum jam di dinding menunjukan pukul tujuh, aku hanya punya waktu satu jam untuk merapikan rumahku.
Di kamar sederhana inilah aku mengabiskan waktu, bahkan mungkin sisa hidupku. Hanya ada satu kamar tidur yang dilengkapi dengan kamar mandi kecil, dapur dan ruang tamu jadi satu meskipun begitu tetap tertata rapi. Sebagai sekat kuletakkan meja makan sebagai pajangan karena aku lebih suka menghabiskan makanku di depan televisi. Tiada barang mewah di dalam sini, satu-satunya barang yang bisa kubanggakan hanya televisi layar datar berukuran 60 inci hasil menukar kupon berhadiah dari tempat kerjaku. Andai kekasihku tak datang berkunjung, televisi itu akan jadi teman kencanku.
Bugkkk…bugkkk…bugkkk. Harghhh, menjengkelkan. Tetangga menggedor pintuku. Aku benar-benar muak dengan kelakuannya. Aku tak akan membuka meski dia memakiku. Mendengar makiannya seperti nyanyian untukku. Laki-laki tua itu baru berhenti setelah ludahnya habis di pintuku. Inilah risiko tinggal di rumah susun.
“Lirvieee…Lirvieee…Lirvieee, buka pintumu sialan!” makian pertama yang diucapkanya. “Kau pikir dirimu siapa? Anak ingusan tak punya aturan. Berandalan. Arogan. Kurang didikan” Makian kedua lebih panjang. “Aku akan melapor kepada polisi kalau kau terus bertindak semaumu,” pak tua itu selalu saja mengancamku, “kalau mau berpesta bukan di sini, pergilah ke club.” Cuihhh…cuihhh…cuihhh liur anjing sudah dia ludahkan tepat di pintu rumahku, setelah ini pasti dia akan menendang pintu dan pergi.
Kukenakan kaus hitam dan celana hitam, berapa gelang berbahan plastik dengan warna senada berbaris indah dilengan kananku.  Benda berwarna silver, dengan logo AC kulingkarkan di lengan kiri untuk mengingatkan waktu. Terakhir, tak lupa kusematkan name tag dengan tulisan ‘Lirvie Meriage’ di dada kiriku. Sepatu kets berwana hitam putih sepadan dengan topi baseball yang hinggap di kepala menutupi rambut panjang yang kukucir kuda. Aku siap bekerja.
Sebagai gadis lulusan sekolah menengah atas, tak banyak yang dapat kuharapkan untuk mendapat tempat bekerja. Aku diterima sebagai kasir supermarket di salah satu mall, pekerjaan yang tak terlau berat untuk dijalani. Aku cukup berdiri di depan meja komputer mulai pukul sembilan pagi hingga pukul empat sore sambil memaikan jari-jariku.
Sebenarnya menjadi kasir bukanlah satu-satunya pekerjaanku, aku juga bekerja di restoran Cina. Setelah selesai bekerja sebagai kasir, aku akan berlari menuju restoran Cina yang letakknya di sebrang mall. Aku harus berlari karena pukul setengah lima harus bersiap-siap menganti seragam kasirku menjadi seragam pelayan.
Tak ada waktu libur, tak ada istilah hari minggu, baik di supermarket ataupun di restoran tak pernah meliburkanku pada hari minggu. Aku hanya libur pada waktu yang sudah dijadwalkan. Kalaupun mendapat libur, aku tak pernah menggunakannya untuk libur, aku lebih suka mencari pekerjaan lain untuk menghasilkan uang. Seperti menjadi buruh tanam di toko tanaman hias atau menjadi buruh angkut di pabrik ikan kaleng.
Aku memang seperti hamba uang. Aku harus mengumpulkan banyak uang. Ya, sebanyak mungkin. Sebanyak yang kumampu.
Aku menyusuri lorong gelap menuju kereta bawah tanah. Aroma parfum citrus menusuk hidung runcingku, baunya manis, menggoda. Aku membayangkan rainbow cake dengan krim jeruk yang manis, persis dengan aroma parfum itu. Seperti terhipnotis, aroma itu begitu dekat, semakin dekat, sangat dekat, ahhh ini sungguh dekat.
“Kereta paling pagi berangkat jam berapa, ya?” suara itu mengejutkankku dan sontak pamflet di tanganku berhamburan. “Ahhh, maaf membuatmu terkejut.” Laki-laki bermata coklat itu menatapku dengan pandangan menyesal. Dia berjongkok mengumpulkan pamflet yang berserakan di atas ubin batu. Tanganya begitu cekatan, gerakannya lincah, hanya beberapa detik lembaran-lembaran itu sudah tertumpuk rapi di atas tangannya. Sedangkan aku hanya mengamatinya.
“Ramen jamur,” dia membaca beberapa baris tulisan yang ada di pamflet,”kedai baru dengan sajian istemewa untuk keluarga Anda, T-Resto,” sambungnya. “Kamu bekerja di sini?” tanyanya.
Aku mengambil pamflet dari tangannya dan tak menghiraukan pertanyaanya. “Di mana tempatnya?” tanyanya lagi, aku justru mempercepat langkahku untuk menjauhinya karena dia terlihat mengikutiku. “Kapan dibuka?” dia masih saja mengikuti membuatku tak nyaman.
“Sekarang” jawabku sembari menghentikan langkah sehingga membuat tubuh kami bertabrakan.
“Sekarang?” dia tampak kebingungan, “kedai ramen?”
“Kereta berangkat!” jawabku singkat.
Wushhh angin menghujam tubuhku. Aku berbalik, menatap punggungnya membelakangiku, langkah kakinya setengah berlari. Detik berikutnya aku hanya melihat titik hitam.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar