Musik

Rabu, 21 November 2018

Key: (Im)mature (Prolog)


Tanada Keyko Azhura, biasa disapa “Key”. Gadis berdarah campuran, ibunya seorang pribumi asli dari Samarinda, ayahnya berasal dari bangsa penjajah, Jepang. Dibandingkan dengan dua saudara kandungnya, Tanada Orysa Lethycia dan Tanada Yuki, Keyko memiliki wajah paling oriental, mewarisi rupa ayahnya. Dengan kulit putih khas wanita Jepang, mata sipit, ditambah kilau hitam bola matanya, makin mengukuhkan bahwa dia seorang hime (putri) Jepang.
Menurutnya, hidupnya bak cerita drama di televisi, hanya fiktif belaka, tidak nyata, hanya sandiwara. Sebagai salah satu pemeran dalam drama tersebut, dia diberi peran sebagai seorang putri raja yang memiliki segalanya.
Saat senja berganti, dia berpikir akan ada peran lain yang dimainkan. Namun, perannya masih saja tetap sama. Dia masih harus menjadi putri raja. Seperti terjebak dengan peran yang dia mainkan, dia merasa bosan. Namun, jika dipikir dalam-dalam, betapa beruntungnya dia, katanya. Banyak yang menginginkan perannya, tapi tidak ada kesempatan.
Kegiatan yang paling disukainya adalah pergi ke sekolah. Bukan karena dia orang yang peduli dengan pendidikan, tapi karena dia menemukan tempat untuk bermain-main. Di sekolah dia bebas melakukan yang dia sukai. Dia hanya butuh waktu sepuluh menit mendengar materi pelajaran, sisanya dia akan tertidur di mejanya.
Hampir di setiap pelajaran dia tertidur. Tidak peduli pelajaran matematika dan fisika  yang membutuhkan konsentrasi tinggi karena banyak rumus-rumus yang rumit, dia tetap tertidur. Bahkan di laboratorium saat praktikum biologi atau kimia pun dia sering tertidur. Hanya pelajaran olah raga yang membuat matanya terbuka.
Ada sepuluh tutor yang mengajarnya di rumah. Bahkan satu tutor ada yang mengajar hingga empat kali dalam seminggu. Setiap hari ada tiga tutor yang datang, satu tutor punya waktu dua jam untuk mengajarinya. Biasanya, belajar dengan tutor pertama dimulai dari pukul 16.00 – 18.00, setelah itu dua tutor lainnya akan mengajarinya dari pukul 19.00 – 23.00. Itu alasannya dia tetap mendapat nilai sempurna meski sering tertidur saat di kelas.
Awalnya, dia menganggap itu sebagai penyiksaan. Namun, karena sudah sejak kecil menjalaninya, dia menikmatinya. Dari kecil ayahnya memang telah mempersiapkannya untuk menjadi seorang dokter sekaligus kepala rumah sakit. Nantinya dialah yang menjadi penerus ayahnya.
Ayahnya seorang dokter spesialis jantung dan CEO di Tanada Hospital, rumah sakit milik keluarga, telah beroperasi sejak tahun 2000. Sebuah rumah sakit  swasta, besar, dan mewah bagi kalangan elite. Ibunya seorang dokter spesialis kulit, tapi lebih memilih karier sebagai pengusaha bidang kecantikan. Tak heran jika ibunya menjadi CEO di perusahan salon milik sendiri.
Delapan belas tahun dia rasa sudah cukup untuk menuruti keinginan orang tuanya. Entah sejak kapan, dia sudah tidak menginginkan profesi dokter. Mungkin sejak dia mendapat kado dari kakanya ketika ulang tahunnya yang ke-15 atau ketika ayahnya meninggal satu tahun yang lalu. Untuk apa ayahnya menjadi seorang dokter, jika tidak bisa menyembuhkan penyakitnya sendiri, pikirnya.
          Tokyo, ketika sakura mulai bermekaran, peristiwa itu terjadi. Dia sedang berjalan-jalan menikmati udara hari pertama musim semi. Tiba-tiba ibu dan kakanya muncul di hadapannya membongkar semua kebohonganya. Saat dia memilih jalannya sendiri, saat itulah masalah-masalah itu dimulai. Namun, terlalu cepat kebohongannya terungkap.

Rabu, 06 Juni 2018

Aku Adalah Pemenang, Kami Adalah Pemenang


Darah tertumpah di atas tanahku
Tanahku telah berubah menjadi merah
Wangi pepohonan menjadi wangi darah
Kepada siapa aku mengadu?
Kepada siapa aku meminta?
Teman-temanku meninggalkanku
Bahkan ayah dan ibuku meninggalkanku

Allah, aku tidak takut, kami tidak takut
Allah, tidak ada keraguan dalam hatiku
Allah, aku  adalah mujahid bukan pengecut  
Allah, izinkan aku syahid di atas tanahku
Allah, aku percaya dengan janji-Mu

                          
Kusibakkan awan hitam yang menutupi tanahku
Kugenggam semburat cahaya untuk kubawa pulang
Kini tanahku yang gelap akan menjadi terang
Walau tanahku jadi darah aku akan terus berjuang
Aku adalah pemenang, kami adalah pemenang

Kau dapat menghancurkan rumahku
Tapi tak dapat menghentikan perjuanganku
Kau dapat membunuh ayah dan ibuku
Tapi tak dapat menggetarkan keimananku
Aku adalah pemenang, kami adalah pemenang

Allah, aku tidak takut, kami tidak takut
Allah, tidak ada keraguan dalam hatiku
Allah, aku adalah mujahid bukan pengecut  
Allah, izinkan aku syahid di atas tanahku
Allah, aku percaya dengan janji-Mu

Selasa, 29 Mei 2018

Latihan Soal Semester 2 (Negosiasi, Debat, Biografi, dan Puisi)

  1. Bacalah teks berikut dengan saksama!
(1) Puluhan ribu warga Inggris dan Rusia terdampar di Kota Sharm el-Sheikh, Mesir, sepekan setelah sebuah pesawat milik maskapai Rusia jatuh di Sinai. (2) Dikatakan oleh pemerintah Rusia bahwa hampir 80.000 ribu warganya kini berada di Mesir dan sebagian di antara mereka tengah berlibur di Sharm el-Sheikh. (3) sementara itu, sekitar 20.000 warga Inggris diperkirakan belum bisa bertolak dari kota di tepian Laut Merah tersebut. (4) Kondisi ini terjadi lantaran pemerintah Rusia menghentikan semua penerbangan ke Mesir dan pemerintah Inggris meniadakan penerbangan ke Sharm el-Sheikh. (5) Keputusan ini diambil setelah pesawat maskapai Metrojet jatuh di Sinai. (6) Sehingga menewaskan seluruh 224 penumpang dan awak.

Kalimat tidak efektif dalam kutipan teks tersebut ditunjukan oleh nomor ....
A. 2 dan 6
B. 3 dan 6
C. 5 dan 6
D. 2 dan 4
E.  2 dan 5

Minggu, 31 Desember 2017

Mbok Menuk


Surya belum jelas menampakan cahayanya. Kabut subuh masih tersisa di antara remang-remang srengenge rojo awan. Suasana dusun pagi ini tidak jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya. Penduduk dusun Genongan melakukan kegiatan seperti biasa, seng wedok sibuk menutu padi, sedangkan seng lanang minum kopi sambil ngudut.
Mbok Menuk keluar dari rumah, tangan kirinya menyibakan jarit lusuh yang dikenakannya, sedangkan tangan kanan ngindet bakul berisi padi. Lalu si Mbok duduk di serambi rumah tangannya lincah menutu padi sambil melantunkan gending Jawa kesukaannya.
Sewu kuto uwis tak liwati…sewu ati tak takoni…nanging kabeh podo ra ngerteni…lungamu neng ngendi…pirang taon anggonku golek’i…semene durong biso nemoni…” mendengar suara Mbok Menuk, jelas sekali lagu itu begitu dihapalnya.

Rabu, 27 Desember 2017

Sayang, Bebaskan Sendumu




Sayang…kudengarkan lagu sendumu
Lagu kenangan yang sengaja kauciptakan
Segala perasaan mengalun sendu
Inikah kisah yang melukai hati lembutmu
          Musim kemarau musim hujan
          Berlalu membawa kisah sendumu
          Biarkan sendumu mengapung bersama awan
          Kita akan menyambut musim yang baru
Sayang…bebaskan kisah sendumu
Menyanyikan sendu seolah tak berakhir
Tidakkah ini sangat melelahkan hatimu
Sayang…sekarang bebaskan semua yang melukai hatimu
Musim kemarau musim hujan
          Berlalu membawa kisah sendumu
          Biarkan sendumu mengapung bersama awan
          Kita akan menyambut musim yang baru
Musim kemarau musim hujan
          Berlalu membawa kisah sendumu
          Biarkan sendumu mengapung bersama awan
          Kita akan menyambut musim yang baru
Hati yang terikat kenangan terikat sendu
Akan menahanmu dengan masa lalu
Kita akan bebaskan kisah sendumu
Kita akan bebaskan yang melukai hatimu


NR

Minggu, 03 Desember 2017

Alu untuk Inang

Karya: Nuriana Indah

Peristiwa subuh di dusun Bedugul, azan berkumandang, kokok ayam jago menggelegar, samar-samar kicauan burung terdengar. Teriakan minta tolong Sumarni mulai membangunkan warga yang masih tertidur lelap. Sumarni berteriak sambil berlari tergopoh-gopoh ke luar rumah dengan membawa alu.
Dengan raut wajah merah padam, Karso mengejar Sumarni, ”Tak usah kau berteriak! Tak ada yang menolongmu, kembalikan alu itu, biar kupakai untuk memecahkan kepala Inang,” berusaha merebut alu dari tangan Sumarni.

Dakeyla: Bebek Buruk Rupa (Bagian 1)



Tak ada gaun yang lebih indah, selain gaun pengantin. Aku mengamati bayangan dalam cermin, menatap iri gadis cantik bermata sipit mengenakan gaun putih berdada rendah tanpa lengan serta dihiasi renda dan payet bunga. Ukuran pinggangnya begitu ramping, sepertinya gaun itu memang disesuaikan dengan pemakainya.
Detik penyatuan semakin dekat, aku melihatnya berdiri di depan altar mengenakan setelan tuxedo berwarna hitam dipadu dasi kupu-kupu berwarna senada. Rambut hitamnya tersisir rapi ke arah belakang, samar-samar aku masih bisa menghirup aroma gel mint yang biasa dia pakai. Meski dia tersenyum, aku menangkap raut gugup yang coba disembunyikan di balik senyumnya.