Surya
belum jelas menampakan cahayanya. Kabut subuh masih tersisa di antara
remang-remang srengenge rojo awan. Suasana dusun pagi ini tidak
jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya. Penduduk dusun Genongan melakukan
kegiatan seperti biasa, seng wedok
sibuk menutu padi, sedangkan seng lanang
minum kopi sambil ngudut.
Mbok
Menuk keluar dari rumah, tangan kirinya menyibakan jarit lusuh yang dikenakannya, sedangkan tangan kanan ngindet bakul berisi padi. Lalu si Mbok duduk
di serambi rumah tangannya lincah menutu padi sambil melantunkan gending Jawa
kesukaannya.
“Sewu kuto uwis tak liwati…sewu ati tak
takoni…nanging kabeh podo ra ngerteni…lungamu neng ngendi…pirang taon anggonku
golek’i…semene durong biso nemoni…” mendengar suara Mbok Menuk, jelas
sekali lagu itu begitu dihapalnya.





