Aku menundukan kepala, jemariku lincah
menari di atas tuts keyboard, mata
pun terfokus pada monitor di depanku, mengamati setiap angka yang muncul. Harus
tepat, tak boleh ada yang terlewat, satu saja terlewat, gajiku tamat.
“Delapan
puluh tujuh ribu lima ratus rupiah” ucapku datar kepada seorang wanita paruh
baya yang membeli buah pisang dan beberapa buah kaleng. Meski wanita itu tersenyum
sembari menyodorkan selembar uang kertas, tapi tak lantas membuatku membalas
senyumnya, aku hanya menundukan wajah dengan tatapan dingin. “Kembali dua belas
ribu lima ratus rupiah,” aku menyodorkan beberapa helai uang kertas dan satu uang
koin, “terima kasih pelanggan, silakan datang kembali” sambungku.
Pikiranku melayang,
menyusuri lorong waktu, menghempaskan setiap kenangan ke masa beberapa tahun
silam. Roll film kembali diputar,
rekaman drama dimainkan, aku kembali mengingat masa-masa itu, ketika pelangi
menjadi warnaku, ketika senyum menjadi rias wajahku. Ahhh, terlalu indah untuk dikenang.
Ehemmm. Laki-laki berbadan gempal dengan
kumis hitam tebal berdehem mengejutkan, aku kembali tersadar. “Mau melayani
atau tidak?” tanyanya sedikit ketus. Aku pun kembali memainkan jemariku dan
mengembalikan kosentrasi.
“Lirvie, manager
memanggilmu.” Rekan kerjaku, Magenta, berbisik. Sejurus kemudian dia telah
mengambil alih tempat kerjaku dan mulai tersenyum lebar kepada setiap
pelanggan.
Entah
untuk alasan apalagi manager memanggilku. Setelah kuhitung, satu minggu ini
sudah emapat kali dia memanggilku. Tak jarang aku harus menahan kantuk saat dia
mulai mengoceh dengan hal-hal yang tak kupahami, bahkan tak perlu kupahami.
Katanya, aku harus tersenyum dan ramah kepada pelanggan, aku harus menjawab
semua pertanyaan yang diajukan oleh pelanggan.
“Lirvieee,
saya tidak tahu lagi cara memberitahukannya kepadamu. Selalu saja seperti itu.”
Manager menatapku dengan tatapan frustasi, tangan kirinya seperti sedang
memijat-mijat kening, sedangkan tangan kanannya berada tepat di pinggangnya.
“Apa susahnya tersenyum?” pertanyaan itu lagi yang diajukannya, “kamu bukan
mesin penghitung uang,” dia menatapku tajam, “kepuasan pelanggan menjadi
tanggung jawabmu, jadi jangan pasang wajah datarmu” sambungnya.
Aku
menyembunyikan pandangan. Aku tak mengerti mengapa harus tersenyum kepada
pelanggan atau orang lain. Tak ada alasan bagiku untuk tersenyum, pun sudah
lama aku tak pernah tersenyum, bahkan aku tidak ingat kapan kali terakhir
tersenyum. Bisa jadi aku sudah lupa cara tersenyum.
“Kalau
kamu terus seperti itu, saya terpaksa memindahkanmu sebagai pengangkut barang,”
ucapnya sambil menggertakan deretan gigi putihnya. Kurasa managerku sedang
menahan marah, “Mengerti?” tandasnya.
Aku
menganggukan kepala sebagai jawaban. Sebelum pergi kubungkukan badan sebagai
tindakan untuk menghormatinya.
“Kenapa
lagi, Bu?” tanya seorang perempuan – perempuan yang suaranya sudah tak asing
bagiku sejak aku masih SMP – kepada managerku.
“Harghhh,
entahlah. Saya tidak tahu lagi cara menegurnya, semua yang saya sampaikan hanya
dianggap angin saja.” Jelas managerku dengan nada suara kesal.
“Wahhh, dari dulu Lirvie memang…” suara
itu samar dan akhirnya tak terdengar olehku yang kini telah kembali ke tempat
kerja. Namun, aku tahu pasti yang perempuan itu sampaikan meski aku tak
mendengarnya. Buruk. Ya, semua hal buruk tentangku, baik benar maupun tidak,
pasti telah sampai ke telinga managerku.
Napasku
terengah-engah, peluh menetes di sudut wajahku, dengan langkah tergesa aku
menuruni tangga. Secepat mungkin, dua anak tangga langsung kupijaki. Sesekali
aku melirik jam tangan yang melingkar di tangan kiriku, entah mengapa, jarumnya
seperti berputar lebih cepat. Bayangan Kepala Pelayan telah mengusik, tak boleh
terlambat, kalau hari ini telat, pasti kata pecat akan segera kudapat.
“Lirvieee.”
Seseorang memanggilku.
Dengan sangat terpaksa,
aku menghentikan langkah. Aku membalikan badan, mencari sumber suara yang
memanggil namaku. Mataku tertuju pada sosok perempuan yang tengah berlari
dengan sepatu hitam berhak runcing. Rambut pendeknya yang tersapu angin
menutupi sebagian wajah, aroma mawar perancis yang melekat di tubuhnya telah sampai
lebih dulu. Aku menghujaninya dengan tatapan dingin, mulutku langsung terkunci
setiap melihat wajah malaikatnya. Wajah yang sebenarnya tak ingin kulihat.
“Larimu sangat cepat,”
ucapnya di sela-sela napas yang tersisa, “Aku nyaris kehilangan napas” sambungnya
sambil menarik lenganku dan aku pun segera melepaskan dengan cepat. “Ada hal
yang ingin kusamapaikan,” cetusnya “ayo bicara sebentar.”
“Tidak” jawabku singkat
sembari memutar tubuh untuk meninggalkannya.
“Ini penting” dia menyergah
dengan cepat.
“Aku sedang buru-buru”
jawabku sambil menyusuri jalan yang dipenuhi kendaraan.
“Ini mengenai hal yang
kausebut kuliah” teriaknya.
Kali ini mau tak mau
aku menghentikan langkah, kudatangi dia yang masih berdiri menatapku tajam dari
bahu jalan. “Tunggulah di rumah,” akhirnya keluar juga kalimat dari mulutku,
“ada hal yang harus kuurus” sambungku.
“Urusan mencuci piring!”
Dia melangkah menjauhiku dengan wajah kesal.
Aliran darahku seperti tersengat
aliran listrik, kata-katanya menelanjangi harga diriku. Ada hal apa lagi,
mungkinkah dia telah mengetahui semuanya? Apa yang akan perempuan itu lakukan.
Apakah dia akan membunuhku, kurasa begitu. Jika dia telah mengetahui segalanya,
habislah hidupku. Otaku dipenuhi kalimat tanya.
Arghhh,
aku tahu pasti perempuan itu, Lucia. Sudah sejak lama aku mengenalnya. Selain
orang tuaku, dialah manusia yang kulihat untuk kali pertama ketika hadir di
dunia. Wajah malaikatnya selalu tergambar jelas di mindaku. Senyum lebarnya
mengalirkan kekuatatan untukku. Sepasang sayap di pungunggungnya seperti
merengkuhku, memberikan keberanian untuk menghadapi dunia. Dialah malaikat
pelindungku, kakak perempuanku.
“Kamu terlambat lagi!”
Aku tercekat. Kepala
Pelayan berdiri tepat di depanku. Tanpa kusadari, jiwa kosongku telah sampai di
restoran Cina, tempat kerjaku yang lain. Kukumpulkan nyali untuk menatap wajahnya,
mungkin ini kali terakhir aku melihatnya.
Tangannya terulur,
menyodorkan amplop putih. Kuulurkan tangan untuk meraih amplop itu, surat
pemberhentian kerja dan gaji terakhir. Tak ada alasan untuk mengelak, teguran
kemarin sudah menjadi teguran terakhir untukku. Dia akan memecatku, jika aku
telat sekali lagi. Bukan tanpa alasan dia melakukan itu, aku memang sudah
terlalu sering terlambat. Memang tak mudah menjalani pekerjaan dalam sekali
waktu.
Namun, tak seperti
biasanya, tak ada gurat kekecewaan ketika aku kehilangan pekerjaan. Sejak
bertemu Lucia, aku justru ingin segera pulang. Aku ingin segera menemuinya.
Jujur, aku penasaran dengan yang ingin dia bicarakan. “Ini mengenai hal yang
kausebut kuliah” kata-kata itu benar-benar mengusikku.
Berlembar-lembar
pamflet berjubal di dalam tas abu-abu usangku pun tak kuacuhkan. Seharusnya
pamflet itu harus habis kusebar malam ini, jika tidak, artinya aku harus
kehilangan pekerja lainku lagi. Namun, aku tak peduli. Tak berpikir panjang,
kumantapkan langkah untuk menemui Lucia.
Pintu perlahan terbuka,
sepelan mungkin agar tak menimbulkan suara. Kulepaskan sneaker berwarna hitam dengan sangat hati-hati. Aku berjalan
mengendap-endap, mengikuti cahaya bulan yang menerobos melalui celah jendela
yang tak terkunci rapat, sengaja tak kuhidupkan saklar lampu. Rasa penasaranku
untuk menemui Lucia berbah menjadi ketakutan mencekam yang tak mampu
kulukiskan.
“Sudah pulang kuliah!”
suara itu mengejutkan, tanpa tersadar aku menjatuhkan tas yang kujinjing.
Tak ada pilihan,
kutekan saklar di sudut dinding untuk memberi penerangan.
Lucia duduk di atas
sofa. Dengan suara yang tak kalah bergetar dengan jantung, aku duduk di samping
Lucia. Bola matanya menatap lekat, lurus, tepat ke arahku mengamati setiap
gerakan yang kubuat. Dia melipat kakinya dan menyilangkan kedua tangannya di
dada. Tak ada senyum dari sudut bibir merahnya, wajah tanpa ekspresi.
“Ada apa, Kak?” tanyaku
akhirnya.
“Menurutmu?” Meski
musim dingin telah berlalu, aku merasa hawa dingin menusuk hingga ke tulang
rusuk, suaranya benar-benar dingin.
“Aku tidak tahu kalau
Kakak tak menjelaskan” jawabku.
“Benar kamu kuliah?”
Beribu kerikil tajam
menghujam, “Iya,” aku menjawab dengan hati-hati, “kenapa?” sambungku dengan
rasa penasaran yang tak bisa kusembunyikan.
“Beberapa orang
mengatakan, kamu bekerja sebagai kasir supermarket,
beberapa lainnya mengatakan kamu bekerja sebagai pelayan di restoran cina,
sisanya bercerita kamu menjadi buruh tanam di toko tanaman hias, menjadi buruh
angkut di pabrik ikan kaleng, dan berkeliaran di stasiun menyebarkan pamflet.”
“Tidak. Itu tidak
benar. Aku sibuk kuliah, Kak,” kilahku, “mana mungkin aku sempat bekerja.”
“Benar?” Lucia
memicingkan matanya.
“Ya. Aku tidak mungkin
berani berbohong,” aku mulai panik, rahasia besar akan terungkap, “lihat,” aku
menunjuk rak dan meja yang dipenuhi buku-buku “aku menghabiskan waktuku untuk
mempelajarinya.”
“Bohong!!!” Plakkkkkk, tamparan keras kuterima.
Anehnya aku tak merasakan sakit di pipiku, justru aku merasa dadaku yang amat sakit.
“Sekarang kamu pandai berbohong???!!!” Suara Lucia begitu tinggi, lagi-lagi dia
mendaratkan jemarinya di pipiku.
“Kamu pikir sebodoh
itukah kakakmu hingga tak tahu kebohongnmu! Kamu pikir aku datang kemari tanpa
mencari tahu kebenarannya” suara Lucia masih tinggi, tapi kali ini aku melihat
bulir air mengalir dari matanya. “Inikah yang kamu berikan untukku?” dia
mendorong tubuhku hingga aku tersungkur di lantai, “inikah balasanmu?”
Rasa sakit melepas
topengku. Kutunjukan wajah asli yang kusembunyikan lama, wajah beringas.
Kubiarkan dia melihatnya, tak perlu kusembunyikan lagi. Biarkan aku pergi.
Cukup. Aku tak ingin melanjutkan parade kebohongan ini.
“Ya, aku berbohong,”
teriakku, “why? why? why?!!! Aku sengaja
melakukanya, kamu tidak suka?” amarah dan tangisku menjadi satu.
“Lirvie!” bentak Lucia
“aku menghabiskan masa mudaku hanya untuk bekerja agar bisa mengumpulkan uang
untukmu dan sekarang kamu seperti ini?”
Aku melihat Lucia dengan
penuh kebencian, rasa yang terpendam sejak lama “Aku tak ingin menuruti maumu lagi.”
Sekarang giliranku yang menghujaninya dengan luapan amarah. Kukumpulkan memori
buruk dari masa lalu, “Kamu selalu saja begitu, merasa paling benar. Karena
begitu banyak uang yang kamu habiskan untukku, semua yang kumau selalu salah.
Tak baiklah. Tak jelaslah.”
“Inikah wajah aslimu?”
“Ya. Ini wajah asli yang
harusnya kutunjukan sejak dulu,” jawabku dengan nada sengit, “hanya karena kamu
membiayai hidupku lantas perlakuan buruk harus kuterima, aku seperti babu yang
bisa disuruh ini dan itu semaumu” suaraku semakin meninggi.
Aku masih ingat betul
perlakuan buruknya karena itulah penyebab aku lupa cara tersenyum dan malam ini
semua terungkap. Dengan linangan air mata, kuceritakan setiap detail rasa sakit
hatiku pada Lucia. Aku ingat perintahnya saat aku harus mencuci dan menyetrika
baju kerjanya di pagi hari. Aku ingat teriakannya ketika aku tak menyapu atau
merapikan kamar tidurnya. Aku ingat omelannya waktu motornya lupa kucuci. Aku
ingat ekspresi meluap-luapnya hanya karena aku tak mau mengambilkan minum. Aku
tak mengerti, hanya sekadar untuk mengambil minum atau melakukan hal-hal kecil
saja dia tidak mau melakukan dengan tangannya sendiri, selalu memerintahku. Alasannya
pun selalu sama, katanya dia lelah bekerja karena mencari uang untukku.
“Aku pun juga ingin
kuliah, tapi aku tak ingin menggunakan uangmu,” aku menarik laci meja,
mengeluarkan buku tabungan yang kuselipkan di antara buku-buku, “sepeser pun
tak ada yang kugunakan uangmu” ungkapku dengan suara parau sembari melemparkan
buku tabungan itu ke Lucia.
“Jadi ini alasanmu
bekerja?
“Ya, aku ingin lepas
darimu karena tak ingin menjadi yang kamu mau.”
Tak seperti yang kuduga.
Kupikir Lucia akan menghabisiku dengan sisa tenaganya. Dia justru hanya
memandangku dengan putus asa, wajah malaikatnya memancarkan luka. Sayap di
punggunya seperti kehilangan otot hingga tak mampu direntangkan, kesedihan
menjamah tubuhnya.
“Maaf” hanya kata itu
yang keluar dari bibir Lucia.
Lucia memelukku.
Pelukannya begitu hangat, pelukan yang tak pernah kurasa sebelumnya, ini
seperti jadi pelukan terakhir untukku. Aku merasa ada yang salah denganku.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar