Musik

Senin, 19 September 2016

Saudara: Adik Perempuan (Bagian 3)



Alarm pagi itu tak mampu menyadarkanku, entah sudah berapa pagi yang terlewat. Aku masih duduk di sofa mengingat setiap kata yang telah berlalu. Tak ada penyesalan, pun aku tak mampu melupakan pelukan Lucia.

Setelah cukup lama hanya berdiam, kuputuskan untuk pergi ketempat kerja. Kuhitung, sudah tiga hari tak bekerja, tanpa memberikan keterangan. Aku pasti dipecat, tapi aku memang ingin mengundurkan diri. Aku tak peduli akan menjadi seseorang yang kumau atau menjadi pecundang  yang menuruti keinginan Lucia. Aku ingin berdiam sejenak untuk meresapi hal-hal yang baru kulalui.
Kulihat Magenta sibuk di meja kasir melayani pelanggan yang telah membuat antrean panjang. Di sebelah Magenta, Thresa – perempuan yang pernah menjadi sahabatku ketika SMP – tangannya cekatan memasukan barang-barang dalam kantong belanjaan. Sedangkan managerku terlihat mondar-mandir mengecek barang-barang yang ada di etalase.
Melihat kehadiranku, manager menghampiriku. Mata sipitnya seperti jengah melihatku, “Baru muncul?” tanyanya ketus, “kalau bukan karena ucapan Thresa, surat pemecatan itu segera saya berikan untukmu” sambungnya.
“Thresa?” tanyaku.
“Saya tidak tahu bagaimana hubungan kalian. Yang membuat saya penasaran, kenapa Thresa selalu membelamu padahal kinerjamu buruk, apalagi sekarang, menghilang tanpa keterangan.”
“Thresa selalu membela saya?” tanyaku masih tak percaya.
“Kamu tidak tahu kalau Thresa selalu membelamu?” Managerku tertawa melecehkan, “Tidak heran, sesuai dengan kepribadianmu. Mesin penghitung uang. Antisosial.”
Setelah menyerahkan surat pengunduran diri, tak ada obrolan panjang yang kulakukan dengan manager. Hal mengenai Thresa cukup membuatku terkejut. Yang kupikirkan, Thresa selalu menceritakan ha-hal buruk mengenaiku.
Aku terlalu picik menilai Thresa. Aku yang tak dewasa, membawa masa-masa buruk SMP kami hingga sekarang. Menuduhnya sebagai seorang berhati iblis, ternyata akulah yang berhati iblis.
Suara bising kendaraan berlalu-lalang, beberapa di antaranya meraung-raung memamerkan kejantanannya. Gelak tawa menyusup di antara kelap-kelip lampu kota. Remang-remang dewi malam merangkak diusir mega pekat. Aku duduk termanggu di sudut taman, kepalaku tengadah mencari kekasaih yang kurindukan. Aku tak melihatnya, mungkin dia sedang berselingkuh dengan gugusan bintang. Matahari aku merindukanmu.
Hujan deras mengguyur ragaku. Aku membencinya karena hujan membuatku menangis teringat pada malaikat tanpa sayapku di dunia, Lucia. Sekarang hujan juga mengingatkanku pada sahabatku, Thresa. Bagai anak kecil yang ditinggal oleh ibunya, aku menangis sejadi-jadinya. Begitu banyak hal yang kulalui, begitu banyak waktu terlewati, aku terlalu sibuk dengan duniaku sendiri. Aku sendiri.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar