"Jadilah manusia cerdas dan beretika, kalaupun tidak bisa keduanya, cukuplah bagimu menjadi manusia beretika"
Musik
Senin, 20 Maret 2017
Rabu, 08 Maret 2017
Izinkan Aku Mengenalmu Cemara
Tidak ada jarak di antara kita
Aku suka caramu memperlakukanku
Menciptakan keajaiban di galeri hidupku
Mengisinya dengan tawa dan air mata
Jadi izinkan aku mengenalmu
Kamis, 16 Februari 2017
Pleonasme
Oleh: Mugiyanto dan Nuriana Indah
Komunikasi
tidak akan terjadi tanpa adanya suatu perantara atau sarana. Sarana yang paling
vital dalam berkomunikasi adalah bahasa karena bahasa merupakan alat komunikasi
utama sepanjang sejarah kehidupan manusia di dunia. Tanpa bahasa seseorang
tidak akan mampu mengungkapkan isi hatinya.
Bahasa
bersifat dinamis, yaitu selalu mengalami perubahan dan perkembangan. Di zaman
purba, manusia belum mengenal bahasa lisan akibat tingkat peradaban yang masih
rendah. Oleh karena itu, mereka menggunakan bahasa isyarat. Dengan bahasa tubuh,
mereka bisa berkomunikasi antarsatu dengan lainnya. Seiring berjalannya waktu,
tingkat peradaban manusia semakin tinggi dan bahasa isyarat dianggap tidak mampu
memenuhi kebutuhan manusia dalam berkomunikasi.
Untuk
memenuhi kebutuhan komunikasi secara luas maka tercipta bahasa lisan maupun
tulisan. Bahasa lisan dianggap lebih mampu mengekspresikan gagasan secara nyata
dibandingkan bahasa isyarat. Sedangkan bahasa bahasa tulisan pun dianggap
sebagai media untuk menyampaikan informasi maupun pesan yang tidak dapat
disampaikan secara langsung melalui ujaran.
Oleh
sebab itu, sebagai alat komunikasi secara lisan maupun tulisan, bahasa memliki
kaidah dalam penggunaannya, begitu pula dengan penggunaan bahasa Indonesia.
Namun, permasalahan timbul, para pemakai Bahasa Indonesia baik
dalam percakapan sehari-hari maupun dalam acara resmi sering kali memakai kata
yang mubazir (berlebihan) dan memiliki arti sama atau sering disebut dengan
pleonasme.
Jumat, 10 Februari 2017
Saudara: Adik Perempuan (Bagian 4)
Aku berdiri di sudut
jalan, tubuhku menggigil. Air berlomba menetes dari rambut panjangku. Kemeja
merah marun yang kukenakan menjadi melekat dengan kulit. Pandanganku tertuju
pada sosok yang mendekat ke arahku, raut wajahnya tertupi payung hitam, tapi
dari cara jalannya aku tahu itu dia.
“Lirvie?” Dia memanggil
namaku, kuangkat sedikit wajah untuk menatapnya. Dia mendengus jengah seperti
hendak memaki, tapi aku keliru. Dia
jatuhkan payung hitam yang tadi melindunginya, dia lepaskan jaket biru tua yang
membalut tubuh rampingnya, lalu disodorkannya jaket itu padaku dengan kesal.
“Pakailah!” ucapnya,
kali ini suaranya terdengar ramah. Namun, aku bergeming dan hanya menatapnya.
“Pakailah! Kamu tidak suka dingin, apalagi hujan!” dilemparkannya jaket itu
kepadaku.
Mungkin dia pikir aku
akan menangkapnya, salah jika dia berpikir begitu. Kubiarkan jaket itu
meluncur, terkulai di atas genangan air. “Aku tak membutuhkannya!” ucapku
datar.
Kulihat sorot mata yang
tajam, wajah putihnya memerah. “Kalau tak membutuhkannya, setidaknya kamu
menagkapnya agar tidak jatuh!”
“Aku tak ingin
melakukannya!”
Dia mendengus kesal,
terlihat sekali dia menahan amarah. “Kau!” diacungkan jarinya di depan mataku
sambil menggertakkan gigi, “lihat betapa angkuhnya dirimu! Aku benar-benar
membencimu Lirvie!” diambilnya jaket yang telah basah dan kotor itu, lalu
meninggalkanku yang masih bergeming.
Jumat, 03 Februari 2017
Kenapa cuma Ikan yang Dikalengi?
Di hari yang penat dengan penuh
tekanan deadline tesis yang terus
menghantui, kenyataannya inspirasi tidak kunjung datang. Entah sudah berapa
lama aku menatap hampa monitor berukuran 10 inci ini, barisan huruf pun hanya
menatap nanar ke arahku. Remote TV yang telentang di sudut meja sejak tadi
bermain mata, dari gelagatnya sudah tidak tahan untuk dijamah. So, segera kuraih dan mulai menjamahnya (hahaha,
agak menjijikan).
Singkat cerita, akhirnya
kunyalakan TV sejenak untuk me-refresh
pikiran yang sebenarnya sudah tegang sejak beberapa hari lalu. Menurutku, acara
siang itu membosankan, beberapa chanel
TV didominasi dengan iklan-iklan produk rumah tangga baik dari dalam maupun
luar negeri (kebayangkan siang-siang nonton iklan panci), sisanya menampilkan
drama-drama yang kurang memiliki nilai edukasi. Untung siang itu ada salah satu
TV swasta (sebut saja TRANS7) yang menayangkan program acara yang menurutku cukup
mengedukasi (yahhh, walaupun dikategorikan tayangan untuk anak-anak).
Selasa, 24 Januari 2017
Hikayat
Kutipan hikayat berikut untuk soal
nomor 1-3.
Maka
bertambah heran Raja mendengar tutur kata Dimnah dan bertitahlah Raja menyuruh
Dimnah duduk lebih dekat kepadanya, kemudian Raja pun bersabda. “Manusia
tabiatnya dua macam. Ada yang lekas panas seperti ular yang berbisa. Jika
kebetulan ia berpijak dan tiada ia menggigit, janganlah diulang memijaknya
sekali lagi. Ketika itu tak dapat tidak ia pasti menggigit. Kedua, orang yang
dingin tabiatnya. Tetapi sebagai ranting yang kering, apabila lama dipergosokan
tentu keluar juga api daripadanya.” Oleh sebab itu, apabila Raja lupa
dihormati, janganlah ia terus menerus lupa. Lebih lekas ditembusnya kelupaan
itu lebik baik baginya.
Sumber: Kalillah dan Dimnah, 1971
1.
Isi yang diungkapkan dalam penggalan
hikayat tersebut adalah ….
A. Sifat
manusia penyabar ibarat kayu.
B. Nasihat
Raja kepada Dimnah.
C. Kemarahan
Raja kepada Dimnah.
D. Raja
heran mendengar ucapan Dimnah.
E. Tabiat
manusia ada dua, yaitu ular dan kayu.
Rabu, 18 Januari 2017
Analisis Tindak Tutur (Perlokusi)
Oleh: Eka Irma Wati & Nuriana Indah
Analisis Tindak Tutur (Perlokusi) Pernyataan Jokowi Mengenai Demo
Penistaan Agama yang Dilakukan oleh Ahok.
Perlokusi
Tindak perlokusi adalah tindak yang memengaruhi
kondisi psikologis lawan tutur agar menuruti keinginan penutur. Dari definisi
perlokusi tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam tindak perlokusi penutur mengharapkan
reaksi dari petutur setelah mendengar pernyataan yang disampikan oleh penutur,
baik secara langsung maupun tidak langsung. Dalam tidak perlokusi penutur secara
implisit memengaruhi kondisi psikologis petutur agar menyetujui hal yang
disampaikan oleh penutur sehingga petutur dapat melakukan tindakan yang
diinginkan oleh penutur.
Untuk memengaruhi kondisi psikologis
petutur, penutur menggunakan pilihan kata yang bersifat sugestif dan persuasif dengan
disertai argumentasi logis. Penggunaan diksi tersebut dimaksudkan untuk
meyakinkan petutur mengenai hal-hal yang disampaikan oleh petutur.
Berikut tindak perlokusi yang dilakukan
oleh Jokowi yang penulis identifikasi dari tiga artikel.
Langganan:
Postingan (Atom)
