Musik

Senin, 19 September 2016

Saudara: Adik Perempuan (Bagian 2)



           Aku menundukan kepala, jemariku lincah menari di atas tuts keyboard, mata pun terfokus pada monitor di depanku, mengamati setiap angka yang muncul. Harus tepat, tak boleh ada yang terlewat, satu saja terlewat, gajiku tamat.
            “Delapan puluh tujuh ribu lima ratus rupiah” ucapku datar kepada seorang wanita paruh baya yang membeli buah pisang dan beberapa buah kaleng. Meski wanita itu tersenyum sembari menyodorkan selembar uang kertas, tapi tak lantas membuatku membalas senyumnya, aku hanya menundukan wajah dengan tatapan dingin. “Kembali dua belas ribu lima ratus rupiah,” aku menyodorkan beberapa helai uang kertas dan satu uang koin, “terima kasih pelanggan, silakan datang kembali” sambungku.
Pikiranku melayang, menyusuri lorong waktu, menghempaskan setiap kenangan ke masa beberapa tahun silam. Roll film kembali diputar, rekaman drama dimainkan, aku kembali mengingat masa-masa itu, ketika pelangi menjadi warnaku, ketika senyum menjadi rias wajahku. Ahhh, terlalu indah untuk dikenang.

            Ehemmm. Laki-laki berbadan gempal dengan kumis hitam tebal berdehem mengejutkan, aku kembali tersadar. “Mau melayani atau tidak?” tanyanya sedikit ketus. Aku pun kembali memainkan jemariku dan mengembalikan kosentrasi.
“Lirvie, manager memanggilmu.” Rekan kerjaku, Magenta, berbisik. Sejurus kemudian dia telah mengambil alih tempat kerjaku dan mulai tersenyum lebar kepada setiap pelanggan.
            Entah untuk alasan apalagi manager memanggilku. Setelah kuhitung, satu minggu ini sudah emapat kali dia memanggilku. Tak jarang aku harus menahan kantuk saat dia mulai mengoceh dengan hal-hal yang tak kupahami, bahkan tak perlu kupahami. Katanya, aku harus tersenyum dan ramah kepada pelanggan, aku harus menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh pelanggan.
            “Lirvieee, saya tidak tahu lagi cara memberitahukannya kepadamu. Selalu saja seperti itu.” Manager menatapku dengan tatapan frustasi, tangan kirinya seperti sedang memijat-mijat kening, sedangkan tangan kanannya berada tepat di pinggangnya. “Apa susahnya tersenyum?” pertanyaan itu lagi yang diajukannya, “kamu bukan mesin penghitung uang,” dia menatapku tajam, “kepuasan pelanggan menjadi tanggung jawabmu, jadi jangan pasang wajah datarmu” sambungnya.
            Aku menyembunyikan pandangan. Aku tak mengerti mengapa harus tersenyum kepada pelanggan atau orang lain. Tak ada alasan bagiku untuk tersenyum, pun sudah lama aku tak pernah tersenyum, bahkan aku tidak ingat kapan kali terakhir tersenyum. Bisa jadi aku sudah lupa cara tersenyum.
            “Kalau kamu terus seperti itu, saya terpaksa memindahkanmu sebagai pengangkut barang,” ucapnya sambil menggertakan deretan gigi putihnya. Kurasa managerku sedang menahan marah, “Mengerti?” tandasnya.
            Aku menganggukan kepala sebagai jawaban. Sebelum pergi kubungkukan badan sebagai tindakan untuk menghormatinya.
            “Kenapa lagi, Bu?” tanya seorang perempuan – perempuan yang suaranya sudah tak asing bagiku sejak aku masih SMP – kepada managerku.
            “Harghhh, entahlah. Saya tidak tahu lagi cara menegurnya, semua yang saya sampaikan hanya dianggap angin saja.” Jelas managerku dengan nada suara kesal.
            Wahhh, dari dulu Lirvie memang…” suara itu samar dan akhirnya tak terdengar olehku yang kini telah kembali ke tempat kerja. Namun, aku tahu pasti yang perempuan itu sampaikan meski aku tak mendengarnya. Buruk. Ya, semua hal buruk tentangku, baik benar maupun tidak, pasti telah sampai ke telinga managerku.
            Napasku terengah-engah, peluh menetes di sudut wajahku, dengan langkah tergesa aku menuruni tangga. Secepat mungkin, dua anak tangga langsung kupijaki. Sesekali aku melirik jam tangan yang melingkar di tangan kiriku, entah mengapa, jarumnya seperti berputar lebih cepat. Bayangan Kepala Pelayan telah mengusik, tak boleh terlambat, kalau hari ini telat, pasti kata pecat akan segera kudapat.
            “Lirvieee.” Seseorang memanggilku.
Dengan sangat terpaksa, aku menghentikan langkah. Aku membalikan badan, mencari sumber suara yang memanggil namaku. Mataku tertuju pada sosok perempuan yang tengah berlari dengan sepatu hitam berhak runcing. Rambut pendeknya yang tersapu angin menutupi sebagian wajah, aroma mawar perancis yang melekat di tubuhnya telah sampai lebih dulu. Aku menghujaninya dengan tatapan dingin, mulutku langsung terkunci setiap melihat wajah malaikatnya. Wajah yang sebenarnya tak ingin kulihat.
“Larimu sangat cepat,” ucapnya di sela-sela napas yang tersisa, “Aku nyaris kehilangan napas” sambungnya sambil menarik lenganku dan aku pun segera melepaskan dengan cepat. “Ada hal yang ingin kusamapaikan,” cetusnya “ayo bicara sebentar.”
“Tidak” jawabku singkat sembari memutar tubuh untuk meninggalkannya.
“Ini penting” dia menyergah dengan cepat.
“Aku sedang buru-buru” jawabku sambil menyusuri jalan yang dipenuhi kendaraan.
“Ini mengenai hal yang kausebut kuliah” teriaknya.
Kali ini mau tak mau aku menghentikan langkah, kudatangi dia yang masih berdiri menatapku tajam dari bahu jalan. “Tunggulah di rumah,” akhirnya keluar juga kalimat dari mulutku, “ada hal yang harus kuurus” sambungku.
“Urusan mencuci piring!” Dia melangkah menjauhiku dengan wajah kesal.
Aliran darahku seperti tersengat aliran listrik, kata-katanya menelanjangi harga diriku. Ada hal apa lagi, mungkinkah dia telah mengetahui semuanya? Apa yang akan perempuan itu lakukan. Apakah dia akan membunuhku, kurasa begitu. Jika dia telah mengetahui segalanya, habislah hidupku. Otaku dipenuhi kalimat tanya.
Arghhh, aku tahu pasti perempuan itu, Lucia. Sudah sejak lama aku mengenalnya. Selain orang tuaku, dialah manusia yang kulihat untuk kali pertama ketika hadir di dunia. Wajah malaikatnya selalu tergambar jelas di mindaku. Senyum lebarnya mengalirkan kekuatatan untukku. Sepasang sayap di pungunggungnya seperti merengkuhku, memberikan keberanian untuk menghadapi dunia. Dialah malaikat pelindungku, kakak perempuanku.
“Kamu terlambat lagi!”
Aku tercekat. Kepala Pelayan berdiri tepat di depanku. Tanpa kusadari, jiwa kosongku telah sampai di restoran Cina, tempat kerjaku yang lain. Kukumpulkan nyali untuk menatap wajahnya, mungkin ini kali terakhir aku melihatnya.
Tangannya terulur, menyodorkan amplop putih. Kuulurkan tangan untuk meraih amplop itu, surat pemberhentian kerja dan gaji terakhir. Tak ada alasan untuk mengelak, teguran kemarin sudah menjadi teguran terakhir untukku. Dia akan memecatku, jika aku telat sekali lagi. Bukan tanpa alasan dia melakukan itu, aku memang sudah terlalu sering terlambat. Memang tak mudah menjalani pekerjaan dalam sekali waktu.
Namun, tak seperti biasanya, tak ada gurat kekecewaan ketika aku kehilangan pekerjaan. Sejak bertemu Lucia, aku justru ingin segera pulang. Aku ingin segera menemuinya. Jujur, aku penasaran dengan yang ingin dia bicarakan. “Ini mengenai hal yang kausebut kuliah” kata-kata itu benar-benar mengusikku.
Berlembar-lembar pamflet berjubal di dalam tas abu-abu usangku pun tak kuacuhkan. Seharusnya pamflet itu harus habis kusebar malam ini, jika tidak, artinya aku harus kehilangan pekerja lainku lagi. Namun, aku tak peduli. Tak berpikir panjang, kumantapkan langkah untuk menemui Lucia.
Pintu perlahan terbuka, sepelan mungkin agar tak menimbulkan suara. Kulepaskan sneaker berwarna hitam dengan sangat hati-hati. Aku berjalan mengendap-endap, mengikuti cahaya bulan yang menerobos melalui celah jendela yang tak terkunci rapat, sengaja tak kuhidupkan saklar lampu. Rasa penasaranku untuk menemui Lucia berbah menjadi ketakutan mencekam yang tak mampu kulukiskan.
“Sudah pulang kuliah!” suara itu mengejutkan, tanpa tersadar aku menjatuhkan tas yang kujinjing.
Tak ada pilihan, kutekan saklar di sudut dinding untuk memberi penerangan.
Lucia duduk di atas sofa. Dengan suara yang tak kalah bergetar dengan jantung, aku duduk di samping Lucia. Bola matanya menatap lekat, lurus, tepat ke arahku mengamati setiap gerakan yang kubuat. Dia melipat kakinya dan menyilangkan kedua tangannya di dada. Tak ada senyum dari sudut bibir merahnya, wajah tanpa ekspresi.
“Ada apa, Kak?” tanyaku akhirnya.
“Menurutmu?” Meski musim dingin telah berlalu, aku merasa hawa dingin menusuk hingga ke tulang rusuk, suaranya benar-benar dingin.
“Aku tidak tahu kalau Kakak tak menjelaskan” jawabku.
“Benar kamu kuliah?”
Beribu kerikil tajam menghujam, “Iya,” aku menjawab dengan hati-hati, “kenapa?” sambungku dengan rasa penasaran yang tak bisa kusembunyikan.
“Beberapa orang mengatakan, kamu bekerja sebagai kasir supermarket, beberapa lainnya mengatakan kamu bekerja sebagai pelayan di restoran cina, sisanya bercerita kamu menjadi buruh tanam di toko tanaman hias, menjadi buruh angkut di pabrik ikan kaleng, dan berkeliaran di stasiun menyebarkan pamflet.”
“Tidak. Itu tidak benar. Aku sibuk kuliah, Kak,” kilahku, “mana mungkin aku sempat bekerja.”
“Benar?” Lucia memicingkan matanya.
“Ya. Aku tidak mungkin berani berbohong,” aku mulai panik, rahasia besar akan terungkap, “lihat,” aku menunjuk rak dan meja yang dipenuhi buku-buku “aku menghabiskan waktuku untuk mempelajarinya.”
“Bohong!!!” Plakkkkkk, tamparan keras kuterima. Anehnya aku tak merasakan sakit di pipiku, justru aku merasa dadaku yang amat sakit. “Sekarang kamu pandai berbohong???!!!” Suara Lucia begitu tinggi, lagi-lagi dia mendaratkan jemarinya di pipiku.
“Kamu pikir sebodoh itukah kakakmu hingga tak tahu kebohongnmu! Kamu pikir aku datang kemari tanpa mencari tahu kebenarannya” suara Lucia masih tinggi, tapi kali ini aku melihat bulir air mengalir dari matanya. “Inikah yang kamu berikan untukku?” dia mendorong tubuhku hingga aku tersungkur di lantai, “inikah balasanmu?”
Rasa sakit melepas topengku. Kutunjukan wajah asli yang kusembunyikan lama, wajah beringas. Kubiarkan dia melihatnya, tak perlu kusembunyikan lagi. Biarkan aku pergi. Cukup. Aku tak ingin melanjutkan parade kebohongan ini.
“Ya, aku berbohong,” teriakku, “why? why? why?!!! Aku sengaja melakukanya, kamu tidak suka?” amarah dan tangisku menjadi satu.
“Lirvie!” bentak Lucia “aku menghabiskan masa mudaku hanya untuk bekerja agar bisa mengumpulkan uang untukmu dan sekarang kamu seperti ini?”
Aku melihat Lucia dengan penuh kebencian, rasa yang terpendam sejak lama “Aku tak ingin menuruti maumu lagi.” Sekarang giliranku yang menghujaninya dengan luapan amarah. Kukumpulkan memori buruk dari masa lalu, “Kamu selalu saja begitu, merasa paling benar. Karena begitu banyak uang yang kamu habiskan untukku, semua yang kumau selalu salah. Tak baiklah. Tak jelaslah.”
“Inikah wajah aslimu?”
“Ya. Ini wajah asli yang harusnya kutunjukan sejak dulu,” jawabku dengan nada sengit, “hanya karena kamu membiayai hidupku lantas perlakuan buruk harus kuterima, aku seperti babu yang bisa disuruh ini dan itu semaumu” suaraku semakin meninggi.
Aku masih ingat betul perlakuan buruknya karena itulah penyebab aku lupa cara tersenyum dan malam ini semua terungkap. Dengan linangan air mata, kuceritakan setiap detail rasa sakit hatiku pada Lucia. Aku ingat perintahnya saat aku harus mencuci dan menyetrika baju kerjanya di pagi hari. Aku ingat teriakannya ketika aku tak menyapu atau merapikan kamar tidurnya. Aku ingat omelannya waktu motornya lupa kucuci. Aku ingat ekspresi meluap-luapnya hanya karena aku tak mau mengambilkan minum. Aku tak mengerti, hanya sekadar untuk mengambil minum atau melakukan hal-hal kecil saja dia tidak mau melakukan dengan tangannya sendiri, selalu memerintahku. Alasannya pun selalu sama, katanya dia lelah bekerja karena mencari uang untukku.
“Aku pun juga ingin kuliah, tapi aku tak ingin menggunakan uangmu,” aku menarik laci meja, mengeluarkan buku tabungan yang kuselipkan di antara buku-buku, “sepeser pun tak ada yang kugunakan uangmu” ungkapku dengan suara parau sembari melemparkan buku tabungan itu ke Lucia.
“Jadi ini alasanmu bekerja?
“Ya, aku ingin lepas darimu karena tak ingin menjadi yang kamu mau.”
Tak seperti yang kuduga. Kupikir Lucia akan menghabisiku dengan sisa tenaganya. Dia justru hanya memandangku dengan putus asa, wajah malaikatnya memancarkan luka. Sayap di punggunya seperti kehilangan otot hingga tak mampu direntangkan, kesedihan menjamah tubuhnya.
“Maaf” hanya kata itu yang keluar dari bibir Lucia.
Lucia memelukku. Pelukannya begitu hangat, pelukan yang tak pernah kurasa sebelumnya, ini seperti jadi pelukan terakhir untukku. Aku merasa ada yang salah denganku.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar