Aku menundukan kepala, jemariku lincah
menari di atas tuts keyboard, mata
pun terfokus pada monitor di depanku, mengamati setiap angka yang muncul. Harus
tepat, tak boleh ada yang terlewat, satu saja terlewat, gajiku tamat.
“Delapan
puluh tujuh ribu lima ratus rupiah” ucapku datar kepada seorang wanita paruh
baya yang membeli buah pisang dan beberapa buah kaleng. Meski wanita itu tersenyum
sembari menyodorkan selembar uang kertas, tapi tak lantas membuatku membalas
senyumnya, aku hanya menundukan wajah dengan tatapan dingin. “Kembali dua belas
ribu lima ratus rupiah,” aku menyodorkan beberapa helai uang kertas dan satu uang
koin, “terima kasih pelanggan, silakan datang kembali” sambungku.
Pikiranku melayang,
menyusuri lorong waktu, menghempaskan setiap kenangan ke masa beberapa tahun
silam. Roll film kembali diputar,
rekaman drama dimainkan, aku kembali mengingat masa-masa itu, ketika pelangi
menjadi warnaku, ketika senyum menjadi rias wajahku. Ahhh, terlalu indah untuk dikenang.