Musik

Rabu, 21 September 2016

Generasi Gantung



Kuharus menemui cintaku
Mencari tahu hubungan kita
Apa masih atau telah berakhir
Kau menggantungkan hubungan ini
Kau diamkan aku tanpa sebab
Maunya apa kuharus bagaimana
Kasih…
sampai kapan kaugantung cerita cintaku
Memberi harapan hingga mungkin kutak sanggup lagi
Dan meninggalkan dirimu
          Wahhh, setelah lama tidak bercerita entah mengapa tiba-tiba teringat lagu di atas. Lagu, Gantung, karya Mely Goeslow itu memang tetap enak didengar meski sempat digerus lagu-lagu ber-genre melayu dan lagu-lagu ala boy band yang sempat hits di Indonesia. Lirik lagu sederhana, tapi begitu kena di hati, mungkin yang menjadikan lagu ini tetap dikenang.

       Jika dilihat dari isi, lagu ini menceritakan tentang seseorang yang sedang mengalami konflik batin karena ditinggal kekasih. Sosok aku dalam lirik di atas tampak diambang kerisauan hingga berusaha untuk menemui kekasihnya hanya untuk mencari tahu “status” hubungannya. “Apa masih atau telah berakhir?” Itulah yang membuat hati dan pikirannya mengalami pergulatan. Namun, sosok aku sadar, bahwa diam dan menunggu bukan cara yang tepat untuk mendapatkan jawaban. Oleh sebab itu, meski sosok aku sadar bahwa mungkin akan terluka, tapi itu lebih baik daripada hanya diam menunggu sesuatu yang tidak pasti.
          Makna “gantung” dalam lagu di atas konteksnya untuk mendeskripsikan hubungan sepasang kekasih, yahhh, bisa kategori pacaran atau pernikahan. Namun, seiring perkembangan zaman – saya pikir zaman posmodernisme – makna gantung telah mengalami perluasan. Hal ini terbukti dengan konteks pengunaan “gantung” untuk mendeskripsikan status hubungan yang baru memasuki proses pendekatan atau bahkan belum dimulai.
    “Pernah digantungin?”
          “Pernah, waktu kuliah. Setiap hari dikirimi pesan, tapi gak ditembak-tembak, padahal aku sudah putusin cowokku demi dia. Akhirnya cuma jadi HTS (Hubungan Tanpa Status) alias gantung! Tau gitu gak kuputusin cowokku” penyesalan memang datang disaat yang tepat.
          “Pernah digantungin?”
         “Bahhh, malas sebenarnya kalau ingat. Sakit banget. Temenan empat orang, yang jomblo cuma aku sama dia. Semua hal dilakukan bareng dia, malem minggu pun kencan sama dia. Setiap orang sudah bilang ‘sahabat jadi cinta’, aku nunggu beneran jadi cinta, ehhh, tahunya dia lagi deket sama cewek lain. Terus aku dianggep apa selama ini?” Eaaaaaa.
          “Pernah digantungin?”
“Pernah. Doi baik benget, suka kasih perhatian. Kemana pun doi pergi, ane selalu siap antar jemput. Giliran ditembak ternyata ane cuma dianggap mas!” Mungkin maksud doi mas tukang ojek.
“Pernah digantungin?”
“Pernah dan gak akan lupa. Lagi pendekatan, percaya diri bakal jadian, tahunya tuh cewek kaya angin. Dikode gak ada respons, katanya lagi cari petunjuk untuk memantapkan hati” memantapkan hati untuk yang lain.
So, buat para generasi gantung yang mengalami baper mari sadarkan diri, buanglah masalah pada tempatnya. Kedekatan dengan seseorang tidak dapat diartikan sebagai pendekatan untuk menjalin hubungan spesial. Mendekati seseorang tidak hanya untuk menjalin hubungan spesial, tetapi juga mencari kenyamanan berbagi cerita atau hal lain, jadi bersikap dan bertindak sewajarnya saja, jangan mudah terbawa perasaan alias baper. Tak perlu cari pembenaran, cerita sana-sini menjadi tokoh tersakiti karena digantung, itu justru menjatuhkan harga diri. Lebih baik intropeksi dan perbaiki diri, sibukan dengan kegiatan yang berarti.
Kalaupun benar-benar suka, belajarlah dari kisah Nabi Yusuf dan Zulaikha. Bagaimana usaha Zulaikha menggoda Nabi Yusuf, jika Nabi Yusuf tidak didasari keimanan pada Allah tentu jatuh dalam kesesatan yang nyata. Ketika Zulaikha mengejar cinta Nabi Yusuf, maka Allah menjauhkannya. Namun, ketika Zulaikha mengejar cinta Allah, maka Allah berikan Nabi Yusuf untuknya. Oleh sebab itu, bersabarlah dan cintai makhluk Allah dengan didasari keimanan, niscaya Allah akan menurunkan rahmat-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar