Kuharus menemui cintaku
Mencari tahu hubungan kita
Apa masih atau telah berakhir
Kau menggantungkan hubungan ini
Kau diamkan aku tanpa sebab
Maunya apa kuharus bagaimana
Kasih…
sampai kapan kaugantung cerita cintaku
Memberi harapan hingga mungkin kutak sanggup
lagi
Dan meninggalkan dirimu
…
Wahhh, setelah lama tidak bercerita
entah mengapa tiba-tiba teringat lagu di atas. Lagu, Gantung, karya Mely Goeslow itu memang tetap enak didengar meski
sempat digerus lagu-lagu ber-genre
melayu dan lagu-lagu ala boy band
yang sempat hits di Indonesia. Lirik
lagu sederhana, tapi begitu kena di hati, mungkin yang menjadikan lagu ini
tetap dikenang.
Jika dilihat dari isi, lagu ini menceritakan
tentang seseorang yang sedang mengalami konflik batin karena ditinggal kekasih.
Sosok aku dalam lirik di atas tampak
diambang kerisauan hingga berusaha untuk menemui kekasihnya hanya untuk mencari
tahu “status” hubungannya. “Apa masih atau telah berakhir?” Itulah yang membuat
hati dan pikirannya mengalami pergulatan. Namun, sosok aku sadar, bahwa diam dan menunggu bukan cara yang tepat untuk
mendapatkan jawaban. Oleh sebab itu, meski sosok aku sadar bahwa mungkin akan terluka, tapi itu lebih baik daripada
hanya diam menunggu sesuatu yang tidak pasti.
Makna “gantung” dalam lagu di atas
konteksnya untuk mendeskripsikan hubungan sepasang kekasih, yahhh, bisa
kategori pacaran atau pernikahan. Namun, seiring perkembangan zaman – saya
pikir zaman posmodernisme – makna gantung telah mengalami perluasan. Hal ini
terbukti dengan konteks pengunaan “gantung” untuk mendeskripsikan status
hubungan yang baru memasuki proses pendekatan atau bahkan belum dimulai.
“Pernah
digantungin?”
“Pernah, waktu kuliah. Setiap hari
dikirimi pesan, tapi gak ditembak-tembak, padahal aku sudah putusin cowokku
demi dia. Akhirnya cuma jadi HTS (Hubungan Tanpa Status) alias gantung! Tau
gitu gak kuputusin cowokku” penyesalan memang datang disaat yang tepat.
“Pernah digantungin?”
“Bahhh, malas sebenarnya kalau ingat.
Sakit banget. Temenan empat orang, yang jomblo cuma aku sama dia. Semua hal
dilakukan bareng dia, malem minggu pun kencan sama dia. Setiap orang sudah
bilang ‘sahabat jadi cinta’, aku nunggu beneran jadi cinta, ehhh, tahunya dia
lagi deket sama cewek lain. Terus aku dianggep apa selama ini?” Eaaaaaa.
“Pernah digantungin?”
“Pernah.
Doi baik benget, suka kasih perhatian. Kemana pun doi pergi, ane selalu siap
antar jemput. Giliran ditembak ternyata ane cuma dianggap mas!” Mungkin maksud doi mas tukang ojek.
“Pernah
digantungin?”
“Pernah
dan gak akan lupa. Lagi pendekatan, percaya diri bakal jadian, tahunya tuh
cewek kaya angin. Dikode gak ada respons, katanya lagi cari petunjuk untuk
memantapkan hati” memantapkan hati untuk yang lain.
So,
buat para generasi gantung yang mengalami baper mari sadarkan diri, buanglah
masalah pada tempatnya. Kedekatan dengan seseorang tidak dapat diartikan
sebagai pendekatan untuk menjalin hubungan spesial. Mendekati seseorang tidak
hanya untuk menjalin hubungan spesial, tetapi juga mencari kenyamanan berbagi
cerita atau hal lain, jadi bersikap dan bertindak sewajarnya saja, jangan
mudah terbawa perasaan alias baper. Tak perlu cari pembenaran, cerita sana-sini
menjadi tokoh tersakiti karena digantung, itu justru menjatuhkan harga diri.
Lebih baik intropeksi dan perbaiki diri, sibukan dengan kegiatan yang berarti.
Kalaupun
benar-benar suka, belajarlah dari kisah Nabi Yusuf dan Zulaikha. Bagaimana
usaha Zulaikha menggoda Nabi Yusuf, jika Nabi Yusuf tidak didasari keimanan
pada Allah tentu jatuh dalam kesesatan yang nyata. Ketika Zulaikha mengejar
cinta Nabi Yusuf, maka Allah menjauhkannya. Namun, ketika Zulaikha mengejar
cinta Allah, maka Allah berikan Nabi Yusuf untuknya. Oleh sebab itu, bersabarlah
dan cintai makhluk Allah dengan didasari keimanan, niscaya Allah akan
menurunkan rahmat-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar