Musik

Senin, 19 September 2016

Saudara: Adik Perempuan (Bagian 2)



           Aku menundukan kepala, jemariku lincah menari di atas tuts keyboard, mata pun terfokus pada monitor di depanku, mengamati setiap angka yang muncul. Harus tepat, tak boleh ada yang terlewat, satu saja terlewat, gajiku tamat.
            “Delapan puluh tujuh ribu lima ratus rupiah” ucapku datar kepada seorang wanita paruh baya yang membeli buah pisang dan beberapa buah kaleng. Meski wanita itu tersenyum sembari menyodorkan selembar uang kertas, tapi tak lantas membuatku membalas senyumnya, aku hanya menundukan wajah dengan tatapan dingin. “Kembali dua belas ribu lima ratus rupiah,” aku menyodorkan beberapa helai uang kertas dan satu uang koin, “terima kasih pelanggan, silakan datang kembali” sambungku.
Pikiranku melayang, menyusuri lorong waktu, menghempaskan setiap kenangan ke masa beberapa tahun silam. Roll film kembali diputar, rekaman drama dimainkan, aku kembali mengingat masa-masa itu, ketika pelangi menjadi warnaku, ketika senyum menjadi rias wajahku. Ahhh, terlalu indah untuk dikenang.

Kamis, 15 September 2016

Jenis-Jenis Paragraf


1.      Paragraf dengan tujuan deskripsi, pola isi klasifikasi, dan meletakan ide pokok secara induktif.
Batik Jawa Timur identik dengan pola yang besar-besar. Selain itu, motif yang ditampilkan lebih menggambarkan hewan dan tumbuhan. Untuk batik Jawa Tengah lebih menonjolkan pola geometris dengan komposisi warna yang atraktif dan pemilihan bahan yang halus. Meskipun begitu, motif batik Jawa Tengah juga terinspirasi dari tumbuh-tumbuhan. Batik Jawa Barat secara umum identik dengan motif alam, tumbuhan, dan binatang. Namun, batik Jawa Barat mulai mengadopsi motif batik dari Jawa Timur dan Jawa Tengah. Oleh Sebab itu, tidak heran jika pola batik Jawa Barat ada yang geometris dipadu dengan komposisi warna yang atraktif. Jelaslah setiap daerah di Pulau Jawa memiliki pola dan motif yang berbeda.

Rabu, 07 September 2016

Saudara: Adik Perempuan (Bagian 1)



Bagai pedang berkepala dua begitulah aku memaknainya. Satu sisinya bisa melukaiku kalau tak hati-hati menggunakannya. Sedikit saja salah gerakan, aku terluka. Sekali luka itu terbuka, butuh waktu lama untuk menyembuhkannya. Aku sangat membencinya. Cinta.
Awal Desember 2001. Mataku masih susah dibuka. Kalau bukan kekasihku membelai lembut pipiku, aku masih ingin bergulat dengan selimut tebalku, apalagi udara pagi ini benar-benar mencekat kulit putih pucatku. Kulihat kekasihku tersenyum lebar, seperti biasa, dia merengkuhku dalam pelukannya. Aku tahu, dia benar-benar menginginkanku.

Pasar Malam (Bagian 1)



Setelah cukup lama tidak menulis di blog, entah mengapa tiba-tiba saya ingin membuat ulasan mengenai Pasar Malam. Pasar malam seperti memiliki daya tarik tersendiri bagi saya. Tak peduli dilihat dari sudut pandang mana, saya menganggap pasar malam sebagai fenomena unik dan menarik untuk dibahas. Apalagi dengan semakin berkembang zaman – sepertinya sekarang telah mengarah ke zaman postmodernisme – pasar malam menjadi tempat yang tetap disukai banyak orang. Meski identik dengan status sosial masyarakat menengah ke bawah, keyataannya pasar malam seolah menjadi magnet tersendiri bagi masyarakat.

Rabu, 13 Juli 2016

Latihan soal Bahasa Indonesia



1.      Orang tua disarankan, agar tidak secara langsung membantu mereka tetapi lebih mengarah kepada pemberian petunjuk.
Perbaikan ejaan dalam kalimat tersebut adalah …
a.       Di depan kata agar tanda koma (,) dihilangkan
b.      Kata orang tua penulisannya digabung
c.       Didepan kata tetapi harus memakai tanda koma (,)
d.      Di depan kata disarankan ditubuhi tanda titik dua (:)
e.       Kata tetapi seharusnya diganti dengan namum

Selasa, 28 Juni 2016

Lelembut



“Hari sudah gelap, lekas kita kembali ke kampung.”
“Kautakut?”
“Aku tak takut, aku hanya khawatir?”
“Apa bedanya takut dengan khawtir! Sudahlah, itu hanya mitos. Tak mungkin anak gadismu tak jadi kawin hanya karena kau bertemu dengan lelembut.”
 “Mudah kau berucap seperti itu karena semua anakmu lelaki!”
“Kaupanggil lelembut perempuan itu,” Aji Saka mencabut mandaunya, “biar kutebas lehernya dengan mandauku!”
Ayus mendengus kesal, “Kau pun tahu, cerita itu bukan sekadar mitos. Jika laki-laki bertemu lelembut perempuan penjaga hutan, kelak anak gadisnya selalu tak jadi kawin.”
 “Kalau itu maumu, pulanglah dengan berjalan kaki. Sampan itu milikku!”
Ayus memandang Aji Saka dengan pandangan jengah. Mandau diselipkan dipinggang, dijinjingnya ikatan rotan yang sejak pagi dia kumpulkan, tangan yang lain menenteng rebung rotan dan talas untuk istrinya.
***