Alarm pagi itu tak
mampu menyadarkanku, entah sudah berapa pagi yang terlewat. Aku masih duduk di
sofa mengingat setiap kata yang telah berlalu. Tak ada penyesalan, pun aku
tak mampu melupakan pelukan Lucia.
Setelah cukup lama
hanya berdiam, kuputuskan untuk pergi ketempat kerja. Kuhitung, sudah tiga hari
tak bekerja, tanpa memberikan keterangan. Aku pasti dipecat, tapi aku memang
ingin mengundurkan diri. Aku tak peduli akan menjadi seseorang yang kumau atau
menjadi pecundang yang menuruti keinginan
Lucia. Aku ingin berdiam sejenak untuk meresapi hal-hal yang baru kulalui.
Kulihat Magenta sibuk
di meja kasir melayani pelanggan yang telah membuat antrean panjang. Di sebelah
Magenta, Thresa – perempuan yang pernah menjadi sahabatku ketika SMP –
tangannya cekatan memasukan barang-barang dalam kantong belanjaan. Sedangkan
managerku terlihat mondar-mandir mengecek barang-barang yang ada di etalase.
Melihat kehadiranku,
manager menghampiriku. Mata sipitnya seperti jengah melihatku, “Baru muncul?”
tanyanya ketus, “kalau bukan karena ucapan Thresa, surat pemecatan itu segera
saya berikan untukmu” sambungnya.
“Thresa?” tanyaku.
“Saya tidak tahu
bagaimana hubungan kalian. Yang membuat saya penasaran, kenapa Thresa selalu
membelamu padahal kinerjamu buruk, apalagi sekarang, menghilang tanpa
keterangan.”
“Thresa selalu membela
saya?” tanyaku masih tak percaya.
“Kamu tidak tahu kalau
Thresa selalu membelamu?” Managerku tertawa melecehkan, “Tidak heran, sesuai
dengan kepribadianmu. Mesin penghitung uang. Antisosial.”
Setelah menyerahkan
surat pengunduran diri, tak ada obrolan panjang yang kulakukan dengan manager.
Hal mengenai Thresa cukup membuatku terkejut. Yang kupikirkan, Thresa selalu
menceritakan ha-hal buruk mengenaiku.
Aku terlalu picik
menilai Thresa. Aku yang tak dewasa, membawa masa-masa buruk SMP kami hingga
sekarang. Menuduhnya sebagai seorang berhati iblis, ternyata akulah yang
berhati iblis.
Suara bising kendaraan
berlalu-lalang, beberapa di antaranya meraung-raung memamerkan kejantanannya.
Gelak tawa menyusup di antara kelap-kelip lampu kota. Remang-remang dewi malam
merangkak diusir mega pekat. Aku duduk termanggu di sudut taman, kepalaku
tengadah mencari kekasaih yang kurindukan. Aku tak melihatnya, mungkin dia
sedang berselingkuh dengan gugusan bintang. Matahari aku merindukanmu.
Hujan deras mengguyur
ragaku. Aku membencinya karena hujan membuatku menangis teringat pada malaikat
tanpa sayapku di dunia, Lucia. Sekarang hujan juga mengingatkanku pada
sahabatku, Thresa. Bagai anak kecil yang ditinggal oleh ibunya, aku menangis
sejadi-jadinya. Begitu banyak hal yang kulalui, begitu banyak waktu terlewati,
aku terlalu sibuk dengan duniaku sendiri. Aku sendiri.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar